Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Kebencian, Yang Tak Ada Penawar.


__ADS_3

"Jangan sombong anak muda!." ucap Malik menghentikan langkah Dirga dan Dhia."Jangan terlalu yakin kalau semua rencanamu akan berhasil. Kau bahkan sudah tidak memiliki bukti apapun tentang diriku."


"Masih mau lanjut?." Malik tertawa. Suaranya terdengar mengejek.


Rahang Dirga kembali mengeras. Meski dadanya sudah berdetak bergemuruh, tapi ia tak berniat kembali menimpali ucapan pria tua itu. Tak ingin lelah terkuras emosi. Dirga kembali melanjutkan langkah seraya membawa Dhia pergi dari tempat itu. Termasuk mengabaikan Gio yang entah sejak kapan berdiri bersama Inka disana.


"Mbak!." Inka sempat memanggil Dhia ketika melintas didepannya. Tatapan gadis itu penuh tanya kebingungan.


"Ma ... apa yang terjadi? kenapa Mama menangis?." Inka akhirnya menghampiri Rossa untuk mencari tahu permasalahan yang baru terjadi didepan matanya.


"Dan kenapa Papa dan Kak Dirga bertengkar? sebenarnya ada apa?." suara Inka terdengar memaksa menuntut jawaban. Ia memandang orang tuanya satu persatu.


"Kamu anak kecil. Enggak perlu tahu semua masalah orang tua!." ucap Malik pada anak gadisnya itu."Lebih baik kamu pulang sekarang."


"Gio, antar Inka pulang sekarang!."ucapnya dengan intonasi tak ingin dibantah


"Baik, Pak." Gio mengangguk.


Inka berdengus kasar, ia lalu menatap Rossa. Saat itu, Rossa hanya mengangguk, seolah menyuruh Inka untuk menuruti perintah Malik, agar segera pulang.


"Ayo, Inka." ajak Gio.


Inka pun, akhirnya beranjak dari tempat itu. Mengikuti langkah Gio yang membawanya keluar dari dalam hotel. Sementara dari kejauhan, seorang pria berdiri, memperhatikan Inka dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Aku kesal sekali sama Papa!." gerutu Inka ketika sudah didalam mobil."Dia selalu saja menganggapku seperti anak kecil."


"Padahal aku udah segede, ini, loh ... nikah juga udah bisa." Inka menekuk wajah sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


Gio terkekeh mendengar gerutuan Inka. Gadis yang ia jumpai, sejak pertemuan tak sengaja diproyek Hotel Wira CitraWisata beberapa bulan lalu. Dan keduanya semakin dekat, ketika kehadiran Gio yang kerap kali datang ke kediaman Malik Mahendra Hartawiawan. Hubungan keduanya hanya sebatas teman. Tapi tak jarang Inka dibuat tersipu malu, setiap kali Gio memberikan perhatian, dan kata-kata merayu.


"Kok kamu ketawa, sih?." Inka memandang Gio sengit."Jangan-jangan kamu sama lagi, kayak Papa ... nganggap aku kayak anak kecil."


Seketika Gio langsung bungkam. Tak ingin gadis tomboy yang ada disebelahnya melemparkan bogem mentah diwajahnya."Aku nggak bilang gitu."ucapnya membela diri.


"Terus, kenapa tertawa?."

__ADS_1


Aduh, ini bocah ... lagi datang bulan apa, yak? marah-marah mulu. Gio menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


"Enggak ... aku cuma tertawa lihat wajah kamu marah."aku Gio akhirnya."Gemes, tau." ia tersenyum.


"Halaaah ... paling juga kamu, ngeles." Inka tak percaya.


"Aku serius." aku Gio lagi, sambil memandang kedepan, mengemudikan mobilnya."Kamu makin cantik, kalau marah." ucapnya, kali ini sambil memandang sesaat pada Inka.


Gadis itu langsung diam. Dibilang cantik selalu saja membuat dadanya berbunga. Inka dulu tak seperti ini. Ia adalah gadis tomboy yang tak mudah tergoda dengan rayuan laki-laki. Tapi Gio, adalah pengecualian. Awal pertemuannya dengan Gio, sudah mampu membuatnya tersipu ketika pria itu tersenyum manis padanya.


Hening.


"Tadi kamu ngomongin, nikah ... memangnya kamu sudah siap menikah?." Gio kembali bersuara memecah keheningan. Sambil sesaat melihat pada Inka yang sedang memandang keluar, dan saat ini gadis itu sudah menoleh saat mendengar suaranya.


Inka mengangguk."Sudah ... aku kan, sudah dewasa. Aku juga bosan, Papa selalu mengataiku anak kecil."


"Mungkin kalau aku sudah menikah, baru dia bisa bilang ... kalau anaknya ini sudah dewasa."


Gio tersenyum, merasa lucu mendengar jawaban polos gadis itu. Kemudian ia manggut-manggut.


Pernyataan spontan Gio membuat Inka tercengang sesaat.


"Kamu serius??"


Gio mengangguk."Apakah aku terlihat sedang bercanda?." ia menatap Inka.


Aneh .... Teman, tapi ngajak menikah? ya, tanpa status sebagai sepasang kekasih, tiba-tiba saja Inka dibuat terpaku dengan kalimat, dan mimik wajah Gio yang serius.


 


Inka berdiri didepan cermin. Tangan kanannya menyentuh dada yang sejak tadi berdetak tak menentu. Kalimat spontan Gio yang mengajaknya menikah beberapa saat lalu, terus memenuhi ruang kepalanya.


Apa itu artinya tadi, secara tidak langsung dia sudah melamarku?


Inka tersenyum sambil memperhatikan dirinya didepan kaca. Gaun berwarna maroon dan make up lembut yang ia pakai saat ini, adalah bukti bahwa dirinya telah merubah diri menjadi seorang gadis yang anggun. Tanpa ia sadari, kehadiran Gio belakangan ini, mampu membuatnya perlahan berubah, dari kesan tomboi yang selama ini orang-orang sematkan padanya.

__ADS_1


Ya, Inka jatuh cinta pada Gio.


____________________


Dhia berdiri di balkon kamar, sembari melihat pendar bintang di langit malam, yang perlahan undur diri, karena mendung mulai mampir. Membiarkan helaian rambutnya bergoyang lembut diterpa angin. Meski sedikit sejuk, ia urung untuk masuk kedalam. Rasanya begitu nyaman dan menenangkan.


Tiba-tiba bayangan seminggu lalu kembali mampir. Ketika Rossa menangis didepannya, membuat ulu hatinya kembali nyeri. Tak dipungkiri, ia juga merindukan wanita itu. Tapi kebenaran tentang masa lalu yang sudah ia ketahui, membuat rasa kecewa telah membungkus tebal hatinya.


Dhia merasa berdosa, karena telah membuat wanita itu terluka. Tapi untuk bersikap biasa saja, jujur ... ia tak bisa. Apa lagi ketika melihat wajah Malik Mahendra Hartawiawan, kebenciannya seolah tak ada penawar. Membayangkan mereka tertawa, ketika sang Papa di fitnah, mendekam dipenjara. Ah, membayangkannya saja ia tak sanggup.


Tanpa sadar, bulir bening jatuh begitu saja. Dhia segera menyusut pipinya yang telah basah. Angin malam semakin kian terasa menusuk ke pori-pori kulitnya. Sambil mengusap kedua lengannya yang kedinginan, Dhia akhirnya memilih masuk kedalam. Saat hendak berbalik, ia sedikit terkejut karena melihat Dirga yang ternyata sudah berdiri didepan pintu sambil tersenyum tipis, memandang ke arahnya. Pasalnya, yang ia ketahui, suami itu sejak tadi, menghabiskan waktu diruang kerja. Mungkin karena ada pekerjaan kantor yang belum sempat diselesaikan.


"Mas, sejak kapan disini?."


Dirga mendekati Dhia."Sejak air mata ini jatuh tanpa permisi."ucapnya, sambil menaikkan tangan, menghapus jejak basah yang tersisa dipipi Dhia. Kemudian menarik tubuh istrinya itu kedalam pelukan.


"Masih mikirin, Mama?." tanya Dirga pelan. Seolah mengerti perasaan istrinya belakangan ini. Yang selalu murung, usai pertemuan mereka dengan Rossa di peresmian hotel Wira CitraWisata, seminggu lalu.


Dhia tak menjawab. Wanita itu semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dirga. Dhia sepertinya menangis lagi, karena Dirga bisa merasakan bahu Dhia berguncang seperti menahan isak.


"Sssssstt ... tenanglah, sayang."Dirga mengusap punggung Dhia lembut."Menangis boleh ... tapi jangan sering-sering."


Dirga mengurai pelukan, memandang wajah Dhia."Ingat, kamu itu lagi hamil ... tidak boleh stres. Kalau sering menangis .... kata orang itu bisa berpengaruh dengan calon anak yang sedang dikandung."


"Nanti setelah dia lahir .... dia juga akan sering menangis. Alias, cengeng, seperti Mamanya.!" Dirga menyentil pelan ujung hidung Dhia yang memerah."Kamu mau anak kita cengeng? Hem?."tanyanya lagi dengan suara yang lembut.


Dhia bergeleng pelan.


"Bagus!."Dirga tersenyum, sambil kembali mengusap pipi Dhia."Mulai sekarang tidak boleh menangis lagi."


"Harus selalu tersenyum." Dirga menurunkan kedua tangannya pada bibir Dhia, menarik pelan kedua sudut bibir wanita yang sedikit chubby itu, membentuk sebuah senyuman."Seperti ini."


Dhia akhirnya dibuat tersenyum, namun sedikit kesal dengan ulah Dirga yang menarik sudut bibirnya. Ia pun refleks melayangkan pukulan gemas pada lengan suaminya itu.


Dirga pun tergelak. Setelah itu, ia langsung menggendong tubuh Dhia, membawanya masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Dhia yang sempat terkesiap, akhirnya pasrah saat suaminya itu menghujaninya dengan kecupan-kecupan lembut di seluruh wajahnya. Termasuk ketika Dirga membaringkannya diatas ranjang, dan melucuti pakaiannya satu persatu. Perlahan membawanya pada kubangan gairah. Seiring dengan rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi, seolah bernyanyi bersahutan, membersamai sepasang suami istri yang saat ini sedang mereguk kepuasan.


__ADS_2