
Dirga membuka laptopnya. Mulai membuka rekaman cctv yang terhubung langsung melalui laptop yang ada didepannya. Benar saja, tepat pada rekaman tiga hari lalu, ia bisa melihat ada seseorang yang menyusup masuk kedalam ruangannya.
Namun tiba-tiba ia menggeram seraya memukul meja dengan keras.
"Sial!!" ucapnya dengan rahang mengetat.
Pria yang ada didalam cctv itu, memakai pakaian serba hitam, serta masker dan topi yang berwarna sama. Dirga tak dapat melihat, apalagi mengenali wajah pria itu. Pria itu berjalan mengendap-endap, menuju komputer, tempat dimana semua salinan desainnya tersimpan.
Meski ditengah emosinya yang memuncak, netranya tetap tak luput dari rekaman cctv tersebut. Sesaat kemudian titik fokusnya kembali. Memperhatikan postur tubuh pria yang ada dilayar laptopnya. Merasa tidak asing. Segala praduga seketika menuntun fikiran, yang membuatnya tak percaya.
Dirga mematung, dengan segala keterkejutannya. Hingga beberapa saat. Sampai-sampai tak menyadari saat Yudi masuk ke dalam ruangannya.
"Permisi, Pak!"
Suara Yudi membuat Dirga menoleh. Tangan kanannya langsung menutup laptop yang masih memutar rekaman cctv itu.
"Ada apa?." suara Dirga terdengar dingin.
"Bapak di minta untuk segera datang ke ruang rapat, karena Pak Bram sudah datang, Pak." jelas Yudi.
Dirga hanya mengangguk. Sebagai isyarat bahwa dirinya mengerti, dan akan segera turun.
_______________
"Selamat sore, neng Wiwik, yang manis dan ca'em!." sapa Doddy pada Wiwik, pujaan hatinya. Pria berusia 36 tahunan itu, ikut masuk kedalam Penthouse mengantar sang majikan yang baru saja kembali dari kantor.
Wiwik yang terkejut melihat kehadiran Doddy, sontak melebarkan mata, memasang wajah galak pada Doddy. Namun itu ia lakukan tanpa sepengetahuan Dirga.
"Dhia, mana?." tanya Dirga sambil memberikan tas kerjanya pada Wiwik, ketika wanita itu mengambilnya.
"Mbak Dhia ada di kamarnya Mbok Siah, Mas."
"Apa perlu Wiwik panggilan, Mas?." ia menawarkan diri.
"Enggak usah ... biarin aja. Jangan diganggu." Dirga melonggarkan dasinya.
Wiwik mengangguk mengerti. Kali ini ia beralih pada Doddy. Pria yang selalu saja membuatnya darah tinggi.
"Apa lihat-lihat?!." kata Wiwik dengan suara geram yang tertahan pada Doddy, saat Dirga sudah berjalan menaiki tangga.
"Neng Wiwik, galak amat, sih ... " protes Doddy."Jangan galak-galak dong, neng. Entar cantiknya ilang, loh."
"Emang mau, kalau nggak cantik lagi?."
Wiwik mencebikkan bibirnya."Kecantikan Wiwik itu nggak bisa berkurang. Soalnya awet ... udah tak kasih formalin."
"Bisa ae, neng Wiwik ... kecantikan di kasih formalin. Udah kayak mumi aja." Doddy cekikikan karena merasa lucu."Kalau begitu, bagus dong ... itu artinya, neng Wiwik akan selamanya tetap syantiiik." katanya lagi, dengan penekanan dikata syantiiik.
"O-ya, jelas, dong!" Wiwik mengibaskan rambutnya dengan sombong."Tapi maaf, ya ... walau pun kamu udah muji-muji saya cantik, tapi saya tetap enggak bisa nerima kamu."
"Karena sampai kapan, pun ... dihati Wiwik cuma ada Mas Gio seorang." tegasnya.
"Serah, deh, neng ... yang penting hati saya nggak pernah berubah buat neng Wiwik. Kalau suatu saat nanti neng Wiwik terluka .... bahu saya selalu siap, neng .... untuk menyambut neng Wiwik." kata Doddy dengan berbesar hati.
Wiwik kembali mencebikkan bibirnya.
"Kamu ngapain, sih, kesini?." tanyanya kesal.
"Ini, neng ... bawain belanjaannya Pak Dirga." Doddy memberikan tiga buah paper bag pada Wiwik. Wanita itu pun, menerimanya.
"Apa ini?."
"Ya mana saya tau, neng." sahut Doddy yang memang tak tahu apa isinya."Buruan, antar ke kamar Pak Dirga."
__ADS_1
"Ya udah, sana! kamu ngapain masih disini?." Wiwik semakin dibuat kesal karena Doddy tak kunjung pergi.
"Aduh, gemes banget sih, neng." Doddy cekikikan dan ingin mencubit dagu Wiwik, namun perempuan itu terburu menghindar."Rasanya pingin tak karungin, terus tak bawa pulang."
"Sembarangan! memangnya aku apa ... enak aja main masuk-masukin karung segala. Yang ada juga kamu, yang bakal saya karungin."
"Tak iket ... terus tak masukin kandang buaya." cerocos Wiwik geram."Biar nyahok!"
"Buaya, makan buaya."sambung Wiwik sambil tergelak keras.
"Waduh?!."Doddy membeliakkan mata karena terkejut."Tega amat, neng ... sama calon suami sendiri."
"Apa kamu bilang?!" Wiwik menajamkan mata sambil mendekat kearah Doddy.
"Barusan kamu bilang apa?!"tanya Wiwik lagi, dengan intonasi kesal.
Doddy nyengir."Calon suami."
Wiwik semakin dibuat kesal. Wajah wanita ini sudah seperti ingin menelan Doddy hidup-hidup. Namun pria yang ada dihadapannya seketika berlari keluar.
"Kabur!."
Dhia masuk kedalam kamar utama. Ditempat tidur, ia tak menemukan keberadaan Dirga. Yang ia dapati hanya tiga buah paper bag yang tergeletak. Padahal, tadi Wiwik mengatakan bahwa suaminya itu telah kembali. Tak berniat langsung membukanya, Dhia beralih membuka pintu kamar mandi. Didalam, hanya lantai yang terlihat kering. Ia tak menemukan keberadaan suaminya disana.
"Mas, kamu dimana?."
"Mas!."
Dhia berjalan menuju balkon. Tapi, lagi-lagi ia tak melihat Dirga. Akhirnya Dhia memutuskan untuk keluar. Didepan pintu kamar, Dhia melihat Wiwik sedang berjalan menuruni tangga.
"Wik!." panggil Dhia.
"Iya, Mbak? ada apa?."
"Loh ... bukannya dikamar, Mbak? tadi waktu Wiwik masuk nganter paper bag, Mas Dirga-nya ada, kok."
Dhia menggeleng."Enggak ada."
"Apa lagi diruang kerja, ya?."tanya Dhia menduga.
"Kayaknya enggak, deh, Mbak ... soalnya dari tadi Wiwik dibawah nggak ada lihat Mas Dirga turun." jelas Wiwik yakin."Lagi di rooftop kali, Mbak."
"Cuma, ya ... biasanya setahu Wiwik, Mas Dirga suka naik kesana, kalau lagi suntuk, atau lagi ada masalah aja."
"Oh, gitu."
"Iya, Mbak." sahut Wiwik yakin."Waktu Mbak Dhia pergi kemarin ... Mas Dirga juga sering ngabisin waktu di rooftop. Malah kadang nggak sadar sampai ketiduran disana."
"Kasihan, tahu, Mbak." kata Wiwik memungkasi.
Dhia hening sesaat.
"Ya sudah ... aku mau ke atas dulu." Dhia menyunggingkan senyum."Mau cari Mas Dirga."
Wiwik mengangguk, dan kembali turun.
Dhia berjalan menuju lantai paling atas apartemen itu. Dengan hati-hati ia menaiki tangga. Benar dugaan Wiwik. Dirga memang ada disana.
Pria itu berdiri memunggungi, sedikit membungkuk, kedua tangannya bertumpu pada railing kaca. Tatapannya jauh memandang, gedung-gedung yang menjulang.
Dhia berjalan mendekati. Memeluk tubuh tegap lelakinya dari arah belakang."Aku cariin dari tadi, ternyata disini." kata Dhia pelan, sambil menyandarkan kepalanya dipunggung Dirga dengan manja.
__ADS_1
Dirga yang sempat terkesiap, kini tersenyum. Kedua tangannya langsung meraih, dan mengusap punggung tangan Dhia.
"Ngapain?." suara Dhia terdengar lembut.
Dirga berbalik. Kali ini posisi keduanya sudah saling berhadapan."Cuma cari angin sore, sayang." ia melihat langit sore yang mulai berganti senja."Lumayan sejuk ... sedikit mengurangi rasa lelah karena kerja seharian." sambungnya dengan kekehan kecil.
Dhia turut tersenyum. Namun tipis. Ia menyelami lekat-lekat netra suaminya. Apakah suaminya itu sedang berusaha menepikan masalah, atau tidak. Tapi ia tak bisa menelisik. Dirga seolah pandai memerankan ekspresi.
"Hei ... kenapa menatapku seperti itu?." Dirga tergelak pelan.
Dhia kembali tersenyum."Enggak apa-apa, Mas. Aku cuma pingin liatin kamu. Memangnya nggak boleh?."
"Oh gitu." Dirga mengangguk-angguk pelan."Boleh aja, sih .... tapi sebenarnya wajahku ini tidak sembarang orang, yang boleh melihat dengan lama-lama."
"Karena aku tidak ingin orang lain terpikat dengan pesonaku." ucapnya sombong.
"Tapi kami beruntung!" Dirga melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dhia."Berhubung karena kamu istriku ... jadi aku izinkan."
"Itu lebih baik untukku, agar kamu semakin terpesona berkali-kali lipat denganku."pungkasnya dengan senyum percaya diri.
Dhia berdesis meringis. Tak percaya karena suaminya ini ternyata punya jiwa narsistik yang akut.
"Nak ... nanti kalau sudah lahir, tolong jangan tiru sifat Papamu yang satu ini." Dhia menurunkan pandangan ke arah perutnya, seraya mengusapnya dengan pelan."Cukup warisi wajah tampannya saja, ya."
Dirga malah dibuat tergelak dengan kata-kata istrinya itu."Itu artinya kamu mengakui bahwa suamimu ini tampan. Iya, kan?."
Dhia sedikit mencebikkan bibirnya."Lumayan."
"Hahaha ... sayang, sayang." Dirga bergeleng-geleng.
"Mas."
Panggil Dhia ketika Dirga baru menghentikan tawanya.
"Apa, sayang?."
"Aku ingin mencari Papa kandungku."
Pernyataan Dhia membuat ekspresi diwajah Dirga berubah dingin.
"Aku yakin dia masih hidup."
"Tadi Mbok bilang ... katanya dia rindu."Dhia memandang Dirga meminta persetujuan."Dia pingin kembali bertemu sama anaknya lagi."
"Aku juga pingin ketemu sama Papa kandungku, Mas." kata Dhia dengan mata mulai berkaca-kaca.
Dirga menelan ludah tercekat. Sambil kemudian kedua tangannya turun meraih lengan Dhia."Serahkan semuanya padaku. Biar aku yang akan mencarinya."
"Aku akan berusaha menemukannya kembali." sambung Dirga dengan sorot membawa harapan.
Dhia tersenyum haru."Terima kasih, Mas."
Dirga membalas dengan senyuman.
"Oh, iya ... tadi aku belikan kamu gaun. Kamu sudah lihat?."
Dhia bergeleng."Belum, Mas. Jadi yang tadi ada ditempat tidur, itu gaun?."
Dirga mengangguk.
"Aku belum sempat lihat ... soalnya tadi sibuk nyariin kamu."Dhia mencubit pelan dada Dirga."Kirain tadi pergi kemana. Buat cemas, aja."
Dirga terkekeh pelan."Maaf, sayang."
__ADS_1
"Tapi Mas, ngapain beliin aku gaun? buat apa?."
"Malam ini aku diundang untuk peresmian hotel Wira CitraWisata. Aku mau kamu ikut."