Istriku, Dhia

Istriku, Dhia
Jakarta, Sendrapati Penthouse


__ADS_3

Dhia tercengang seketika.


Saat ini, ia bisa melihat setiap lekuk tubuh suaminya yang atletis. Dhia tak berkedip. Apalagi pada bagian ... ah, Dhia baru menyadari. Sesuatu yang membuat bagian pribadinya terkoyak kala itu. Ternyata begitu menggiurkan.


Dirga sedikit membungkuk, satu tangannya teulur menutup bibir Dhia yang ternganga."Tutup bibirmu ini, atau milikku ini salah masuk nantinya."


Dhia menelan ludah usai bibirnya yang sempat tercengang ditutup oleh Dirga. Kini ia menarik nafas pelan, tiba-tiba ia merasakan kegugupan kembali. Bayangan rasa sakit malam pertama saat itu membuatnya meringis, ngilu.


"Kenapa, sayang?." tanya Dirga diiringi dengan kekehan lucu mengamati wajah Dhia."Kamu takut?."


Dhia bergeleng cepat, lalu kemudian mengangguk, dan bergeleng lagi. Melihat tingkah istrinya itu, Dirga dibuat terkekeh karena gemas.


"Bukankah kita sudah pernah melakukannya? apa yang membuatmu takut? hm?" nada bicara Dirga terdengar lembut.


"Apa rasa sakitnya masih sama seperti pertama kali, Mas?." tanya Dhia ragu, lebih tepatnya karena malu.


Dirga tersenyum mendengar tanya polos, Dhia."Ini tidak akan sakit, sayang ... karena aku akan melakukannya dengan hati." ucapnya sambil mengusap kepala Dhia."Aku juga tidak ingin anakku terganggu didalam."


Kali ini Dhia yang tersenyum.


Hening.


Dirga dan Dhia saling berpandangan. Netra keduanya saling bertatapan sayu. Ada debaran di dada keduanya yang mulai kembali bergemuruh. Kerinduan dan cinta itu sepertinya sudah tak sabaran untuk segera di luahkan.


Dirga mulai kembali merapatkan wajahnya pada Dhia. Perlahan netra keduanya sama-sama terpejam, ketika bibir mereka mulai bersambut saling bertukar kemanisan.


Saat ini, detik ini ... jiwa mereka bersatu dalam cinta yang telah menemukan pengakuannya.


______________ 


"Kamu udah pamit dengan nak Reyhan dan ibunya, nduk?."


Tanya Mbok Siah, pada Dhia yang saat ini sedang mengemasi barang-barangnya. Dibantui oleh Mala, saat ini wanita yang selalu berpenampilan nge-jreng itu terlihat lesu dengan kegiatannya memasukkan pakai Mbok Siah kedalam tas.


"Sudah, Mbok ... tapi hanya lewat pesan." Dhia memandang Mbok Siah."Waktunya sudah terlalu mepet, Mbok ... kalau harus kesana, takut ketinggalan pesawat."


"Ndak apa-apa ... yang penting sudah dikabarin. Walau bagaimanapun .... merekalah yang sudah nolongin kamu sebelum ketemu, Mbok."

__ADS_1


"Kalau pergi gitu aja ... rasanya ndak pantes." sambung Mbok Siah.


Dhia tersenyum tipis pada Mbok Siah.


"Hiks ... hiks .... aku pasti kangen banget sama kalian."


Mala membiarkan air matanya jatuh tak terbendung. Wanita ceria ini sejak tadi mendadak murung ketika mengetahui Dhia akan kembali ke Jakarta. Apalagi Mbok Siah, wanita renta yang selama ini kerap ia temani dan sudah ia anggap seperti nenek kandungnya sendiri, juga akan turut ikut ke Jakarta. Hatinya seakan berat melepas dua orang wanita yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.


Dhia mengusap pelan bahu Mala, membawa wanita yang sedang duduk disisinya itu kedalam pelukan."Kami juga pasti kangen sama kamu." lirihnya pelan.


"Apa ndak bisa pulangnya diundur dulu? seminggu lagi, atau sebulan lagi, gitu ...." tanya Mala dengan nada suara kesedihan.


"Enggak bisa, Mala ... karena Mas Dirga juga harus mengurus pekerjaannya di Jakarta." sahut Dhia dengan berat hati sambil mengurai pelukan. Meski sejujurnya ia juga berat meninggalkan Mala. Karena sebenarnya Dhia pun tak kapan mereka akan bertemu lagi.


Pukul 15:30, Dirga, Dhia, dan Mbok Siah sudah siap untuk berangkat ke bandara.


Mbok Siah berpamitan pada para tetangga yang selama ini kerap menolongnya. Tangis kesedihan mengiringi kepergiannya meninggalkan kampung yang selama ini ia tinggali. Dua puluh tahun, bukan waktu yang sebentar untuknya menghabiskan waktu seorang diri disini. Terkurung dalam suka dan duka sepanjang hari.


"Kamu baik-baik ya, disini." kata Mbok Siah pada Mala."Nanti kalau nikah, kabari kami."


"Walah ... si, Mbok .... boro-boro nikah .... calonnya aja masih belum bisa ditrawang, Mbok." Mala yang sedari tadi menangis, kini dibuat tertawa dengan kata-kata Mbok Siah.


"Kenalin, lah satu untukku."sambung Mala dengan gaya centil, tanpa segan mentoel lengan Dirga.


Dirga tersenyum meringis. Sebenarnya bukan hal sulit untuknya melakukan itu. Namun melihat penampilan Mala yang terlalu menor, membuatnya sedikit merasa tak yakin.


"Iya, iya ... nanti kalau ada."ucapnya ragu.


"Bukannya kamu udah punya pacar?." timpal Dhia sambil tersenyum menggoda.


"Oh, ya? siapa sayang?." Dirga memandang istrinya tak yakin.


"Pak Joko, Mas ... pemilik kebun bunga terluas di kampung ini .... buktinya hampir tiap hari dikasih bunga." Dhia tertawa renyah.


"Dhia, kamu becandanya garing."celetuk Mala gemes."Ya jelas dikasih bunga ... wong Pak Joko supplier toko bunga ini."


Sontak semua orang yang berada disitu kembali tertawa.

__ADS_1


 Jakarta,


Sendrapati Penthouse.


Pukul 07:00 malam, mereka sudah tiba di Jakarta. Bersama Doddy yang memang ditugaskan oleh Dirga untuk menyusul mereka di bandara.


Rencana kepulangan mereka sudah di ketahui oleh Wiwik. Karena memang Dirga sudah memberitahukan kabar bahagia itu sejak pagi tadi. Tapi ada yang lebih mengejutkannya, dan sekaligus membuatnya haru saat ini. Dan itu adalah kepulangan Dhia bersama calon bayi yang ada didalam kandungan wanita itu.


"Ya Allah ... ya Allah, ini beneran, Mbak Dhia hamil?." Wiwik menyentuh berkali-kali perut Dhia karena masih tak percaya."Waktu pergi kan, perutnya Mbak Dhia masih rata."


"Lah ... pulang-pulang kok wes mblendung."


Dhia tersenyum geli melihat ekspresi Wiwik. "Ya beneran lah, Wik ... jadi kamu fikir ini apa? bantal?." ucapnya sambil membelai perutnya sendiri.


"Ya ampun ... Wiwik seneng banget, Mbak." Wiwik memeluk Dhia dengan haru."Sebentar lagi rumah ini akan ramai, karena akan ada suara tangisan bayi."


"Pantesan, tadi pagi Mas Dirga nelpon Wiwik ... minta Wiwik bersihin rumah sampai bener-bener kinclong. Kata Mas Dirga nggak boleh ada abu sedikit pun."


"Sampai-sampai si Benny disuruh dikandangin biar bulunya nggak terbang kemana-mana."jelas Wiwik panjang lebar.


"Oalah ... rupanya karena ada calon dedek bayi. Biar nggak kena virus, toh?!"sambung Wiwik lagi dengan senangnya. Kemudian wanita ini cekikikan geli, sambil tersenyum-senyum sendiri. Teringat kembali rencana jahilnya bersama Rossa kala itu. Tak menyangka bahwa rencana keduanya benar-benar sukses, berhasil menyatukan dua hati yang selama ini terpisah oleh tembok dendam.


"Kamu ngapain senyum-senyum sendiri?." Dirga memandang Wiwik kesal. Seolah tahu bayangan apa yang sedang berputar di kepala asisitennya itu." Entahlah, senyum Wiwik selalu saja membuatnya curiga.


Wiwik langsung bergeleng hingga pipinya bergoyang."Enggak apa-apa, Mas ... cuma lagi pingin olah raga bibir." celetuknya asal."Wiwik senyum-senyum karena lagi seneng, dong, Mas Dirga ..."


"Kan Mbak Dhia lagi hamil."


"Ini itu ekspresi rasa syukur, rasa seneng." Wiwik memasang mimik tersenyum kembali. "Mbok ya jangan suudzan mulu, toh, Mas, sama Wiwik."


"Dosa, loh." kata Wiwik sok bijak.


Dhia tertawa mendengar kalimat panjang lebar yang tercetus dari bibir Wiwik.


Sementara Dirga tetap memasang wajah datar tak percaya.


Dan Mbok Siah, yang sedari tersenyum memperhatikan Wiwik, kini dibuat tertawa karena merasa lucu dengan wanita yang sedari didepannya terus saja berbicara.

__ADS_1


"Eh, nenek cantik ini siapa?." tanya Wiwik menghampiri Mbok Siah yang duduk di kursi roda. Rupanya tawa pelan dari bibir Mbok Siah berhasil menarik perhatiannya.


__ADS_2