Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 10


__ADS_3

"Aku tidak mau pulang!" Anastasya berkata dengan tegas, melipat tangannya saat dia melihat melalui jendela.


"apa?" Dokter berkata seolah-olah dia baru saja mendengar hal yang paling menggelikan.


"keinginanku sudah bulat!" Anastasya mengangguk ketika dia memandangnya.


Jeda di ikuti dan kemudian dokter berbicara lagi dengan suara dingin


"Alasannya?"


"Rahasia!" Anastasya menjawab dengan nada dingin yang sama.


Dokter memperhatikannya beberapa saat sebelum berkata dengan alis terangkat


"apa bukan karena alasan 'pribadi'?, atau apa karena Alex?"


Anastasya menatapnya dengan mata melebar dan pipinya memerah. Dia mulai terbata-bata saat matanya berkedip-kedip.


"Apa? Tidak! Tentu saja tidak! Apa-apaan dokter ini, maksudku kenapa aku..."


"aku tahu kalian berdua sudah menjadi teman dekat selama beberapa minggu terakhir ini," dia memotongnya dengan seringai, "aku tahu kau ingin tetap tinggal dan membantunya."


Anastasya menatapnya sebelum menghela nafas sambil tersenyum.


"baik, kau memang benar dokter, karena Alex


Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja disini tanpa memenuhi janjikum"

__ADS_1


"Ahaaahaha!" Dokter tertawa, "aku tahu kau ingin dia menjadi lebih baik tapi, kau harus percaya sama rumah sakit juga. Kami akan menjaganya. Kau bisa pergi dan menikmati hidup barumu!"


"kedengarannya itubsangat menyenangkan," jawab Anastasya, "itu yang aku impikan sejak aku datang kesini tapi, aku hanya ingin membantu Alex menjadi lebih baik lagi. Tolong biarkan aku tinggal selama beberapa hari."


"tapi itu alasan yang tidak masuk akal," dokter itu berteriak, "misalnya jika Alex tidak akan pernah membaik, apa kau tidak akan pernah meninggalkan rumah sakit ini?"


"jangan katakan itu dokter!" Anastasya berteriak keras, "Alex akan membaik."


"Oke, aku minta maaf!" kata dokter dengan sabar, "aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu. Aku hanya memberikan contoh, ok! Contoh yang buruk, maaf kau benar. Aku seharusnya tidak mengatakan itu, dia akan menjadi lebih baik. Tapi, perlu memahami bahwa kau juga memiliki kehidupan yang harus kau nikmati sepenuhnya diluar sana."


"aku tahu," balas Anastasya, tampak bertekad. "tapi, aku ingin tetap berafa disini selama beberapa hari bersamanya."


Dokter menarik nafas dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya dengan tak percaya. Dan setelah keheningan yang panjang akhirnya dokter setuju dengan keputusan Anastasya itu.


"Oke, aku mengizinkanmu tetap disini hanya beberapa hari!"


Beberapa menit kemudian, Alex kembali dari ruangan isolasi berkat permintaannya dan Alex sendiri sudah berjanji kalau ia tidak akan pernah lagi memulai perilaku menyakiti orang lain lagi.


Alex dan Anastasya menghabiskan sebagian besar waktu mereka berjalan dan duduk-duduk, serta tentu saja bercanda satu sama lain. Anastasya tidak tahu kalau dengan bersamanya ia merasakan kebahagiaan itu. Ada juga alasan lain untuk kebahagiaannya itu; Alia. Alia adalah pasien lain yang suka di ajak bicara. Dia sudah sembuh dan tampak jauh lebih baik. Orang tuanya datang untuk membawanya pulang dan mereka tidak mungkin tidak terlihat lebih bahagia melihat putri mereka akhirnya baik-baik saja. Alia di pihaknya, tampak sangat gembira saat meninggalkan rumah sakit. Anastasya tahu kalau dia akan segera mengalami perasaan bahagia itu juga, tapi tidak untuk sekarang.


Untuk saat ini, aku lebih suka tinggal dengan Alex, Pikirnya.


Sepanjang malam, semua orang berjalan di aula besar dan Alex juga Anastasya memutuskan untuk duduk di meja kosong untuk berbicara.


"Aku lapar skali," Alex tiba-tiba berkata dengan ekspresi kesal di wajahnya.


"Oh," Anastasya tersenyum, "Tapi aku tidak!"

__ADS_1


Alex menyeringai padanya untuk jawaban aneh itu, membuatnya sadar betapa kesalnya dia.


"pipimu," tiba-tiba dia berkata, "kenapa warnanya merah muda."


"tidak apa-apa," Anastasya dengan cepat menjawab, "disini panas sekali."


Dia tampaknya menganalisis kalimatnya di benaknya dan kemudian senyum jahat muncul di wajahnya.


"Errr... apa..." Anastasya tidak bisa menyelesaikan kalimatnya untuk sesaat berikutnya dia meraih tangannya dan diam-diam berlari keluar dari aula ke malam yang dingin di luar.


Anastasya merasakan seluruh tubuhnya membeku, saat mereka melangkah keluar dan seketika giginya mulai berceloteh, belum lagi kakinya juga akan lemas.


Sebelum Anastasta punya waktu untuk mengatakan sesuatu, Alex meraih tangannya dengan lebih kuat dan berlari menuju kolam.


"Haaa, udara yang segar. Hahaha," Alex tertawa terbahak-bahak, merentangkan tangannya.


"Udara segar?" Anastasya mencicit, "Ddddd, apa kau tahu aku kedinginan?"


Kemudian Anastasya menggenggam lengannya dengan marah dan menariknya kembali ke aula. Dia memutar gagang pintu dan tadaaaa... Terkunci!


"Oh tidak!" Anastasya mukai panik, "kita terkunci dari luar.


"Bagus kalau terkunci, kita bisa menikmati udara dingin ini disini,"


"Apa katamu? Menikmati?"ucap Anastasya, "Kau tidak tau betapa dinginnya disini dan aku akan mati kedinginan jika berlama-lama diluar."


"Yah itu sih masalahmu, aku tidak mau masuk meskipun pintinya tidak dikunci, didalam sangat membosankan." ucap Alex.

__ADS_1


__ADS_2