Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 59


__ADS_3

Alice POV


Aku melihat kearah cermin sambil mengingat hal-hal yang sudah berlalu, semuanya tampak buruk sekali, tidak ada ruang kebaikan untuk diriku lagi. Aku sedang memikirkan hal saat aku membebaskan diriku dari cengkramannya, setelah dia melakukan hal yang mengerikan kepadaku.


Aku berlari, aku pergi kerumah kakakku, Alan. Dia tinggal sekitar satu jam dari tempatku saat ini, tapi aku tiba di sana sekiat 45 menit karena kecepatanku berlari tanpa henti. Sudah lewat jam 12 malam, aku tiba di rumah kakaku dan mulai mengetuk pintu rumahnya, udara dingin dan tubuhku menggigil, air mat di wajahku lama kelamaan membeku di pipi ku, saat Alan membuka pintu, dia tampak kebingungan melihatku dan terlihat marah karena harus terbnagun dari tidurnya karena diriku, tapi setelah dia melihat pipiku yang memerah dan basah serta juga ada bekas biru lebam yang tersebar di seluruh tubuhku, dia memelukku.


Dia membiarkan diriku menangis di pelukannya, hingga pada pagi hari, saat matahari mulai bersinar terang, dia membuatkanku secangki teh dengan dua sendok madu, air the yang hangat itu mengalir di kerongkonganku, seketika meredakn rasa sakit karena tangisanku. Alan mulai berbicara dengan suara yang begitu lembut dan penuh perhatian. Dia mengatakan pdaku bahwa di sangat mencointaiku dan aku bisa mempercayainya, aku menyimpan banyak rahasia dalam waktu yang cukup lama, tapi hari ini, aku seolah-olah mengukapkannya semuanya di hadapannya, aku bilang padanya bagaimana pacarku menyiksaku, mengalahkanku, bagaimana dia mulai minum-minum dan aku mengatakan padanya tentang hal buruk yang baru saja ia lakukan kepadaku, aku mengatakan kepadanya tentang ketakutanku  apa yang aku takuti dan siapa yang aku takuti, dia menganggap aku sedang berbicara tentang mantan pacarku, tapi aku berbicara tentang diriku sendiri.


Aku takut kalau suatu hari nanti, kegelapan akan menghabisi diriku dan aku tidak bisa melawannya. Alan meyakinkan diriku kalau dia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi lagi pada diriku selama dia bersamaku.  Dan selama setahun semenjak kejadian iu berlalu, hidupku bahagia. Aku mendapatkan terapi dan konseling khusus untuk masalah-masalah yang ku alami selama ini. Alan semakin hari semakin menjagaku hingga aku mulai kuliah dan mendapatkan gelar sarjana. Akan tetapi, suatu hari Alan berbicara dengan ku dan mengatakan ingin melakukan sesuatu yang lebih untuk hidupnya,  yah dia ingin mendaftar di kemiliteran seperti ayah dan meninggalkanku.


 


Beberapa tahun kemudian...


 


Aku mendengar jam alaramku berbunyi begitu keras di sampingku, aku mengerang dan berguling dari tempat tidur. Itu tandanya sudah waktunya untuk diriku beraktivitas, aku bangun dan melakukan rutinitas pagi ku, aku kemudian mandi dan membasahi rambutku dengan shampoo favoritku yang beraroma bunga melati dan kemudian membasuh tubuhku dengan air, setelah mandi aku mengeringkan tubuhku dengan handuk dan mulai berpakaian rapi dan pergi bekerja,  aku membangun usaha sendiri dengan membuka toko bunga, kalian tahu, aku sangat menyukai bunga, kata ibuku nenekku juga suka sekali dengan bunga, makanya aku membuka toko seperti itu, meskipun memang membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuka toko seperti itu dan harus mengumpulkan uang yang banyak, tapi hasilnya akan sepadan.


Aku tinggal di salah satu kota yang tidak begitu padat penduduk, dan toko bungaku juga tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku yang sekarang, pedesaan dengan ladang hijau yang luas serta beberapa bunga-bunga liar yang tumbuh di setiap jalan.


Aku memiliki rumah tidak terlalu besar, sederhana namun unik. Hanya memiliki satu lantai, dengan interior nuansa Indonesia kuno yang sangat aku sukai. Entah kenapa aku sangat menyuakinya. Saat aku mulai berjalan menuju toko bungaku, aku mendengar kicauan burung-burung serta suara anak anjing peliharaanku yang menggonggong, menyambutku. Dengan gembira, anjing itu mengemis makanan pagi padaku, aku mengisi mangkuk merah dengan makanan anjing.


 


Suara bel pintu berbunyi…


 


Aku mendongak dan melihat Kenny, pegawaiku. Kenny adalah anak remaja berusia 19 tahun yang baru saja selesai SMA. Rambutnya hitam berombak, mata cokelat yang indah dan aksen daerah yang menjadi impian setiap lelaki. Dia berasal dari Sunda dan pindah ke Amerika setelah dia selesai sekolah, dia pegawai yang sangat rajin dan dia juga teman baikku.


“Hai, kak Alice. Aku merasa kau tidak masuk hari ini?” Dia berkata, aku tersenyum dan mengambil beberapa tangkai bunga kesukanku, mawar merah berduri. Kemudian memeluknya.


“Aku tidak akan pergi, karena ada sesuatu hal yang harus aku selesaikan dan aku kerjakan disini.” Kataku, menyimpan kembali bunga-bunga itu ke dalam vas, sepanjang pagi itu, aku pergi membayar pajak dan beberapa tagihan serta memesan pengiriman bunga-bunga baru.


Aku melihat jam menunjukkan pukul 12:00, jadi aku bergegas keluar dan melihat Kenny melayani seorang pelanggan. Aku melambaikan tangan padanya untuk memberi tanda kalau aku mau keluar untuk makan siang.


Aku berjalan menuju warung makan di pinggir jalan yang tak jauhdari toko bungaku. tiba-tiba ponselku bergetar. Aku melihat ke layar ponselku, dan yang kulihat hampir membuatku meledak, Alan yang menelpon.


Aku senang sekali, kakak ku menghubungiku.


“Halo, Kak, ya ampun!” aku berteriak ke ponselku.

__ADS_1


“Hei adikku, tenang dulu, Alice.” Alan terkekeh. “Apa kabar?”


“Alan, sudah cukup! Kenapa kamu menleponku? Apa kamu sudah pulang?” sekali lagi dia tertawa, aku sangat merindukan tawanya.


“Ya, kakak sudah mau pulang,yah yah rabu depan dan penerbanganku sekitar jam 4 pagi.” Katanya, aki tidak bisa menahan lagi rasa kegembiraan yang aku rasakan, orang-orang di warung makan memperhatikanku dengan aneh tapi aku tak peduli.


“Kak, aku bahagia sekali dan merasa bersemangat. Aku tidak percaya kamu akan pulang.” Aku tersedak dan kata-kataku terputus.


“Oh adik kesayangan kakak, tolong jangan menangis. Aku tidak percaya kamu tidak ingin kakak pulang, hehe.” Aku bisa mendengar tiruannya di telepon.


“Diam! Kakk tahu, aku sangat ingin kamu pulang. Kamu kembali disini berapa lama?” aku bertanya.


“1 tahun penuh.” Aku tersenyum dan mulai tersedak lagi karena makanan yang aku makan. Sudah 5 tahun lebih aku tidak pernah bertemu dengan saudara kembarku tu. Terakhir kali aku bersamanya, saat pertama kali aku membuka toko bungaku. Dia bahkan sangat bangga padaku, tapi sayangnya waktu itu dia menemaniku Cuma 1 bulan saja. Tapi sekarang aku bahagia karena dia kaa terus bersamaku selama setahun penuh.


“Luar biasa kakak,”


“Ohya, nanti aku pulang membawa seorang teman . namanya Adrian dan dia tidak punya keluarga lagi, jadi, tidak apa-apa?” dia bertanya.


“ohyah, tentu saja kakak. Aku akan memasakkan makanan begitu banyak untuk menyambut kalian berdua dirumah. Aku akan menyiapkan semuanya.” Kataku semakin bersemangat.


“Baiklah, kedengarannya baggus. Aku yakin masakannmu yang paling enak, adikku. Sudah dulu, aku harus pergi. Sampai jumpa, Alice.” Katanya. Aku bisa mendengar kesedihan dalam suaranya.


“Sampai jumpa, kakak.”


“Ehemm,” aku berdehem, “Kamu tahu kan, kalau makanan burung itu seharusnya di simpan di dalam wadah?” kataku.


“Ya, tapi setiap aku memberinya makan pakai tanganku, dia akan mematukku.” Katanya dengan meraup wadah penuh biji dan mengambilnya kemudia meletakkannya ke dalam sangkar.


“Lihat! Dia burung bodoh.” Dia cemberut menyilangkan lengan, dia tampak seperti anak berusia lima tahun yang sedang merajuk.


“Yah, mungkin saja jika kamu berhenti memanggilnya dengan sebutan burung bodoh, dia mungkin akan menyukaimu. Aku punya kabar baik, lho! Saudara kembarku akan pulang.” Aku tidak bisa menahan kebahagiaanku. Kenny juga tampak bahagianya sama sepertiku dan memelukku.


“Kak, itu kbar bagus. Aku sangat senang untukmu.” Air mata bahagia membasahi mataku.


“AKu sudah lama tidak melihatnya, dia sudah banyak berubah.”


“AKu yakin dia masih gagah seperti sebelumnya.” Kenny mengedipkan matanya padaku, aku pernah menunjukkan foto Alan satu kali padanya dan dia bilang Alan memang sangat tampan.


“Berapa umurnya sekarang? Dia bertanya.


“Astaga dia seumuran denganku,kamu lupa yah kalau kami ini kembar. 25 tahun” aku tersenyum.

__ADS_1


“Ops, aku lupa. Maaf.” Dia menyeringai padaku.


“Ya, trima kasih, aku yakin banyak di luar sana wanita yang akan tertarik padanya.”


“Ya, kamu benar.” Dia tersenyum lagi lalu berjalan pergi.


 


Alan POV


Aku tidak tahu kenapa diriku sebahagia ini saat berbicara dengan Alice, adikku. Meskipun mengecewkan karena aku harus mengakhiri pembicaraan kami di telepon, setidaknya Rabu depan aku bisa berjumpa dengannya dan akan bersamanya lebih lama. Aku menunduk ke bawah sambil tersenyum ke arah telepon yang ku genggam, aku mendengar pintu barak terbuka, aku mendongak dan melihat Adrian sahabatku sejak aku mendaftar di ketentaraan.


“Hei, apa kau tadi habis bicara dengan adikmu?” Dia bertanya, aku mengangguk.


“Apa kamu sudah memberitahunya kalau aku akan ikut bersamamu? Bagaimana responnya?” Dia bertanya.


“Ya, dia setuju.”


“Apa yang dia sukai?” Dia bertanya, melangkah lebih dekat ke arahku dan duduk di sebelahku di tempat tidur.


“Ya, waktu itu, kami berulang tahun, dia membuka sebuah toko bunganya sendiri, Alice Florist. Dia sangat bangga dengan tokonya itu, dan aku tidak percaya kalau dia mampu berdiri diatas kedua kakinya selama ini. Sebelum aku pergi di ketentaraan, aku sempat pergi ke taman sambil memakan eskrim bersama. Saat itu kakinya tersandung dan terjatuh, eskrimnya juga jatuh tepat di wajahnya, dia benar-benar sangat malu kemudian setelah itu dia meminta serbet kepada tukang eskrim itu dan membersihkan wajahnya kemudian pergi sambil menutup wajahnya dengan rambutnya.” Kami berdua tertawa saat aku menceritakan hal konyol itu dan Adrian hanya bisa membayangkannya.


“Wow, kedengarannya, adikmu orang yang sangat lucu.” Dia tersenyum. “Siapa namanya lagi?”


“Alice.”


 


Alice POV


Rasanya aku sudah tidak sabar melihat kakakku pulang. Oh ya, aku sudah mempersiapkan semua kebutuhan untuk menyambutnya pulang dan temannya itu. Besok, dia akan tiba.  Aku sangat gugup, tapi aku harus bersemangat. Aku juga sudah merapikan dan membersihkan semuanya. Aku menyuruh Kenny pulang lebih cepat, dia sangat produktif dan selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.


Bunyi bel toko berbunyi, aku mendongak dan melihat seorang pria dan anak kecil berjalan masuk, anak itu terlihat manis, rambutnya diikat dua kuncir kuda dengan pita dan mengenakan celana jeans yang imut, juga baju merah muda yang sangat cocok dengan kulitnya, untuk ayahnya, dia terlihat jangkung dengan rambut putih yang agak gelap, dia mengenakan celana khaki biru gelap dengan kemeja putih polos dan dasi biru. Aku tersenyum ramah pada mereka kemudian berjalan kea rah mereka.


“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” AKu bertanya, pria itu memandang diriku sambil meraih tangan putrinya.


“Kami disini untuk mengambil hadiah bucket bunga untuk ibu. Bukankah itu benar, Sheila?” Anak itu bernama Sheila, dan diapun mengangguk dan memasukkan ibu jarinya kedalam mulutnya. Aku tersenyum padanya dan berlutut menghadapinya.


“Apa kamu tahu, apa yang disukai ibumu?” Dia mengangguk lagi. “Apa itu?” Sheila menatap ayahnya yang mengangguk ke arahnya, dia menatapku.


“Ibuku sangat menyukai bunga lily.” Dia erkata dengan ibu jari yang masih ada di dalam mulutnya. Aku tersenyum padanya dan membimbing mereka ke arah tempat kami menyimpan bunga-bunga lily itu.

__ADS_1


“Ayah, aku ingin membeli dua bucket bunga itu untuk ibu.” Ayahnya tersenyum.


“Baiklah, ibumu akan sangat menyukainya.” Aku mengambil bunga-bunga itu dan membawanya ke ruang dimana aku membungkusnya  dengan rapid an menyegelnya, setelah mereka membeli bunga-bunga lily itu, mereka berjalan kembali menuju mobil mereka dan mudah-mudahan mereka memberi kejutan yang paling bahagia untuk ibunya yang sudah menunggu.


__ADS_2