
“Bu.” Frans duduk di sebelah ibunya.
“Ya, sayang? Ada apa?” Anastasya meraih tangan Frans dan berkata padanya.
“Aku mencintaimu, Bu.” Anastasya tersenyum, senyuman pertamanya semenjak dia tahu kalau dirinya menderita tumor otak. Dia meletakkan salah satu tangannya di wajah Frans.
“Frans juga sangat mencintai ibu.” Dokter masuk.
“Bu, bagaimana perasaanmu hari ini?” Dokter bertanya.
“Sangat baik.” Dia menatap Frans.
“Ini pasti Putramu.”
“Senang bertemu denganmu, Dokter.” Frans bangkit dari kursi dan menjabat tangan dokter.
“Christian.”
“Senang bertemu dengan anda, Dr. Christian.”
“Senang bertemu dengan anda juga.”
“Jadi, Dok, bagaimana keadaan ibuku?”
“Yah sudah lebih baik di banding kemarin, tapi sayangnya itu tidak akan membuat tumor otaknya hilang. Bisakah aku bicara denganmu, berdua saja?”
“Ya, tentu saja dokter.” Frans dan Dr. Christian keluar dari kamar.
“Ada kabar buruk.”
“Apa itu dokter?” Frans tidak yakin, apakah dia bisa menangani berita buruk lagi.
“Saya ingin, Anda tahu bahwa Dr. Albert dan saya melakukan semua yang kami bisa, akan tetapi ternyata itu tidak cukup ..”
“Apa yang anda katakan ini?”
“Ibumu tidak punya banyak waktu.”
“Apa?” Suara Frans pecah.
“Maaf, Nak. Kami melakukan semua yang kami bisa, tapi kami sepertinya tidak bisa mengalahkan tumor ibumu yang sudah memasuki stadium lanjut. Ibu anda memang kuat, tapi tidak cukup bisa mengalahkannya. Tumor itu sudah menyebar di mana-mana, maafkan aku.” Frans hampir jatuh mundur karena kaget.
“Berapa lama waktu yang dia punya?” Frans berusaha bertanya.
“Sekitar, satu atau dua bulan lagi. Kami belum yakin, tapi kami akan melakukan segala hal yang kami bisa untuk membuatnya tetap hidup. Jadi belum pasti, tapi aku hanya ingin memperingatkan anda kalau dia mungkin tidak punya banyak waktu.”
“Bisakah aku, setidaknya membawanya saja pulang? Untuk menghabiskan waktu bersamanya?”
“Ya, tapi seminggu lagi.”
“Tentu saja.” Frans berjalan kembali ke kamar. Dia sudah melakukan yang terbaik untuk menyembunyikan rasa sakitnya, tapi Vania mengetahuinya.
__ADS_1
“Frans? Apa semuanya baik-baik saja?” Vania bertanya.
“Ummm, Yah tentu.” Syukurlah, Dr. Christian datang menyelamatkannya dari pertanyaan Vania.
“Maaf, kalian harus keluar. Aku harus melakukan beberapa tes pada Ibu Anastasya.”
“Baik. Bu, kami akan kembali.” Anastasya tersenyum. Vania dan Frans berjala keluar rumah sakit bersama. Mereka duduk di mobil, tapi Frans tidak mengemudi.
“Frans, apa semuanya baik-baik saja?” Frans tidak menjawab. “Frans?”
“Hah? Yah? Kenapa?” Dia mengedipkan matanya.
“Apa semuanya baik-baik saja?” Alisnya naik membentuk ekspresi khawatir.
“Yah, tidak ada apa-apa.” Air mata mengalir di pipinya. “Ibuku sedang sekarat.” Dia mulai menangis. Vania memeluknya, dia meletakkan kepalanya di bahunya. “Dr.Christian bilang kalau ibuku mungkin punya satu atau dua bulan lagi harapan hidup. Tidak apa-apa.” Dia terus menangis. Vania tidak bisa memikirkan kata-kata apapun untuk bisa di ucapkan. “Apa yang bisa aku lakukan?” Dia memandangnya.
“Yah, kita akan menghabiskan banyak waktu bersamanya. Setidaknya dia memberitahumu sehingga kamu memiliki kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.”
“Tapi aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal.”
“Aku tahu, tidak ada yang tahu.” Mereka duduk di sana beberapa menit. Frans sudah sedikit tenang.
“Aku seharusna tidak menangis. Aku harus kuat menghadapi semua ini.”
“Frans, kamu itu kuat. Kamu itu kuat. Ibumu sedang sekarat, tidak ada salahnya kamu menangis. Terkadang menangis tandanya kalau dirimu itu kuat.”
“Bagaimana Vania? Bagaimana! Ibuku berbaring di ranjang rumah sakit dan dia hanya memiliki satu atau dua bulan untuk bertahan hidup! Aku benar-benar tidak peduli, apakah aku kuat atau tidak! Yang aku pedulikan adalah dia harus sembuh, dia tidak boleh mati. Ini bukan saatnya dia pergi.!” Frans mengepalkan tangannya dan memukul kemudi mobil.
“Ayo kita pulang.” Dia menyalakan mesin mobil dan mereka pergi ke rumah Frans. Saat mereka sampai di rumah, Frans melihat sekeliling. “Aku merindukan tempat ini.”
“Rumah ini kosong tanpamu.”
“Kamu tidak tahu, betapa aku sangat merindukanmu.” Frans berbalik ke Vania. Dia berjalan lebih dekat dengannya dan mengulurkan tangannya di penggangnya.
“Yah, aku juga sangat merindukanmu,”
“Tidak. Aku yakin tidak.” Frans menciumnya. “ Aku merindukan kecupan di bibirmu.” Frans berbisik. Dia lalu mencium kelopak matanya. “Dan matamu yang indah.” Lalu Frans mencium pipinya.” Dan pipimu yang chubby.”
“Pipiku tidak Chubby.”
“Kalau itu sih menurutmu,” Vania tersenyum, “Dia mengangkat kakinya mengitari pinggang dan lengan di lehernya. Frans menciumnya dan Vania mulai tertawa. “Dan aku merindukan tawa indahmu.” Frans menurunkan Vania dengan lembut di tempat tidurnya dan membelainya lagi. Sesaat dia berhenti dan Frans menatap matanya. Dia tidak percaya, betapa beruntungnya dia. Dia kahirnya memiliki gadis impiannya di tangannya. Dan dia adalah impiannya. Dia tidak bisa percaya betapa gilanya Frans terhadap Vania. Vania hanya tersenyum dan menciumnya.
Pikiran dalam benak Frans saat ini hanyalah ibunya. Senyumnya hilang. Vania meletakkan tangannya di wajahnya, Frans menatapnya. Vania tersenyum begitupun Frans, membalas senyumnya.
“jangan terlalu memikirkannya.” Vania berkata.
“Hanya saja, hidup ku tidak akan lengkap tanpa ibuku.”
“Semisal ibu ku meninggal suatu hari, aku merasa seolah seseorang menikam dadaku. Dan ada dirimu di sana untuk menyembuhkan luka itu. Van, ohya aku lupa membelikan Bram hadiah untuk hari ulang tahunnya. Mungkin lebih bagus aku membelikannya kaos sepak bola kesukaannya. Ok aku pergi dulu, aku akan cepat kembali.” Frans kemudian mencium pipi Vania. Vania bahkan tidak mendapat kesempatan untuk mengatakan sesuatu padanya. “Kamu memiliki kesempatan yang tidak pernah orang lain miliki. Kamu memiliki kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dan kalau memang itu terjadi, aku harap kamu memberitahu ibuku kalau aku sangat mencintainya, dan aku tidak ingin dia pergi. Karena, sangat sulit bagi diriku sendiri untuk mengucapkan itupadanya sendiri.” Frans tetap diam selama beberapa menit. Dia melingkarkan tangannya di pinggangnya, dan berbaring di sana.
__ADS_1
“AKu tidak ingin dia pergi.” Matanya terpaku pada dinding saat dia berusaha untuk tidak menangis.
“Aku tahu.”mereka terdiam selama beberapa menit, dan hanya berbaring di sana.
“Van?”
“Ya, Frans?”
“Apa ayahmu pernah kembali?” Vania tetap diam. Frans duduk. “Van?” Vania menghindari tatapannya.
“Tidak.” Suaranya keras.
“Maafkan aku, Van.” Frans memeluknya dengan erat.
“Jangan menanyakan tentang dia lagi. Aku sudah tidak pernah bertemu dengannya selama 2 tahun ini. Aku tidak pduli lagi padanya.” Vania brbicara dengan nada marah. Dia tahu kalau yang harus di lakukannya adalah tidak peduli lagi, meskipun perasaanya itu masih terbilang sakit.
“Kamu tidak membutuhkannya lagi?”
“Yah, tentu. Aku tidak membutuhkannya lagi.”
“Bagaimana Bram mampu bertahan tanpa dia?”
“Bram sibuk dengan dunia sepak bolanya. Dia melakukan segalanya agar tidak memikirkan ayah lagi. Dia ingin focus mendapatkan beasiswa. Tapi aku sangat membenci diriku sendiri karena tidak mampu membayar kebutuhannya. Kamu tahu kan, sekarang dia jadi kapten di timnya. Dia benar-benar kebalikan dari diriku semasa sekolah ku dulu. Dia sepertimu.” Vania tersenyum dengan kata terakhir yang dia ucapkan.
“Ohya, apa dia tidak pernah membuat masalah atau apa pun itu?”
“Ya tentu, dia melakukan hal yang terbaik.”
“Yah iyalah, dia kan mengikuti jejakku.” Frans tersenyum.
“Iya.” Vania tertawa, “ Tapi kamu tau kana pa yang membuatku khawatir selama ini? Dia sering bertengkar dengan temannya. Dan kalau dia melakukannya lagi, dia akan di keluarkan dari dari tim sepak bola.”
“Apa dia berkelahi?” Frans mengerutkan alisnya, menunjukkan ekspresi khawatir.
“Tidak, tapi ku pikir dia melakukannya karena dia ingin melepas amarahnya. Dia sangat marah pada ayahku dan dia mencoba melampiaskan segalanya pada orang-orang. Saat itu dia melihat seorang anak laki-laki sedang mengganggu anak perempuan, lalu dia berusaha menyelamatkan perempaun itu. Dia berkelahi dengan anak lelaki itu. Tapi mereka tidak terluka kok.”
“Aku akan membereskannya.”
“Mungkin sebaiknya.”
“Percayalah padaku Van, aku akan berusaha menghilangkan amarah dari dalam dirinya itu.” Vania menciumnya.
“Terima kasih.”
“Dia sekarang ada di mana?”
“Mungkin sedang tidur.” Vania memandang arlojinya.
“Tidur siang? Dia sama seperti diriku.” Frans terkekeh dan bangkit. Dia memakai celana pendek dan celana jinsnya. Kemudian mengenakan kemejanya dan sepatu kets.
“Kamu mau pergi ke mana?”
__ADS_1
“Menemui Bram.” Frans masuk ke dadal kamar mandi lalu keluar 10 menit kemudian. Dia memandang Vania. Kemudian mencium kening vania. “Aku akan kembali nanti.” Dia berjalan keluar dari rumahnya dan ke teras rumah Vania.