Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 70


__ADS_3

Keesokkan paginya, semua orang hanya terdiam, semua yang bisa di dengar hanyalah denting dari peralatan makan yang ada di atas meja. Masing-masing dari kita terjebak dengan masalah yang ku hadapi.


“Apa yang kita akan lakukan?” Adrian bertanya. Tapi tidak ada yang bisa kami lakukan.


“Pertanyaan yang harus kita tanyakan adalah apa yang akan dia lakukan jika dia melihat Alice.” Alan berkata sambil menatap tajam kea rah piringnya.


“Aku hanya cukup berhati-hati, aku akan memastikan menutup toko ku lebih awal dan memarkir mobil lebih dekat darai toko.” Aku mengatakannya dengan berbisik.


“Tapi bagaimana kalau dia datang ke toko?” Adrian bertanya lagi.

__ADS_1


“Kenny da di sana bersamaku, dia tidak akan menyakitiku jika ada orang lain di sekitarku.” Tampaknya itu sudah cukup memuaskan mereka berdua, karena secara fisik mereka mengendurkan otot-otot nya yang menegang dan bersandar lebi rilek ke kursi mereka maisng-maisng.


Percakapan kami berakhir setelah itu. Aku benar-benar gelisah di toko, aku terus memandangi bahuku dan meskipun di luar terang, semua lampu di toko juga menyala. Kenny bisa merasakan ketidaknyamanan ku dan terus berusaha meringankan suasana denagn lelucon dan obrolan ringan tapi semua itu tidak berhasil. Aku terjebak di toko ku, Alan dan Adrian mengambil mobilku dan pergi membeli mobil untuk mereka sendiri, dengan uang yang mereka tabung di rekening bank, mereka punya cukup uang untuk membeli mobil. Mereka datang dengan mobil baru setela jam tiga, mobil Pajero Sport dalam kondisi mulus dan berkilau, mereka berdua membelinya dengan harga yang cukup mahal. Setelah itu mere pulang ke rumah, dan tinggal aku dan Kenny disini.


Saat matahari mulai menggantung rendah di langit, awan-awan mulai berubah warna menjadi Orange, ayah Kenny tiba-tiba masuk rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Sekarang aku sendirian, aku mengunci pintu dan menutup tirai, cuaca di luar mulai berubah dari cerah menjadi badai. Angina berhembus kencang di luar, begitu pun juga pohon-pohon, dedaunannya berhempas keras, huja turun dan mulai membasahi tnah. Lampu-lampu mulai berkedip. Aku berada di  ruang kerjaku, sekarang jam mulai menunjukkan pukul enam sore dan aku harus pulng, aku mengumpulkan barang-barangku, aku menutup pintu ruang kerjaku dan menguncinya, lalu aku berbalik. Mataku terus menuju kea rah pintu depan, saat aku berjalanmenuju pintu, tiba-tiba lampu padam semua, aku berhenti di jalanku mencoba melihat sekitarku, menyesuaikan dengan kegelapan. Aku mengambil nafas, aku mulai gemetar dan saat aku mengambil alngkah ke depan, sebuah tangan menutup mulutku dan sebuah lengan melingkari pinggangku.


“Halo Alice, sudah lama sekali yah.” Suara licik dan memuakkan berbisik di telingaku. Itu suara Stefan. Napasku mulai tersedak, aku mulai mencoba mengenadlikan detak jantungku, aku ingin memberitahunya untuk melepaskanku dan pergi, tapi tenggorokkanku mencegah leherku dan mulutku untuk berbicara.


“Sekarang, jangan coba-coba mempersulit diriku.” Dia menggeram di telingaku, tangannya mengangkat mulutku perlahan, memastikan aku tidak akan menjerit.

__ADS_1


“Apa yang kau inginkan?” Aku berusaha menjaga suarak, tapi suaranya kemudian pecah di akhir kalimatku. Aku bisa merasakan seringainya di  bibirnya saat dia mulai menjawab.


“Aku pikir, itu sudah cukup jelas!” katanya sambil meletakkan tangannya di pundakku, dia memutar tubuhku sehingga aku berhadapan dengannya.


“Aku datang ke sini untuk menghancurkan hidupmu.” Dia menggeram padaku. Rasa percay diriku tiba-tiba mulai menggelembung di dalam diriku dan menunjuk  jari tepat di depan wajahnya, menuduhnya dengan berani sambil menatapnya dengan tajam.


“Kau sudah menghancurkan hidupku. Saat aku bertemu denganmu, yang kau lakukan hanalah membangunkanku dan menjatuhkanku, memukuliku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu melakukannya lagi.” Aku berteriak padanya, membuat suaraku lebih keras lagi, sekeras yang aku bisa, Stefan tau betapa seriusnya aku, tapi itu tidak mengganggunya,dia mengambil tanganku, menggenggam pergelangan tanganku kemudian meremasnya. Aku langsung merasakan sakit yang luar biasa, air mata menyengat mataku dan aku mati-matian berusaha melepas pergelangan tanganku dari genggamannya.


“Ingat ini Alice, kau tidak bisa lari dariku, ku tidak bisa bersembunyi. Mungkin butuh berbulan-bulan atau bertahun-tahun, tapi aku akan selalu menemukan dirimu, dan semakin aku mencoba menghilang dan menghindar, akan semakin keras hukumanmu.” Katanya. Saat aku mendengar pernyataan terakhirnya, aku merasakan sesuatu yang tajam menyakitiku, sangat sakit, menembus lenganku, air mata jatuh di wajahku dan bisa melihat senyum sadis di wajah Stefan, dia senang melihatku seperti ini, dia senang melihatku kesakitan. Dia menjatuhkan pergelangan tanganku dan aku memegangi dadaku sambil merintih dan terisak.

__ADS_1


“Sampai bertemu lagi, Alice.” Saat dia berjalan keluar, aku tahu yang dia ucapkan padaku adalah janji dan ancaman untukku.


 


__ADS_2