
Mereka menonton film romansa dan Anastasya mau tidak mau harus mencuri pandang dari Alex beberapa kali. Selama adegan dimana aktor melamar gadis, Alex tidak menunjukkan emosi apapun, jika adegan aksi yang muncul dia tampak tertarik , jika adegan komedi ia hanya menyeringai dan pada akhirnya saat pasangan aktor itu menikah, ia tampak benar-benar cuek.
"Itu film yang fantastis," Anastasya menyimpulkan saat Anastasya memandangnya.
"Yah itu agak menyenangkan. " Gumamnya. Yah setidaknya yang dia bilang itu bagus.
"Adegan aksi itu mengagumkan, aku benar-benar menikmati menonton pertarungan " Alex berkata dan Anastasya hanya menganga.
Wow! Jadi itu berarti dia benar-benar membenci romansa sekarang.
Setelah itu, Alex pulang. Dia berjanji akan kembali besok meskipun Anastasya memperingatkannya bahwa dia akan di sambut dengan seember air jika dia datang.
Keesokan harinya..
Saat Alex hendak berjalan masuk ke dalam rumahnya, dia memperhatikan kalau semua orang di ruang tamu memperhatikannya; tampak tegang. Clara menatap Alex dengan tajam dan Alex hanya menatapnya dengan tatapan biasa-biasa saja.
"Clara memberitahu kami soal keputusanmu," Ayah Alex; Samuel bicara dengan suara yang serius, "dan baiklah, kurasa apa itu sudah jadi keputusan terakhirmu, Alex?"
"Ya ayah," Alex mengangguk, matanya tertuju pada Clara, "itu keputusan terakhirku."
"Baik!" Clara menambahkan, "dan mungkin aku tau kau darimana."
"Kenapa kau harus tau?" Alex menjawab dengan nada dingin, "yah karena kau sangat penasaran maka aku harus memberitahumu kalau aku barusan habis dari batalyon kemudian aku pergi berjalan-jalan. Jadi, apa itu masalah buatmu?"
"Aku tidak peduli lagi padamu! Aku membencimu." Dia berteriak dan bergegas keluar dari rumah dan saat berikutnya suara mobilnya terdengar menunjukkan kalau dia sudah meninggalkan rumah.
__ADS_1
"Yah," Samuel memulai, "Sekarang dia pergi, maukah kau memberitahu ayah kau darimana saja?"
Alex menghela nafas dan bertanya-tanya apakah dia harus memberitahu mereka tentang Anastasya. Bagaimana jika mereka berpikir bahwa dia meninggalkan Clara demi Anastasya. Tidak! Mereka tau kalau Alex tidak seperti itu. Dia masih mencintai Clara saat masih bertemu Anastasya. Hanya saja saat Alex diberitahu kalau Clara pergi disaat Alex membutuhkannya, perlahan-lahan cintanya pada Clara mulai menghilang.
"Oke ayah," kata Alex, "aku benar-benar pergi ke batalyon, tapi aku tidak berjalan-jalan setelahnya. Aku pergi menemui seseorang."
"Siapa?" semua orang tampak bingung.
"Seseorang yang sudah banyak membantuku," dia tersenyum ketika dia menceritakan kepada mereka bagaimana dia bertemu Anastasya di rumah sakit, bagaimana dia menjadi temannya, membantunya dan mendukungnya. Bagaimana dia menakutinya di rumah sakit dan yang terpenting, dia setuju untuk tinggal di rumah sakit meskipun dia sudah sembuh total demi dirinya. Sebuah pengorbanan yang dia lakukan hanya untuk mendukungnya.
Di akhir cerita, semua anggota keluarga kaget. Mereka menatap Alex dengan terbelalak dan tidak berkata apa-apa.
"Ap kita mengenalnya?" Ibu Alex; Nyonya Samuel bertanya.
"Tidak bu," Alex tersenyum, "tidak. Dia bukan teman ataupun keluarga. Dia hanya orang asing, tapi sekarang dia adalah seseorang yang sangat dekat denganku. Itu sebabnya aku pergi menemuinya. Aku harus tahu dimana dia berada dan apa yang dia lakukan."
"Oh.. dia tinggal di apartemen di dekat kota yang berjarak 2 jam dari sini," Alex menjelaskan.
"Kita semua harus pergi dan menemuinya." Samuel memutuskan, tampak termenung. "Kita harus berterima kasih padanya atas apa yang dilakukannya, karena dia benar-benar memiliki hati yang baik. Kita tidak bisa datang dan bertemu denganmu waktu di rumah sakit tapi, dia mengambil keputusan itu dan sangat peduli denganmu. Aku ingin bertemu dengannya."
"Aku juga," Sarah berkata dengan riang, "kapan kita menenmuinya?"
"Besok!" Nyonya Samuel tersenyum.
"Tidak!" Alex tiba-tiba berkata, dia mendapat ide. "Kenapa kita tidak mengundangnya saja ke rumah?"
__ADS_1
"Itu ide yang bagus," kata Tuan Samuel, terlihat sangat bahagia.
Keesokkan harinya...
Saat itu hampir tengah hari dan anastasya masih saja tidak menemukan pekerjaan apapun.
'Maaf, tidak ada lowongan untuk saat ini.'
'Maaf, kami tidak mempekerjakan orang yang tidak berpengalaman.'
'Maaf. Anda tidak memenuhi kualifikasi untuk pekerjaan ini.'
Anastasya menghela nafas dan berpikir kalau mungkin tidak ada jalan keluar dan satu-satunya tempat dimana dia bisa bekerja adalah di toko bunga, meskipun dia merasa perasaanya agak berbeda saat pergi kesana tapi, dia mengerahkan seluruh keberaniannya dan pergi ke toko.
Setelah kelelahan seharian mencari pekerjaan, diapun memutuskan untuk pulang. Anastasya membeli makanan di pinggir jalan dan menuju ke apartemennya dimana seseorang sudah menunggunya.
"Alex," Anastasya menghela nafas, "apa yang kau..."
"Dimana itu?" Alex bertanya, memandang sekelilingnya, ketegangan terlihat diwajahnya.
"Apa?" Anastasya bertanya tampak kebingungan.
"Ember air," dia menyeringai.
"Diam!" Anastasya berkata dan membuka pintu, "kau tahu, kemarin aku hanya bercanda dan tidak akan melakukan itu."
__ADS_1
"Bolehkah aku masuk?" Alex bertanya dan dia menerobos begitu saja masuk kedalam apartemennya.
"Ya tentu saja," kata Anastasya dengan sarkastik.