Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 72


__ADS_3

Esok harinya, Alan pulang, dan aku tertidur di pelukan Adrian dan terbangun saat aku merasa dia bergeser. Dia dengan lembut meletakkan kepalaku di atas bantal dan berjalan keluar kamar untuk pergi berbicara dengan Alan, aku bisa mendengar mereka saling berbisik dengan marah. Alan berusaha membela dirinya dan Adrian berusaha membelaku.


Sesaat, aku mendengar langkah kaki mereka menuju ke kamarku dan pintuku di dorong dan terbuka, aku tidak membuka mataku, aku terlalu takut untuk melihat ekspresi kemarahan Alan.


“Kau harusnya melihatnya, Alan, dia sangat membutuhkn seseorang, membeutuhkan dirimu. Kau adalah satu-satunya keluarganya yang dia punya dank au menghancurkan perasaannya saat kau begitu saja pergi.” Kata Adrian dengan lembut, aku mendengar bantalan lembut kaki berjalan melintasi karpetku menuju tempa tidurku, aku merasakan seseorang duduk di tempat tidurku dan tangan lembut membelai pipiku.


“Aku tidak marah padanya.” Kata Alan. “Aku marah pda diriku sendiri, karena tidak ada di sana pada saat dia di serang dan tidak cukup pintar untuk mengetahu kalau dia akan di untit seperti ini.” Dia mengaku. “Aku meninggalkannya saat dia masih membutuhkanku, aku meninggalkan adik perempuanku selama bertahun-tahun untuk mengurus dirinya sendiri dan untuk mengatasi trauma yang menimpanya. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri.” Alan menahan isak tangisnya yang berusaha keluar, aku akhirnya bangun dan melingkarkan tanganku di lehernya.


“Tidak apa-apa, kamu sekarang suah ada di sini, kau bersamaku sekarang.” Kataku, sambil mencium pelipisnya. Hari yang emosional, penuh air mata dan pengakuan. Semoga ke depannya kita bisa menghindari situasi seperti ini.


Karena pergelangan tanganku patah, toko ku harus ada yang mengurusnya, dan hanya ada Kenny di sana, aku tidak bisa mengangkat barang-barang berat karena akan sulit bagiku, jadi kamimembuat rencana, setiap siang Adrian akan berada di toko membantu dan mengawasi berbagai hal di sana, dan setelah Alan selesai pergi terapi, dia akan datang di sana. Sungguh menyenangkan mendapatkan bantuan dari pria, aku ingin Adrian meletakkan pupuk di atas rak paling atas, dan dia bahkan tidak berkeringat. Aku menyuruh Alan mengisi satu tanki penyiram bunga dengan air dan menyuruhnya membawanya ke belakang, sehingga kami bisa menyiram bunga-bunga di sana, selain air yang tumpah, dia juga tidak berkeringat. Dan bagian terbaiknya daalah mereka adal pegawai ku secara Cuma-Cuma.


“Hei Alice! Di mana kau menyimpan bibit bunga melatimu?” teriak Adrian dari rung penyimpanan.


“Rak atas!” aku berteriak kembali dari ruang kerjaku.


 


Sejak bulan lalu, toko kecilku sudah berkembang cukup popular, saat pertama kali aku membukanya, aku mendapatkan 100 orang pembeli dalam sebulan tapi baru-baru ini aku mendapatkan hampir 100 lebih pembeli dalam seminggu! Aku harus memesan lagi pengiriman bunga dan serutan pohon untuk mencabut bunga-bunga yang layu.


“Alice, ada yang memanggilmu di depan.” Kenny berkata, tumben ada yng memangilku, biasanya Kenny memanggilku seperti ini karena ada pertanyaan yang tidak bisa dia jawab atau kapan pengiriman bunga akan di kirim. Saat aku berjalan keluar, aku melihat anak kecil berambut hitam itu memegang tangan ibunya. Aku tersenyum dan menyapa mereka.


“Halo, Sheila. Apa yang bisa aku lakukan untukmu hari ini?” kataku sedikit berlutut, dia mengisap ibu jarinya dan dia tidak mau bicara, dia tampak sedih.

__ADS_1


“Bungaku layu, aku butuh vitamin untuk membuatnya tetap hidup.” Dia menjelaskan.


“Yah, itu tergantung dari bagaimana caramu merawatnya.” Katakuu padanya.


Aku memberinya vitamin dalam bentuk botol cairan juga menjelaskan bagaimana cara menggunakannya. Setelah berbicara lebih banyak dengannya dan dia jjuga sudah mengetahui informasi lebih banyak dariku, aku menyarankan dia agar bisa merawat tanamannya dengan baik. Mereka kemudian mengucapkan selmt tinggal dan pergi.


“Alan menelpon, di tidak bisa datang sore ini, terapisnya tidak ingin dia terbebani dengan banyak gerak hari ini.” Adrian memberitahuku.


“Jadi, hanya kamu dan aku.” Dia menyeringai.


Setelah Kenny pulang, toko menjadi sunyi, biasanya saat Alan di sini, kami bermain dan  berbicara, tapi dengan percakapan Adrian, tidak semudah itu. Adrian meraih sesuatu di belakangnya dan mengeluarkan setumpuk kartu uno.


“Mau bermain?” dia bertanya dengan senyum lebar yang menunjukkan giginya yang sempurna. Uno adalah permainan kartu favoritku, aku bisa menghukum orang-orang yang kalah bermain dariku.


“Yah, cukup menarik karena aku tidak pernah kalah dalam permainan.” Dia meletakkan kartu kami dan kami mulai bermain. Kartu kertas berwarna kuning 2 dan persaingan di antara kami semakin tegang, kami berdua memiliki dua kartu tersisa dan giliran Adrian yang menatapku dengan seringai di wajahnya saat ia merencanakan bagaimana ia akan menang. Dia mengambil kartunya dan meletakkan dua kartu biru.


“Oh tidak!” dia berkata dengan percaya diri. Aku tidk sabar untuk menghapus senyum sombongnya dari wajahnya, dengan seringai yang sama, aku mengambil kartuku dan meletkkan empat kartu biru.


“Tidak!” kataku sambil bersandar di kursiku, dia sepertinya merenungkan keputusan berikutnya, menggosok rambutnya dan mengusap wajahnya. Dia memutuskan mengambil kartu dari tumpukkan kartu lainnya, dia menyesal saat aku tersenyum lebar dan meletakkan kartu terakhirku; merah.


“Aku menang! Aha!.” Aku berseru sambil melompat menari-nari.


“Nikmati saat bagian terakhir.” Katanya dengan main-main. “Kau hanya beruntung saja.” Dia menantangku, aku bisa melihat itu dari matanya, aku menyipit mataku padanya.

__ADS_1


“Baiklah, kita akan lihat. Susun beberapa kartu lagi. Dan mari kita bermain lagi.”


Kami bermain sebanyak lima putaran dan aku memenangkan empat putaran dari semuanya.


“Ya, aku baik-baik saja, seperti yang aku pikirkan, keberuntungan hanya menyertaiku.” Aku menggodanya.


“Yah, aku tidak akan hal ini tapi….. aku membiarkanmu menang.” Adrian mengangkat bahunya, menatapku dengan nakal, bibirku mengerucut.


“Kau itu pembohong, aku menang karena aku memang yang terbaik.” Kataku, meletakkan tanganku satu di pinggulku.


“Tentu, kau terus berpikir begitu.” Dia mengedipkan mata padaku, dia memprovokasiku. Aku berjalan menghampirinya dan meletakkan tanganku di sandaran kursi yang dia duduki dan bersandar lebih dekat.


“Kau tidak bisa mengakui kalau kau kalah dari seorang wanita.” Aku menuduhnya. Dia tampak senang dengan kesulitan yang aku hadapi, aku tidak tahu seberapa dekat kami, aku sampai merasakan nafasnya keluar dari hidungnya.


“Tidak, aku mengakui kalau aku sudah di pukuli olehmu dan aku tahu kau sedikit rindu karena tidak memukuliku akhir-akhir ini.” Katanya mendekat ke diriku, tpi aku tidak bergerak mundur.


Jantungku berdebar-debar saat aku melihat matanya turun ke bibirku lalu kembali ke mataku, aku tahu dia mulai bermain-main denganku, dan yang aku inginkan melihat hasilnya.


Kami semakin dekat, aku semakin tidak sabar ingin mersakan bibirnya dengan bibirku, salah satu dari kami harus mendorong kepala kami agar kami bisa slaing mencium, saat Adrian hendak memajukan kepalanya semakin dekat denganku, alarm kebakaran mengagetkan kami, sprinkler di atas kepala menyala dan mulai membasahi kami dalam beberapa menit, Adria meraihku dan menarikku keluar, aku mendongak tapi tidak ada asap atau api yang sedang menyala dari toko. Yang ku lihat hanyalah bayangan gelap yang di terangi oleh lampu mobil.


Ponselku tiba-tiba bergetar di saku ku.


“Lain kali itu bukn alarm palsu, itu hanya gertakkan untukmu.”

__ADS_1


__ADS_2