Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 65


__ADS_3

Alan mengira aku ini sudah gila karena menyelamatkan ank kucing itu. Dia berpikir aku tidak cukup bertanggung jawab untuk menangani tanggung jawab dan waktu yang dibutuhkan anak kucing itu, dis sepertinya lupa kalau aku mampu merawatnya, aku bisa memelihara hewan. Setelah selesai seharian mengomeli ku seperti anak kecil, dia merosot ke sofa dan aku memangku anak kucing itu, sangat imut.


Semalam sangat sulit menjauhkan Alan darinya, Alan terus saja mengikutinya untuk memastikan kucing itu tidak melakukan sesuatu yang nakla. Hal yang sama berlaku untuk Adrian, ia terus berusaha agar kucing berbaring di pangkuannya, tapi setelah satu menit  kucing itu mulai gelisah dan akhirnya melompat.


“Kita harus memberinya nama,” kata Alan. “Kita tidak bisa tersu menyebutnya dengan sebutan kucing saja.” Kami semua duduk mengelilingi meja.


Keesokan paginya, saat dia mengajukan pertanyaan, kami bertiga memandangi anak kucing itu sedang tertidur dengan tenang di atas karpet.


“Aku setuju, tapi aku tidak tahu harus memberinya nama apa.”kataku.


“bagaimana kalau kita semua memikirkan satu nama, dan nanti malam saat kita berkumpul lagi, kita akan memutuskan nama yang terbaik untuknya?” Adrian menyarankan, itu terdengar seperti ide yang bagus bagiku. Sekarang, aku hanya perlu memikirkan nma yang bagus.

__ADS_1


Hari kerja berjalan dengan lambat, Kenny dan aku hanya duduk-duduk mengobrol, kami sudah membersihkan toko selama tiga kali, mengisi wadah dua kali dan mengatur bunga-bunga berkali-kali. Hari itu sangat indah, cuaca di bulan April perlahan berubah menjadi panas.


“Aku sangat bosan, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan? Bisakah kita istirahat, menutup toko dan bersenang-senang di musim panas?” Kenny mengeluh.


“Oh, aku juga berharap seperti itu, tapi sayangnya kita tidak bisa.” Aku tertawa, dia secara dramatis melemparkan tangannya ke udara bersiap-siap untuk melakukan lebih banyak keluhan dan merengek saat bel toko berbunyi, menandakan adanya pelanggan datang, kami mendongak dan aku langsung mengenali gadis kecil yang pernah sebelumnya datang ke sini, dia bersama ibunya. Mereka mirip satu sama lain. Rambutnya yang panjang dan hitam menjulur kebawah punggungnya dan mata indah yang besar, mereka berdua sangat ramah dan tersenyum kepadaku.


“Baiklah, halo.” Kataku berjalan mendekati mereka.


“Apa ada yang bisa aku bantu?” Aku tersenyum.


“Apa kamu mengingatku?” aku mendengar suara anak kecil berkata, aku melihat ke bawah dan melihat anak kecil itu berbicara padaku, aku berlutut di hadapannya dan tersenyum.

__ADS_1


“Tentu saja, sayang. Namamu Sheila.” Anak kecil itu terkikik dan tersipu.


“Pupuknya sudah kami kemas, tinggal di ambil.” Kataku  menunjuk ke arah kasir. Mereka mengucapkan terima kasih dan mengambil pupuk itu, kemudian membayarnya dan pergi.


Beberapa orang lagi setelahnya masuk ke toko, setelah pukul tiga sore, sudah tidak ada lagi pelanggan yang datang, aku menutup toko pada pukul enam sore dan pada pukul lima sebelumnya aku menyuruh Kenny pulang, dia dengan senang hati melakukannya. Aku selesai menyapu lantai dan tiba-tiba bel berbunyi.


“Maaf, toko kami sudah tutup.” Kataku pada orang itu, tidak ada jawaban, tidak suara atau apapun. Aku merasakan ketakutan. Aku merasakan tangan-tangan mulai menyentuh pinggangku, aku menjerit, tapi sebuah tangan langsung menutup mulutku. Ketakutan yang aku rasakan tak dapat di ungkapkan, aku merasakan lingkaran lengan pria di sekitar pinggangku dan mendorong punggungku lebih rapat ke dadanya, napasnya mengembang di telinga juga leherku, membuat kulitku merinding. Aku merasakan mulutnya terbuka di sebelah telingaku dan dia berbicara.


“Apa aku membuatmu takut?” ketakutanku tiba-tiba berubah menjadi amarah, aku marah saat pria di belakangku terkekeh, aku membebaskan diri dari jepitannyadn dengan tajam berbalik menghadapnya. Adrian berdiri di sana dengan tersenyum puas di wajahnya. Tanganku mengepal begitupun juga rahangku.


“Apa kau membuatku takut?! Demi Tuhan, tentu saja kau membuatku mengalami serangan jantung! Kupikir aku akan terbunuh atau akan dilecehkan!” aku marah dan berteriak padanya, dia sepertinya melihat wajahku yang sedang marah dan panic, seketika seringainya hilang.”

__ADS_1


“Ya, ampun, Alice, maafkan aku, aku hanya bercanda. Aku tidak sadar kalau itu akan membuatmu setakut ini.” Katanya, wajahnya memerah dan memegang lehernya, aku tidak mengatakan apa-apa, aku berbalik dan berjalan ke lemari. Aku menggerutu pada diriku sendiri, jantungku masih berdetak kencang di dadaku dan tanganku masig gemetaran, sulit bagiku untuk membersihkan rak-rak bunga di tempatnya karena gemetar yang hebat. Aku merasa diadatang di belakangku dan mengulurkan tangannya ke depan, mengambil pot kecil dari tanganku dan meletkkannya di rak.


“Aku benar-benar minta maaf, Aice. Aku tidak tahu, kalau aku akan membuatmu gemetaran begitu.” Dia berbisik di telingaku, lalu dia mencium pelipisku, air mataku mulai keluar, aku sudah mengalami banyak emosi sepanjang hari ini. Ketakutan, kemarahan, kesedihan, cinta. Aku sangat sulit menahan emosiku, Adrian mengantarku pulang ke rumah. Aku merasa sangat kacau untuk mengemudi. Dia menghiburku, saat dia mengemudi, dia menyentuh ujung jariku, itu seharusnya tidak boleh terjadi tapi aku merasa begitu lebih baik dan membuat sebuah gelombang kekuatan baru untukku.


__ADS_2