Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 68


__ADS_3

Aku menghindari Adrian selama seminggu ini. Aku merasa malu dan ingin menghindar. Aku merasa malu dan terhina, aku bahkan tidak ingin bicara dengannya. Setelah kami hampir berciuman waktu itu, aku selalu waspada, setiap kali dia mencoba menatapku atau mencoba berbicara denganku, aku merasa aneh dan langsung pergi menghindarinya. Alan merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan kami berdua, biasanya aku dan Adrian saling mengobrol dan bercanda tapi, belakangan ini kami tidak saling berbicara, Adrian mencoba melakukannya tapi aku mengabaikannya. Dia terus bertanya apa aku marah padanya atau tidak, aku marah padanya karena mencoba menciumku saat itu


Aku senang kalau dia menyukaiku seperti itu, aku belum memiliki seorang pria yang menunjukkan minatnya terhadapku dan erus mengejarku untuk mendapatkan diriku, biasanya setelah perbincangan awal dengan seorang pria, mereka akan menghilang atau menghindariku, karena mereka tidak menyukai sifatku yang tidak ingin membiarkan mereka mendekatiku, tapi Adrian berbeda dari mereka, ia benar-benar terus mencoba dan tidak menyerah pdaku, diding yang ku bangun begitu tinggi selama bertahun-tahun mulai runtuh hanya karena satu pria militer yang perlahan mencuri hatiku.


Alan dan Kenny akan keluar mala mini, pergi keluar berdua meninggalkan Adrian dan aku berdua dirumah, aku tetap berada di kamarku, sementara Adrian menonton TV di ruang tamu, itu adalah rutinitas normal kami sekarang.


Sudah hampir jam tujuh malam aku mendengar ketukan di pintu ku, Adrian masuk dengan rasa percaya dirinya yang memancar di tubuhnya.


“Ayo kita keluar. Aku lelah seharian tidak bicara denganmu, aku bosan duduk sepanjang hari ini.” Katanya, aku akan menolak tawarannya, tapi dia memberiku tatapan berani seolah memintaku untuk tidak menolaknya, aku menyerah dan pergi kea rah lemariku, dia merasa puas dengan kemauanku dan kemudian meninggalkan kamar.


Sepuluh menit kemudian, kami sudah di atas mobil, dia mengemudi ke beberapa restoran dan aku hanya melihat ke luar jendela mobilku.


“Maafkan aku.” Dia meminta maf. Aku memandangnya dan melihat matanya yang begitu serius mengemudi.

__ADS_1


“Tidak ada alasanbagimu untu meminta maf padaku.” Aku berbisik. Kembali melihat ke arah luar jendela.


“Ya jelas, aku harus. Aku tahu kau merasa kesal atau marah denganku, jadi aku meminta maaf.”


“Berhentilah meminta maaf, lagipula aku tidak marah padamu.” Kataku dengan kesal.


“Tapi aku melihat kau merasa begitu padaku. Maaf.” Dia berkata lagi, aku menggerutukan bibirku dan mengepalkan tanganku.


“Aku tidak marah padamu! Aku marah pada diriku sendiri.” Aku berteriak, kami berhenti di depan halte yang memiliki lampu penerang aga dia bisa melihatku. Dia tampak heran melihatku berteriak kepadanya.


“Kau tidak mengerti kan? Aku marah Karen aku membiarkan kau hampir menciumku! Aku marah karena aku membiarkan kau masuk di dalam kepalaku! Aku kesal karena aku mulai menyukaimu.” Aku membisikan kalimat terakhir , aku tahu dia mendengarku, aku bisa merasakan air mata mulai menusuk mataku, dan tenggorokkanku mulai sakit.


“Aku tidak mau menyukaimu.” Aku tersedak. “Tapi aku melakukannya.” Aku membiarkan air mata mengalir di pipiku, tidak peduli lagi perasaan dan emosiku sudah terbuka padanya dan membiarkannya mendengarku.

__ADS_1


Aku bisa merasakan mesin mobil mati dan pintu terbuka, tangannya yang kuat menjangkauku dan melepaskan sabuk pengamanku, kemudian membantuku keluar dari mobil dan memelukku dengan hangat, lengannya yang kuat melingkari tubuhku. Rasanya, dia seperti mencoba membantuku mengembalikkan keadaan, aku menangis di dadanya. Tangannya perlahan menggosok punggungku dan mencobamengayun-ayunkanku, bibirnya yang lembut turun dan dia mencium bagian atas kepalaku, tindakannya menghiburku.


“Kau juga ingin sesuatu?” dia bertanya, dia tidak memberiku waktu untuk merespon.”aku juga menyukaimu.”


Perasaan yang akurasakan saat mendengar pekauannya membuatku begitu senang, luar biasa. Aku mencengkram bagian depan kemejanya, menarik diriku lebih dekat dari tubuhnya yang hangat itu. Kami tetap seperti itu selama beberapa menit, mengkin kami akan menarikperhatian orang lain, namunkami tidak peduli. Adrian membungkuk ke telingaku.


“Ayo kita masuk ke dalam dan makan.” Dia berbisik, napasnya mengembang di leherku, membuatku geil. Dia membawaku ke sebuah restoran yang ramai namun tidak mewah, tapi cocok untuk kami makan malam berdua.


 Kami berdua di antar oleh seorang pelayan menuju ke meja kami dan kemudian memesan minuman. Setelah pelayang itu pergi, kami berdua saling memandang, aku mulai merasa takut, pertanyaan mulai muncul di kepalaku. Apa yang kita harus bicarakan? Apa kami akan terus merasa canggung seperti ini. Aku rasa Adrian melihat ke khawatiran di wajahku, dia berpindah tempat tepat di sebelah ku dan memegang tanganku.


“Tidak apa-apa Alice, tidak perlu terburu-buru dan jangan merasa khawatir lagi.” Katanya saat dia menjalin jari-jemari kami dengan meremas, meyakinkanku, lalu mengangkat tanganku ke mulutnya dan mencium tanganku, jantungku terasa memukul dadaku saat dia mencoba menatapku dari seberang meja.


Setelah itu, percakapan kami sepertinya mengalir keluar dari diri kami, kami mulai berbicara tentang semua hal yang dia ingin tanyakan, tentang kesukaan favoritku, kami berbicara hal itu hampir sepanjang malam, kami bahkan tidak memakan makanan kami. Dia membuatku tertawa juga, sepanjang kencan kami, dia terus membuatku tertawa, mulai dari lelucon konyol atau cerita lucu yang dia alami sejak kecil. Ternyata dia memiliki seorang adik perempuan yang baru berusia Sembilan tahun, bernama Raisa yang sedang tinggal bersama kakeknya yang sedang sakit-sakitan merawatnya.

__ADS_1


Saat kami sudah bersiap-siap untuk pergi dan pulang, Adrian membayar tagihan, aku melihat-lihat tempat di sekitarku, memperhatikan tata letak restoran dan juga lukisan-lukisan yang tergantung di dinding, aku melihat ke arah pintu dan seseorang sedang menatapku, mulutnya terngkat dan menyeringai dan mata jahatnya mulai menusuk mataku, aku menggenggam ujung meja, mencengkramnya. Adrian meletakkan tangannya di atas tanganku, kepalaku menoleh dengan tajam padanya, wajahnya bercampur panik dan khawatir. Aku dengan cepat menoleh ke belakang untuk melihat orang itu, tapi dia sudah pergi, nafasku begitu cepat dan tanganku gemetar, mataku melesat ke setiap sudut restoran mencoba menemukan  ke mana orang itu pergi. Penglihatanku mulai buram, dan aku bisa dengan samar-samar mendengar Adrian memanggil namaku, aku merasakan tekanan di pundakku dan perasaan bergetar mengambil alih diriku, aku mengerjapkan mataku tetapi itu hanya membuat ketidakjelasan semakin buruk, titik-titik hitam segera mengaburkan pemandangan kecil yang aku miliki dan aku merasa sulit untuk bernafas, aku merasa anggota tubuhku mati rasa dan kemudian aku tidak sadarkan diri lagi.


__ADS_2