Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 47


__ADS_3

"Sayang, kamu sudah pulang." Anastasya berkata dengan senyuman yang lemah. Frans berjalan ke arah ibunya yang berbaring di tempat tidur.


"Bu? Apa yang terjadi pada dirimu? Apa ini semacam lelucon?"


"Ibu berharap begitu."


"Bu .." Suara Frans pecah. Vania tahu, Frans akan menangis sebentar lagi.


"Ibu mengidap tumor otak."


"Apa? Tidak, tidak ibu, tidak. Berhenti lah berbohong. Ibu sehat, ibu baik-baik saja, ini semua lelucon, ayo kita pulang dan mengobrol berbagai hal dan makan malam bersama.Ibu baik-baik saja." Frans tahu kalau ibunya sedang tidak baik-baik saja, tapi dia berusaha untuk tetap percaya kalau  ibu baik-baik saja.


 


"Kamu benar. Ibu baik-baik saja. Ini bukan masalah besar."


"Sudah berapa lama ibu mengidap tumor otak?"


"Sekitar 4 bulan."


"Dan ibu tidak pernah memberitahuku? Kenapa ibu  melakukan itu?"


"Ibu hanya tidak ingin kamu bereaksi berlebihan dan terlalu khawatir."


"Jadi seberapa buruk tumor itu berdampak pada ibu?"


"Tidak terlalu buruk."


"Apa itu bisa di sembuhkan?"


"Ibu belum yakin."


"Jadi, kalau tidak seburuk itu, apa yang kamu lakukan di sini?"


"Mereka, uh .." Anastaysa memandang Vania untuk meminta bantuan.


 


"buruk." Vania berkata. Frans memandang Vania.


"Seberapa buruk?"


"Dia .. tidak bisa ... dia sangat sulit berjalan."


"Apa maksudmu?"


"Ibu sangat lemah."


"Tidak, bu .." Frans mulai menangis. "Kamu harus pulang. Kenapa kita tidak bisa merawatmu di rumah saja?"


"Ibu sangat sulit bernapas di rumah."


"Lalu kami harus bagaimana? Kenapa kamu tidak memberitahuku Vania?!?" Vania diam saja. "Aku sudah memberitahumu segalanya, Vania. Segalanya! Aku sudah memberitahumu bagaimana Jonathan meninggal, bagaimana istrinya hamil! Aku sudah mengatakan semua yang aku alamil! Bagaimana kamu bisa?!? Kamu tega sekali."


 


"Aku ingin memberitahumu ..tapi… aku..-"


"Tapi aku tidak membiarkannya untuk memberitahumu." Anastasya angkat suara.


"Kenapa tidak, Bu?"


"Banyak yang terjadi. Kamu berjuang untuk negara kita. Aku tidak ingin memberimu sesuatu yang lebih untuk di khawatirkan."


"Aku khawatir tentang kalian setiap hari! Aku tidak keberatan jika kamu mengatakan yang sebenarnya. Frans hanya ingin mendengarnya!"


"Aku hanya ..."


"Aku tidak bisa mempercayaimu." Frans bergegas keluar.


Frans tidak bisa mempercayai mereka. Frans sangat marah. Bagaimana mereka bisa menyembunyikan hal ini darinya? Ini masalah besar. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya dan Frans bahkan tidak tahu. Perbuatan mereka itu salah jika mereka menjauhkan ini darinya, tapi yang lebih salah lagi jika harus  pergi begitu saja. Vania mengejarnya. Dia menemukan Frans berjalan keluar dari tempat parkir.

__ADS_1


 


"Frans!" Dia tidak berhenti, dan terus berjalan. Vania berlari mengejarnya dan meraih pergelangan tangannya. "Frans!." Dia berhenti.


"Lepaskan aku, Vania."


"Frans, berhenti. Tenang dulu." Frans berbalik.


"Tenang?!? Tenang? Bagaimana aku bisa tenang? Ibuku ada di tempat tidur rumah sakit dengan tumor otak selama 4 bulan lamanya dan aku bahkan tidak mengetahuinya! Kau seharusnya memberitahuku!"


 


"Aku ingin. Aku ingin skali memberitahumu. Tapi ibumu. Kami…  tidak ingin kamu terlalu khawatir. Itu akan mengganggumu dan kamu bisa membuat dirimu terbunuh! Apakah kamu pikir kita menginginkannya? Kami ingin kamu tetap hidup. Aku ingin kamu hidup! "


 


"Itu tidak masalah. Tapi kamu seharusnya memberitahuku."


"Hidupmu sangat penting. Akan lebih sulit bagi ibumu untuk tetap kuat karena tidak ada tujuan untuk tetap hidup jika kamu mati. Contohnya aku. Aku menyerah pada kehidupan bahkan Bram tidak memiliki panutan lagi. Tapi, ada kamu. Kamu adalah panutan kami."


 


"Seluruh negeri ini mengagumi diriku! Apakah kamu tahu betapa sulitnya bagi diriku? Aku membenci diriku kalau harus mengecewakan ibu, kamu, ataupun Bram, apalagi sekarang, aku bisa saja mengecewakan seluruh negeri ini. Aku tidak menginginkan itu."


 


"Jika itu sangat sulit bagimu, kamu  bisa  meninggalkan keinginanmu itu menjadi tentara.."


 


"Aku tahu, tapi aku tidak mau. Aku tidak bisa. Aku menyukainya. Aku suka apa yang mampu aku lakukan. Karena itu bisa membuatku melindungi ibu, Bram, dan terutama dirimu, agar tetap aman."


 


"Frans, tolong kembali ke dalam. Aku tahu kamu sangat marah karena kami tidak memberitahumu, tapi Ibumu membutuhkanmu. Kamu adalah orang yang membuatnya untuk tetap kuat. Tolong, tetaplah di sana untuknya." Vania menjulurkan tangannya. Frans hanya menunduk ke bawah. "Tolong, Frans." Dia perlahan mengangkat tangannya dan menggenggam tangannya. Vania tersenyum. "Ayo." Mereka berjalan kembali ke dalam rumah sakit; kamar ibunya Frans. Ketika mereka masuk, Anastasya tersenyum lebar. Mereka berjalan ke arah Anastasya dan Frans memegang tangan ibunya itu.


 


 


Frans tertidur di kursi sebelah ibunya. Kemudian dia terbangun dan memandangi wajah ibunya yang tengah terlelap. Anastasya tertidur. Vania masuk ke kamar dengan dua gelas kopi. Dia tersenyum pada Frans dan kemudian berjalan menghampirinya.


“Bagaimana perasaanmu?” Vania bertanya sambil menyerahkan kopi yang ada di tangannya itu.


“Baik, tapi aku masih harus mengurus beberapa berkas pengobatan ibu.”


“butuh berapa lama mengurusnya?” Vania duduk di kursi yang ada di sebelah Frans.


“Aku segera kembali, Vania.”


“Kamu mau kemana, Frans?”


“Aku mau pergi berbicara dengan dokter.” Frans bangkit dan meninggalkan ruangan.


Frans berjalan menuju meja resepsionis dan bertanya pada seorang wanita paruh baya di mana dia bisa bertemu dengan dokter yang menangani ibunya. Setelah wanita paruh baya itu memberitahunya di mana dia bisa menemukan dokter yang menangani ibunya itu, Frans menyeret kakinya ke arah lift. Dia mencoba yang terbaik untuk mempertahankan harapannya itu. Dia tidak ingin kehilangan satu-satunya keluarga yang ia punya saat ini. Tidak peduli apa pun yang terjadi asal dia masih bisa bersamanya. Ibunya adalah sahabatnya selama ini, dia tidak bisa kehilangannya begitu saja.


Frans berjalan menuju sebuah ruangan dan mengetuk. Dokter mendengar suara orang yang memanggilnya.


“Masuk.”


“Dr. Albert?” Frans bertanya.


“Iya, itu saya.” Seorang pria paruh baya mendongak dari mejanya.


“Hai, saya Frans A. Samuel, anak dari ibu Anastasya.”


“Ah, iya. Aku sudah banyak mendengar tentang dirimu. Silahkan duduk.” Frans duduk dan Dr. albert bangkit dari kursinya.


“Sebelum kamu mengatakan apapun, aku ingin mengucapkan terima kasih telah berjuang untuk Negara kita.” Dia berkata sambil menunjuk ke jas Frans. Frans menatap seragamnya. Dia agak bangga pada dirinya sendiri. Dia akhirnya menggapai mimpinya, tapi dia merasa kehilangan sesuatu.


“Terima kasih, Dok. Ngomong-ngomong, aku di sini bukan untuk membicarakan diriku, tapi aku kesini untuk membicarakan tentang ibuku. Seberapa buruk keadaan ibuku?” Frans sangat ingin tahu keadaan yang sebenarnya.

__ADS_1


“Dia mengidap Tumor otak. Sebelumnya tidak terlalu buruk, tapi semakin lama kondisinya semakin memburuk. Maaf kan aku.”


“Bagaimana itu bisa terjadi?” Frans menahan air matanya.


“Tumor itu menyebar dengan cepat, kadang-kadang hal ini bisa terjadi secara tiba-tiba. Tapi kabar baiknya, tumor jenis ini yang datang entah darimana kemungkinan besar itu bisa di hilangkan.”


“Maksud dokter, tumor itu bisa hilang? Frans hampir lompat dari kursinya.


“Ya, tentu. Tapi saya tidak yakin itu bisa di sembuhkan atau tidak.”


“Kapan aku bisa membawanya pulang? Frans ingin ibunya di rawat di rumah dan tidak mau ibunya di rumah sakit.


“Kondisi ibumu masih sangat lemah saat ini, tapi kami sudah memberikan obatnya dan dia akan merasa lebih baik lagi. Mungkin sekitar seminggu lagi. Tapi nak, kamu harus bangga sama ibumu, dia tetap kuat melalui semua ini, bahkan tanpa dirimu di sisinya. Tapi dengan kamu di sini, kamu harus selalu memberinya motivasi agar dia tetap kuat. Dia tidak mau menyerah, meskipun rasa sakitnya luar biasa.


“aku tahu. Aku akan tetap berada di sisinya, bagaimana pun juga. Tolong, pastikan dia tetap sehat.” Suaranya melembut.


“Saya akan melakukan yang terbaik, sebisaku.”


“Terima kasih, dokter.” Frans bangkit dari kursi.


“Tunggu, apa ibumu sudah bicara denganmu tentang operasinya?”


“Operasi apa?”


“Ok baiklah, duduk lah lagi.” Fans patuh saat doker memperhatikannya dengan seksama.


“Operasi apa dokter?” Frans bertanya dengan bingung.


“Dia bisa di operasi untuk menghentikan menyebarnya jaringan tumor tersebut. tapi dia tidak mau melakukannya.”


“Kenapa tidak? Bukankah dengan cara itu akan menyembuhkannya,jadi mari kita lakukan.”


“Dia takut karena ada kemungkinan besar kalau operasinya berlangsung dia akan, ummmm…”


“Meninggal?” Frans hampir tidak bisa berkata apapun.


“Ya. Saya benar-benar minta maaf.”


“Tolong lakukan apa saja yang anda bisa, asal dia bisa selamat. Aku ingin dia tetap hidup.”


“Tentu saja.” Frans menunduk dan berjalan keluar.


Dia tidak bisa menerima semua kenyataan yang barusan ia ketahui. Dia melihat toilet pria dan berlari ke sana. Untungnya, tidak ada seorang pun di dalamnya. Dia melihat cermin dan air mata mulai membasahi wajahnya. Dia mengusap rambutnya an mondar mndir. Dia melihat kembali ke arah cermin dan membuka kran air. Dia memercikkan air ke wajahnya beberapa kali. Dia menutup kran air lalu melihat kembali lagi ke arah cermin, dan menyeka wajahnya. Seorang lelaki tua masuk. Frans dengan cepat berusaha menyembunyikan wajahnya yang tengah menangis itu.


“Tidak apa-apa, nak. Aku juga ke sini untuk melakukan itu juga.” Pria tua itu berkat.


“Melakukan apa?” Frans berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.


“Menangis. Perlahan-lahan kondisi istriku mulai menurun. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.. untuk apa kau ada di sini?”


“Ibuku. Dia mengidap tumor otak selama 4 bulan terakhir ini dan aku baru tahu, dia tidak mau menjalani operasi karena ada kemungkinan peluang dia bisa meninggal, kondisinya juga semakin lemah, sangat lemah dan aku hanya bisa….. aku akan kehilangan dia..” Frans mulai menangis lagi. Pria itu memeluknya. “Dia satu-satunya keluarga yang aku miliki saat ini di sini, yang belum meninggalkanku. Aku tidak bisa membiarkannya meninggalkanku.”


“Ssst, tidak apa-apa.” Frans memeluk pria itu kembali.


“Aku tahu, itu tidak akan terjadi,”


“Ibumu sangat kuat, dia bisa melewati semua ini.”


“Bagaimana anda bisa tahu?”


“Setiap wanita itu kuat, mereka bahkan lebih kuat saat mereka memiliki lelaki special dalam hidupnya. Kamu adalah anak lelaki nya yang paling special.”


“Aku turut berduka pada istrimu.”


“Jangan. Dia akna melewatinya.”


“Ada apa dengan dia?”


“Dia terbakar, sangat parah di tubuhnya. Rumah kami terbakar dan saya sedang pergi bekerja. Aku berlari ke rumah sakit dan meninggalkan pekerjaanku. Aku sangat mencintainya, dan akan selalu ada untuknya, tidak peduli apa pun yang terjadi. Karena seperti itulah cinta.” Pria tua itu melepaskan pelukannya dan meletakkan tangannya di bahu Frans. “Jangan menyerah, Nak.” Pria itu berjalan meninggalkan Frans sendirian. Frans kembali melihat dirinya di cermin.


“Aku tidak akan menyerah.” Katanya sebelum berjalan kembali ke kamar ibunya.

__ADS_1


__ADS_2