
2 minggu kemudian
Sementara Frans masih memenuhi persyaratan, Vania dan Frans tidak saling meninggalkan satu sama lain. Ke mana pun mereka pergi, setiap langkah yang mereka ambil, mereka bersama. Tidak sekali pun mereka membahas tentang bagaimana kehidupan militer. Karena Frans tahu jika mereka membicarakannya, itu sama saja membicarakan tentang perpisahan.
Kemudian hari ini adalah hari dimana waktunya sudah tiba. Pagi itu, Frans berjalan ke arah kotak surat yang ada di depan rumahnya dan menemukan beberapa sebungkus surat.
"Ini tagihan. Tagihan. Ini untuk ibu. Bu, ada tagihan. Dan ini…. Frans Ardiansyah Samuel, untukku." Katanya sambil membaca surat-surat itu. Matanya melebar saat dia melihat namanya. Dia menelan ludah dan membukanya, perlahan.
Dari : Departemen Militer A.S.
Untuk : Frans Ardiansyah Samuel
Yang terhormat,
Kami ingin mengucapkan selamat kepada Anda. Bahwa anda telah diterima bergabung bersama kami di Departemen Militer A.S….
Frans tidak membaca kelanjutan isi dari surat itu. Dia berlari ke dalam dengan tangannya mencengkeram surat itu dengan erat.
"Ibu!" Dia berlari ke dalam rumah mencari kiri dan kanan ibunya.
"Ibu!”
"Ibu di sini, di dapur!" Teriak Anastasya. Frans berlari ke dalam dapur.
"Ibu, coba tebak."
"Apa?"
"Aku diterima, bu!"
"Apa yang baru saja kamu bilang?" Anastasya menjatuhkan sendok dan rahangnya terjatuh.
"Aku masuk, Bu. Aku di terima. Aku akan pergi ke pangkalan militer, bu." Air mata mengalir di wajah Anastasya.
"Ibu sangat bangga padamu." Dia berjalan menghampirinya dan menariknya ke dalam pelukan.
"Kenapa ibu menangis?"
"Karena ibu bangga padamu." Frans mengangkat tangannya dan memeluk ibunya lebih erat.
"Aku sangat menyayangi ibu." Frans berbisik di telinganya. Anastasya melepaskan putranya.
"Ibu juga sangat menyayangimu. Sekarang, pergilah ke rumah Vania dan beritahu dia." Frans mengangguk dan berlari ke rumah Vania.
Frans tiba di rumah Vania. Dia mencoba membuka pintu, tapi ternyata rumah Vania terkunci. Frans mencoba mengetuk pintu dengan keras.
"Vania! Buka pintunya." Dia berteriak. Vania membuka pintu dengan masih mengenakan piyamanya.
"Iya, tunggu sebentar." Vania bergegas membuka pintu, “Ada apa, Frans?”
"Aku diterima, Van!"
"Diterima apa?"
"Aku diterima jadi tentara"
"Apa?" Air mata terbentuk di matanya.
"Aku… aku di terima jadi tentara dan menjadi bagian dari kemiliteran " Dia meraih tangannya dan menariknya ke dadanya.
"Aku sangat bangga padamu."
"Benarkah?" Dia merasakan air matanya di bajunya.
"Tentu saja. Kamu kan sahabatku." Dia tegang pada kata itu. Dia tahu dia ingin menjadi lebih dari teman baik.
"Kamu mau ikut, kan?"
"Ikut? Kamu mau pergi hari ini?"
"Di surat itu tertera, jelas aku harus masuk camp mulai hari ini." Air mata turun lebih cepat. Dia memeganginya lebih erat, tidak ingin melepaskannya. Dia mengencangkan tangannya di pinggangnya.
"Aku tidak akan melewatkan momen ini."
"Bagus. Ayo pergi."
"Dimana?"
__ADS_1
"Rumahku."
"Aku masih memakai piyama."
"Kalau begitu ganti baju. Cepatlah." Vania mengangguk, tapi dia masih tidak melepaskan pelukannya.
"Aku tidak ingin melepaskan pelukan ini.. Tapi kita harus melepaskannya." Frans dengan paksa melepaskan pelukan dan Vania berlari ke atas untuk mengganti pakaiannya.
Hari ini adalah waktunya, pikir Valerie. Hari di mana aku akan mengucapkan selamat tinggal pada cinta pertama dalam hidupku.
Vania sangat senang kalau Frans akhirnya menggapai apa yang diinginkannya, sedangkan Vania sendiri tidak menggapai apa yang di inginkannya. Air mata mengalir di wajahnya dan dia menyeka saat dia berjalan ke bawah. Yang mengejutkannya, Frans masih ada di sana di depan pintu sedang menunggu.
"Ayo." Frans meraih tangannya dan berlari ke rumahnya.
Saat mereka tiba di rumah, Frans berteriak, "Ibu! Aku akan ke kamar dan berkemas bersama Vania.”
"Oke sayang, ibu akan segera ke sana untuk membantu." Anastasya balas berteriak.
Frans tidak melepaskan tangan Vania, dan kemudian menyeretnya ke atas. Saat mereka sampai di kamar, Frans berlari ke arah lemari dan Vania duduk di tempat tidurnya.
"Apa nanti kamu akan merindukanku?" Frans bertanya kembali dengan 2 koper di tangannya.
"Tentu saja Frans." Vania tahu dia akan menangis sebentar lagi. "Tahan. Tahan saja," pikirnya.
"Aku akan kembali, aku janji padamu."
"Dan bagaimana kalau tidak?" Suaranya pecah.
"Kenapa kamu berpikir negatif? Tolong jangan seperti itu, Vania. Tetap berfikir positif.”
"Ok baiklah.."
"Apa kamu percaya padaku?"
"Iya. Aku percaya padamu"
"Berapa lama kamu akan pergi?"
"Aku tidak tahu. Kaptenku akan memberitahuku semua itu, nanti.”
"Jadi, mari kita mulai berkemas." Frans mengangguk. Vania berjalan ke laci-lacinya dan membaca sekilas, kemudian menyeringai.
"Um, bisakah kamu tidak melihat bagian itu?" Kata Frans dengan malu.
"Apa kamu keberatan jika aku meminjam ini?" Vania menyentuh celana boxer supermannya. Pipi Frans memerah. Dia berjalan mendekat dan meraih celananya itu.
"Apa? Kenapa? Kamu tidak suka superman? Pasti ada pahlawan di kota ini.”
"Oh dan kebetulan pahlawannya itu kamu?"
"Ssst, aku seharusnya merahasiakannya."
"Yah, itu bukan rahasia lagi, Superman." Frans menutup mulutnya dengan tangan dan tangan lainnya di belakang lehernya.
"Seharusnya tidak ada yang tahu." Vania memutar matanya; Frans merasakan senyumnya melalui tangannya. Vania menjatuhkan matanya ke tangannya, Frans menatap matanya. 'Cium dia' teriak nuraninya. Dia mengangkat tangannya perlahan dan menatap bibirnya. Mereka saling menatap bibir selama beberapa detik.
"Hmmm," suara Vania retak. "Kita harus berkemas, Frans." Dia berjalan ke kopernya.
"Tunggu Valerie."
"Jadi, apa yang sebenarnya kamu butuhkan?" Dia berjalan ke arahnya dan menangkupkan wajahnya.
“Frans, jangan." Dia tidak menginginkanku, pikir Frans. "Aku tidak ingin melakukan ini tepat sebelum kamu pergi, kamu akan akan menyiksa diriku dengan menunggu dirimu."
"Setidaknya kamu memiliki sesuatu hal untuk dinanti-nantikan, dan aku akan menjadi satu-satunya orang yang ada di pikiranmu." Dia tidak peduli bahwa dia egois, dia tidak bisa mengendalikan diri lagi.
"Frans, tidak." Kata Vania. Frans malah mengabaikannya dan menciumnya dengan penuh semangat. Setelah itu, Mereka berdua berhenti untuk membiarkan sedikit ruang untuk bernafas.
"Aku sangat ingin melakukan itu."
"Untuk berapa lama?"
__ADS_1
"Seluruh hidupku." Kata Frans. Vania hanya memutar matanya. Ini hanya akting, pikir Vania. Frans mau pergi, jadi Frans hanya ingin bermain-main untuk terakhir kalinya sebelum dia pergi. "Ini nyata, Vania. Aku tidak mempermainkanmu." Matanya melebar seolah Frans baru saja membaca pikirannya.
"Apa gunanya melakukan ini? Kamu akan pergi dan mungkin tidak akan kembali selama beberapa tahun."
"Jadi apa? Tidak masalah berapa lama aku akan pergi. Yang terpenting adalah kamu akan menungguku."
"Tentu saja aku akan menunggumu."
"Bagus. Sekarang ayo kita selesaikan berkemas." Mereka kembali berkemas.
Frans sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tapi dia belum mau mengatakannya. Vania tahu dia tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Frans sangat ingin memberitahunya apa yang hampir dia lakukan malam itu di rumahnya. Beberapa saat kemudian, Anastasya naik ke atas.
"Kalian butuh bantuan?" Dia bertanya.
"Tidak, tidak apa-apa, Bu. Kita sudah selesai berkemas."
"Oke, turun dan ayo makan sebelum kita berangkat."
"Kamu dan Vania saja yang makan. Biar Ibu yang menurunkan semua koper-koper ini."
"Baiklah, cepatlah." Dia mengangguk. Mereka berjalan ke dapur dan mengatur meja. Frans berjalan ke arah paket. Dia mengeluarkan seragam yang mereka kirim beserta surat penerimaan itu. Frans mengenakan seragam loreng hijau pudar itu dan mengenakan sepatu bot. Dia berjalan ke arah cermin dan menatap dirinya sendiri. Dia menyelipkan tangannya ke huruf-huruf yang di border di bseragam itu, “ARMY A.S”.
Dia berjalan lagi kembali ke sebuah paket lagi dan mengambil sebuah gambar kecil. Dia menatapnya dan kemudian membalikkan gambar itu.
'Untuk Frans. Ini sesuatu agar kamu selalu mengingat saya. Dari Vania.' Dia membalikkan gambar itu kembali ke wajah Vania dan menciumnya. Dia memasukkannya ke dalam sakunya yang berada di belakang huruf-huruf yang sudah di border itu. Dia dengan cepat mengambil koper-koper itu di pintu depan dan berlari kembali ke atas. Dia mengambil topinya dan berjalan ke dapur.
Setelah turun, Vania dan Anastasya tidak bisa mengalihkan pandangan darinya. "Anak laki-laki ku sudah tumbuh besar begitu cepat." Air mata mengalir di pipinya.
"Bu, aku akan selalu menjadi putra kecilmu." Anastasya bangkit dan memeluk erat-erat Frans. Setelah mereka duduk dan makan, mereka menuju ke tempat di mana keluarga mengucapkan selamat tinggal. Setelah masuk, mereka menuju ke bagian perpisahan. Frans berjalan lebih dulu kea rah Anastasya. Ada air mata di matanya. "Tolong jangan menangis."
"Ibu sangat menyayangimu, Frans." Dia melemparkan dirinya ke pelukannya. Frans memeluknya dengan erat.
"Tolong,bu. Tolong, jangan menangis." Frans mengepalkan rahangnya. Dia tidak ingin menangis. Dia tahu dia akan kembali.
"Ibu akan sangat merindukanmu."
"Frans juga akan merindukanmu, bu. Aku mencintaimu, Bu." Frans melepaskannya dan menghapus air matanya.
"Baiklah, lanjutkan." Anastasya tersenyum dan mendorong Frans ke arah Vania. "Ucapkan katakan perpisahan." Frans berjalan menuju Vania.
Vania hanya berdiri di sana menatapnya. Dia menariknya ke dalam pelukan. Awalnya, dia hanya berdiri di sana. Lalu dia melingkarkan lengannya di pinggangnya, erat. Dia merasakan air matanya di seragamnya. Frans melepaskan dan meletakkan tangannya di pundaknya.
"Jangan mengucapkan selamat tinggal, katakan sampai jumpa."
"Sampai jumpa lagi." Vania memaksakan senyumnya. Frans menghela napas dan mengatakannya dengan sepenuh hati.
"Vania, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Frans."
"Tidak, aku jatuh cinta padamu." Dia menatapnya dengan kosong.
"Apa?"
"Aku jatuh cinta padamu." Dia tidak bergerak. "Tolong ulangi sekali lagi.”
"Aku jatuh cinta padamu." Dia tersenyum dan menariknya kemudian menciumnya. Frans merasakan air mata Vania itu ada di wajahnya saat mereka berciuman. Mereka berdua mundur. Dia menyeka air matanya dengan tangannya. Vania pikir, ini ungkapan selamat tinggal.
"Tolong tunggu aku. Sampai aku kembali."
"Tentu saja. Aku akan selalu menunggumu kembali."
"Aku akan kembali sebelum kamu menyadarinya." Dia menciumnya untuk terakhir kalinya dan meraih tangan ibunya ke arah mereka. "Aku akan merindukan kalian." Dia menarik keduanya ke dalam pelukan dan meremasnya dengan erat.
Frans menghirup aroma tubuh mereka dan menyimpannya di dalam dirinya. Frans melepaskan diri dan mencium kedua kepala mereka. Frans tersenyum pada mereka dan berjalan ke barisan tentara. Saat semakin dekat dan sangat dekat ke arah pesawat, Frans melihat kembali ke arah Ibunya dan Vania. Dia melambai pada mereka, dan kali ini air mata mengalir di pipinya. Vania terpaksa mengangkat tangannya dan melambai kembali. Dia melihat air mata mengalir di pipinya.
"Sampai jumpa, Frans." Vania berbisik. Vania akan berbalik dan berjalan pergi tiba-tiba seseorang meneriakkan namanya.
"Vania!" Teriak Nick. Sangat keras dan penuh sesak, Vania mendengarnya. Frans memperhatikannya, menatapnya.
"Kirimkan aku surat setiap saat!" Frans tersenyum dan mengangguk kemudian berjalan masuk ke dalam pesawat. Frans menghela nafas dan duduk di kursinya. Vania kembali menatap Anastasya. Dia melihat keluar jendela tempat landasan pesawat terbang. Mereka menyaksikan pesawat naik di langit dan menghilang. Anastasya menatap Vania menyeka air matanya.
__ADS_1
"Ayo kita pulang." Vania mengangguk dan mereka berdua pulang, kali ini tanpa Frans.