Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 45


__ADS_3

Begitu Frans berada di dalam pesawat, dia diberitahu beberapa hal yang perlu dia ketahui.


 


"Selamat datang calon prajurit." Kata kapten. "Pertama-tama kita akan pergi ke Fort Knox di sebelah selatan kota Louisville. Kalian akan melaksanakan pelatihan di sana selama satu tahun,” Frans tetap mendengar tanpa emosi, tapi jauh di lubuk hatinya, dia ingin berteriak pada kapten bahwa dia ingin melihat Vania. Tapi dia tahu, dia tidak bisa. Karena inilah yang dia inginkan. "Selama itu, kalian akan diberikan tugas yang harus kalian selesaikan. Siapa pun yang tidak sanggup menjalani pelatihan ini, akan dikirim kembali ke rumah. Apa yang saya katakana barusan sudah jelas?"


 


"Siap jelas pak." Semua tentara berkata.


"Lebih keras!" Kapten memerintahkan.


"Siap jelas pak!" Mereka semua berteriak.


"Baik, terima kasih semua. Semoga beruntung." Kapten duduk dan Frans melihat sekeliling.


 


Ada cukup banyak wanita dan pria. Beberapa pria seusianya juga ada di sana.


"Hei, aku Jonathan." Frans memandang orang di sebelahnya. Dia menjulurkan tangannya untuk berjabat. Jonathan memiliki kulit terang dengan bintik-bintik di hidungnya. Rambut pirangnya menonjol dari mata cokelatnya.


"Aku Frans." Katanya sambil menjabat tangannya.


"Jadi berapa umurmu?"


“18 tahun."


"Aku 19 tahun."


"Jadi ini bukan pertama kalinya kamu mengikuti pelatihan ini?"


"Yah. Aku udah berada di ketentaraan selama satu tahun, kapten bilang ini lah salah satu cara agar aku bisa kembali ke markas, dan ini sebagai tugasku yang terakhir kali. Aku baru saja kembali mengunjungi istriku."


"Kamu sudah punya istri? Tapi, kamu masih muda."


"Saat kamu menjadi seorang prajurit, itu tidak akan menjadi masalah, kamu harus berpikir dewasa seperti laki-laki. Aku tidak tahu apa saja yang bisa terjadi padaku, dan aku mencintainya. Jadi aku menikahinya, itu membuatku merasa lebih baik karena aku tahu dia milikku." Mendengar apa yang baru saja di katakan Jonthan, Frans  memikirkan Vania. "Apakah kamu juga sudah punya istri?"


 


"Umm. Tidak."


"Pacar?"


"Tidak juga, tapi, saat aku kembali dari pelatihan ini aku akan menjadikannya pacarku." Frans tersenyum.


"Oh begitu. Apa ceritaku barusan tidak masuk di akalmu."


"Sedikit. Tapi, sebelum aku pergi, aku memberi tahu orang yang paling penting dalam hidupku kalau aku sangat mencintainya."

__ADS_1


"Apa dia juga membalas pernyataanmu itu?


"Ya. Tentu saja."


"Itu bagus."


"Ya, tapi aku tidak  mendengarnya kalau dia bilang aku mencintaimu kembali."


 


"Lalu apa gunanya?"


"Aku mengatakannya karena aku hanya ingin memastikan kalau  dia harus tahu perasaanku."


"Kamu benar-benar mencintai wanita itu, ya?"


"Lebih dari yang bisa kamu bayangkan."


"Jadi, nanti kamu akan mengajak dia keluar."


"Yah, rencananya begitu. Aku hanya khawatir dia akan menolakku."


"Kenapa dia harus menolak, bukankah dia mencintaimu kan?"


"Ya, tapi dia masih tidak percaya, karena aku pergi dan jauh darinya.”


"Saat aku masih pacaran dengan istriku, dia juga berpikir begitu. Dia bilang kalau dia tidak akan pernah tahu sampai kapan aku akan kembali, dia tidak bisa menungguku selamanya."


"Yah aku bilang, jika dia benar-benar mencintaiku, dia akan menunggu. Dan dia melakukannya."


"Aku tidak ingin membuatnya menunggu. Tapi aku tahu dia akan melakukannya. Setengah dari diriku aku sangat ingin dia menjadi milikku, dan setengahnya lagi diisi dengan rasa bersalah."


"Kamu merasa bersalah kenapa?"


"Aku ingin dia menjalani hidupnya. Aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku, atau menungguku. Aku ingin dia bahagia."


"Tapi bukankah dia senang denganmu?" Frans tetap diam. Apa Vania senang dengan saya? Pikir Frans.


 


Setelah beberapa menit, Jonathan angkat bicara. "Jangan stres karenanya. Saat ini, perempuan harus menjadi hal terakhir yang ada di pikiranmu. Kamu di sini untuk melindungi negara ini dan menjaga dirimu agar tetap hidup." Frans mengangguk. Dia harus tetap hidup.


 


4 bulan kemudian….


 


Itu adalah hari pertama Vania mendapat surat dari Frans. Dia bersemangat seperti biasanya. Dia juga bahagia karena mereka baru bisa saling bicara setelah 4 bulan sekarang. Itu membuatnya gila.

__ADS_1


 


*Dear Vania,


Aku kecewa, Kamu tidak pernah mengabariku dan mengirimkan surat kepadaku selama empat bulan ini. Aku sangat merindukanmu, sungguh merindukanmu. Di sini aku berkenalan dengan seseorang selama penerbangan ku menuju di sini. Namanya Jonathan. Dia baru berusia 19 tahun dan dia sudah menikah, membuatku jadi berpikir bagaimana kalau kau dan aku menikah. Aku melakukan semuanya dengan sangat baik di sini, aku bisa berbaur dan bergaul dengan semua prajurit dan itu membuat ku sangat senag karena aku merasa diterima. Aku harap kamu tidak merasa tertekan karena aku pergi dan aku harap kamu bisa menjalani hidupmu sendiri. Ohya, bulan ini kamu lulus sekolah yah. Maaf aku tidak bisa menemanimu di acara promnight. Hmm. Hari ini adalah hari pertama di mana aku diberikan tugas; Aku tidak bisa memberi tahu mu apa itu. Aku harap ibu ku juga di sana baik-baik saja. Titip peluk dan cium dari ku dan katakan padanya aku merindukannya dan mencintainya. Dan aku mencintaimu, Vania. Aku tidak pernah bosan mengatakan itu. Aku akan segera pulang, jaga dirimu.


With Love, Frans*.


 


Vaania tidak bisa menghapus senyum dari wajahnya. "Aku mencintaimu juga." Dia berbisik, air mata mengalir di pipinya dan jatuh di atas kertas. Dia merasa bersalah karena tidak mengirimkan apa-apa, dia tidak bisa. Dia tahu kalau dia melakukannya, dia harus menerima kenyataan kalau Frans meninggalkannya di saat dia masih sangat membutuhkannya.


Vania berlari ke rumah Anastasya.


"Anastasya!"


"Ya?"


"Frans mengirim surat. Katanya, dia menyuruhku menitipkan peluk dan cium darinya dan juga dia  sangat merindukan dan mencintaimu." Mata Anastasya mulai berair.


"Bagaimana keadaannya?"


"Dia bilang, dia baik-baik saja dan dia memiliki banyak teman di sana."


"Itu bagus."


"Ya, aku akan membalas suratnya."


"Ya balas. Bisakah kamu mengatakan padanya kalau aku juga sangat merindukan dan mencintainya dan kuharap dia baik-baik saja?"


"Tentu saja, aku akan mengatakannya."


"Terima kasih." Vania mengangguk dan berjalan kembali ke rumahnya.


Sesampainya di rumah. Dia mengambil kertas dan pena dan mulai menulis.


 


*Frans sayang,


Aku minta maaf kalau selama 4 bulan terakhir aku tidak pernah mengirimkan surat padamu, aku tidak memiliki keberanian untuk mengirimkannya padamu. Karena aku masih tidak ingin percaya kalau kamu benar-benar pergi. Maaf aku tidak seberani yang kamu kira. Aku sangat senang, aku mendapat surat ini darimu. Aku sangat merindukanmu. Ibumu bilang dia juga merindukanmu, dan mencintaimu. Dia berharap kamu baik-baik saja. Aku mencintaimu juga. Aku selalu mencintaimu setiap hari. Temanmu Jonathan, kedengarannya orang yang sangat bijak. Dia pasti sangat mencintai istrinya itu. Jangan khawatir tentang diriku di sini, aku tetap menunggumu. Kau tahu, iya sekarang aku sudah lulus, aku tidak peduli kamu tidak menemaniku promnight atau tidak. Aku juga tidak mau pergi. Yang terpenting, aku harap kamu baik-baik saja. Selamat atas tugas barumu. Di sini sangat tanpa kehadiranmu. Sangat sepi. Aku juga sudah mendaftarkan diri ke perguruan tinggi. Aku sangat ingin kuliah di Universitas Sna Andreas. Aku tidak sabar menunggu sampai kamu kembali.. Aku mencintaimu.


With Love, Vania*.


 


Satu minggu kemudian, Frans menerima balasan surat dari Vania. Mereka berdua berada di negara yang berbeda. Frans mengambil surat itu dan masuk ke tendanya kemudian membuka surat itu dan mulai membacanya. Dia selesai membaca dengan senyum di wajahnya, kemudian dia mengambil pulpennya dan mulai menulis.


Dear Vania,

__ADS_1


Aku sudah membaca surat darimu, aku baik-baik saja. Aku bertanya-tanya, apa ayahmu sudah kembali? Kamu pasti sangat merindukannya. Sudah hampir setahun kamu tidak pernah melihatnya lagi. Bagaimana harimu hari ini? Aku harap semuanya baik-baik saja. Besok adalah hari kelulusanmu. Semangat yah. Aku sangat senang kamu akhirnya mendaftar ke kampus impian mu. Aku tahu kamu  pasti akan di terima di akmpus itu. Bagaimana kabar Bram? Apa timnya menang? Maaf, kalau aku banyak bertanya. Hanya saja aku ingin tahu setiap detail kecil tentang dirimu dan Bram. Bagaimana kabar ibu ku? Apa dia baik-baik saja? Aku sangat merindukannya. Vania, aku mencintaimu. Aku akan selalu mengatakannya di setiap surat yang aku tulis jika itu harus. Omong-omong, selamat hari pertama musim panas. Aku tidak percaya ini sudah 20 Mei. Waktu berjalan begitu cepat. Semakin cepat hari-hari berlalu, semakin cepat, aku akan kembali dan bisa melihat dirimu. Ohya sudah dulu, aku ada kegiatan lagi Sampai jumpa lagi. Aku mencintaimu.


With love, Frans.


__ADS_2