Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 6 - Mencarinya


__ADS_3

Dia berkata 'Siap' dan tandanya dia setuju atau dia bilang ya.


"benarkah?" Anastasya bertanya terkejut.


Dia hanya mengangguk cepat dan memperbaiki pandangan sedihnya pada rumput. Dia membutuhkan bantuan, pikirnya saat dia merasakan kesedihan yang menerpa dirinya.


Anastasya memberitahu dokternya yaitu Dokter Jason tentang semua yang terjadi. Dia kaget mendengar kalau Anastasya berhasil memecahkan cangkang Alex. Tapi kenyataannya, Pada akhirnya juga Anastasya hanyalah seorang pasien, artinya tidak ada alasan kenapa Dokter Jason harus percaya padanya.


"Kamu pulih dengan sangat cepat." Dokter mengedipkan mata padanya di akhir pembicaraan panjang mereka, "dan aku percaya kalau kamu akan melakukan lebih banyak hal keajaiban setelahnya. Itulah yang saya inginkan dari pasienku untuk tetap menjadi kuat."


Anastasya terus menatapnya. Keyakinannya akan kemampuannya benar-benar mengejutkan.


"Jangan biarkan gangguan mental itu mengalahkanmu!" bisiknya dengan nada yang ditentukan saat dia meletakkan tangannya di pundaknya, "Kau mengalahkan penyakitmu."


"Terima kasih dokter," katanya dengan penuh percaya diri.


"Sama-sama." Jawabnya saat dokter mulai keluar dari kantornya, seketika dia terhenti. "Ohya, sebelum aku melupakannya..." dia berbalik dan mendekatinya.


Anastasya dengan penasaran memperhatikannya saat dokter itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Dan itu mirip sebuah kupon.


"Ini, ambillah!" katanya sambil menyerahkannya.


"Apa ini?" bisiknya, tidak yakin harus berbuat apa.


"Tiket!" dia tertawa, "Kesepakatannya itu, kamu ingat kan?"


"Ohya aku ingat dokter" Anastasya tersenyum, saat mengingat hadiahnya, "hmm, maksudku tidak."


Dokter Jason menatapnya dengan kebingungan.


"Aku tidak mau mengambilnya!" Anastasya mengangkat bahu, "maksudku, aku tidak melakukan semua itu untuk tiket ini. Yah mungkin pada awalnya ya, tapi aku menyadari kalau aku benar-benar melakukan semua ini untuknya dengan ikhlas daripada melakukannya demi hadiah yang kudapatkan."


Dokter menganalisis kata-kata Anastasya untuk beberapa saat dalam keheningan.


"Tetap saja," dia memulai, "Aku kan sudah berjanji, jadi ambillah!"


"Tidak! Aku tidak mau!" katanya dengan tulus.

__ADS_1


Dia tahu bahwa dia akan pergi, dokter itu kebingungan. Memang benar dia menginginkan tiket itu pada awalnya, tapi saat ini dia berharap dia bisa lebih membantunya. Karena, dia tidak pantas mengalami fase yang ia alami sekarang. Tapi dia sudah melaluinya dan jika dia bisa membantunya menjadi lebih baik maka kenapa tidak membantu, kan?


"Apa kamu yakin?" Dokter bertanya padanya dan tersenyum.


"Ya, seyakin-yakinnya!" jawab Anastasya dengan tegas, "Berikan saja itu pada pacarmu!"


Dia menertawakannya dan berkata, "Aku tidak punya pacar."


"Benarkah? Jadi, perawat Lisa bukan apa-apa bagimu?" anastasya mengangkat bahu.


"Itu dia disana"


"Yeah Yeahh," gadis itu menyela dengan anggukan, "aku harap suatu hari kau akan menemukan keberanian untuk memberitahunya apa yang kau rasakan sebelum beberapa pria membawanya pergi dan kau hanya berdiri seperti penjahat membiarkannya begitu saja."


Dokter menatapnya dengan terkejut. Sepanjang waktu dia menceritakan kisah masa depan yang mungkin dari hidupnya.


"Kamu tahu?" dia menghela nafas, setelah beberapa saat, "Aku pikir kamu ada benarnya juga. Aku perlu bicara dengannya."


"Duhh! katakan sesuatu yang aku tidak ketahui!" dia tersenyum dan mereka berdua tertawa.


Sekarang sekitar pukul 5 sore dan Anastasya sedang melakukan hal yang biasa di sekitar rumah sakit dan tiba-tiba dia menyukai suasana disekitarnya.


"Mungkin aku harus berusaha mencarinya!" Dia berkata pada dirinya sendiri, "Siapa tahu kita bisa mengobrol dan menjadi seorang teman"


"Dimana kau?" seseorang berteriak di belakangnya. Anastasya berbalik dengan cepat, mencengkram dadanya.


Pada awalnya, dia berpikir kalau seseorang mengerjainya.


"Apa?" Anastasya berhenti saat melihat orang itu.


"Dimana kau?" dia berteriak lagi.


Kapten Alex mengancungkan belati ke arahnya dengan matanya. Dia tampaknya sangat lelah dan marah bahkan dia terlihat frustasi.


"Apa? Aku... akuu ada disini." Dia bergumam, tidak yakin apakah itu hal yang tepat untuk dikatakan.


Apa yang terjadi padanya sekarang, kenapa dia? Tampak buruk.

__ADS_1


"hmm bagaimana kabarmu?" dia bertanya, masih ragu tapi senang kalau mereka setidaknya saling bicara sekarang.


Dia menghela nafas dalam amarah dan memalingkan muka dari wajahnya. Kemudian dia menatapnya dengan cara mengancam sebelum berkata,


"Kufikir kita memiliki misi dan aku kira kau menungguku. Orang-orang gila itu melepaskanku beberapa menit yang lalu dan hal yang pertama kulakukan adalah pergi ke kolam dan mencarimu. Dan kufikir misi itu penting." Katanya.


Anastasya pun tersenyum dengan penuh kehati-hatian.


"Wow, dia datang mencariku. Hanya untukku? Tidak ada yang pernah melakukan itu sebelumnya." Pikirnya dengan penuh kemenangan. "Itu hal yang sangat tidak terduga, apakah itu berarti dia sudah mulai pulih?"


Anastasya hanya berharap kalau sikapnya saat ini adalah pertanda baik.


"Apa misinya?" dia bertanya, tampak semakin frustasi.


Pertanyaan itu menghantam Anastasya seperti satu ton granat kali ini. Dia benar-benar tidak memikirkan hal ini. Terakhir kali dokter lain datang dan membawanya pergi, begitu mereka melihatnya benar-benar bicara dengannya. Dia kemudian dapat melarikan diri dari topik misi. Bahkan, dia diam-diam berharap bahwa dia melupakan seluruh perkataanku tentang misi itu.


"Letda Alex Ardiansyah dari Satuan Infantri."


hmm aku.. berfikir.. hanya itu yang bisa ku katakan, sementara jantungku berdenyut.


"Apa kau membohongiku?" Alex bertanya, menekankan setiap kata.


Pada saat itu dia benar-benar berfikir, bola matanya seakan menonjol keluar dan bahwa Alex akan mencekiknya sampai mati.


"Baik, Aku mau mencari sebuah misi sekarang juga! Seperti saat ini." Dia berpikir saat nafasnya bertambah.


"Kau mau bermain-main denganku?" dia bertanya lagi dengan gigi terkatup, mendekati wajahnya dengan wajah mengancam.


"Astaga dia terlihat seksi. Tidak, maksudku dia tampak ingin membunuh." Fikirnya sambil menelan ludah. "Tidak, aku harus menghentikan ini sebelum dia menciumku. Maksudku membunuhku. Apa yang terjadi padaku?" Pikirnya saat matanya menatap dirinya.


"Kau pikir, kau bisa macam-macam denganku tanpa konsekuensi? Uhh." katanya dengan nada menyeramkan.


"Pak Alex," tiba-tiba Anastasya berhasil angkat bicara, tapi jantungnya masih berdegup begitu kencang, "Misinya adalah menyusup ke markas penjahat dan mengambil bukti penyeludupan obat terlarang dan dokumen rahasia milik tentara. Kita hanya memiliki waktu 15 menit dari sekarang."


"Apa yang baru saja aku bilang? Astaga. Tidak, apakah aku benar-benar mengatakan semua ini?" pikirnya, tidak yakin pada dirinya sendiri.


"Siap, laksanakan." dia mengangguk dengan cepat pergi sambil menyeringai, "Ayo pergi!"

__ADS_1


Ekspresinya berubah dalam beberapa detik. Dia sekarang tampak bersemangat dan siap untuk menyelesaikan misinya.


"Ya, mari kita pergi," Anastasya berkata balik, berharap tidak ada hal buruk yang terjadi setelah ini.


__ADS_2