Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 79


__ADS_3

Adrian POV


Polisi melanjutkan kasus dengan bukti baru, mereka segera mulai penyelidikan dan datang dengan bukti bahwa mereka ada di sana. Tidak butuh waktu lama untuk memastikan dia ada di sana bersama Alice dan kami segera bersiap untuk ke sana.


Mereka telah memanggil bantuan Tim untuk menangani hal ini, mereka tidak tahu apa yang di harapkan saat mereka menerobos masuk tapi mereka selalu siap untuk apa pun.


Aku sedang bersiap-siap, aku sudah siap dan menenakan seragam militer ku dan kemudian mengambil pistol, setelah itu aku mendengar suara seseorang yang sedang kesal.

__ADS_1


"Pak, Anda tidak bisa ikut dengan kami. Aku sudah memberi tahu Pak adria kalau Anda tidak bisa pergi." Kepala polisi berkata, seorang pria pendek tapi berotot dengan garis rambut yang berada di kepalanya, aku berdiri setinggi mungkin dan memandang rendah padanya.


"Aku tahu anda akan melarang kami pergi, bahkan melarang Alan juga, tapi anda tidak bisa menghentikanku untuk pergi." Aku mengatakan itu padanya dengan jahat tepat di depanwajahnya, lelaki itu benar-benar gemetarandan dengan kaku menganggukkan kepalanya, aku mengangguk setuju dan berjalan melewatinya ke mobil polisi. Aku di beri tatapan tidak setuju dan pandangan kesal, tapi aku mengabaikannya. Tidak ada yang akan menyakiti Alice tanpa harus menjawab padaku.


Saat kami berhenti di sebuah apartemen, lampu polisi mulai menyala merah dan biru dan kami semua keluar dari mobil, senjata kami dalam posisi untuk menyerang dan kami dalam kondisi siaga tinggi. Saat kami mendekati pintu dengan kepala menunduk, kami mendengar suara tembakan senjata dan seorang lelaki di belakangku jatuh ke lantai dengan darah menutupi pipi kirinya. Kami segera berpegangan pada sisi rumah itu, mencoba menghalangi peluru agar tidak mengenai kami. Sulit untuk mengetahui ke arah mana peluru itu di tembakkan, aku mulai menganalisis situasinya, peluru datang dari kiri dan kanan, dugaan ku adalah kalau penembaknya berada di rumah lain itu berdasarkan sudut peluru berasal, dari pernyataa petugas polisi di belakang pintu mereka menembaki semak-semak.


"Baiklah, kau benar, Sayang. Tentaramu memang datang untuk menolongmu." Dia mencibir padaku. "Dia juga datang tepat waktu, tepat untuk melihatmu mati." Semuanya berjalan lambat setelah itu, aku melihatnya memejamkan matanya, aku melihat matanya menahan kegilaan dan seringai mengejek melintasi bibirnya, aku mengangkat senjataku dan bahkan tanpa membidik aku menembaknya, aku mendengar teriakan menyakitkan, dari Stefan dan Alice, aku melihat Stefan jatuh ke lantai memegangi lengan atasnya, Alice jatuh menjauh darinya ke lantai. Aku berlari ke arahnya tepat saat Stefan meraih pistol yang mengarahkannya padaku, aku dengan cepat menendang pistol itu jauh dari tangannya dan beberapa senjata yang mengarah padanya.

__ADS_1


Stefan menatap pria-pria yang ada di sekelilingnya lalu kembali ke arahku. Dia melototi ke sebuah belati, melemparkannya padaku dan saat dia melihat ke bawah pada gadis yang hancur di lengan ku, matanya memegang sedikit penyesalan, kesedihan. Mereka meraihnya dengan bahu mengangkatnya ke atas dan menyeretnya pergi dan keluar dari pintu, aku merasakan tangan lembut menyentuh pipiku menarik perhatianku dari penjahat yang berusaha merusak kecantikan wanita yang ada di lenganku. Dia meringkuk di sisiku, menempel di bajuku menarik tubuhnya yang menggigil lebih dekat denganku.


"Adrian." Dia merintih ke sisiku, aku menariknya lebih dekat padaku, menutupi tubuhnya dengan tanganku.


"Shh, aku di sini Alice." Aku berbisik, dia bergetar dalam pelukanku, aku mendongak darinya untuk melihat kengerian yang ada di hadapanku. Darah, darah ada di mana-mana. Aku mulai merasa mual dengan pemandangan yang seperti ini di depanku, itu adalah darahnya, di lantai, tempat tidur, dinding. Aku secara insting mengencangkan cengkeramanku padanya, aku mendengar sepatu bot datang ke aula dan melihat paramedis bergegas menghampiri kami, mereka dengan lembut mengambil Alice dari lenganku memgangkatnya ke tandu mereka menutupi tubuhnya yang babak belur dengan selimut dan buru-buru mendorongnya keluar dari rumah yang penuh kekacauan ini.


Saat aku berjalan keluar, aku melihat lubang-lubang peluru berserakan di rumah dan Stefan yang tampak sangat marah di paksa masuk ke dalam mobil polisi, dia melemparkan pandangan jahat ke arah dieiku sebelum mobil polisi melaju di jalan, dan dengan cepat Ambulance mengikuti di belakangnya yanh akan merawat hal yang paling berharga bagiku.

__ADS_1


__ADS_2