
Hari berikutnya....
Pukul 13.34 WITA - Surabaya
“Pak, ada ibu Clara yang ingin menemui anda,” kata sekretaris itu sambil membuka pintu kantor.
“Clara?” pria itu mengangkat alis.
Apa yang dia lakukan disini?
Pikir pria itu saat hendak bersandar dikursinya. Dari semua orang, dia adalah orang
terakhir yang dia pikir akan datang mengunjunginya disini.
“Haruskah saya membiarkannya masuk pak?” Wanita muda itu bertanya.
“Tentu, biarkan dia masuk,” Jawab pria itu, penasaran kenapa Clara datang menemuinya.
Beberapa detik kemudian,
Clara masuk berjalan di dalam kantor, matanya merah dan wajahnya basah karena airmata. Dia belum pernah melihatnya dalam kondisi seperti itu sebelumnya.
“Clara?” dia berdiri dan berjalan ke arahnya dengan cepat, “ kau baik-baik saja? Kemarilah, dan duduk!”
Dia mengarahkannya ke kursi dan menawarkan segelas air. Setelah itu, Clara duduk di seberangnya.
“Apa yang terjadi?” Pria itu bertanya, kekhawatiran tampak di wajahnya, “... dan apa yang kau lakukan di Surabaya?”
“Harry,” Clara terisak, “kakakmu meninggalkanku. Dia memutuskan hubungan kami.”
“Apa?” Herry nampak terkejut, “tidak. Jangan katakan itu. Aku yakin itu hanya salah paham.”
“Dia meninggalkanku!” Clara menjerit, “tidak ada kesalahpahaman, dan orang tuamu juga tampaknya baik-baik saja dengan semua itu! Bahkan tidak ada yang peduli padaku! Hanya kau yang bisa mencoba dan membujuknya untuk berhenti bersikap seolah dia membenciku! Aku yakin ada wanita lain yang membuatnya bersikap seperti itu, itulah sebabnya dia mulai begitu membenciku.”
“Oke. Baiklah!” kata Herry, “sekarang bersantai dan jangan langung mengambil keputusan. Aku akan membantumu, aku janji. Dalam beberapa hari ini beban kerjaku akan berkurang dan aku bisa pulang dengan cepat. Aku akan pulang dan bicara dengan Alex, aku janji.”
“Jangan mengecewakanku Herry,” kata Clara dengan suara kecil.
“Aku tidak akan mengingkari janjiku,” Herry, menjawab dengan menghibur, "bagaimanapun juga, kau seperti saudara bagiku, jadi jangan khawatir. Sekarang kembalilah kerumah dan beristirahatlah. Begitu aku menyelesaikan
pekerjaanku disini aku akan membantumu.”
“Oke,” jawab Clara dengan sedih, “aku akan pulang kalau begitu.”
“Ayo, aku akan mengantarmu keluar.” Kata Herry.
“Tidak, terima kasih.” Jawabnya, “biar akj pergi sendiri.”
Herry mengawasinya keluar dari kantor, tampak sedih.
Sedetik kemudian. Herry memanggil sekertarisnya, “Emy, aku ingin semua rapat di adakan sesegera mungkin dan beri tahu semua stafkalau kita harus menyelesaikan proyek saat ini juga.”
“Baik pak! Wanita muda itu menjawab.
__ADS_1
Hari-hari pun berlalu dan Anastasya dengan senang hati bekerja untuk keluarga Alex. Para karyawannya sangat ramah dan sangat membantu serta ayahnya Alex juga akan membantunya memahami cara kerjanya. Dia bahkan pergi ke kantor utama beberapa kali. Selain itu, Anastasya berteman baik dengan Sarah dan mereka bahkan mau pergi berbelanja kapanpun mereka mau.
Anastaya sendiri terkejut melihat dirinya sendiri karena dia dengan cepat dia bisa beradaptasi dengan segala sesuatu yang ada dirumah Alex. Namun ada satu orang yang membuatnya tidak akan bekerja dengan tenang setiap kali dia pergi bekerja di perpustakaan.
Tok tok..
“Siapa kali ini yang menggangguku, Alex kah?” dia bertanya dengan marah kmsaat dia melototinya.
“Aku lupa dengan jalanku dan tiba disini secara tidak sengaja. Sekarang setelah kupikirkan lagi, kenapa kita tidak mengobrol sebentar?” katanya dengn gembira saat dia datang di perpustakaan.
Anastasya gagal marah kali ini dan tertawa. Alex melakukan segala hal yang dia bisa untuk menghabiskan waktu bersamanya. Begitu dia mengatakan dia datang mencari buku, mungkin saja lain kali dia mengatkan bahwa ac di kamarnya rusak atau lain kali dia berkata dia sedang mencari dompetnya yang hilang dan pada kenyataannya itu ada di sakunya.
“Alex, aku sedang bekerja,” katanya dengan nada mengalah.
“Jadi, bagaimana kabarmu hari ini?” dia bertanya tersenyum.
“Baik, oh ya aku diberitahu kalau kau yang akan menyiapkan kantorku hari ini, “ Anastasya mengumumkan dengan penuh kemenangan, “ini berarti aku akan memiliki kantorku sendiri!”
“Oh tidak!” kata Alex, dengan nada sedih, “hei.. apa itu?
Saat berikutnya Alex mengambil kertas dari tangan Anastasya dan mulai membacanya.
“Alex jangan! itu penting....” kata-katanya terputus saat panggilan telepon masuk.
Dia menerima telepon dan wajahnya berubah.
“Ya pak, aku akan segera membawa kertas itu.” Anastaysa berdiri dan berkata
“Alex! Aku harus membawa kertas iyu dan memberikannya ke ayahmu, jadi berikan itu padaku.”
“Benarkah?” dia mengangkat alisnya, “tangkap aku!”
Saat berikutnya dia keluar dari perpustakaan itu. Anastasya menganga. “terkadang aku
bertanya-tanya apakah dia benar-benar seorang tentara..”
Tapi Anastasya tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu sekarang, dia harus mengejarnya. Dan disinilah dia,
berlari mengejar alex di seluruh rumah tapi tidak berhasil menangkapnya.
Sepuluh menit kemudian, mereka berada ditaman dan anastasya kehabisan nafas!
“Kau sudah menyerah?” Alex menyeringai.
“Itu dia! Aku akan memberi tahu ayahmu!” katanya dengan marah dan mulai berjalan kembali ke rumah.
“Hei tunggu!” Alex memanggil saat dia berlari mengejarnya.
“Tidak!” Anastasya berkata, “kali ini kau akan dimarahi!”
“Tapi.. “ Alex tidak bisa mengakhiri kalimatnya dan tersandung kemudian menimpanya. "Awwwhh!"
Keduanya berguling ditanah dan...
__ADS_1
“Alex! Kau gila yah?” Anastasya meraung saat menatapnya. Anastaysa sekarang berada di atas Alex.
Bagaimana bisa berakhir seperti ini? Pikir anastasya.
“Apa kau tidak akan memeluk prajuritmu ini?” kata Alex dengan senyum lebar.
“Tidak! Dasar bodoh!” kata Anastasya saat dia berdiri dan hendak mengambil kertas yang jatuh di tanah tetapi Alex lebih cepat mengambilnya.
“Aku tidak akan memberimu kertas ini! Aku ingin pelukan!” balas Alex ketika dia berdiri dan memeluknya erat-erat.
“Lepaskan aku!” katanya dengan marah, kemudian memperhatikan kalau Alex dengan serius.
“Dia memeluknya erat-erat dan meletakkan dagunya di atas kepalanya.
Pelukan yang manis, pikir Anastasya saat dia tersenyum tapi kemudian menyadari kalau itu salah!
“Jangan tinggalkan aku,” bisiknya.
“Jangan.. jangan coba-coba membodohiku disini!” balasnya, mematahkan pelukan.
“Anstasya!”dia memulai tapi berhenti saat dia mendengar suara seseorang yang sedang bicara.
“Jadi, tampaknya Clara memang benar.”
Baik Anastasya dan Alex tampak terkejut. Siapa yang bicara.
Detik berikutnya mereka melihat Clara dan seorang pria berdiri di sebelah mereka. Tampaknya mereka begitu sibuk berkelahi sehingga mereka bahkan tidak melihat gerbang terbuka; mobil masuk dan bahkan ada dua orang yang mengawasi mereka.
“Herry?” Alex berkata sambil menatapnya dengan terkejut, “apa yang kau lakukan disini?”
Anastasyaa memandang keduanya dengan ekspresi bingung.
“Itu saudaraku," Alex menjelaskan, “dan itu..”
“Clara” kata Anastasya. Clara cukup terkejut kalau Anastasya mengenalnya.
“Apa itu?” Herry berkata dengan suara kesal saat dia mengambil kertas itu dari Alex. Dia menganlisisnya selama beberapa detik kemudian berkata, “Apa yang kau lakukan dengan kertas ini?"
“Dia mau membawa kertas itu pada ayah, dia bekerja disini.” Kata Alex
“Benar begitu?” Herry bergumam, menatap Anastasya.
Tapi Anastasaya tidak merasa seperti dia sedang menatapnya. Herry merasa kalau Anastasya menatapnya seperti dia
hanya sepotong sampah yang tidak berguna.
“Kami tidak perlu penggali emas disini” kata Herry dengan geram, “aku tahu kau wanita seperti apa dan tidak ada tempat untukmu disini. Kau tidak bisa membuat saudaraku jatuh cinta padamu! Jujur, kau tidak punya malu.”
“Herry!” Alex meraung, “kau pikir, kau sedang bicara dengan siapa?” Tapi saudaranya mengabaikannya.
“Kurasa aku sudah cukup banyak melihatmu!” herry berkata dengan jijik, “keluar darisini, kau dipecat!”
Anastasya hampir menangis, tapi dia lebih suka berdiri diam sementara airmatanya membasahi pipinya. Dia tidak pernah merasa dihina sedemikian rupa.
__ADS_1