
Di kediaman Anastasya…
“Frans! Buka pintunya!” Frans mendengar ibunya berteriak. Pintu terbuka dan Vania melihat Frans dan Putri, yang terlihat menggandeng tangan Frans.
“Hai, temanku.” Kata Frans.
“Hei.” Vania berkata pelan.
“Frans! Coba tebak, kamu tidak akan mengira kalau aku sudah masuk di tim sepak bola.” Kata Bram pada Frans.
“Itu luar biasa, Bram. Ayo masuk. Ohya kenalkan ini Putri.”
“Hai.” Kata Putri.
“Hai.” Kata Vania dan Bram bersamaan., Anastasya keluar dari dapur dan berjalan kea rah mereka.
“Sayang! Kamu sudah datang.” Teriak Anastasya.
“Tentu saja, tante.” Vania berkata pelan.
“Oh syang, jangan murung begitu. Ayo. Mkan malam sudah siap.” Mereka semua berjalan ke meja makan dan duduk di kursi biasa mereka. Sementara semua menyantap makanannya, Anastasya bertanya.
“Jadi bagaimana, Vania?” Tanya Anastasya pada Vania.
“Semuanya baik-baik saja.”
“Apa ayahmu sudah kembali?” Anastasya bertanya padanya.
“Humm, tidak.” Suaranya hampir pecah.
“Bagaimana kabar kalian?”
“Baik.” Sekarang suaranya pecah.
“Bu! Berhenti.” Kata Frans.
“Apa?” Anastasya bertanya, dengan polos.
“Ibu selalu bertanya pada mereka, setiap kali mereka datang. Tidak kah ibu berpikir, dia akan memberitahumu jika ayahnya sudah kembali? Dan ibunya sudah meninggal dua bulan yang lalu. Jadi berhenti bertanya.” Vania memandang Frans, terkejut.
Bagaimana Frans bisa mengatakan semua itu, di hadapan kami semua? Vania berpikir.
“Sudah, tidak apa-apa, Frans. Itu sama sekali tidak menggangguku.” Bram menjawab, berbohong.
“Tidak. Jelas-jelas itu sangat mengganggumu, Bram.”
Vania tidak melihat Bram menangis dan langsung memeluknya dengan erat, sementara Vania mencoba yang terbaik untuk menenangkan diri.
“Tidak masalah.” Vania berbisik kemudian dia dan Bram bangkit dari kursi. “mungkin seharusnya kami tidak datang hari ini.”
“Tidak. Tetap disini. Maaf.” Kata Anastasya.
“Tidak. Tidak apa-apa. Seharusnya kami tetap ada di rumah tadi.” Vania berkata.
“Tidak. Kumohon. Tetap di sini.” Kata Frans. Karena Frans yang meminta., mereka berdua duduk kembali.
“Maaf. Aku laki-laki. Aku seharusnya tidak menangis.” Kata Bram, menghapus air matanya.
__ADS_1
“Tidak. Umurmu masih 14 tahun. Kamu belum menjadi laki-laki sepenuhnya.” Frans berkomentar.
“Frans!.” Anastasya menatap tajam ke mata Frans. Dan menepuk lututnya.
“Apa?” frans bertanya dengan polos. Anastasya memutar matanya.
“Bram juga seorang laki-laki, dia berhak menangis. Menangis tidak akan membuktikan apa kamu seorang laki-laki atau bukan.” Anastasya menjelaskan.
“Aku belum pernah melihat ayah mengatakan itu. Bahkan saat ibu meninggal pun.” Kata Bram.
“Karena ayah tidak peduli tentang apa pun atau siapa pun kecuali dirinya sendiri.” Vania berseru.
“Tapi, kamu bilang dia peduli dengan kita.” Kata Bram.
Saat Frans memperhatikan Vania dan Bram, dia semakin ingin menemukan ayah mereka dan meninju wajahnya. Dia bisa melihat bahwa Vania terjebak dengan perkataan yang dia katakan pada Bram. Bram jelas membutuhkan sosok ayah dalam hidupnya.
“Bram. Kupikir dia tahu.” Vania berkata.
“Jadi, kamu berbohong padaku?” ucap Bram
“Tidak!”
“Kamu berjanji untuk tidak pernah meninggalkanku!” kata Bram
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Tapi, berbohong padaku sama saja seperti meninggalkanku.” Kata Bram.
“Bram. Tenanglah. Aku yang bilang pada Vania untuk memberitahumu kalau ayahmu masih peduli padamu.” Frans masuk ke dalam percakapan mereka.
“Kenapa?” Frans bertanya sementara Vania memandan Frans, bingung.
“Karena aku tahu, kalau kamu tahu yang sebenarnya, kamu akan kesulitan menerimanya.” Frans berbohong.
“Tidak perlu dibahas.” Kata Anastasya.
“Tidak, bu. Tidak apa-apa. Bram berhak mengatakan apa yang dia pikirkan.” Kata Frans.
“Umm, aku rasa sudah waktunya aku pulang. Kalian sedang membicarakan masalah keluarga, aku orang luar.” Putri memotong pembicaraan mereka.
“Putri, kita bukan saudara ataupun keluarga.” Vania mengoreksi.
“kita mungkin tidak ada hubungan, tapi kita akan selalu menjadi keluarga.” Anastasya menyatakan.
“Putri, kamu tetap disini. Bram dan aku harus pulang.” Vania berkata saat dia dan Bram berdiri.
“Tidak, kumohon. Tetap di sini.” Anastasya memohon.
“Tidak. Kami seharusnya tidk datang ke sini. Jelas-jelas kami merepotkan dan menyebabkan masalah.” Vania berkata.
“Vania. Jangan katakana itu. Kami selalu ada di sini untukmu, bagaimanapun juga. Tolong, tetaplah di sini.” Kata Frans.
Cara dia menyebut namanya membuat Vania ingin tetap tinggal, tapi Vania tahu kalau dia harus kuat. Bukan untuknya, tapi demi Bram.
“Tidak, sebaiknya kami pulang.” Vania berkata saat dia dan Bram berjalan menuju pintu depan.
“Aku harap kalian bersenang-senang, selamat malam.” Vania berkata saat dia berjalan keluar rumah. Bram mulai menangis. Vania memeluknya dengan sangat erat.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku janji.” Vania berbisik.
Bram ingin mengatakan sesuatu, tapi dia tidak bisa. Yang Bram miliki hanyalah rasa sakit. Dia sangat membenci ayahnya. Sekarang dia tahu, kenapa Vania tidak suka menyebut-nyebutnya. Dia jahat. Saat ibu mereka meninggal, dia mengunci diri dari Bram dan Vania. Dia tidak pantas berada di dekat anak-anaknya. Jika Bram pernah melihat ayahnya datang ke rumah mereka, mencoba meminta maaf atau memberi mereka cintanya, atau bahkan datang ke sini, Bram akan memukulnya.
__ADS_1
“Ayo-ayo, pulang.” Vania berkata.
Sementara itu, tak lama setelah Vania dan Bram pergi, kediaman Anastasya berantakan. Anastasya terus berteriak pada Frans karena bodoh membiarkan mereka pergi.
“kamu seharusnya mengejar mereka!” anastasya berteriak pada putranya itu.
“Bu, aku tidak bisa. Mereka tidak mau berurusan dengan kita. Biarkan saja.” Kata Frans.
“Dan kamu membiarkannya begitu saja? Vania hanya mengatakan hal-hal seperti ini saat dia terluka atau mengalami rasa sakit. Kamu sudah mengenalnya selama 15 tahun ini, kamu harus tahu itu!”
“tentu saja aku tahu itu! Meskipun aku tahu dia berbohong, ada sesuatu di balik perkataannya itu. Cara dia mengatakan bagaimana dia dan Bram mengganggu dan mereka selalu menimbulkan masalah, cara dia mengatakan itu seolah-olah dia percaya bahwa-”
“-Yah, bagaimana kalau kamu membuatnya percaya kalau semuanya itu tidak benar.”
“Bagaimana ibu? Bagaimana!? Aku selalu mencoba. Tidakkah ibu melihat kalau dia dan aku sudah tidak sedekat seperti dulu?”
“Oh sayang, aku tahu itu. Maafkan ibu. Tapi ibu tidak ingin mempercayai semua itu”
“kenapa ibu? Kenapa? Kenapa kamu tidak mau mempercayainya?”
“karena ibu berpikir kalau anakku tidak akan pernah menyerah. Kamu tidak akan pernah menyerah, Frans. Tidak akan pernah! Tapi, kenapa kamu melakukannya? Kamu menyerah begitu saja, kenapa?
“mungkin aku tidak menyerah, hanya saja berhenti berusaha.” Anastasya memperhatikan kekecewaan di mata Frans.
“Tidak. Kamu tidak berhenti mencoba. Hanya saja kamu menyerah. Mencoba dan meyerah adalah dua hal yang bebeda. Dan kamu, Frans, menyerah.”
“Bu, aku tidak ingin membicarakan ini sekarang.
“Jawabanmu sama saja setiap kali kita mencoba membicarakan hal semacam ini. Sebenarnya, apa yang mengganggumu?”
“aku tidak tahu.”
“Benarkah?”
“Iya ibu, tidak ada!”
“Benarkah?”
“Oke ibu, baik. Aku mau jadi tentara!” Frans meludah. Dia tidak ingin mengatakannya, tapi ibunya terus mengomel dan dia tidak tahan lagi. Frans menatap wajahnya, tidak ada emosi. “Bu, sebelum kamu berteriak atau mengatakan sesuatu, aku hanya ingin mengatakan kalau aku tidak pernah menginginkan hal yang lain dalam hidupku. Frans hanya ingin berjuang untuk Negara kita. Aku tidak bisa berjuang untuk diriku sendiri, jadi aku akan berjuang untuk Negara ini. Tolong, ibu. Yang aku butuhkan hanyalah dukunganmu.”
“Tidak.” Anastasya menjaga wajahnya, tegas.
“Tidak?” kata Frans
“Tidak. Ibu tidak akan membiarkanmu jadi tentara.”
“Tapi kenapa ibu? Kenapa? Kamu bertanya padaku apa yang menggangguku dan Frans sudah bilang semuanya. Kenapa ibu tidak bisa mendukung apa yang aku inginkan, sekali saja.”
“Frans, kamu akan mati di luar sana. Lihat ayahmu.”
“Ayah masih hidup.”
“Oke, tapi lihat, setelah kamu lahir, tumbuh dewasa, dia pulang berperang dan pergi lagi, kemudian setelah itu apakah dia pernah pulang? Tidak. Dia tidak pernah pulang, lagi? Dia malah memulai hidup yang baru, tanpa kita. Dia punya istri baru dan anak-anaknya. Dia meninggalkan kita. Dia lupa tentang kita.”
“Bu, aku mungkin anaknya, tapi aku tidak seperti dia.”
“Dan bagaimana kamu tahu itu? Semua orang bisa menjadi seseorang yang tidak pernah mereka inginkan. Ayahmu bilang, kalau dia akan selalu mencintai ibu dan tiba-tiba setelah ayahmu kembali bertugas, dia menyadari kalau dia tidak menginginkan ibu lagi.” Anastasya menahan air matanya.
“Tapi bu, Frans tidak akan pernah meninggalkan ibu.”
“Bahkan ayahmu juga mengatakan hal yang sama.” Katanya sambil berjalan pergi.
__ADS_1