
Frans dan Bram berjalan menuju rumah Frans. Mereka mendengar musik dari dapur. Mereka berjalan menuju ke dapur dan melihat Vania bergoyang, yang dimana pinggulnya di bolak-balik, dia sedang memasak sambil bernyanyi. Frans tersenyum dan berjalan ke arahnya. Vania berbalik dan bertanya pada Frans.
"Jadi bagaimana jalan-jalanmu dengan Bram?"
"Dia tidak akan menyebabkan masalah apapun lagi ke depannya. "
"Kau seperti seorang psikiater yang mampu membuat keajaiban." Vania sangat senang mendengar kalau Bram akan mengubah sikap buruknya itu.
"Apalagi yang mau aku bilang ya. Oh yahh. Aku punya hadiah, ini." mereka berdua tersenyum dan pergi mencari Bram.
"Bram, Ayo. Kita akan pergi melihat Ibuku." Bram bangkit dari sofa dan berlari ke mobil. Vania dan Frans saling memandang. "Aku belum pernah melihat dia sangat bersemangat. "
"Mungkin ibuku telah membawa pengaruh besar padanya.”
"Ayo pergi. " mereka melaju ke rumah sakit. Saat mereka tiba di sana, perawat menghentikan mereka.
"Apakah Anda Frans Samuel? " tanyanya.
"Ya, ada apa? "
"Kami memindahkan ibumu ke kamar VIP."
"Apa? Aku tidak pernah meminta mereka untuk melakukan itu." tubuhnya bersandar ke diding dalam kebingungan.
"Dia yang memintanya. Dia ingin bicara dengan Anda, sendirian. Dia di pindahkan dari lantai dua ke lantai ketiga. Dia sekarang ada di kamar 289."
"Oke, terima kasih." perawat mengangguk dan berjalan pergi. Frans menatap Vania.
"Pergilah, kami akan menunggu mu di kantin." Frans mengangguk dan mereka pergi kemudian berpisah. Frans berjalan ke kamar baru ibunya.
“Ibu? "
"Frans, anakku kamu ada di sini. " Anastasya tersenyum.
"Ya, dan apa yang ibu lakukan di sini? "
"Apa maksudmu? Ibu kan memang harus berada di sini. "
"Iya ibu. Tapi, kenapa ibu meminta mereka untuk memindahkan ibu ke kamar VIP? "
"Karena ibu mau mendapatkan privasi dan pengobatan lebih lanjut. "
"Ibu, kamu mengerti kan. Kamar ini terlalu mahal." dia tahu mereka tidak mampu membayar uang perawatan.
"Kenapa , Nak? Ibu kan, akan membayarnya."
"Ibu seharusnya tidak memerlukan kamar seperti ini."
"Frans. Tarik kursi itu ke sini dan duduklah." Dia patuh. Frans meletakkan tangannya di tempat tidur Ibunya "Ibu tah, kamu sangat tidak ingin mendengar ini, tapi ibu sudah mau meninggal."
“Ibu!" Frans tidak mau mendengarnya. Dia bahkan tidak bisa melihat ibunya berbaring di tempat tidur rumah sakit tanpa menangis.
"Frans, itu benar. Ibu tidak akan berbohong kepadamu lagi." dia sudah bosan berbohong kepada dirinya juga.
"Jangan katakan hal semacam ini! "
"Saya tahu Dr. Albert yang memberitahuku."
"Dia bilang ibu bisa saja mati, tapi masih tidak pasti. Tapi pokoknya, jangan bilang ibu mau meningga; aku tidak mau mendengarnya!" Ibu-nya akan tetap hidup; Frans memastikan hal itu.
__ADS_1
"Ibu tahu, kamu pasti tidak mau mendengarnya, tapi mengertilah, Nak. Semakin lama kondisi ibu mulai menurun. Penyakit ibu menyebar, begitu cepat." Anastasya berusaha menjaga suaranya agar tetap kuat.
"Jadi, Ibu ingin membuang segalanya hanya karena ibu akan meninggal, begitu? " Frans mengertukan alisnya.
"Tidak, Ibu hanya membuang-buang uang yang ibu tabung untuk liburan ke Paris. Kamu tahu kan, ibu sangat ingin pergi ke sana, lagi pula ibu menggunakan uang tiket pesawat ibu sendiri, bukan milikmu. "
"Milikku? " dia kagum.
"Kamu pikir, ibu mau pergi tanpa dirimu? Jika ibu melakukannya, ibu akan memotong kepalamu" dia tertawa dengan kata-katanya. "Ngomong-ngomong, kembali pada apa yang ibu maksud. Kamu mencintai Vania, kan? "
"Tentu saja, ibu" Dia duduk tegak, yakin akan perasaannya.
"Maksudku, kamu jatuh cinta padanya? Tidak apa-apa, kamu boleh memberitahu ibu."
"Ya, bu. " wajah Frans memerah.
"Apakah dia sudah tahu? "
"Ya, dan dia juga mencintaiku, ibu. Dia mengasihi ku." senyumnya melebar.
"Tentu saja dia tidak akan, tidak mencintaimu.. Pokoknya, Apa kamu pernah berniat untuk menikahinya? "
"Tentu ibu." dia tidak ragu untuk menjawab.
"Tapi bagaimana dengan usia kalian? Kalian masih muda."
"Aku akan senang, tapi aku takut Vania akan berpikir kalau kami masih terlalu muda. "
"Tapi, jika ibu meminta kamu untuk menikahinya, apa kamu mau? "
Setelah mereka melihat Anastasya, Frans menyuruh mereka pulang. Sesampainya pun di rumah Frans memarkir mobil, Vania berlari masuk ke dalam rumahnya. Vania merasa akhirnya ia bisa berkencan dengan Frans setelah sekian lama. Frans tersenyum saat ia mengawasinya. Oh, betapa Vania sangat merindukannya.
"Oke, aku pikir sudah cukup memikirkan kakak ku " kata Bram, mengganggu lamunan Frans.
"Masalah? " Frans menyeru.
"Ya, ya ya"
"Got it. " mereka berdua keluar dari mobil. "Lihat saja nanti, anak kecil." Bram menantangnya dan berjalan ke dalam rumahnya dan Frans masuk ke rumahnya. Frans bersiap-siap, ia mencoba yang terbaik untuk terlihat sempurna. Dia ingin membuat Vania terkesan. Dia ingin Vania bangga kalau dia pacarnya dan Vania melakukan hal yang sama.
Sekitar jam 7 malam, Frans mengetuk pintu rumah Vania. Saat Vania membuka pintu, dia menganga karena melihat Penampilan Frans.
"Kamu sudah datang" kata Vania. Frans menatap Vania dari bawah sampai ke atas. Vania menunjukkan keindahan dari gaun biru ketat nya, biru adalah warna favorit Frans.
"Kamu terlihat sangat cantik. " Frans nyaris tidak bisa berkata-kata lagi.
"Dan kamu terlihat sangat tampan. "
"Ya, aku mencoba yang melakukan yang terbaik." Frans menatap ke bawah, kearah Jeans favoritnya dan kemeja dengan sepatu favorit Vania.
"Yah, ok baiklah. Kamu terlihat menakjubkan. Mau berangkat sekarang?" Vania mengangguk saat dia menggandeng tangannya. Mereka berjalan ke mobil Vania dan dia membuka pintu untuk Vania. Setelah itu Frans berlari ke dalam mobil, dan kemudian pergi ke tempat tujuannya.
"Kita mau pergi kemana? " Frans bertanya lagi.
"Ke suatu tempat…." dia memulai.
"Ya aku tahu itu di suatu tempat. Tapi di mana tempat itu?"
__ADS_1
"Suatu tempat yang sangat indah. "
"Apa kamu suka tempat itu? Siapa tahu aku tidak menyukai tempat itu.”
"Kalau kamu tidak suka ya, kita bisa mencari, sampai kita berada di tempat yang kamu sukai."
"Kapan kita sampai di tempat itu? "
"Kita sudah sampai, sayang. " Frans keluar dari mobil dan berjalan ke pintu mobil Vania. Frans membuka pintunya dan Vania keluar. Frans menutup pintu dan menggandeng tangan Vania. Seketika Vania kaget.
"Itu.. itu... waww" Vania tergagap
"Sangat Indah? "
"Itu .. yah .. hmm"
"Bilanglah.. "
"Kamu yang mempersiapkan semua ini? "
"ya tentu. " pipinya menjadi merah.
"Sangat indah, luar biasa." Vania menghadap di hadapannya.
"Sama seperti dirimu." ada lentera di seluruh pohon dengan lampu Natal. Kelopak mawar di tanah dan meja di tengah, dengan dua piring dan bunga mawar dalam vas.
"Tapi bagaimana…. Kapan kamu melakukan semua ini?" Vania masih tidak bisa berbicara dengan baik. Dia tidak percaya Frans akan melakukan semua itu untuknya.
"Aku mempersiapkan semua ini saat kamu sedang bersiap untuk mengganti pakaian."
"Aku sangat menyukainya, Frans. Belum pernah ada orang yang melakukan sesuatu seperti ini untuk diriku sebelumnya." Vania menaruh tangannya di pipinya. Frans memegang tangannya dan menutup matanya, ingin mengingat saat-saat ini selamanya.
"Ayo." Dia membuka matanya dan berjalan ke kursinya. Setelah dia duduk, Frans berbisik di telinganya, "aku akan segera kembali." Frans berjalan pergi dan kembali dengan nampan tertutup dan meletakkannya di tengah meja.
"Apa itu? "
"Sebuah kotak." dia mengambil baki.
"Ini hanya sekotak kue, Frans " Vania merasa bingung.
"Kamu tidak tahu itu, itu bisa menjadi apa saja. Aku hanya mengambil tutup nampan , aku tidak membuka kotak. "
"Buka lah dulu, Van."
"Kamu saja yang membukanya." Vania memutar matanya dan membukanya. Matanya melebar memandang kue yanh bertuliskan, 'Apakah kamu mau menikah denganku, Vania?'. Vania melihat ke arah Frans. Frans bertekup lutut dengan cincin dalam kotak yang ada di telapak tangannya. "Vania, aku tahu kita masih terlihat sangat muda, tapi aku tidak bisa hidup tanpa adanya dirimu, tidak bisa melakukan sesuatu jika kamu masih belum menjadi milikku. Aku tahu, hari ini aku hanya meminta dirimu untuk menjadi tunangan ku, tapi aku sudah mengenal dirimu sepanjang hidupku ini maka dari itu malam ini aku melamarmu. Aku suka semua tentang dirimu, yang ada pada dirimu dan cara dirimu bertindak, aku mencintai segala sesuatu tentang dirimu, yah. Aku suka bagaimana kamu jatuh cinta padaku, saat kamu dengan setia menunggu diriku pulang. Aku suka cara mu menyiapkan semua makanan, saat aku ingin makan. Aku suka saat kamu bernyanyi. Aku suka bagaimana dirimu bisa mendapatkan sesuatu dari diriku dalam sekejap. Aku suka bagaimana kamu begitu protektif pada Bram. Aku suka bagaimana dirimu mengurus orang lain tapi lupa untuk mengurus diri sendiri. Tapi Van, aku ingin menjadi orang yang akan mengurus dirimu, sehari-hari. Aku ingin bangun dari tidurku setiap pagi dan melihat wajah cantik mu dan melihat wajahmu saat aku ingin tertidur di malam hari. Aku ingin beradu argumen bodoh denganmu setiap hari. Aku ingin memiliki keluarga yang indah dengan dirimu. Aku ingin duduk bersama meminum kopi di pagi hari bersamamu, membayar tagihan rumah. Aku ingin menjadi suami yang sempurna bagi dirimu nanti. Aku mencintaimu, Vania. Sangat mencintaimu. Kamu membuat hatiku berdetak begitu cepat. Kamu mengambil setiap napas ku. Aku tahu ini terdengar cheesy, tapi aku sangat mencintaimu. Akankah dirimu mau menikah denganku dan selamanya menjadi milikku?" Vania bangkit dengan air mata mengalir di wajahnya. Dia tidak bisa mempercayainya. Setelah semua waktu dan hal yang seharusnya menjadi miliknya terjadi, tetapi masih tidak mampu memilikinya, dan pada akhirnya Frans berlutut di depannya memintanya untuk menikahinya. Dia tidak bisa percaya betapa beruntungnya dia. Vania tergila-gila padanya dan tahu bahwa dia tidak bisa hidup tanpa Frans. Frans mengawasi wajahnya, menunggu tanggapan dari Vania. Dia berharap kepada Allah kalau Vania akan mengatakan ‘ya’. Frans tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika Vania mengatakan tidak. Dia adalah segalanya. Dia selalu ada untuknya. Dia adalah cinta dalam hidupnya dan ia tahu bahwa mereka diciptakan hanya untuk hidup satu sama lain.
"Aku tidak bisa berjanji untuk menjadi istri yang sempurna untukmu. Tapi aku akan mencoba dan berusaha menjadi lebih baik lagi.” Air mata pun jatuh membasahi pipinya.
"Jadi Apakah itu berarti…?” Frans berdiri tegak, dengan bersemangat menggenggam kedua tangan Vania.
"Ya, Frans. Aku mau menikah denganmu, aku menerima lamaranmu." Frans memasukkan cincin di jari manisnya dan mencium kening Vania. Kemjudian Frans menarik perlahan tangan Vania dengan lembut dan sopan. Senyum lebar membentuk di wajahnya.
"Aku sangat mencintaimu." Frans akhirnya melakukan semuanya. Vania tidak bisa percaya betapa Frans sangat mencintainya.
"Aku juga sangat mencintaimu dan tidak sabar menjadi pendamping hidupmu." mereka saling cipika cipiki dan saling memeluk.
Malam itu adalah malam yang sangat membahagiakan bagi mereka. Pada akhirnya Frans berani mengungkapkan perasaannya pada Vania dan akhirnya mereka akan segera menikah.
__ADS_1