
Beberapa jam kemudian, mereka semua berkumpul di ruang konferensi. Jenderal, Daniel, Alex, beberapa tentara lainnya bersama dengan Polisi.
“Ini alat pelacak, GPS, mikrofon dan pistol ini..” Daniel hendak melanjutkan tapi alex
menghentikannya.
“Aku sangat yakin mereka akan menggeledahku begitu aku tiba disana,” katanya, “jadi aku tidak bisa mengambil resiko. Aku tidak bisa mengambil pistol itu.”
“Hmm, baiklah.” gumam Daniel saat dia mengambil pistol itu kembali,
“Ok” Alex menyeringai.
“Dan sekarang, kau nona,” lanjut Daniel, dengan sangat ingin menunjukkan perangkat teknologi canggih berikutnya, “aku serahkan perangkat ini semua padamu.”
“Aku tidak tahu cara menggunakan pistol dan aku tidak akan menggunakannya!” Clara langsung berkata, menatap perangkat seperti pistol dengan ngeri.
Daniel tersenyum dan menyimpan alat itu di atas meja.“Jangan khawatir, nona. Ini bukan Pistol. Itu disebut teaser. Itu akan menghentikan orang untuk sementara
waktu begitu kau menembaki mereka.”
“Oh..” kata Clara sambil memegang alat di tangannya, ”ini sepertinya menarik.”
“Aku pikir akan lebih baik jika aku memberimu teaser yang kecil. Jadi, akan lebih mudah untuk digunakan,” Daniel berpikir keras dan dia menarik model teaser yang lebih kecil dari sebuah kotak.
“Baiklah,” gumam Clara dan kemudian dia menyimpan teaser di atas meja dan mengambil yang diberikan Daniel padanya.
“Baiklah, ini rencananya,” kata alex, “Clara dan aku akan pergi kesana dan kalian akan melacak kita dengan GPS. Begitu kita berada didalam dan penculiknya sibuk dengan kita, kalian bisa melakukan cara untuk mengepungnya bagaimanpun, anda akan mendengar semuanya karena aku akan menyalakan mikrofon segera setelah kami akan memasukki rumahnya. Sementara kami berada didalam, aku akan menyelamatkan Anastasya dan aku tidak akan
membiarkan sesuatu terjadi pada Clara.”
“Kami akan menerobos masuk,” salah seorang polisi mengatakannya.
“Benar,” Alex mengngguk, “dan sekarang Clara, inilah yang akan kau lakukan.”
Setengah jam kemudian, Clara dan Alex berkendara menuju rumah Lucas, keduanya tampak sangat serius.
__ADS_1
Mereka tidak mengatakan sepatah kata apapun selama mereka berangkat dan sepertinya mereka tidak akan melakukan pembicaraan serius apapun. Namun, Clara tidak bisa menahan diri.
“Kau sangat mencintai dia?”
Suasananya hening. Alex hanya meliriknya dan hanya menatap yang ada di depannya.
“Aku tidak akan berbohong padamu,” jawab Alex, “Aku mencintai Anastasya.”
“Dan sejak kapan kau berhenti mencintaiku?” Clara bertanya dengan nada dingin yang sama.
“Sejak kau memutuskan pergi keluar negeri disaat aku membutuhkan dukunganmu selama aku berada dirumah sakit.” Alex menjawab, “kau tahu Clara, kalau kau pergi keluar negeri itu hanya untuk sebuah pekerjaan,
aku tidak akan keberatan, tapi karena kau pergi dengan alasan bodohmu itu, aku merasa kesal dan terluka.”
“Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu,” jawab Clara.
“Kursa karena reputasimu,” kata Alex sambil berbelok ke kanan.
“Jangan katakan itu,” Clara berkata kembali, “Aku hanya... mungkin kau benar.”
“Kurasa dia menyukaiku,” jawab Clara.
“Dia kemungkinan besar terobsesi denganmu,” Alex mengamati.
“Dia...” Clara memulai, “saat bertemu denganku di Simgapura. Kami bicara banyak dan dia terus memberitahuku kalau akulah wanita yang dia cari selama ini. Kupikir dia hanya bercanda dan saat aku kembali kesini...”
“Dia mengikutimu,” kata Alex
“Sepertinya begitu.” Gumam clara.
Mereka tiba di depan gerbang dan keduanya keluar dari mobil. Alex memandang clara dan dia mengangguk. Dia meraih pergelangan tangannya, berhati-hati agar tidak menyakitinya sementara Clara berteriak;
“Lepaskan aku!”
Sepersekian detik kemudian beberapa pria tiba didepan gerbang dan membukanya.
__ADS_1
“Bos, dia ada disini,” seorang lelaki berkata dengan ponselnya menekan telinganya, “oke.. Biarkan dia masuk.”
“Lepaskan tanganku alex.” Clara menangis berusaha terlihat setakut mungkin. Sementara itu, kedua pria itu membuka gerbang dan keduanya berjalan masuk.
“Selamat datang,” pria itu tersenyum kepadanya seolah-olah dia baru saja memasukki sebuah restauran, “sebelum kau melanjutkan, kami ingin memeriksa apakah kau memiliki senjata.”
“Tentu,” jawab Alex dengan suara dingin.
“Kau bisa masuk. Bos sudah menunggu.” Pria itu bersuara dan Alex mengikutinya, menyeret Clara.
Setelah beberapa menit mereka tiba di ruangan yang luas, tampak remang-remang dan hanya beberapa perabot disana
“Oh! Tamu-tamuku sudah ada disini,” seorang lelaki berkata dengan nada riang saat dia berdiri dari kursinya dan tersenyum pada Alex dan Clara, “halo namaku, Lucas.”
Alex menatap pria itu dan tiba-tiba melihat seseorang duduk dikursi beberapa meter jauhnya. Itu seorang gadis..
“Anastasya!” kata Alex saat dia melihatnya.
“Alex!” Anastasya menangis dengan berlinang air mata, “Kau disini!”
Alex merasa senang kalau Anastasya baik-baik saja.
“Halooo” Lucas berkata sambil melambaikan tangannya, “Aku disini juga, kau tahu!”
“Jadi kaulah yang memiliki keberanian untuk menculik gadis yang kucintai,” kata Alex menatap Lucas dengan tajam.
“Tunggu?” Lucas berkata, tampak bingung, “aku pikir kau dan Clara bersama-sama atau sesuatu telah terjadi atau kau sudah putus.. anak buahku tidak bisa memberiku banyak informasi yang akurat sebenarnya tapi tunggu sebentar disini... paling tidak bilang padaku kalau cerita ini benar! Kau suka gadis ini? Apa dia kekasihmu Anastasya?”
“Diam kau!" kata Anastasya, “dan ya.. aku mencintainya, apakah itu masalah?"
Alex merasakan sensasi hangat dan bahagia di hatinya pada saat itu.
“Benar-benar tidak kuduga!” Lucas berseru, “Kalau begitu seperti di film! Aku sangat menginginkan hal seperti itu terjadi!”
“Aneh...” kata Anastasya sambil melihat ekspresi bingung diwajah Alex.
__ADS_1