
Vania dan Frans selalu tumbuh sebagai sahabat, sampai mereka berusia tujuh belas tahun dan menyelesaikan sekolah menengah bersama. Mereka berdua mulai berjuang dengan hidup dan pilihan mereka sendiri. Vania berjuang dengan keinginan untuk menjadi lebih dari sekedar sahabat dengan Frans, sementara Frans sendiri berjuang untuk meneruskan cita-citanya itu dengan bergabung di pangkalan kemiliteran Amerika. Setelah megungkapkan perjuangan mereka, segalanya berubah. Mereka mengharapkan bahagia untuk selamanya, tetapi hidup tak seperti yang ada di sinetron. Kenyataan tidak seperti yang kamu inginkan.
Saat mereka berusia 7 tahun ..
“Kamu mau bermain denganku?” Tanya Vania
“Yah.” Kata Frans. Vania mengulurkan tangannya. Dan Frans meraihnya dalam sekejap.
“Jadi, kamu mau bermain apa denganku?” Tanya Frans.
“Bagaimana kalau kita memainkan sebuah permainan? Jika aku pikir kamu berbohong, aku akan menciummu.” Kata Vania.
“Mau cium dibagian mana?”
“Di pipi mu.”
“Ewww.”
Pipiku akan lecet, kalau kamu melakukannya. Coba kalau berani.”
“Oke, baiklah.” Dia duduk di bangku di atas rumput dan menepuk bangku disebelahnya. Dia duduk.
Oke, jadi apa kamu membenciku?” Tanya Frans.
“tentu saja tidak!”
“Apa kamu mencintaiku?”
“Iya.” Dia menciumnya lagi.”Kenapa? Apa kamu pikir aku berbohong?”
“Tidak. Bukan begitu. Yah aku sangat mencintaimu.”
Saat mereka berusia 15 tahun …
“kembalikan kacamataku!” teriak Vania.
“Tidak mau! Kalau kamu mau kacamata mu kembali, kemari dan ambil sendiri.” Kata Rian.
Sesaat Frans lewat, dia melihat Vania di permainkan oleh Rian.
“Aku tidak bisa melihatnya terus-terusan di permainkan seperti itu!” Frans menangis.
“Oi, si cengeng datang.” Teriak Rian. Frans dengan marah berjalan kesana.
“Hei! Hentikan itu, jangan mengganggunya.” Teriak Frans. Vania mendengar suaranya dan otomatis tahu siapa itu. Rian menatap Frans.
“Oh, lihat siapa yang datang untuk menyelamatkanmu!” Rian berteriak.
“kembalikan kacamatanya.”
“Apa yang akan kamu mau lakukan? Kalau aku tidak mau mengembalikannya.”
“Jangan memaksaku untuk memukulmu.” Kata Frans dengan marah.
“Yasudah, kesini, pukul aku kalau kamu berani.” Rian mengejek.
__ADS_1
“Kamu yang meminta, yah.” Frans berjalan mendekati Rian dan meninju tepat di rahangnya.
Tentu saja Frans pandai memukul dan meninju, karena Frans sering berlatih tinju. Rian jatuh ke lantai dan Frans mengambil kacamata itu dan berjalan ke arah Vania. Frans tersenyum dan memasangkan kacamata itu di mata Vania.
“Kamu sudah bisa melihat sekarang?”
“Ya, tentu.” Vania tersenyum. “Terima kasih, Frans.” Vania menawarkan tangannya untuknya dan Frans menatapnya, bingung.
“Kita akan makan malam dirumahku hari ini.” Ekspresinya tidak berubah. “kita akan pergi ke rumahku dan bermain.”
“Oh baiklah.” Frans menerima tangannya dan mereka berjalan pulang.
Saat mereka berusia 17 tahun ..
“Jam pelajaran selesai, sampai jumpa minggu depan,” Guru berkata. Frans praktis berlari keluar dari kelas. Vania keluar tak lama setelah Frans.
Saat Frans berlari, Vania menatapnya. Vania menghela nafas dan berjalan keluar sekolah sedangkan Frans pergi ke tempat lain. Frans berhenti di depan kelas lain dan meraih pinggang seorang cewek saat para siswa lainnya keluar dari kelas itu. Cewek itu namanya putri dan putri menatapnya,
“Frans, aku sudah punya pacar.” Kata Putri.
“Yah, aku tahu. Aku rasa dia akan sangat marah kalau melihat kita seperti ini.” Ucap Frans.
“Tentu tidak, jika kita merahasiakannya.” Kata Putri.
“Apa kita sekarang…” belum menyelesaikan perkataannya, Putri memotongnya.
“Hushh, diam saja dan cium aku.” Frans melakukan persis apa yang Putri katakan dan menciumnya. Setelah melakukannya, mereka saling memandang.
“Jadi, seperti apa pacarmu itu?”
“Yah, dia mirip sepertimu. Dia tampan, rambut lebat, mata cokelat, kulit cokelat, berotot. Dan dia juga anggota tim sepak bola.”
“Yah, bagaimana kalau kerumahku?” Frans mengajak.
“tentu saja.” Mereka berdua berjalan sambil beriringan kerumah Frans.
Disisi lain…
Frans tidak akan pernah bisa keluar dari pikiran Vania. Setelah menjemput adik laki-lakinya dan pulang, Vania melihat ayahnya masih saja belum pulang ke rumah. Vania kemudian berjalan masuk ke dapur dan mulai memasak untuk adik lelakinya Bram.
Tiba-tiba telepon rumah berdering..
“Halo?” Vania berkata saat menjawab telepon.
“Hai, sayang, ini aku Anastasya, ibunya Frans.” Katanya.
“Hai tante. Tante tidak usah memperkenalkan diri. Vania tahu sekarang.” Jawabku.
“Begini sayang, tante mau megajakmu makan, malam ini dirumah. Kamu mau?” dia bertanya, mengajakku kerumahnya.
“hmm.. tante terima kasih sebelumnya, tapi aku rasa aku di rumah saja dan memasak untuk adikku, Bram.” Jawabku merasa tidak enak karena ajakannya.
“Astaga sayang, kamu datang saja malam ini, yah? Ayolah?” ajaknya.
“Tidak. Itu tidak perlu tante. Sejak ibuku meninggal aku sudah sering kesana, aku tidak enak harus terus menerus kesana. Aku harus mandiri tante.” Ucapku.
__ADS_1
“Saat usiamu sudah beranjak 18 tahun, kamu boleh mandiri. Sekarang kamu masih umur 17 tahun. Jadi tante perintahkan kamu untuk datang malam mini.”
“Tapi..” belum Vania menyelesaikan, perkataannya di potong oleh dengan perkataan Anastasya.
“Tidak ada tapi-tapi. Sebaiknya kamu secepatnya datang kesini, tante tunggu 10 menit dari sekarang!” perintahnya.
“Tapi…” sudah terlambat, Vania belum menyelesaikan perkataannya. Anastasya sudah menutup teleponnya. Sekarang Vania dan Bram harus datang. Vania mematikan kompor dan memanggil Bram.
“Bram?” teriak Vania.
“Ya, kak?” Bram membalas.
“Bersiaplah, ganti pakaianmu! Kita akan kerumah tante Anastasya.”
“Apa kak Frans juga ada disana?” teriak Bram.
“Mungkin saja.” Balasku. Bram menghela nafas dan berlari ke atas, Vania mengejarnya.
“kenapa kamu begitu kelihatan bahagia?”
“aku harus memberitahunya kalau aku masuk kedalam tim sepak bola.”
“kamu masuk?!”
“Ya!” jawab Bram.
“Bram, itu luar biasa.” Vania memeluknya dengan erat. “Almarhum Ibu pasti sangat bangga padamu.”
“untuk itulah kamu ada di sini, kan?”
“Ya.” Bram tersenyum.
“Aku hanya berharap ayah pulang.”
“Ayah akan segera pulang.” Kata Vania. Melepas pelukan itu.
“Kapan, kakak? Ini sudah dua minggu.” Kata Bram.
“Segera. Yasudah berpakaian sana, oke?” Kata Vania.
“Baik, kak.” Bram berjalan keluar dari kamarnya. “Vania!”
“Ya?” Vania menjulurkan kepalanya ke pintu.
“Apa kakak juga akan meninggalkanku?” Alisnya berkerut, membentuk ekspresi khawatir.
“Tentu saja tidak akan pernah.” Vania menahan air matanya, yang membuat lubang hidungnya melebar.
“Janji?” ucap Bram.
“Kakak janji. Sekarang berpakaianlah.” Dia berjalan keluar, dan tersenyum. Dalam tiga menit kemudian, dia turun. Bram duduk di sofa menonton pertandingan sepak bola.
“Bram, ayo kita pergi.” Kata Vania. Bram mematikan TV dan mereka berdua berjalan keluar dari rumah.
Saat Vania mengunci pintu, tiba-tiba Bram bertanya, “Kak, apa menurutmu ayah merindukan kita?” Bram memandangnya seperti yang dia lakukan saat kehilangn mainan kesayangannya saat berusia tiga tahun.
“tentu saja. Kita kan anak-anaknya.” Kata Vania
“Tapi, kenapa ayah tidak pulang?” Tanya Bram.
“Hmmm. Kamu sangat merindukannya yah.” Vania menjawab dan menghela nafas.
“Ya.” Bram menunduk, malu. Vania menarik dagunya dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
“Jangan khawatir. Ayah akan kembali.” Vania kemudian menelpon kediaman Anastasya memberitahu kehadiran mereka.