
Sebulan telah berlalu, sekarang adalah akhir Mei dan sudah mulai musim panas. Kemarin mencapai 89 derajat dan besok akan mencapai 98 derajat. Alan masih saja suka menghilang secara mendadak, Adrian sudah mencoba untuk membawaku keluar ke padang rumt lagi, tapi aku menolaknya. Sejak bulan lalu aku merasa ketakutan karenanya, aku sangat sulit untuk terus berada di dekatnya lagi.
Kamis pagi, Adrian mengetuk pintu kamarku dan bertanya dengan pertanyaannya yang sudah menjadi rutinitas di setiap Kamis pagi.
“Alice, apa kau mau ikut bersamaku lagi?” setiap pagi dia mengajukan pertanyaan itu dan setiap pagi juga aku menjawabnya.
“Tidak!” lalu dia pergi dan tidak kembali, sampai sore hari. Dengan aku tinggal di rumah, aku bisa memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal-hal dan sesuatu yang menggangguku dimana Alan sering kali menghilang setiap pagi. Adrian selalu bilang kalau Alan sedang mengunjungi seorang teman atau sedang melihat apartemen, tapi aku tidak percaya dia tidak memiliki banyak teman untuk di temui dan jika dia melihat apartemen sekarang, aku pikir dia seharusnya sudah menunjukkan padaku beberapa apartemen yang ia sukai dan mengecek biaya apartemen itu.
Aku seolah diberikan petunjuk, pintu terbuka dan Alan berjalan memanggil namaku.
Sudah jam satu siang rupanya, aku menghela nafas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk mengintrogasinya.
“Hei, Alice, aku tahu kau tidak pergi lagi dengan Adrian hari ini.” Kata Alan sambil mengambil kue dari nampan, aku tidak mengatakan apapun, hanya menatapnya, dia berhenti mengunyah kue dan menatpku dengan bingung.
“Apa semuanya baik-baik saja? Wajahmu terlihat sedikit pucat.” Ktanya, menuju ke arahku dan menyentuh dahiku.
“Kemana saja kau?” aku bertanya padanya, dia menatapku dan berharap dia menemukan jawaban yang tepat.
“Apa Adrian tidak memberitahumu?” katanya, aku melototinya.
“Tidak, dia hanya memberitahuku kalau setiap hari senin, selasa, kamis dan sabtu kau keluar. Dan alasannya selalu sama. Dia keluar bersama teman, melihat apartemen, sarapan atau berjalna-jalan. Kau tidak bisa terus-menerus mencoba untuk menipuku, aku tahu dia berbohong karena kau yang menyuruhnya! Sekarang, katakana, kemana kau biasanya pergi.” Alan meltotiku, kami berdua saling menatap dengan tajam. Sangat keras kepala dan menjengkelkan.
“Aku tidak perlu memberitahumu apa-apa.” Dia meludah lalu berjalan pergi, dalam kemarahanku, aku mengepalkan tanganku dan bersiap-siap untuk meneriakinya, dan aku memperhatikannya dia berjlaan pincang. Setiap kali dia melangkah, kakinya akan goyah.
“Apa yang terjadi dengan kakimu?” aku khawatir, tapi masih marah sehingga pertanyaannya terdengar lebih jengkel daripada kekhawatiran. Dia mengabaikanku dan hanya berjalan terus menuju kamarnya, aku mengejarnya.
__ADS_1
“Alan, apa yang terjadi?!” kataku, tergesa-gesa masuk ke kamarnya dan meihatnya berbaring di tempat tidurnya. Lengannya menutupi matanya, lagi-lagi dia mengabaikanku, dalam kemarhanku yang buta, kau menginjakkan kaki ku ke atas kasur dan mengambil bantal dan memuluknya dengan itu.
“Apa-apan kau, Alice! Kenapa kau tidak bisa meninggalkanku sendirian saja!” dia menjerit tepat di depan wajahku. Aku mengabaikan pertanyaannya dan berteriak padanya.
“Kenapa kau tidak bisa memberitahuku apa yang terjadi dengan kakimu!” balasku, dia berdiri setinggi-tingginya, berusaha untuk mengintimidasi kau dengan tubuhnya yang menjulang tinggi, tapi aku tidak menggapainya, tinggiku hanya 155 dan hanya menjulurkan daguku.
“Itu bukan urusanmu.” Dia menggerutu kemudian menjatuhkan diri ke tempat tidurnya. Darahku mendidih karena marah, aku berjalan keluar dan membanting pintu, aku melihat Adrian di dapur tampak kaget. Aku berjalan melewatinya membanting pintu. Selama sisa hariku, aku mengunci diriku di kamar. Adrian mencoba berkali-kali untuk membuatku keluar kamar tapi tiak berhasil.
Pagi berikutnya,
Keeheningan dan canggung terasa saat akmi mulai sarapan, aku dengan marah menusuk pancake ku dan Alan membanting air minumnya di atas meja, Adrian yang tengah dudukdi antara kami, dia menyaksikan kami bertingkah seperti anak kecil. Arian kemudian berdehem.
“Hari ini cuacanya benar-benar sangat panas,” tidak ada yang menggubrisnya.
“Ku pikir kita bisa kepantai.” Dia menyarankan. Aku benci panti, cowok-cowok memamerkan ototnya dan para wanita memakai baju bikini.
“Apa kedengarannya bagus, Alice?” Adrian bertanya, meletakkan tangannya di atas kepalan tanganku pada garpu, perlahan dia mulai melonggarkan jari-jariku.
“Kau juga bisa mengajak pegawaimu itu, Kenny.” Aku mengangguk, itu ide yang bagus. Aku meletakkan garpu dan piringku di westafel dan Adrian membeawa piringnya dan Alan, kami tidak mengatkan apa-apa saat kami mencuci piring, sunyi dan aku tidak keberatan. Setelah itu, aku menelpon Kenny, aku hampir memohon padanya untuk ikut bersama kami, dia setuju dan akan ke rumah sebelum kami pergi.
Perjalanan menuju pantai tidak sejauh yang aku kira, Kenny dan aku duduk di depan, sementara mereka berdua duduk di belakang. Kenny, mulai memecahkan suasana sunyi dan canggung yang terjadi. Perjalanan menuju pantai memakan waktu satu jam dan saat kami tiba di sana, tampak ramai, sebagian turis dari Negara lain datang ke sini untuk menenangkan diri. Begitu aku mematikan AC mobil dan melangkah keluar dari mobil, aku merasa tubuhku seperti mencair, kelembaban dan sinar matahari menghajar kami, menyebabkan kami berkeringat.
“Kita harus mencari tempat duduk, untuk berteduh.” Kata Kenny mengipasi dirinya dengan menggunakan tangannya. Alan dan Adrian mengambil kursi dan minuman dingin kami. Kenny dan aku mengmbil handuk dan keranjang makanan.
Butuh beberpa saat untuk menemukan tempat yang tepat yang jauh dari keramaian dan memiliki keteduhan yang baik. Kami memutuskan untuk berteduh di sebuah tempt yang memiliki pohon menggantung. Kami mengatur makanan, membentangkan terpal, Alan segera melepas bajunya yang menarik seluruh perhatian wanita di sini. Kenny salah satu dari banyak wanita yang mengagumi otot-ototnya, Alan menyeringai, dia tahu para wanita akan terpana melihatnya, jadi dia dengan sengaja melenturkan otot-ototya dan menunduk mengambil sesuatu.
__ADS_1
“Hei Adrian, mau bermain?” alan melemparkan bola ke arahnya, Adrian mengangguk dan melompat kemudian melepas bajunya. Aku tidak ingin di bilang munafik saat ini, aku memandang ke arah Adrian dan melihat otot-ototnya yang sangat kencang, beberapa wanita yang ada di sebelah kami tertawa cekikikan untuk mendapatkan perhatian mereka. Aku menoleh dan melihat wanita itu tampak seksi, aku melototi mereka begitupun juga Kenny memberinya tatapan tajam, dan pada akhirnya memalingkan pandangan mereka ke arah lain saat aku melihat Alan dan Adrian kembali.
Aku melihat Adrian sedang menyeringai padaku. Pikiranku menyadari kalau dia melihat aku sedang menatap wanita yang di sebelah kami, wajahku seketika memerah, aku kemudian menutupi pipiku dengan tanganku dan dia menertawakanku. Kami menyaksikan orang-orang saling bermain bola, dan itu terlihat sangat membosankan.
“Apa kau mau berjemur di bawah matahari bersamaku?” Kenny mengajakku, aku kemudian setuju, kami mengambil handuk dan meletakkannya di bawah sinar matahari, Kenny membuka celana pendek dan tank topnya dan memperlihatkan kulitnya yang lembut, dia memiliki kaki yang panjang dan perut rata dengan sosok melengkung, dia memakain bikini berwarna pink sehingga memamerkan bentuk lekuk tubuhnya. Disisi lain aku hanya mengenakan setengah bikini, aku tidak suka memakai yang seperti Kenny kenakan, aku sangat tidak nyaman, aku tidak gemuk tidak kurus juga, hanya saja aku memiliki bekas luka karena masa laluku. Itu alasan utamanya aku tidak ingin berpenampilan sexy. Aku melihat bekas luka yang besar di bagian atas buah dada sebelah kiriku, melengkung ke lembah di antara buah dadaku yang lain. Aku juga memiliki sedikit bekas luka di area tuuhku yang lainnya. Jelek sekali, semua itu membuatku terlihat jelek, bekas luka itu membuatku mengingat hal kengerian yang pernah aku alami. Tapi tidak masalah, itu sudah berlalu. Aku menganggapnya itu sebagai pelajaran untukku.
Setiap lima belas menit kami membalikkan tubuh kami, setelah itu kami makan dan berbincang sedikit. Kami mencari mereka berdua sejak kami mulai berjemur, kami melihat-lihat keaarah jala bola voli dan sebuah pondok, tapi mereka berdua tak terlihat.
Dan pada akhirnya, saat kami ingin kembali ke tempat kami, aku melihat mereka berdua sedang mencoba menggoda para wanita, ada yang berbicaraa dengan Alan, seorang wanita cantik dengan rambut hitam dan memiliki kulit cokelat keemasan yang indah dan sangat kurus, aku memandang ke arah Kenny dan dia tampak seperti cemburu, mataku kemudian mengarah ke arah Adrian, dia sedang berbicara dengan seorang wanita dengan rambut pirang panjang diikat ke samping, dia tinggi dan kurus. Dari sini aku bisa melihat dia memiliki barisan gigi yang rapid an putih bersih dan bikini nya yang menampakkan buah dadanya yang mencuat keluar.
Aku melihat diriku sendiri, pendek, dan tidak memiliki buah dada yang besar. Aku merasa tertekan dan sedih, aku berbalik dan mencoba berjalan kembali ke tempat Kenny tapi dia tiba-tiba menarikku dan pergi ke arah laki-laki. Dia menggerutu pada dirinya sendiri, betapa egoisnya mereka, dia berjalan ke arah Alan dan menepuk pundaknya. Alan berbalik dan hendak mengatakan sesuatu saat dia berdiri dan mulai menciumnya, merangkul lehernya danmembuat ciuman itu lebih dalam, Alan dengan pasti tidak mengharapkan itu dan tertegun sejenak sebelum dia mencium punggungnya, aku tidak mengharapkan itu. Gadis yang di ajaknya bicara sudah pergi dan teman-temannya memberinya tatapan tajam, Adrian menoleh padaku seolah-olah mengatakan padaku , giliranku untuk menciumnya, aku tersipu tapi bukannya menciumnya, aku malah menarik telinganya menjauh dari wanita itu.
“Yaah, tidak menyenangkan.” Dia tertawa saat kami berjalan kembali ke terpal. Aku sama sekali tidak merasa geli, dia berhenti berjalan dan berdiri di depanku, mencengkram pundakku.
“Ada apa,Alice? Kami hanya sedang bicara.” Katanya.
“Tidak, kau sedang menggoda wanita itu.” Kataku.
“Lagipula aku tidk akan melakukan apa-apa, itu ide Kenny, aku hanya mendukungnya.” Gerutuku. Aku memandang mereka dan mereka sekarang hanya saling memandang, aku menghela nfas dan menatapnya.
“Ya, kau pasti sedikitpeduli, kan?” dia bertanya, dia terdengar penuh harapan. Aku tahu dia ingin aku mengatakan bahwa aku peduli kalau aku menyukainya, htiku ingin, tapi otakku menolak untuk membiarkn hatiku bertindak.
“Tidak, aku tidak-“ aku berbisik, memandang dan melewatinya.
__ADS_1
“Ya, sekarang aku tahu, kau berbohong.” Katanya dengan lembut, mengangkat tangannya dan meletakkannya di pipiku. Aku berharap pikiranku membuatku bahagia sekali lagi.