Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Epilog


__ADS_3

Evan menjadi seorang penulis yang terkenal di Los Angeles dan di sinilah dia, di sebuah acara Writer Award dengan penghargaannya di tangan.


Sebuah tropi emas tentu membuatnya menjadi pusat perhatian malam ini, bersama dengan istrinya, Cathy yang sedang mengenakan gaun emas.


Dan Leo, dia menjadi juara sepak bola dan meluangkan waktu untuk mendukung sahabatnya dan sedikit mempermalukannya dengan terus saja bersiul dan bersorak dengan sangat keras.


Hidup tidak membawa Evan ke mimpi, hanya saja Evan harua kehilangan segalanya dalam satu waktu dan mempelajari pelajaran hidup yang dia alami.


Cathy hamil dua bulan dan Evan sangat bahagia.


Kuliah adalah masa yang sulit, Evan mengalami banyak kesulitan tapi dia bisa mengimbangi semuanya. Dia tidak punya banyak teman, tapi dia punya Leo dan itu sudah lebih dari cukup, mereka berdua teman sekamar dan mereka selalu saling melengkapi.


Ibunya mendapatkan perawatan, dia masih belum bisa berbicara banyak dengannya, dia mengalami kesulitan dalam mengikuti kelas dan membersihkan setelah Leo dan mengajari dia, tidak perlu menyebutkan jumlah wanita yang dia bawa.


Bagaimana pun dia berterima kasih pada Leo, karena dia selalu ada untuknya.


Cathy juga memiliki teman sekamar yang sangat baik bernama Lina yang sekarang menjadi tunangannya Leo karena dia sangat menyukai wanita itu, tinggi, manis dan cantik.


Lina keluar dari keluarga kaya yang berinvestasi dalam dunia fashion sehingga secara alami, Lina menjadi perancang busana yang sangat sukses dan pakaiannya adalah salah satu yang paling dikenal dan mahal.


Gaun yang di kenakan Cathy untuk acara penghargaan itu di rancang khusus untuknya oleh sahabatnya dan dia tahu cara membual tentang hal itu.


Kembali ke Evan, ia membuat buku bergenre, Non-Fiksi bercampur dengan sedikit fiksi, buku pertamanya di tolak oleh banyak perusahaan dan melalui banyak pengeditan hingga akhirnya, ia menerima penghargaan untuk kategori penulis terbaik.


Evan tahu apa yang dia tulis, dia menulis tentang apa yang dia tahu.


Skizofrenia, kematian, pilihan hidup, dan unsur kebahagiaan, Karma, Harapan, dan Iman.


Judul bukunya, Karma, Harapan Dan Iman: Unsur Sebuah Kebahagiaan.


Dan sekarang dia sedang mengerjakan sekuel, Karma, Harapan Dan Iman: Lingkaran Kehidupan.


Dia merahasiakannya, yah, dia akan mengumumkannya malam ini, karena dia baru saja mengeditnya.


"Evan! Kau luar biasa, kau sudah membahagiakan semua orang!" Leo bersorak sangat keras.


"Tidak juga, aku baru saja menerima penghargaan ku," Evan mengangkat bahu.


"Kau benar-benar penyuka pesta," Leo dengan ramah mendorongnya dan Evan mendorongnya kembali, tidak peduli dengan acara publik yang sedang mereka ikuti.


"Diam, kalian berdua, aku bahkan tidak bisa mendengarkan Cathy!" Linaa memberi tahu mereka.


"Maaf, Lin," kata Leo, melihat tunangannya marah.


"Bagaimana dengan bayimu yang nakal ini?" Lina memelototinya sejenak, lalu mengabaikannya dan mengarahkan perhatiannya pada sahabatnya yang hamil. Pertanyaan ini cukup untuk membuat Evan mengarahkan perhatiannya pada istrinya dengan menggosok perutnya dengan bangga untuk menggodanya.


"Bagus, jika dia berhenti melakukan al-hal aneh, aku akan sangat berterima kasih," katanya, menggosok perutnya.


Kami sudah merencanakan, kalau itu laki-laki, kemungkinan besar kami akan menemainya Samuel dan kalau itu perempuan, kami tidak akan bisa menamainya karena semua nama perempuan itu sangat indah.


Keempat teman dan kekasih itu mengobrol tentang hal-hal paling bodoh yang pernah mereka alami selama berada di tempat kerja mereka.


Cathy, sekarang menjadi seorang dokter, dia memiliki kisah-kisah paling aneh untuk di ceritakan, dia juga bisa berguna saat Evan ingin menulis secara akurat tentang kondisi atau penyakit tertentu. Mereka berdua sangat berbudaya dan berpendidikan sehingga mereka cocok satu sama lain. Pasangan yang sempurna.


Cathy suka tentang waktu kritis, pengambilan keputusan cepat dan Reality, sementara Evan lebih tertarik pada kekuatan kata-kata dan keindahan fiksi, bahkan jika ia menulis Non-Fiksi, fiksi menemukan cara untuk menembus tulisannya, ia lebih sabar, dia tidak pernah terburu-buru untuk menulis sesuatu, dia lebih santai daripada istrinya dan dia memastikan dia cukup iri padanya tentang hal itu. Evan suka tentang waktu yang tepat, kata-kata dan membangun dunia fiksi yang tampak begitu nyata.


Hening sejenak, di antara pasangan yang sudah menikah saat Leo dan Lina pergi ke toilet dan minum.


Mereka saling memandang dengan mata mereka dan mereka tersesat di sana untuk sementara waktu, hanya karena Evan penuh kasih dan manis di acara publik dan memberi istrinya tatapan hangat dan penuh kasih yang dia cintai.


Ibunya selalu mengatakan padanya untuk tidak mengejar pria yang membuatnya merasa jadi api saat pria itu menyentuhnya, tapi kejarlah pria yang selalu membuatmu merasa aman saat kakian berpegangan tangan dan membuatnya merasa hangat dan di cintai. Awalnya sangat sulit dia lakukan tapi pada akhirnya dia jadi terbiasa.


Wajahnya jadi memerah saat Evan memutuskan untuk menjadi dirinya yang kurang ajar. "Katakan padaku, apa aku pernah memberitahumu betapa cantiknya penampilan gaun itu malam ini?"


"Tidak, kurasa tidak,"


"Astaga, aku suami yang sangat buruk,"


"Kalau buruk yah cukup perbaiki biar menjadi bagus,,"


"Kau terlihat sangat cantik malam ini,"


"Terima kasih,"


"Kau seperti bidadari yang jatuh dari langit."

__ADS_1


"Ya Tuhan, Evan. Sudah cukup menyanjungku malam ini. Berhentilah menggodaku, aku tidak membutuhkannya lagi, kita sudah menikah,"


"Bagaimana kabar bayi kecilku?"


"Dia baik-baik saja. Hai sayangku, ayah bilang hai padamu,"


"Hai!" Evan berkata dengan riang mengusap perut Cathy untuk bayinya yang belum lahir.


"Dia bilang hai ayah, kau terlihat gagah mengenakan jasmu," kata Cathy, membuat Evan tertawa kecil.


Mereka memutuskan untuk melahirkan di rumah, Cathy sekarang berada di tempat tidur mereka, berkeringat, sangat lelah karena mengedan.


"Ayo, aku bisa melihat kepalanya, kau baik-baik saja, sayang. Satu dorongan besar terakhir," kata bidan itu pada Cathy.


"Tidak apa-apa, Sayang, hanya satu dorongan terakhir, aku di sini, di sini, pegang tanganku jika itu membuatku lebih baik," Evan dengan cepat menawarkan bantuan yang dia bisa, meskipun tidak banyak.


Dia meraihnya tanpa sadar, dan menjerit saat dia mengedan dengan seluruh energinya yang tersisa, dia nyaris pingsan dan tertatih-tatih di tempat tidurnya, tapi teriakan indah Samuel memenuhi ruangan.


"Kerja bagus, sayang, dia keluar dengan selamat dan sehat," kata bidan itu, membungkusnya dengan handuk putih.


"Terima kasih Tuhan," gumam Cathy pelan.


Segera bayi yang baru lahir itu digendong di lengan neneknya.


"Jangan khawatir tentang apa pun sayang, kau hanya butuh beristirahat, aku akan memandikannya. Evan, tetap bersamanya dan pastikan dia nyaman dan santai dan tidak butuh apa-apa. Buat dia istirahat dan santai."


"Bu, aku tidak akan menghentikanmu menculiknya, tidak perlu menggangguku," Evan terkekeh dan meremas tangan Cathy.


"Tidak apa-apa, kalau kau ingin tidur, tidurlah, kau sudah melakukan pekerjaan dengan baik," katanya dengan berbisik.


"Terima kasih," dia memutar matanya, saat dia mulai tertidur.


"Yah," dia mencium punggung tangannya.


"Bukan apa-apa," dia mengambil handuk bersih dan mulai menyeka keringat Cathy saat dia perlahan-lahan tertidur.


.


.


Mereka berharap dia menjadi lebih tenang dan intelektual seperti mereka, tapi tanpa keberuntungan seperti itu, sepak bola adalah kesenangan bersalahnya, yang menjadikan Leo sebagai orang favoritnya di dunia.


Mereka berdiri di depan rumah baru mereka, dan mereka mencium udara yang segar dan menikmati udara segar dan ketenangan yang di berikan rumah baru mereka.


"Yay! Itu rumah baru kita ?!" Samuel bertanya, penuh semangat.


"Ya, anakku. Bagaimana menurutmu? Keren?"


"Keren? Ini wah! Ini luar biasa!" Samuel berlari dengan bersemangat di sekitar rumah.


"Hanya saja. Jangan melompat ke air!" Teriak Evan, memperingatkannya ketika dia pergi, pergi ke belakang rumah.


Dia tersenyum rencananya berjalan dengan sangat baik sejauh ini.


Dia baru-baru ini menerbitkan buku baru, dia mencoba membuat buku berbau tembakannya romansa dan hasilnya itu sukses.


Dia menjual begitu banyak salinannya yang akan dia distribusi ke seluruh dunia.


Jadi dengan uang yang di dapatnya, dia mengubah hidup keluarganya dan dia membangun sebuah taman bermain untuk Samuel.


"Ya Tuhan! Ya Tuhan! Ya Tuhan! Kita memiliki taman bermain! Rumah ini luar biasa!" Balita berusia lima tahun itu berteriak, menyebabkan orang tuanya tertawa dan berlari ke latar belakang dan menyaksikan momen itu sendirian.


.


.


"Kau selalu terkurung di kantormu!" Teriak Cathy.


"Yah, karena aku sedang bekerja!" Evan membela dirinya.


"Yah, kau hampir tidak berinteraksi setiap hari dengan kami!" Cathy berteriak lagi.


"Itu bisa jadi karena aku sedang bekerja untuk kalia . Aku tidak bisa mendapatkan penghasilan yang stabil, aku mendapatkan uang dengan jumlah yang bervariasi, yang tergantung pada buku, jadi aku memastikan hal itu tetap stabil jadi, aku benar-benar bisa mendapatkan penghasilan yang besar yang bisa mendukung kebutuhan finansial kita." Teriak Evan.


Dia tahu dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menyeimbangkan pekerjaannya dan keluarganya, pada kenyataannya, Cathy yang pergi bekerja dan Evan yang melakukan banyak hal, termasuk membantu Samuel, melakukan pekerjaan rumah dan menemani anaknya belajar. Memang, dia bukan ahli di bidang membersihkan debu, menyapu, mengepel atau memasak dan salah satu dari empat hal mustahil di dunia yang dia lakukan adalah membersihkan kamar mandi.

__ADS_1


Dia juga sangat takut bangkrut suatu hari nanti, karena hari-hari itu masih menghantuinya sampai sekarang, dia tidak ingin keluarganya menjadi miskin.


.


.


Evan menjulurkan kepalanya untuk melihat ada apa, dia memutar matanya dan pergi.


"Ayo pergi, Rosa," desak remaja itu kepada adik perempuannya yang berumur empat tahun.


"Mari kita lihat apa yang dilakukan paman Alan dan Bibi Kenny, ya?" Dia tahu bagaimana membuat adiknya mengikutinya dan itu dengan menyebutkan anak-anak pamannya.


.


.


Di pemakaman Paman Jericho


Leo merasa hancur.


Beruntung saja, Evan ada di sana untuk membantunya mengatasi kesedihannya.


"Tidak apa-apa, sobat. Aku sudah merasakan hal yang kau rasakan, jangan bersedih."


"Terima kasih," kata Leo gemetar.


"Tidak apa-apa, sobat, aku tinggal dengan ayahmu lebih dari aku tinggal dengan ayahku, aku berutang banyak padanya,"


Karena dia tahu kalau tidak ada penyembuhan, yang ada hanya penerimaan dan adaptasi terhadap situasi, tetapi tidak ada jalan keluar.


Dia tidak akan baik-baik saja, dia hanya akan mengubah sudut pandangnya dan mungkin butuh selamanya jika dia tidak menerimanya lebih awal.


Dia juga mungkin berakhir seperti saudara perempuannya, Anita, dan itu sudah cukup untuk membuat Evan tinggal bersamanya sampai dia menjadi lebih baik.


"Setidaknya dia mati di ranjang kematiannya, dengan damai, tidak dengan tiga peluru di dadanya, kau terlalu naif,"


"Ya," Leo terkekeh dan air matanya keluar.


Seluruh timnya ada di sini, mendukungnya, tapi hanya Evan yang tahu cara mendukungnya dengan baik.


.


.


"Hai, ayah, Hai Anita, Hai Bu, aku merindukanmu, kawan," Evan meninggalkan seikat bunga di setiap nisan.


Hidup akan merenggut jiwa orang, tapi dia memastikan dirinya menggantikan mereka dengan yang lain, meskipun tidak secara langsung.


Terkadang penggantian datang bahkan sebelum orang tersebut meninggal, kadang-kadang setelah kematian mereka.


"Aku sangat merindukanmu," itu selalu menjadi titik lemahnya, berbicara dengan keluarganya yang sudah meninggal.


Dia tidak pernah tahu harus berkata apa, dia hanya terus mengulangi kata aku merindukanmu, aku mencintaimu.


Dia gemetar, tapi dia tidak menangis.


"Aku rindu kalian,"


"Aku mencintaimu, kawan,"


"Sampai jumpa, kawan." Dan dia berdiri lagi dan pergi.


.


.


Cathy mengenakan dress panjang hitam, di sertai dengan topi matahari dan kacamata hitam besar, satu-satunya hal putih di antara mereka adalah tisu dan giginya.


Samuel dan Rose, menundukkan kepala, menangis dalam diam bersama ibu mereka saat peti mati di bawa oleh enam pria untuk akhirnya beristirahat di sebelah keluarga lamanya.


Leo menunduk rendah, bersama keluarganya, menunjukkan cinta dan rasa hormat untuk orang yang sudah tiada


Dan hidup terus berjalan.


Tamat.

__ADS_1


__ADS_2