Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 80


__ADS_3

Aku mendengar alarm ponsel ku berbunyi. Aku kemudian bangun dan mengerang dengan kesal karena tidak ingin bangun. Saat aku mencoba menggeser tangan ku untuk mengambil ponsel ku, suntikan pereda rasa sakit sangat menyengat di seluruh tubuh ku, aku mendesis kesakitan saat aku merasakan ada luka terbuka.


Saat itulah aku membuka mataku dan melihat saku sedang berada di ruang perawatan rumah sakit, aku mengenakan pakaian rumah sakit yang biasanya berwarna biru. Saat itulah aku ingat, Stefan membawa ku dan menyekap diriku di tempat yang aku sebut dengan neraka dan saat itu lah Adrian menyelamatkan diriku. Aku tidak ingat banyak setelah aku di masukkan ke dalam ambulans.


Sudah berapa lama yah akutertidur?


Sudah berapa lama aku berada di sini?


Apakah Alan masih hidup?


Apakah Adrian aman-aman saja?


Dimana Stefa ?


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus saja menumpuk dan aku mulai khawatir, tepat saat aku mulai mengalami serangan panik pintu terbuka dan melihat pegawaiku. Kenny.


"Kenny!" Aku berkata, suara ku gatal dan menyakitkan untuk berbicara. Dia mendongak dan wajahnya yang bingung berubah menjadi senyum cerah, dia berlari ke arahku dan memeluk leherku dengan hati-hati.


"Ya Tuhan. Kupikir kita akan kehilangan dirimu. Aku sangat senang kau sudah bangun." Dia terisak di pundakku, aku memeluknya.


"Yah, aku masih hidup. Butuh lebih dari itu untuk menyingkirkanku." Kataku bercanda.


"Ini bukan masalah tertawa. Apa kau sudah gila !? Kau sudah tertidur selama tiga hari, mereka harus melakukan dua operasi padamu untuk mengeluarkan peluru!" Dia menangis padaku.


"Sebuah peluru?" Aku bertanya.

__ADS_1


"Ya, sebutir peluru, Stefan waktu itu menembakmu, tapi saat itu juga Adrian menembaknya tepat di pundakna, peluru itu meleset bukannya menuju kepalamu justru peluru itu masuk ke tulang pinggulmu." Dia menjelaskan. Saat itulah aku menyadari rasa sakit yang tumpul yang kurasakan di tulang pinggul kiriku. Aku meraih ke bawah dan meletakkan tangan di pinggangku.


"Bagaimana kabar Alan? Apakah dia masih hidup?" Aku bertanya padanya, senyumnya sedikit goyah dan kembali tersenyum cerah.


"Dia maaih hidup. Tapi dia tidak akan bisa berjalan tanpa tongkat lagi." Dia berkata dengan menyesal. Tapi pada saat ini aku tidak peduli tentang itu, yang terpenting dia masih hidup.


"Dan Adrian?" Aku bertanya dengan cemas. Tepat saat dia hendak berbicara, pintu terbuka dan Adrian datang dengan wajah cemas, sangat lelah dan grogi, rambutnya acak-acakan dan dia tampak seperti tidak tidur nyenyak selama jni, janggutnya yang biasanya terawat rapi tumbuh dan semakin panjang dan berduri.


"Dia tidak pernah meninggalkan dirimu sejak kau dibawa ke sini." Dia berbicara dengan lembut. Adrian mendongak dengan sedih dan melihat ekspresi Kenny yang penuh sukacita, matanya menyala dan dia perlahan-lahan menoleh dan melihat ke tempat di mana aku duduk, dia tampak hampir ragu tapi ketika dia melihatku bangun dan tersenyum padanya wajahnya berseri-seri dengan bahagia.


Dia mengambil langkah panjang menuju ke tempat tidur dan memelukku ke dalam pelukan lembutnya yang sangat bermakna. Dia mengulurkan tangan dan memutar-mutar ujung rambutku di jarinya dan menyentuh kepalanya ke leherku.


"Aku tidak percaya kau akhirnya bangun." Dia bergumam di leherku, aku merasakan sedikit tetesan air di kulit yang terkena pundakku.


"Aku juga merindukanmu. Terima kasih karena ausah menyelamatkanku. Kau adalah pahlawanku." Aku berkata dengan perasaan emosional yang menyentuh hati.


Adrian kemudian bergeser sehingga dia bisa menatap langsung ke arah mataku, tangannya meraih dan menangkup wajahku sementara ibu jarinya dengan ringan menggosok tulang pipiku. Dia mencondongkan tubuh lebih dekat kemudian bibirnya mencium bibirku, sebelum aku bahkan bisa menanggapi ciumannya atau bahkan menutup mataku, bibirnya terlepas dari bibirku.


"Aku sangat menyesal, seharusnya aku tidak melakukan itu. Kau mungkin menginginkan waktu dan ruang dan aku harus-" Aku cepat-cepat meletakkan jari ke bibirnya untuk membungkamnya.


"Maukah kau diam dan menciumku." Aku tersenyum, dia terkekeh mendengar pernyataan dariku, lalu kami berdua saling bersandar saling bertatapan untuk berbagi ciuman yang penuh hasrat. Meskipun tidak ada di antara kami yang akan mengatakannya, kita dengan penuh kasih menempatkan sebanyak mungkin cinta ke dalam satu ciuman sederhana, saat kami menarik diri kembali kita berdua tersenyum dan menunjukkan emosi dan perasaan yang sama. Kami berdua saling mencintai. Momen romantis teralihkan saat pintu kamar terbuka dan Kenny mendorong masuk Alan , kami berdua hanya menatap hampir tidak percaya orang lain yang kita harapkan itu tepat berada di depan kami, tapi itu segera memudar saat aku berlari dari tempat tidur menuju ke arahnya, Aku menarik semua kabel dan selang yang menempel pada diriku, aku berlari ke arahnya dan menariknya mendekat diriku san dia melakukan hal yang sama. Tidak ada kata-kata yang bisa kita berdua ucapkan kami hanya duduk di sana, berpegangan tangan satu sama lain, tapi semua itu berakhir saat seorang dokter datang dengan rasa takut kalau Alan dan aku sudah turun dari tempat tidur, ia memerintahkanku untuk kembali ke tempat tidur agar Alan kembali ke tempatnya, bersamanya, kami tertawa gembira saat keluar dari pintu. Aku tahu kalau semuanya akan baik-baik saja, dengan adanya Adrian di sini memegang tanganku, dan melihat Alan sehat-sehat saja. Aku tahu tidak ada yang bisa menghancurkan diriku lagi.


Beberapa waktu berlalu..


Di bandara..

__ADS_1


Kami berdiri di luar gerbang bandara sedang menunggu untuk memberikan ucapan selamat tinggal terakhir kami. Setelah tahun-tahun yang panjang dan hari-hari yang kejam dan melelahkan, kami semua akhirnya tiba di sini.


Aku lebih dekat ke depan menunggunya di periksa melalui pintu keamanan dan Alan dengan tongkatnya menunggu di belakangku. Segera aku melihat dia tersenyum sedih kepada diriku, begitu dia mencapai diriku, dia meraihku dan menarikku ke dalam dadanya. Begitu dia melepaskan diriku, aku membantunya menyesuaikan seragamnya agar terlihat lurus.


"Kau akan aman di sana, Letnan Alan Fransamuel. Aku ingin kau pulang dengan selamat." kataku padanya, Adrian juga di panggil kembali untuk menjadi seorang Letnan di Pangkalan Marinir, aku tidak tahu kapan aku bisa melihatnya lagi.


"Jangan khawatirkan aku, Ny. Adrian, aku bisa meyakinkanmu aku akan aman dan baik-baik saja, saat aku pulang nanti." Dia terkekeh mencium keningku. Dia kemudian berlutut sedikit dengan kedua tangan di atas lututnya.


"Dan kau anak kecil, rawat ibumu untukku." Dia tersenyum sambil mencium kepala Evans. Evan adalah anak kami yang masih berumur lima bulan, ia memiliki mata yang indah seperti Adrian yang berkilau dan rambut berombak seperti aku. Alan lalu berjalan memberi pelukan pada Adrian.


"Kau lebih baik menghajar para pecundang itu, karena sekarang aku tidak bisa lagi berada di sana untuk membantumu." Alan berkata dengan air mata kecil di matanya.


"Oh, jangan khawatir, aku akan melakukannya." Adrian menyeringai. Tunangan Alan datang dan mencium pipi Adria .


"Kau, sering-seringlah mengirim banyak surat untuk kita semua." Dia berkata menusuk dadanya. Adria tertawa.


"Jangan khawatir, Kennt, aku akan memastikannya." Dia tersenyum dan mencium pipinya lagi, dia berbalik ke arahku dan tesenyum matanya sedikit turun dan melihat bibirku yang sedikit bergetar dan sedikit air mata yang keluar. Dia berjalan mendekat dan memberi ku ciuman yang cukup lama.


"Aku akan kembali." Dia meyakinkan diriku.


"Baik-baiklah di sana." Aku memberitahunya dengan suara gemetar.


"Sama halnya denganmu. Aku mencintaimu, Alice." Dia memberi tahuku persis saat suara informasi mereka yang mengumumkan kalau sebentar lagi pesawat akan berangkat.


"Aku mencintaimu juga." Aku berkata memberinya satu ciuman lagi, dia menatap Evan sambil tersenyum, lalu pada Alan dan Kenny. Dia berjalan menuju pintu ganda yang akan membawanya ke pesawatnya, dengan satu pandangan kerinduan terakhir dan gelombang tangannya, Adrian hilang dari pandangan kita. Meskipun aku menangis, aku tidak bisa lebih bahagia untuknya, untuk kita semua. Kita semua bahagia. Stefan tidak akan lagi menjadi masalah, aku sekarang menjadi seorang ibu, Alan dan Kenny akan segera memiliki kebahagiaan sama seperti bagaimana aku mendapatkan kebahagiaanku. Adrian masuk ke dalam hidup ku hanya sebagai tentara dan akan selalu menjadi prajuritku.

__ADS_1


__ADS_2