
Beberapa saat kemudian mereka kembali ke Perpustakaan.
"Sekarang, mari kita lihat siapa makhluk yang bersembunyi di perpustakaanku," Alex menyeringai. "Ahaaa Tayoo, apa kau menakuti tamuku?"
Miawwww!
"Ayo, kemarilah!" kata Alex sambil memandang rak buku.
Setelah beberapa saat, bayangan gelap melompat dari rak mendarat di depan Anastasta yang hampir pingsan karena kaget.
"Itu hanya kucing." bisiknya sambil menelan ludah.
"Iya," Jawab Alex, dia mengangkat kucing itu dan mulai membelai kepalanya, "Ini tayo, dia membuatmu takut, kan?
"Yah ya ya, dia!" Anastasya terhenti ketika dia menyadari bahwa sebenarnya Alex sedang berbicara dengan kucing itu.
"Aku tahu, aku tahu." Alex melanjutkan sambil membelai telinga kucing itu, "terkadang dia bisa sangat menakutkan, maksudku siapa yang akan mengenalinya lebih baik dariku."
"Alex," kata Anastasya. Wajahnya memerah. "Apa yang kau katakan?"
"Ya ya, ini Tayo," dia melanjutkan obrolannya dengan kucingnya, "ya ya ya kadang dia bisa menjadi kejam. Bahkan seorang tentara sepertiku takut padanya jadi kau tidak perlu khawatir tentang rasa takutmu."
"Beberapa menit yang lalu kau mengatakan hal yang sama padaku, " kata Anastasya dengan nada sarkastik.
"Aku mendengarmu," tiba-tiba dia mengubah nadanya dan meletakkan kucing itu di lantai.
__ADS_1
"tidak, maksudku kau berubah dengan adegan... err.. tidak tunggu.. itu tidak masuk akal." kata Anastasya.
"hmm jadi kau cemburu?" Alex tersenyum padanya ketika dia mendekatinya.
"Cemburu dengan kucing?" Suara Sarah bergema tiba-tiba.
"Aku disini.." Anastasya tidak bisa mengakhiri kalimatnya karena Alex meraih tangannya dan berseru.
" Dia bersamaku, kami akan kembali dalam beberapa menit."
"Apa yang kau kataka " Anastasya memulai dengan nada bingung tapi Alex sudah berlari dengannya di koridor.
Setelah beberapa menit berlari kesegala arah, Alex akhirnya berhenti dan Anastasya akhirnya bisa mengambil nafas dalam-dalam dengan mudah.
"lihat kesana, dasar bodoh!" balas Alex sambil menunjuk ke arah kanan.
Alex menunjuk ke arah gazebo, gazebo yang menarik. Lumayan besar dan mawar merah darah mengisi rumah kaca dan di sisinya terdapat jaring raksasa sehingga membuat tempat itu terlihat lebih menarik.
"Selamat datang di gazebo kami." Alex tersenyum ketika dia melangkah maju.
Anastasya mengikutinya dan mulai tersenyum juga. Di dalamnya bahkan lebih cantik. Ada dua pot berisi tanaman berdaun hijau besar dan bangku kayu dan ada meja kayu di tengah.
"Ayo duduk" Alex menyuruhnya duduk. Keduanya duduk berdampingan, mengagumi keindahan tanaman di sekitar mereka.
"Ini sangat menakjubkan," Anastasya mengakui, matanya melihat bunga mawar. Dia merasa sangat senang dengan hanya melihat bunga-bunga itu di dalam hidupnya.
__ADS_1
"Aku tahu," jawab Alex, "Aku tahu kau akan sangat menyukainya."
"bunga-bunga ini terlihat sangat indah." tambahnya, matanya masih menatap semua itu.
"Tidak lebih dari orang duduk di hadapanku." kata Alex.
Anastasya berhenti tersenyum dan menyentakka. kepalanya ke arah Alex yang mengaguminya. Apa yang dipikirkannya.?
"Apa?" Anastasya bertanya, mungkin dia salah dengar.
"Kau mendengarku dengan benar." lanjut Alex.
"Ya terima kasih." Jawabnya sambil tersenyum kecil dan memandangi terus bunga mawar itu.
"Kau benar-benar cantik, Anastasya." Ucap Alex.
"Uhh terima kasih atas gombalan mu itu." jawab Anastasya.
"Hahaha. ok. kau tahu, seorang putri?"Kata Alex dengan nada lembut.
"Yah tentu. Kenapa bertanya?" Kata Anastasya.
"Karena kau seperti putri yang begitu cantik. Aku harap kau tau betapa cantiknya dirimu."
"Kau tau Alex. Jumlah kata cantik yang kau katakan padaku sudah lebih dari cukup bagiku untuk menyadari kalau betapa cantiknya aku. Tapi sungguh, berhentilah memujiku" Kata Anastasya.
__ADS_1