Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 86


__ADS_3

SURAT KE 10


Dari: Evan


Untuk : Paman Jericho


Anita kembali dari kerja ke rumah sakit, tempat ibu dan aku bermain kartu. Dia memegang rahasiaku yang paling gelap. Matilah aku.


Aku menyimpan semua surat yang aku tulis untuk ayah di bawah kasur tempat tidurku, bahkan balasan surat yang paman kirim kembali.


Anita, tertawa tertawa terbahak-bahak saat dia masuk, aku marah karena aku yang tahu baiknya.


Ibu bertanya dengan suaranya yang lemah, apa yang membuatnya sangat bahagia.


Aku menjawab kalau itu sangat memalukan diriku dan menghilangkan rasa kepercayaam diriku.


"Anita, aku bersumpah demi tuhan jika kau mengucapkan sepatah kata pun kau akan menyesal!" Aku berteriak padanya.


"Benarkah? Bagaimana, adik kecil?" dia bertanya.


"Jangan berkelahi di depanku, anak-anak!" Kata Ibu, dan demi dia, aku berhenti marah.


Anita menunjukkan kepada ibu surat-surat yang aku tulis sejak aku berusia tiga tahun dan benar-benar berpikir kalau tulisanku keren. Anita, tentu saja berbicara sambil tertawa, hanya untuk mengejekku. Aku marah, aku mengamuk, aku menjadi sangat marah setiap saat aku mendengar tawa bodohnya itu. Dia benar-benar bodoh, tidak heran tidak ada yang menyukainya, aku tidak menyalahkan Andre lagi.


Kakiku menyeretku dan tanganku bergerak ke pipinya. Aku menamparnya dengan keras, di wajahnya dan keluar dari rumah sakit, dan pergi ke danau yang dulu ayah sering mengajakku untuk mengawasinya yang sedang memancing saat aku masih berusia dua tahun.


Aku duduk di bawah lohon yang biasanya kami duduki dan mematikan ponselku.


Setelah aku sedikit cukup tenang, aku pergi ke tempat kerjaku, hari ini aku kerja shift malam, menjaga toko perhiasan itu.


Aku pergi ke sekolah di pagi hari, di sore hari mencuci dan memperbaiki mobil, pada malam harinya, aku terjaga untuk menjaga toko dan menyelesaikan tugas sekolahku. Aku punya teman baru. Dia anjing penjaga namanya Blacky dan Boy, pemiliknya yang berusia 54 tahun.


Boy bercerita tentang dirinya saat dia masih muda, aku mendengarnya cukup menarik.


Dia bahkan membantuku jika aku tidak mengerti apa-apa! Dialah yang memberiku 'nasihat' tentang tumbuh dewasa. Aku berharap ayah bisa menceritakan hal-hal itu padaku, seperti ayah lain dan anaknya.


Aku berharap dia ada di sini, aku janji tidak akan menampar wajah Anita seperti binatang.

__ADS_1


Ibu tidak akan sakit lagi, Anita tidak lagi mengiris dirinya sendiri. Aku bisa mendapatkan hiburan. Aku bisa memiliki laptop dan menghabiskan waktu dengan Internet dan mengikuti hal-hal trendinh yang keren.


Aku pasti keren, aku bisa punya baju baru setiap saat. Aniya bisa saja kuliah sekarang dan meninggalkanku dengan tenang.


Ibu mungkin masih memiliki toko bunganya. Aku juga akan meminta saran ayah untuk pergi dan mengajak Cathy keluar berkencan.


Aku tidak perlu lagi makan di pinggir jalan karena kami tidak punya cukup makanan.


Aku akui aku menatap orang-orang makan dari jauh, berharap aku akan makan juga dengan enak. Tapi aku tidak bisa makan dan membiarkan ibu atau Anita kelaparan.


Aku selalu berpikir kalau aku memiliki kehidupan terburuk yang pernah ada. Ya, itu sampai malam ini.


Aku belum memberi tahu ibu atau Anita kalau aku bekerja sebagai penjaga toko, tukang cuci mobil karena takut mereka akan menghentikan diriku.


Mungkin mereka berpikir darimana aku bisa mendapatkan uang.


Boy mengalami serangan jantung tepat di depan mataku aku juga mendengar suara aneh, nyaring, dan aneh.


Dia duduk kemudian dia pergi untuk, selamanya!


Bagian terburuknya adalah aku menyaksikan pembunuhan Boy tepat di depan mataku. Kemudian, satu peluru lagi mengenai Blacky dan jatuh ke sisi Boy.


Seolah kesedihanku tidak cukup, aku harus menunjukkan bagaimana ayah meninggal tepat di depan mataku, dan setelah itu aku yang berikutnya.


Aku merada panik dan aku bersembunyi di balik dinding. Keempat pria berpakaian hitam mendekati Boy yang sudah tua dan anjingnya kemudia menikam mereka beberapa kali lagi!


Mungkin aku akan di pecat, jadi aku berpikir akan lari dari sini untuk tetap bertahan hidup. Tapi aku tidak bisa. Sampai aku mendengar suara yang menyuruhku untuk berkelahi dan melawannua. Aku tidak bisa menyerah begitu saja tanpa perlawanan.


Berjuang untuk teman-temanku, bukan untuk pekerjaanku yang akan hilang.


Suara itu milik ayah, ayah yang menyuruhku untuk berkelahi dan mengendalikan seluruh tubuh dan jiwaku dan membuatku lari ke tubuh Boy dan mengambil senjatanya.


"Tunggu! Kalian semua jangan bergerak ! Tinggalkan semua barang yang kalian curi dan angkat tangan kalian!" Aku memberi tahu mereka.


Mereka saling memandang dan tertawa sangat keras. Persis seperti yang aku harapkan. Meremehkan diriku


"Oh benarkah? Uwuwu. Aku sangat takut, Nak! Aku takut, aku akan mengencingi celanaku! Pergi, coba hentikan aku, tunjukkan padaku apa yang kau bisa lakukan!" Salah satu dari mereka meludahiku dan tertawa tepat di depan wajahku dan mendorongku agar menjauh.

__ADS_1


Sesaat yang aku rasakan, semuanya gelap, aku merasakan rasa sakit menjalar di seluruh tubuhku.


Dia merobek kulitku dengan senjatanya.


Aku berheser dan mengeluarkan ponselku dalam gelap untuk menghubungi polisi tapi ponselku di rampas dan orang itu menginjak ponselku dengan sepatunya.


Aku dengan cepat bangkit dan meninjunya.


Aku menyaksikan dia merangkak dan berteriak kesakitan.


Aku bersembunyi di balik konter dan melompat ke punggung orang lain dan menggigit lehernya.


Dia berteriak dan membuatku jatuh terlentang, membuatnya sakit. Dia mencoba menjegalku tapi aku dengan cepat menendang kakinya dengan semua kekuatanku dan meraih tongkat tebal dari tanah dan memberinya beberapa pukulan dengan cepat sampai dia pingsan.


"Kau setan kecil! Kau itu siapa?"


Saya tidak pernah berpikir aku bisa melakukan semua ini malam itu. Seseorang menarikku dari belakang, aku menunduk dan menendang alat vitalnya, sehingga dia bisa melepaskanku.


"Bunuh anak itu, sekarang!" Salah satu dari mereka berteriak.


Terima kasih, Ayah, telah membawakanku masalah.


Dia memberi tahuku apa yang harus di lakukan, tapi pada saat aku merasa sangat lemah, dia memberi tahuku.


"Setidaknya kau berkelahi. Aku sangat bangga padamu, kau tidak tahu betapa aku merindukan prajurit kecilku yang pemberani." Dan dengan itu dia meninggalkanku. Mereka terus memukuli diriku sampai sebuah pisau jatuh dari saku seseorang. Aku memegangnya tapi pria itu menginjak tanganku dengan sepatunya.


Aku menjerit dan menggigitnya agar dia bisa melepaskan diriku. Kemudian aku melukai kaki mereka dengan satu irisa , membuat mereka semua jatuh dan berdarah pada saat yang bersamaan. Itu luar biasa.


Aku berlari keluar dari toko dan mengambil ponsel Boy dan menelepon polisi.


"Halo Polisi. Tolong, polisi, ambulans, sesuatu apa itu, tolong bantu kami!"


"Oke, Nak! Bisakah kau memberitahuku di mana posisimu" Aku pikir hanya itu yang bisa kuingat sampai aku terbangun di ranjang rumah sakit bersama ibu dan Anita yang sedang menyembunyikan rasa kekhawatiran dan kesedihan mereka dengan senyuman.


Tolong jangan bilang pada ibu kalau aku bekerja sebagai penjaga toko.


Sampai nanti,

__ADS_1


Evan.


Prajurit kecil ayah.


__ADS_2