Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 9


__ADS_3

Alex hanya bisa menyeringai. Anastasya juga bisa melihat pipinya memerah.


"katakan padaku," dia memulai, tampak penasaran," bagaimana bisa kau mengambil kunci itu? Perasaan kunci itu hanya ada pada dokter?"


"Ooh," dia tersenyum bersalah, "Aku menyamar sebagai dokter dan menabraknya. Saat dia jatuh aku membantunya dan akhirnya aku mengambil kunci itu yang tergeletak di lantai."


Gadis bermata cokelat itu tetap kaget dengan apa yang barusan dia dengar.


"Hah?" Anastasya tersentak, "itu, tapi apakah dia tidak mengenalimu?"


"tidak," katanya penuh kemenangan, "aku memakai masker bedah yang aku temukan di suatu tempat."


Anastasya menatapnya dengan mulut menganga. Kemampuan pria ini melampaui semua yang dia bisa pikirkan. Dia benar-benar pandai menyelesaikan pekerjaannya, dengan cara yang luar biasa.


"jangan terlihat kaget sekali!" Alex menepuk pundaknya, "aku tahu itu tidak benar, ok!"


"Oke," Anastasya tertawa, "tapi itu mengesankan."


Alex mengangkat bahu dengan seringai dan suasana kesunyian menelan mereka berdua. Itu adalah keheningan yang tenang, tidak dengan kecanduan. Anastasya merasa kalau dia bisa tetap berada disisinya, bahkan tanpa mengatakan apapun. Rasanya....


"Apa kau pikir aku akan baik-baik saja suatu hari?" Alex tiba-tiba mengajukan pertanyaan dengan wajah yang penuh harap.


"Ya tentu saja, percayalah kuasa Tuhan. Kita berdua akan pulih kembali suatu hari nanti." Anastasya meyakinkannya, "kita akan melewati semua ini, jangan khawatir."


Ding! Dongg!!!


"Itu suara jam raksasa. Sudah waktunya untuk pergi."


"baiklah kalau begitu, sampai jumpa lagi temanku," Anastasya mengedipkan mata padanya ketika dia berdiri dan hendak pergi, dia tiba-tiba merasakan hangat pada lengannya. Dia menoleh dan melihat Alex memegangnya.


"Kau mau pergi kemana?" Alex bertanya dengan nada sedih, "senang bicara denganmu."


"Senang bicara denganmu juga, Alex." Ucap Anastasya.


'Perasaan aneh macam apa ini?' ucap dalam hati Anastasya, 'ah tidak! Jangan bilang begitu. Dasar bodoh!'

__ADS_1


Anastasya memutuskan untuk meletakkan kejadian barusan didalam benaknya dan melupakannya.


"Sudah waktuku untuk terapi. Aku juga harus melakukan beberapa latihan fisik. Ini akan membantuku akan merasa lebih baik lagi. Kau juga akan mengikuti beberapa terapi untuk merasa lebih baik nanti," Anastasya menjelaskan kepadanya saat dia menarik nafas dalam-dalam, "jadi, nanti kita akan ketemu lagi?"


"Oh, ya. Ok!" Alex mengangguk, tampak tidak senang


"sampai jumpa."


"Yah sampai jumpa."


Semenjak hari itu, Alex dan Anastasya menjalin persahabatan yang begitu baik. Mereka selalu nongkrong bersama, makan bersama dan dia juga berkelahi dengan pasien lain bersama.


Saat itu musim hujan dan semua pasien sedang duduk di aula makan dan melihat hujan perlahan turun dari luar jendela.


"Aku harus duduk disebelah, maksudku di sebelah Alex seperti biasa," Anastasya berpikir sendiri sambil tersenyum. Dia merasa kalau tempatnya untuk makan selalu disampingnya.


"Yoo Anastasya!" Anastasya melihat ke arah belakang.


Salah satu pasien melemparkan kue di wajahnya. Dia tahu kalau dia benar-benar terlihat bodoh dengan krim yang meluncur di pipinya. Sungguh memalukan! Dalam beberapa saat, semua orang mulai menertawakannya.


Alex tampak terkejut dengan perilaku pasien itu dan dalam sedetik Alex berdiri dan menarik kerah baju orang itu.


"Kau fikir, kau bisa menyakitinya! Beraninya kau, *****." Teriak Alex dengan geram, "kau bahkan tidak punya hak menyentuh sehelaipun rambutnya, kau mengerti? huh!"


Kata-kata terakhirnya membuat Anatasya tidak bergerak. Alex terlalu protektif, untuknya. Tidak ada yang pernah melindunginya.


Para dokter mengerahkan diri di sekitar kedua pria itu dan mereka berhasil menarik Alex dengan susah payah.


"bawa dia ke ruang isolasi," salah satu di antara mereka mengatakan itu.


"tidak!" Anastasya berteriak, "Jangan lakukan itu!"


Sangat terlambat, Alex sudah dibawa pergi. Anastasya merasakan hatinya sangat sakit ketika Alex diseret pergi. Dan dia tidak bisa melihatnya dalam kesulitan, atau kesakitan.


" Alex.." bisiknya ketika Anatasya merasakan hatinya hancur.

__ADS_1


"Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja." Salah satu perawat berkata padanya dengan tenang, "Sekarang, Anastasya doktermu memanggilmu. Dia ada di ruangannya."


"Baik," Anastasya mengangguk saat dia berhasil keluar dari aula dan menuju kantor dokter Jason.


Begitu dia menerobos kedalam, Anastasya menangis...


"Dokter, mereka membawa Alex, maksudku Alex ke ruang isolasi. Tolong! Kau harus melakukan sesuatu. Alex tidak suka kalau dia berada disana. Dia bilang padaku kalau dia frustasi jika dia berada disana. Tolong, lakukan sesuatu. Aku tidak bisa...."


"Anastasya, berhenti!" Kata dokter Jason dengan nada tenang.


Dia tampak sedikit terkejut.


"tenanglah, jangan khawatir. Aku akan bicara dengan dokternya." Katanya dengan sabar.


"Oke!" bisik Anastasya dengan nafas dalam-dalam, menyeka air matanya.


"Kau sangat peduli padanya, bukan?" dokter bertanya padanya dengan senyum menghibur.


"Ya. Aku ingin dia menjadi lebih baik. Aku, sangat peduli padanya," Anastasya mengangguk. "tapi apakah hanya rasa peduli yang kurasakan terhadapnya? Atau ada sesuatu yang lain, sesuatu yang aku takuti." Anastasya berpikir menunduk.


"dia akan menjadi lebih baik, jangan khawatir," Dokter tersenyum, "tapi saya memanggilmu kesini karena saya punya kabar baik untukmu."


"benarkah? Apa itu?" Anastasya bertanya sedikit bingung.


"Apa kau siap?" dia menyeringai sambil mengusap telapak tangannya, "oke ini berita besar, kau akan meninggalkan rumah sakit besok. Ya, kau akhirnya sehat kembali Anastasya. Selamat kau sekarang membaik."


"apa?" berbisik dengan kaget, dia merasa tiba-tiba pusing karena shock. Tapi, itu adalah berita baik.


"aku sudah sembuh?" Anastasya bertanya dengan senyum lebar, air mata membasahi matanya.


"benar-benar sembu," Dokter mengangguk, "laporan menunjukkan hasil positif. Kau tentu masih harus meminum obatmi dan menghadiri beberapa pemeriksaan selama beberapa minggu, tapi tidak ada yang perlu di khawatirkan Kau bisa pulang besok."


Dia tidak bisa lagi membendung begitu banyak kebahagiaan, Anastasya harus mengeluarkannya. Jadi, dia melompat-lompat dan dia tertawa bahagia.


"Ini adalah hari terbaik dalam hidupku, aku sudah sembuh." Anastasya berpikir dengan gembira.

__ADS_1


Dokter tertawa kecil ketika melihatnya melompat seperti itu dengan riang, tapi Anastasya tiba-tiba terhenti. Alex, dia tiba-tiba berpikir bagaimana bisa dia meninggalkannya.


Ada juga kekhawatiran lain di kepalanya yang jauh lebih penting. Bagaimana bisa dia hidup tanpanya. Dan pernyataan itu membuatnya sakit hati.


__ADS_2