Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 33


__ADS_3

Anastasya menghela nafas. Apa yang bisa terjadi jika dia hanya tinggal disini sedikit lebih lama dengannya, dia memutuskan untuk menaruh semua keraguan di benaknya dan hanya menghabiskan waktu bersamanya. Dia mengangguk dan memeluknya. Anastasya masih berada di pangkuannya. Mereka tetap seperti itu selama beberapa menit. Anastasya kemudian mulai membelai rambutnya.


“Rambutmu mulai tumbuh,” bisiknya ketika dia merasakan helai yang mulai mencapai lehernya.


“hmm..” Alex bersuara, menjalin jarinya bersama.


Anastasya menatapnya, mata Alex tertutup. Dia menikmati momen ini. Dia tampak imut, pikirnya. Sangat imut, Anastasya membungkuk dan mencium pipinya yang membuat Alex membuka matanya.


“sunggu tidak terduga,” Alex tersenyum.


“Ya, itu.. maaf” anastasya tersipu malu


Alex memandang wajahnya dengan senyum sebelum menjadi serius lagi. Apa Anastasya melakukan hal yang salah? Sebelum Anastasya menanyakan sesuatu padanya, Alex berdiri dan menggendong Anastasya.


“hei, kau mau bawa kemana aku?” anastasya masuk dan berhenti didepan kamarnya.


“tidak,” anstasya segera berkata, “ini ide yang buruk.”


“sebenarnya aku ingin memberitahumu kalau kau sangat berat,” kata alex  dan keduanya tertawa.


“kau bodoh,” Anastasya berteriak, tapi terus tertawa.


Alex memandangi kamar  tidur, tampak terkesan.


“yah, kalau kau mau kita bisa.....”


“Tidak! Keluar!” anastasya dengan senyum lebar.


“Denganmu, ditanganku?”


“Tidak letakkan aku, lalu pergi lah!”


“Ditempat tidur?” alex menyeringai.


“Tidak! Yah di lantai lah. Biarkan aku berdiri!”


“Oke,” alex terkekeh dan membiarkannya pergi.


Anastasya sekarang berdiri di depannya.  “Sudah malam. Aku harus pulang,” alex berkata dengan nada yang lebih serius, “aku akan menemuimu besok.”

__ADS_1


“Oke..” Anastasya tersenyum, “selamat malam.“


Alex menariknya ke arahnya dan membenamkan wajahnya di lehernya, dan berbisik :


“kau harus mengucapkan selamat malam, prajuritku..”


“Tentu..” Anastasya memutarnya dan terkekeh, nafas dan bibirnya menyentuh kulitnya menggelitiknya,


“selamat malam, prajurit..”


“Dimana prajuritnya?” Alex bertanya dengan otoritatif, “hmm, dimana kata itu?”


“Dia lelah, dan pergi tidur.” Anastasya tertawa, tahu kalau dia hanya bermain-main dengannya.


“Aku mau kau menyebut kata itu!” Alex berkata dengan suara kasar saat dia mulai menggelitik Anastasya.


Anastasya tertawa keras dalam pelukannya, berusaha untuk keluar dari dekapannya, tapi gagal.


“Oke, oke selamat malam, prajuitku,”


“Baiklah sampai jumpa,” Alex tersenyum dan melepaskan pelukannya.


yang berbeda dibanding saat Alex datang untuk bertemu dengannya.


“Terima kasih, alex.” Anastasya berbisik, “terima kasih sudah membuatku melupakan kesedihanku.”


“sama-asama anastasya ku,” bisiknya dengan mengedipkan mata.


Anastasya pergi keluar bersamanya untuk mengucapkan selamat tinggal. Dia pergi dengan senyum bahagia dan anastasya pergi tidur dengan senyum bahagia juga.


Sementara itu di rumah Alex..


“ayah, aku benar-benar ragu. Kita harus bicara serius tentang ini,” rengek herry saat dia memasukki kantor ayahnya, “sudah tembak saja wanita itu.”


“Jangan cepat-cepat menyimpulkan, nak.” Ayahnya menyarankan dan memberi isyarat pada putranya untuk duduk. “dan namanya anastasya.”


“terserah,” gumam herry pelan.


“sekarang aku ingin kau memberitahuku dimana kau bertemu Clara dan kenapa dia bisa ikut bersamamu?” ayahnya bertanya dengan suara serius.

__ADS_1


“dia menemuiku di surabaya dan memberitahuku tentang perilaku menjijikan alex!” jawab herry, “aku tidak


percaya kalau saudaraku bisa begitu bodoh! Aku sebenarnya malu padanya!”


Samuel mengunci mata putranya itu untuk beberapa saat sebelum mengulangi beberapa kata-katanya dengan dahi berkerut, “Kasihan... perilaku menjijkkan alex... malu padanya... anakku.. kau bahkan tidak tahu apa yang kau


katakan.”


“aku tahu benar apa yang aku katakan,” herry mengangkat suaranya sedikit, “aku tahu segalanya.”


“Oh benarkah?” ayahnya berkata dengan sinis, sedikit amarah dalam suaranya, “kalau begitu ayah rasa kau tahu kalau saudaramu pernah di rawat di rumah sakit jiwa selama beberapa minggu sebelumnya, para dokter tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyembuhkannya dan satu-satunya orang yang membantunya setiap hari selama fase sulit dalam hidupnya adalah Anastasya.”


Rahang herry turun saat berikutnya matanya menjadi lebar.


“Dan aku juga mengira kau tahu kalau Clara pergi saat dia tahu kalau Alex sakit jiwa, tidak, tidak, biarkan ayah menggunakan kata-kata yang tepat, meninggalkannya! Dan alex? Dia bertanya pada kami di hari pertama kami datang menjenguknya di rumah sakit! Hanya Ayah yang tahu bagaimana menjelaskan padanya kalau Clara tidak ada! Hatinya hancur saat dia mengetahui hal itu!”


“Apa.. ayah.. apa yang kau....” herry tergagap. Dia tampak sangat bingung.


Herry tidak tahu harus berpikir apa, berkata apa dan dia tiba-tiba merasa sangat bersalah.


“Tapi, ayah kapan semua ini terjadi? Kenapa aku tidak diberitahu tentang ini?” dia bertanya, kesakitan dalam suaranya.


“Alex tidak ingin kau khawatir,” kata ayahnya dengan nada tenang.


“aku kakak tertua!” dia berteriak, matanya merah, “saudaraku masuk di rumah sakit jiwa dan aku bahkan tidak tahu.”


“kami tidak punya waktu untuk mengunjunginya secara teratur dan semua orang khawatir tentang dia, kemudian saat dia kembali, dia memberitahu kami tentang Anastasya, yang tetap rela tinggal dirumah sakit meskipun dia sudaj sembuh, hanya untuk membantu saudaramu menjadi lebih baik.” Ayah nya menjelaskan.


Herry menatap di depannya, tapi dia tidak melihat apapun. Dia tenggelam dalam lautan penyesalan.


“aku tidak tahu apakah kedua anak itu saling jatuh cinta disini.” Ayahnya berkata, “tapi yang ayah tahu, Anastasya merawat Alex seperti orang lain. Ayah tidak merasa memiliki masalah kalau mereka saling jatuh cinta. Clara menghilang saat dia mendengar tentang keadaan Alex. Clara bisa saja menghubungi Alex melalui telepon atau bahkan melalui surat tapi, kenyataannya sama sekali dia tida peduli. Bahkan untuk mengunjungi Alex pun tidak pernah.”


“Tapi dia lebih memili"meninggalkannya,” bisik Herry, "dan datang kesini seperti tidak ada yang terjadi.”


Setelah keheningan kecil, "Bagaimana bisa aku sebodoh ini. Aku harus minta maaf padanya. Aku juga harus meminta maaf pada keluarganya


karena bersikap seperti ini dengan putri mereka!” Ucap Herry.


“Anastasya hidup sendirian,” Ayahnya menjelaskan padanya dengn sedih, “dia anak yatim.”

__ADS_1


__ADS_2