
Malam yang sangat panjang, aku di hujani berbagai pertanyaan oleh polisi, petugas keamanan setempat dan juga Alan. Aku tidak tahu tahu persis siapa yang membunyikan alarm dan siapa yang mengirim sms misterius kepada diriku, bagaimana dia menemukan nomorku. Tapi aku tidak bisa memberitahu Alan dan Adrian yang sebenarnya, aku takut mereka akan marah, meskipun mereka berusaha terus melindungiku. Aku harus ekstra hti-hati menjalani hari-hariku.
“Ini tidak masuk akal.” Kata Adrian dengan frustasi, sejak polisi tiba di sini, dia hanya menggosokkan tangannya di rambutnya, sehingga terlihat berantakan.
“Tidak ada yang salah, yang ada hanya keslahan pada alarm.” Aku menjelaskan.
Malam ini penuh dengan pertanyaan dan kami terjebak di sini, mengeringkan kertas dan berusaha menenangkan situasi, hewan peliharaanku di samping toko mulai membuat keributan selama sejam penuh, pupuk dan bibit yang terbuka juga ikutan basah dan akan rusak jika tidak di keringkan dengan cepat. Kami menghubungi Kenny, sehingga kami mendapatkan bantuan ekstra dalam membersihkan kekacauan yang terjadi, komputerku dan mesin kasirku rusak, tapi untungnya aku sudah menyimpan semua file pentingku di dalam hardisku, jadi aku bisa menyalinnya di laptopku.
Setelah kami selesai membersihkan, kami semua pulang, Alan langsung tidur tanpa mengganti pakaiannya begitu pun juga dengan Adrian, dia menjatuhkan dirinya ke sofa dan mulai seikit mendengkur. Aku tidak bisa menyalahkan mereka, ini sudah jam lima pagi dan sebentar lagi matahari akan bersinar sekitar satu jam lagi. Aku meringkuk di tempat tidur.
Tanggal 18 Juli selalu menjadi hari favoritku, akan ada parade, festival makanan, kembang api dan aku sangat menyukainya. Suara ledakan kembang api, warna-warna yang indah menerangi langit malam. Aku selalu bangun pagi lebih awal untuk melihat festival berlangsung. Aku bangkit dari tempat tidurku dengan semangat 45, juga dengan segera membangunkan mereka berdua, untuk sarapan pagi, setelah itu aku melihat mereka dua mengenakan seragamnya, hatiku meleleh melihatnya. Aku berjalan mendekati mereka dan mencium pipi Alan dan aku kemudian duduk, Adrian berdehem menatapku, jari-jarinya mulai mengetuk pipinya memberi kode agar aku menciumnya. Wajahku mulai memerah saat aku membungkuk dan mulai menciumnya dan dengan cepat menarik diri.
“Apa kalian ingin ikut bersamaku pagi ini, melihat festival?” Aku bertanya.
“Ya, tentu saja, kenapa tidak?”
__ADS_1
Menghabiskan waktu merayakan festival bersama kakak ku dan juga Adrian jauh lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu dengan sendirian. Ke mana pun kami pergi, pria dan wanita mengucapkan terima kasih, rasa hormat dan berjabat tangan dengan orang asing, seorang anak laki-laki menghampiri Alan dan menarik celananya, Alan kemudian berlutut menghadapi anak kecil itu dan tersenyum padanya. Anak laki-laki itu mengenakan topi militer sambil memegang bendera.
“Apa yang bisa aku lakukan untuk prajuritku?” Alan bertanya dengan suara prjritnya. Anak itu pemalu dan dia hanya menatap tanah.
“Aku ingin mengucapkan terima kasih, karena sudah melindungi Negara kita.” Katanya dengan suara kecil. Alan tersenyum.
“Ya, dan aku suka topi mu.” Dia memuji.
“Terima kasih.” Katanya, sedikit tersenyum. “Itu punya ayahku.” Anak itu berkata dengan bangga, Alan tersenyum.
“Chrales! Charles, kau di mana nak?” Kami mendongak dan melihat seorang wanita, matnya menatap kea rah anak laki-laki kecil itu dan mulai berlari.
“Aku minta maaf, dia menunjuk kea rah kalian dan mengatakan kalau dia ingin bicara dengan kalian, aku tidak ingin dia mengganggu kalian.” Wanita itu berbicar.
“Tidak masalah bu, aku senang bicara dengannya.” Ibu itu tersenyum dan mengambil Charles.
“Aku tidak sabar menunggu ayahku pulang dan melihat diriku sudah tumbuh besar. Suatu hari nanti juga aku akan sebesar dia.” Kata Charles menunjuk kea rah Adrian. Wajah ibu itu seketika berubah saat mereka mulai mengingat suaminya. Dia kemudian mendorong kebelakang rambut anak kecil itu dan mulai mencium dahinya.
__ADS_1
“Ayahmu akan segera pulang. Dia akan senang melihatmu.” Suaranya bergetar saat dia mencoba untuk tetap kuat di depan anaknya.
Sesuatu mengambil alih perhatianku, aku kemudian berjalan menghampirinya dan memelukny, Adrian mengambil anak itu dari lenannya sehingga memungkinkan dia untuk memelukku kembali dan dengan diam-diam menangis di bahu ku.
“Sangat sulit.” Katanya, air matanya mulai keluar. “Akumerindukannya.” Alan dan Adrian mengajak Charles untuk pergi membeli es krim, sementara aku berbicara dengan ibunya.
“Ayahny hilang sejak 3 bulan yang lalu, dan tim sar dan lainnyatidak menemukan mereka, dia di nyatakan hilang seminggu kemudian.” Dia mengusap hidungnya dan menyeka air matanya.
“Saat ulang tahun Charles yang ke tujuh tahun, aku mendengar ketukan di pintu.” Dia mulai menangis lagi saat ingatannya mulai muncul di pikirannya.
“Mereka bilang kepadaku kalau suamiku di temukan meninggal.” Aku meraih tanganny dan meremasnya, berusaha memberika kenyamanan padanya.
“Charles masih belum mengerti apa-apa. Dia masih sangat kecil untuk tahu kenyataannya kalau ayahnya tidak akan pernah kembali.” Aku bersimpati padanya.
“Yah, aku pikir, begitu Charles sudah tumbuh dewasa, dan sudah cukup dewasa untuk mengerti apa yang terjadi, dia akan menjadi pria yang hebat.” Tampaknya ketegangan yang terjadi padanya mulai mereda dan mencoba merilekskan dirinya, saat itu Charles berlari dengan semangat dan melompat ke pangkuan ibunya.
“Bu, aku sangat senang sekali. Para tentara itu sangat baik padaku, bu.” Dia berseru dan tersenyum, ibunya mengusap rambutnya ke belakang telinganya dan tersenyum.
__ADS_1
“Ya, mereka sangat baik, nak.” Kami melambaikan tangan pada mereka saat kami berpisah, mereka pulang dan pergi ke festival kembang api. Warna-warna cerah di langit malam menerangi gedung-gedung dan wajah kami, semua orang di sini bersorak dan bertepuk tangan, setiap ledakan kembang api itu, pertnjukkan berlangsung selama hampir satu jam dan kembang api terakhir berbentuk seperti bendera kami.
Saat mereka menyalakan kembang api itu, lagu kebangsaan kami pun di putar dan semua orang menaruh tangannya di dadanya maisng-masing, Alan dan Adrian menghormati bendara sampailagu itu selesai. Itu adalah hari yang membahagiakan, tidak ada kekacauan. Aku berharap bisa menikmati kebahagiaan ini sepanjang waktu.