
Aku pergi tidur di kamarku, aku merasa tidak nyaman sekali. Adrian menguasai ruang ku begitu banyak, aku masih bisa merasakan tellingaku di penuhi napasnya yang masih menggelitikku. Aku merasa lelah dan kemudian tertidur, tapi rasa takut yng aku raskan masih tetap tersimpan di pikiranku. Aku terintimidasi oleh pria, terutama pria yang bernama Adrian itu, dia dengan mudah menguasaiku. Aku memejamkan mata dan mencoba melawan ingatan yang mucul kembali sejak tragedi yang pernah aku alami. Itu ingatan yang selama ini ku sembunyikan dari ingatanku, dalam-dalam. Semoga aku tidak akan pernah mengingatnya lagi. Aku menoleh ke arah Alan, dia memberiku tatapan yang masih ku ingat bak-baik, dia tahu apa yang sedang aku rasakan dan dia tahu bagaimana menghentikannya. Aku berbalik lagi dan dia menarikku mendekat, perlahan memijat bahu dan leherku. Dia mulai bersenandung, dulu waktu ibu masih ada, dia juga selalu bersenandung saat kami merasa takut dan terbangun karena impi buruk, dia selalu menyandungkan lagu yang membuat kami tenang. Dan begitu kami merasa cukup tenang, dia pun berhenti dan kami akhirnya tertidur di bahunya.
Aku tidak bisa memahami nada yang di nyanyikan Alan, tapi kami merasa bergoyang-goyang di atas ranjang, menyebabkan sensasi yang membuatku tenang, aku pun secara tidak sengaja bersenandung dengannya.
“twinkle-twinkle little star….”
Aku merasa mataku terkulai lemas, aku bersandar lebih dekat kea rah kakaku danmeletakkan kepalaku di pundaknya dan perlahan aku tertidur tanpa mimpi.
Pagi berikutnya,
Aku bangun dan Kenny menelponku jam 7:00 pagi..
“Halo?” Aku merasa grogi menjawab.
“Pagi bos, aku mendapatkan telpon dari petugas pengiriman dan pesanan bunga baru anda akan di kirim hari ini jam 13.00 siang.” Katanya, aku menghela nafas dan merangkak keluar dari tempat tidur menuju kamar mandi.
__ADS_1
“Terima kasih sudah menghubungiku, akan ke sana sekitar jam sepuluh .” aku mengakhiri panggilan dan mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Lima belas menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi yang di penuhi uap dan berjalan masuk ke dapur sambil mengeringkan rambutku dengan handuk, aku berjalan dan melihat dua orang prajurit sedang menyiapkan sarapan gosong di atas meja dan terlihat malu-malu.
“Morning, Alice, kita sedang sarapan.” Alan tersenyum sambil mengangkat telur gosong yang sudah dia goring. Aku mengabaikannya dan kemudian membereskan semuanya. Aku melihat ada telur gosong di atas piring, kerak telur dan minyak juga berserakan di mana-mana.
“Apa yang sudah kalian lakukan?” Kataku dengan kesaldan cepat-cepat mengambil lap pembersih untuk menyeka dari bekas minyak, aku menaruh telur-telur yang masih utuk ke dalam kulkas dan membuang telur yang sudah gosong ek dalam tempat sampah.
“Ya, kami mau membuatkan sarapan pagi yang enak untukmu, tapi jelas saja kami tidak tau memasak.” Alan berkata sambil mengangkat bahu dan memakan telur gosongnya. Aku memijat pelipisku, mencoba menghilangkan ketegangan yang membuatku sakit kepala.
“Kalian berdua, bersihkan ini yah, aku mau ke toko bunga hari ini dan menandatangani beberapa dokumen. Pokoknya harus sebersih mungkin.”
“Ya, kau seharusnya sudh memikirkan hal itu sebelum kamu mengacak-acak dapurku.” Kataku smabil berjlan menuju dompet ku dan keluar menuju mobilku.
Sesampainya aku di toko..
Aku melihat truk pengangkut masuk ke halmaan belakang toko. Aku segera keluar menemuinya di belakang.
__ADS_1
“Apa kamu, Alice?” Dia bertanya.
“Ya, itu aku.” Dia menyerahkan sebuah papan klip dan aku menandatangani bukti pembelian itu, kemudian dia membawa beberapa bunga yang sudah aku pesan dan meletakkkannya di atas meja.
“Terima kasih banyak.”
Beberapa saat, aku melihat dua lelaki yang menyebalkan itu datang ke tokoku. Alan suka dengan semua perubahan an kemajuan yang sudah aku buat sejauh ini.
“Wow, Alice, toko mu ini tampak bagus. Jauh lebih besar dari sebelumnya.” Aku tersenyum.
“Terima kasih, sekarang kemari dan lihatlah bunga-bungaku.” Dia dengan Adrian cepat berjalan ke arahku dan Adrian mengikutinya dari belakang, Adrian mengagumi disetiap sudut tempat.
“Wah, bunga-bunganya terlihat indah dan segar, lihatlah.” Kata Alan.
Saat kami mengobrol, kami di kagetkan suara potyang jatuh ke tanah, kami berbalik dan melihat Kenny yang tampak hampir pingsan karena amelihat ua pria tentara di hadapannya. Kenny menatap mereka.
“Oh, hallo Kenny, ini saudaraku Alan dan ini Adrian temannya.”
__ADS_1