
Aku tersadar, aku merasakan sakit di kepalaku, rasanya tidak seperti rasa sakit karena benda tumpul, tapi rasanya seperti seseorang sudah memukuli palu di kepalaku. Aku merasakan sakit di leherku, aku memutar leherku ke samping mencoba membuatnya bisa bergerak.
Aku berusaha melepaskan tanganku yang terikat untuk menghilangkan ketegangan ku tapi ternyata aku juga tidak bisa. Aku kebingungan, aku mencobanya lagi, tangan ku masih di ikat ke belakang. Mataku langsung terbuka, karena cahaya yang masuk melalui celah jendela di dekatnya.
Aku menutup sebentar dan membuka kembali lagi mataku. Aku melihat sekeliling ruangan, aku sedang duduk di tengah ruangan putih yang membosankan, dinding dan langit-langitnya berwarna putih, karpetnya juga berwarna putih sepertinya tidak pernah disentuh oleh manusia. Ada tempat tidur kecil di sudut sebelah kiri dengan kayu putih dan seprai putih. Ketakutan ku semakin meluap-luap di dalam diriku, kejadian-kejadian dari malam sebelumnya aku mengingat saat Stefan memukul ku dengan keras.
Aku mengingat Stefan menyerangku, dengan senjatanya, Adrian dan Alan juga yang ditembak. Aku menyeka mata berairku di pundakku, menolak untuk menangis. Aku harus kuat. Saat itu aku mendengar gemerincing kunci dan pintu berdecit terbuka, senyum sadis di wajah Stefan muncul. Dia meraih kursi putih bersih dari sudut dan menyeretnya sampai duduk di depan ku. Dia menyandarkan sikunya di lutut, menyandarkan kepalanya lebih dekat ke tanganku. Dia hanya menatap mataku, dia tidak berbicara, dia jelai bahkan bernapas. Dia meraih tangannya dan mengusap jari-jarinya di sepanjang garis pipi dan rahangku.
"Aku memukul kepalamu, sekarang yang kau rasakan sakit kan?" Dia berbicara dengan lembut, hampir berbisik. Aku tidak menjawabnya, hanya menatapnya. Dia tertawa geli kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan di suatu tempat di belakangku.
"Tidak ada alasan untuk membuat semua ini menjadi sulit." Dia berkata, saat dia berjalan kembali ke arahku, memegang dua pil dan segelas air di tangannya. Dia mengangkat kedua pil itu ke bibirku, tapi aku menutup mulutku.
__ADS_1
"Itu hanya obat penghilang rasa sakit. Itu bisa menghilangkan rasa sakit di kepalamu." Dia berkata dengan kesal, aku melihat ke bawah dan melihat sebungkus pil penghilang rasa sakit. Dengan enggan aku mengambil dua pil di dalam kemasan itu. Dia memperhatikanku menelan pil itu.
"Itu akan membuatmu lebih baik." Dia meraih sepotong rambutku yang keluar dari mataku. Matanya segera berubah menjadi dingin dan seperti batu. Tangannya yang berada di dekat pipiku tiba-tiba turun di wajahku.
Dampaknya sangat besar, membuat kursi mengguncang bolak-balik, dan dengan satu tamparan ke kursi hingga kursi itu jatuh terlempar, kepalaku berbalik ke samping dan saat aku jatuh hidungku bersentuhan dengan karpet, dia bangkit dan pergi, dan memastikan untuk mengunci pintu. Aku menyaksikan darah mengalir dari hidungku di karpet. Merah dan putih adalah satu warna kontras yang pasti, dia ingin meninggalkan bekas darahku di lantai.
Adrian POV
Di sisi lain aku sudah mengambil respons yang lebih keras. Aku berteriak dan mengutuk kebodohan para polisi itu. Yang aku lakukan adalah menggerutu dan terus saja marah, aku tahu mereka melakukan semua yang mereka bisa tapi itu tidak cukup. Mereka menghilang begitu saja, tidak ada yang melihat mereka. Dia tidak meninggalkan jejak ke mana mereka bisa pergi. Itu menghancurkan perasan kami, mengetahui kami tidak bisa melakukan apa-apa. Setidaknya seminggu lagi Alan akan masih berbaring di tempat tidur dan karena secara teknis aku tidak bertugas saat ini mereka tidak akan mendengarkan ku atau membiarkan diriku membantu.
"Psikopat itu." Aku menggeram. "Psikopat itu. Awas saja." Aku berkata dengan semua kebencian yang kurasakan saat ini. "Ke mana mereka pergi? Dia tidak mungkin meninggalkan kota, apalagi negara. Dia pasti masih berada di sekitar sini." Kataku, berbicara pada diriku sendiri.
__ADS_1
"Apa kau tahu tempat yang biasa mereka datangi ? Seperti tempat yang spesial atau sesuatu yang pernah mereka datangi?" Aku bertanya pada Michael, yang dia lakukan hanyalah melihat keluar jendela. Suara nyaris kebinatangan terdengar dalam diriku, aku membentak Alan meraih wajahnya dengan tanganku.
"Apa kau hanya mendengarkan! Duduk di sini tidak berbicara atau makan, itu tidak akan membantunya! Siapa yang bisa membantunya kalau bukan kau sendiri! Keluar dari keterpurukanmu ini!" Aku berteriak padanya, ekspresi wajahnya menunjukkan kemarahan dan jengkel, tapi matanya menunjukkan rasa takut dan sedih, dia mencerminkan diriku sendiri, aku menghela nafas dan duduk di tempat tidur.
Kedua kepala kami berbalik saat pintu tiba-tiba saja terbuka, rupanya Kenny yang datang dan masuk dengan mata merah dan sembab. Dia selalu berada di sini setiap hari membawakan sesuatu yang bisa untuk dimakan untu Alan. Dia mengatur makanan di meja sebelahnya dan berjalan ke kursi yang biasanya dia duduki dan hanya diam.
"Apartemen." Alan tiba-tiba berkata.
"Apa?" Aku bertanya.
"Apartemen yang dia dan Alice beli bersama. Di situlah mereka berada. Dia memulai semua pelecehan di sana dan dia akan menyelesaikannya di sana." Ketika kesadaran muncul pada kami, perasaan kegembiraan dan pencapaian mengalahkan kami.
__ADS_1
Saat polisi datang kami memberi tahu tentang keberadaan mereka dan akan membombardir mereka disana. Tunggu kami Alice, kami akan datang menolongmu.