Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 62


__ADS_3

Alan POV


 


Aku tahu, malam itu akan menjadi malam yang paling sulit  bagi Alice, ekspresi wajahnya saat Adrian menariknya keluar dari lenganku. Aku mau berteriak dan marah padanya karena berusaha melepasnya dari pelukanku, tapi aku memperhatikan ekspresi wajah Alice,ketakutan, aku hampir bisa melihat kenangan buruk itu di matanya. Begitu aku mendengar tangisan kecilnya yang sudah biasa ku dengar, aku segera berlari ke kamarnya, yang kulihat benar-benar membuat hatiku sakit, dia membungkuk dengan bahunya yang gemetaran. Aku berjalan ke tempat tidurnya dan duduk di belakangnya, aku tahu apayang dia butuhkan dan bagaimana cara menenangkannya. Saat aku  menyandungkan lagu untuknya, aku mengelus-elus punggungnya, aku bisa merasakan dia mulai bersandar padaku dan meletakkan kepalanya di bahuku, napasnya teratur dan matanya terpejam. Aku meletakkan daguku di atas kepalanya.


 


Pagi berikutnya aku tahu, dia akan bangun cepat dan bersiap-siap ke toko nya, aku ingin dia merasakan pagi yang baik dibandingkan semalam. Jadi aku berusaha mnyiapkannya sarapan telur kocok dan sosis. Tapi  di tengah persiapan itu, Adrian masuk dan menjegalku ke lantai, kami bergulat dan mencoba menjepit satu sama lain di lantai. Aku baru saja akan menang melawannya tapi, kami berdua mencium bau gosong, kami bangkit dan melihat telur yang ku goreng menjadi hitam, sosis yang ku panggang juga minyaknya menyembur. Adrian dan aku saling memandang dengan ekspresi malu dan kemudian tertawa. Dan saat itulah kami mendengar air pancuran dari dalam kamar mandi, mati. Alice mungkin akan segera keluar dan melihat semua kekacauan ini, aku panic, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku mendengar bunyi gedebuk di atas meja dan berbalik melihat Adrian menuang susu di gelas dan mulai memakan telur kocok yang gosong itu. Alice berjalan keluar dari kamar mandi dan masuk ke dalam dapur, akuberusaha mengalihkan perhatiannya dari semua kekacuan yang terjadi di dapur, tapi ternyata itu tidak berhasil.


“Apa yang sudah kalian lakukan?” dia terdengar kesal dan pergi, kemudian mulai membersihkan semuanya, Adrian dan aku hanya saling memandang.


“Ya, kami mau membuatkan sarapan pagi yang enak untukmu, tapi jelas saja kami tidak tau memasak.” Kata Adrian, dan aku memberinya tatapan tajam, beraninya dia mencoba mencuri pemikiranku, dan aku bisa memasak, seandainya dia tidak menggangguku tadi, dia pasti sekarang sudah makan enak. Dia kembali menatap kami dengan pandangan ingin membunuh.

__ADS_1


“Kalian berdua, bersihkan ini yah, aku mau ke toko bunga hari ini dan menandatangani beberapa dokumen. Pokoknya harus sebersih mungkin.” Aku merasa kecewa, aku ingin pergi bersamanya.


“Ah tapi, Alice, aku ingin pergi ke sana juga bersamamu.” Aku merengek padanya.


“Ya, kau seharusnya sudh memikirkan hal itu sebelum kamu mengacak-acak dapurku.” Dengan tangan di pinggulnya ia meraih dompet dan pergi keluar menuju mobilnya.


“Dia memarahimu.” Adrian menyeringai, aku melototinya.


“Aku tidak percaya, kau lelah melakukan perbuatan baik yang aku lakukan.” Aku  mungkin terdengar seperti anak kecil yang baru berusia 4 tahun, tapi sungguh aku tidak peduli.


Sesampainya kami disana, kami masuk ke dalam dan melihatnya sedang merapikan beberapa bunga.


“Wow, Alice, toko mu ini tampak bagus. Jauh lebih besar dari sebelumnya.” Kataku,dulu saat pertama kali aku melihat toko ini, tokonya tidak seindah sekarang, dan sekarang sudah di penuhi bunga-bunga indah yang segar.

__ADS_1


“Terima kasih, sekarang kemari dan lihatlah bunga-bungaku.” Aku dengan cepat berlari, dan melihat semuanya, aku tidak memperhatikan Adrian sekarang.aku terus mengagumi setiap bunga yang aku lihat. Saat aku hendak ingin mencabut satu tangkai bunga, aku mendengar suara dentuman keras, sontak aku terkaget dan melihat seorang anak gadis yang cantik yang juga tampak terkejut melihat kami. Seketika dia terdiam melihat kami.


“Oh, hallo Kenny, ini saudaraku Alan dan ini Adrian temannya.” Adrian dan aku dengan sopan melambaikan tangan padanya, dan dia tersipu malu.


Alice sangat malu dan ngeri pada pegawainya itu, dia segera berjalan menghampirinya, meraih lengannya dan membawanya ke belakang. Begitu mereka tak terlihat dari pandangan kami, aku membungkuk kesakitan dan mencengkram pahaku.


Alas an sebenarnya aku pulang dari berperang, bukan karena ingin cuti dan bisa bersama adikku, tapi saat aku menjalankan misiku dalam pertempuran, pahaku tertembak peluru, peluru itu merobek beberapa jaringan otot ku dan aku harus menjalani operasi untuk mengangkat peluru itu. Adrian sebenarnya memiliki saudara perempuan yang bisa dia kunjungi tapi sekarang dia di sini karena mengawasiku dan memiliki memang waktu cuti yang belum pernah dia ambil selama beberapa periode ini. Jadi dia bisa pergi kemana pun dia mau.


“Kau serius, belum memberitahunya? Apa yang kau tunggu lagi? Cepat beri tahu dia.” Adrian mulai mengkritikku.


“Tidak, aku belum mau memberitahunya, aku tidak ingin dia mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja, toh nanti juga aku bisa pulih dan sembuh dalam waktu setahun ini kemudia kembali lagi.” Aku mengangkat bahuku, dan merasa itu bukanlah masalah besar.


“Ya bagaimana kalau kau pergi terapi fisik besok, dan di hari lain setelah itu apa yang harus aku bilang padanya?” Dia bertanya, aku kira aku tidak akan pernah mau memikirkan hal itu.

__ADS_1


“Terserah kamu saja.” Aku kemudian melambaikan tangann pada dua gadis itu saat mereka berjalan kembali ke arah kami.


__ADS_2