
Keesokan harinya…
Hari ini adalah hari sabtu, aku dan kakak ku masih belum berbicarasatu sama lain. Adrian sudah menyerah memintaku untuk pergi bersamanya di pagi hari selalu saja mengajakku keluar ke padang rumpt, tapi anehnya hari ini dia tidak mengajakku lagi. Aku duduk di kamarku, aku mendengar Alan berjalan menuju pintu depan sekitar jam dua siang dan sekarang sudah jam empat sore, dia masih saja belum kembali.
Anak kucing putih yang ku ambil dari pinggir jalan menemaniku setiap saat, mengikutiku berkeliling dan selalu saja membuat kekeacauan, merobohkan vas bunga, mencakar-cakar karpet bahkan perabotan rumah, dia selalu meminta maaf dengan cara mengelus kakiku dengan bulu-bulunya itu dan sekarang dia sedang duduk di pangkuanku.
Aku dengan lembut membelai bulunya, dan sesat aku mendengar ketukan di pintu, aku mendongak dan melihat Alan berjalan masuk, aku berpaling darinya dan menatap keluar jendelaku , aku tidak ingin ada pertengkran lagi di antara kam, aku merasakan tempat tidur bergerak di sebelahku dan aku bisa mencium bau seseorang habis bercukur. Kami berdua terdiam, padahal sebenarnya ingin saling bicara.
“Sebenarnya, aku habis tertembak.” Alan berkata dengan tenang, alis mataku berkerut dan aku menoleh untuk melihatnya.
“Apa?” ktaku, tidak yakin dengan pernyataannya barusan.
“Aku habis tertembak saat pertempuran pada akhir 2 bulan yang lalu, saat aku menjalankan misi, peluru menembus paha kiriku, merobek beberapa jaringan ototku dan menyebabkan kerusakan tulang. Itulah sebabnya aku pulang, Adrian harus ikut denganku karena dia mengawasiku,” katanya, aku tahu dia menyembunyikan semua ini semata aku tak ingin khawatir ataupun merasa terluka lagi. “Setiap hari Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu, aku pergi untuk melakukan terapi.”
Saat dia mengungkapkan semua rahasia yang ia sembunyikan dariku selama ini, aku heran pada diriku, aku tidak tahu kenapa aku tidak marah bahkan benci padanya karena telah berusaha menyembunyikan semuanya. Aku pikir, dia berharap aku meneriakinya atau menceramahinya, tapi aku malah memeluknya, aku melingkarkan tanganku di lehernya sambil memegangnya begitu dekat denganku.
“Apa kau tidak marah padaku? Katakana, betapa bodohnya aku.” Dia bertanya, sambil melingkarkan tangannya juga di pinggangku, aku menggelengkan kepalaku.
“Tentu saja , tidak. Sekarang setelah kau mengatakan yang sebenarnya, aku menyadari bahwa betapa mudahnya peluru itu ingin membunuhmu, tapi aku senang kau masih bisa bersamaku.” Kataku, menghapus air mataku. Kami saling menarik diri dan saling mengajukan pertanyaaan satu sama lain.
“Kenapa kau tidak memebritahuku sejak awal? Kenapa harus berbohong padaku?”
__ADS_1
“Aku tidak ingin kau khawatir padaku, aku hanya ingin kau berpikir aku pulang karena memang merindukanmu.” Katanya.
Keheninganpun muncul, dan kali ini terasa damai, tidak ada kecanggungan atau kemarahan antara kami.
“Kenny, pencium yang handal.” Dia bekata tiba-tiba. Aku mengedipkan mataku, dia terus berbicara betapa hebatnya dia dalam hal mencium, tapi aku mulai menutup telingaku dengan tanganku yang sama sekali aku tidak ingin mendengar detailnya.
“Maksudku, aku tahu dia bilang dia akan menciumku, tapi laki-laki juga bisa mencium lebih dulu, kan!” dia berseru, sekarang aku bingung.
“Apa maksudmu dia bilang mau menciummu?” aku bertanya.
“Nah begini, saat aku pulang dari terapi, aku singgah di toko bunga mu, kami mengobrol sebentar, dia sangat lucu dan keren, tapi di tengah pembicaraan kami hampir berciuman lagi tapi dia berhenti dan mengatakan bahwa dia ingin membuatnya lebih berkesan atau sesuatu, dan menantangku.”
Aku tidak percaya ini, dua orang yang paling aku percayai diam-diam menyelinap dan berbicara tentang berciuman.
Setelah itu, kami pergi ke ruang tamu dan menonton Tv selama sisa malam itu, Adrian bergabung dengan kami satu jam kemudian dan siaran pertama yang kami tonton belum berakhir, Adrian dan Alan saling melempar popcorn.
Sebelum mereka pergi tidur, aku menyuruhnya untuk membersihkan semua kekacauan yang adadi ruang tamu.
Keesokan harinya, aku bangun . aku berharap melihat Alan menonton TV dengan Adrian, tpi yang aku lihat hanya Adrian saja, dia sedang duduk di meja makan sambil memakan roti selai. Aku kemudian duduk di sebelahnya dan dia dengan lahap mengunyah rotinya.
“Dimana Alan?” Aku bertanya padanya, ini hari minggu, berarti dia tidak ada jadwal untuk terapi.
__ADS_1
“Dia dan Kenny sedang pergi berkencan.” Katanya sambil mengangkat bahu.
“Kencan?” aku bertanya dengan bingung, dia menatapku dan menganggukkan kepalanya.
“Mereka pergi ke mana? Apayang mereka lakukan?” aku bertanya, meraih bahunya dan sedikit mengguncangnya.
“Wow, tenanglah, mereka hanya pergi memakan es krim dan berjalan-jalan, tidak ada yang lain.” Katanya menepuk kepalaku seperti anak kecil yang membuatku menggerutu lagi.
“Apa maksudmu tidak ada yang lain! Apa kau serius? Kakakku dan pegawaiku sedang pergi berkencan, berdua saja!” aku berdiri secar dramatis, Adrian mendatangiku dan meletakkan tangannya di pundak ku.
“Tidak apa-apa, ambil nafas dalam-dalam,” dia mengejekku, aku menjulurkan lidah dan menunjukkan wajah jelekku padanya dan melakukan hal yang sama padaku.
“Jangan meniruku!” Kataku, mendorong dan melewatinya, dia menertawakanku dan dengan cepat muncul di belakangku dan melingkaran tangannya di pinggangku.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat? Mungkin pergi ke Bioskop?” dia menyarankan. Wajahku belum pernah terasa sepanas ini sebelumnya.
“Apa seperti pergi berkencan?” Aku bertanya, mencoba untuk tahu.
“Ya persis seperti itu,” dia berbisik di telingaku. Sebenarnya menonton Film itu sangat membosankan, dia ingin menonton kartun dan itu sangat cocok untuk anak-anak saja.
“Kenapa kau membeli tiket hanya untuk menonton film ini?” aku berbisik di telinganya.
__ADS_1
“Itu satu-satunya film bagus yang di tayangkan di sini.” Katanya. “Dan sepertinya bagus kalau kita menontonnya, atau aku salah yah.” Katanya, menatapku, aku menutup mulut saat tertawa dan memandangnya.
Aku kemudian berhenti tertawa dan memandang mata cokelatnya yang indah, aku tidak bisa memalingkan pandanganku padanya. Kami begitu dekat sekarang, nafas kami bercampur jika kami memajukan sedikit kepala kami, aku merasa gemetaran. Hidungnya menyentuh bibirku, sedikit menggosok bibirku dan saat bibirnya hendak menyentuh bibirku, apakah aku akan menikmatinya? Perlahan aku menutup amatku, menggerakkan bibirku lebih dekat ke bibirnya, bibir kami hampir bersentuhan dan tiba-tiba saja lampu bioskop menyala, anak-anak dan orang tua segera keluar dari ruangan, mataku terbuka dan aku segera menarik kepalaku menjauh dari kepalanya dan berdiri berjalan di depannya dan keluar dari gedung bioskop. Aku merasa benar-benar bodoh karena hampir saja membiarkannya menciumku, tapi aku juga merasa pusing dan bersemangat kalau dia sebenarnya ingin menciumku. Uhh aku merasa kacau.