Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 71


__ADS_3

“Kau tidak akan sendiri lagi. Aku tidak peduli kau berada di mana, di ruang ganti, di kamar mandi atau di manapun itu, kau tidak akan sendirian lagi, kau mengerti maksudku kan?”


Kami sekarang berada di rumah sakit, aku sedang duduk di atas bed pemeriksaan dengan kertas X-Ray di bawahku, hasil foto Rontgen pergelangan tanganku yang patah, yang sedang tergantung di dinding sebelah ku, lenganku yang sekarang mulai di operasi.


Setelah Stefan meninggalkan toko bunga, aku meringkuk, memegangi pergelangan tanganku sambil menangis, rasa sakit yang menjalar, urat nadiku dari pergelanganku yang hampir putus dan rasa sakit di hatiku, semuanya begitu terasa. Seorang wanita menemukanku saat dia berjalan-jalan di sekitarku, dia mendengar keributan yang terjadi di toko, dia mendengar teriakan dan tangisanku, dia tidak langsung masuk ke toko, tapi langsung menghubungi polisi dan setelah Stefan menghilang, polisi pun baru datang. Aku langsung di bawa ke rumah sakit, aku tidak berbicara ataupun mengeluarkan suara apapun dari mulutku. Polisi itu menemukan nomor Alan yang tercatat di dalam dompetku danmenghubunginya dengan segera, Alan marah-marah dan berteriak, yah dia sangat marah karena semua ini terjadi padaku an sekarang aku tidak bisa lagi sendirian tanpa pengawasan dari seseorang. Aku merasa seperti anak kecil, selalu harus di awasi dan di rawat, dan aku benci itu.


“Apa kau mendengarku Alice?! Ini serius! Dia menyakitimu dan kau berbohong kepada polisi, Ya Tuhan!” alan menjerit, aku tidak ingin membohongi mereka, tapi kurasa kebiasaan lama sangat sulit untuk tidak berbohong, kapan pun hal ini bisa terjdi, aku akan berbohong pada semua orang yang aku cintai dengan mengatakan kalau aku terjatuh atau terluka sendiri, aku mengatakan pada polisi kalau aku membawa vas bunga besar dan saat aku meletakkannya di rak vas itu terjatuh karena sangat berat, mereka percaya-percaya saja.

__ADS_1


“Ya, aku mendengarmu.” Kataku sambil memandangi tanganku di jahit, aku memutar-mutar jari-jariku, tidak ingin melakukan kontak mata dengan siapa pun, mereka semua tampak marah dan kesal denganku dan Stefan. Adrian duduk di depanku dengan tangan bersilang di dada dan ekspresi kosong terpampang di wajahnya.


“Alice, ini sangat serius, dia menyerangmu! Secara fisik dan mental! Dan kau bertindak seolah itu bukan masalah yang besar?” alan membentakku, aku tidak menjawabnya, aku hanya menutup mataku, aku mendengarnya dengan marah, dia mengambil kunci mobilnya dari meja dan berjalan keluar dari kamar tindakan rumah sakit.


Adrian mengantar kami pulang setelah itu, di dalam mobil benar-benar sunyi, aku bisa mendengar Adrian bernafas berat saat dia mencengkram setir. Begitu kami berhenti di jalan masuk, menuju rumah,mobil Alan tidak ada di sana, kami berdua tidak mengatakan apa-apa, hanya terdiam, Adrian langsung pergi ke kamarnya dan aku juga pergi ke kamarku, hanya saja aku tidak pergi tidur.


Mataku terasa lelah tapi tidak mau tertutup, hati ku lelah tapi tidak bisa berhenti tersakiti. Aku ingin menyerah dan melepaskan semuanya. Aku mendengar pintu ku berdecit terbuka dan kepala ku tersentak, sosok gelap menjulang di pintu, jantungku mulai berdegup kencang dan detak jantungku semakin cepat. Aku berteriak dan melempar bantal ke arahnya, lenganku berayun ke segala arah dan suara ku menjerit tanpa henti. Aku merasakan tangan memegang tanganku dan menyematkannya ke sisiku, aku mendengar suara  yang mencoba untuk menenangkanku.

__ADS_1


“Alice, Alice, sstt. Ini aku, Adrian.” Mataku terbuka dn aku melihat pria tampan yang protektif di atasku, aku terdiam dan menatap matanya dan dia juga menatapku, dia bisa melihat ketidak berdayaannya diriku dengan tatapan ketakutan. Emosiku terlalu gila dan kuat untuk menyembunyikannya, dan dia melihat semuanya, alisnya turun dengan ekspresi prihatin dan tangannya segera melingkariku. Dia merangkak ke tempat tidur di sebelahku dan kepalaku bersandar di dadanya saat dia memelukku ke dalam pelukannya, dia merasa begitu hangat dan aku merasa dilindungi olehnya.


“Dia sngat marah padaku, kan?” aku bergumam di dadanya. Aku merasakan Adrian mengusap lenganku.


“Dia tidak marah, dia hanya kesal dan takut. Kami semua mengkhawatirkanmu.” Aku merasakan bibirnya bersentuhan dengan kepala bagian atasku, dia begitu lembut dan merasa simpatik padaku. Aku tahu, aku jatuh cinta padanya, aku hanya berharap dia selalu ada menemaniku di saat aku terjatuh.


 

__ADS_1


__ADS_2