Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 18


__ADS_3

Ruang pertemuan adalah sebuah ruangan yang besar tempat biasanya semua dokter akan bertemu untuk membahas hal-hal penting. Ruangan itu di gunakan saat orang-orang penting datang ke rumah sakit untuk konferensi. Ruangan itu sangat besar dan Anastasya belum pernah kesana. Tapi dia tahu dimana itu.


Anastasya bergegas menuju ruangan itu dan melihat pintunya setengah terbuka. Seseorang bicara dengan nada yang ceria. Itu adalah suara yang dia kenali, suara jantan, suara yang di isi dengan hati-hati, itu adalah suara Alex. Tapi dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam nada suaranya, rasanya suaranya sama tapi kepribadiannya saja yang berubah.


Anastasya mengintip kedalam dan melihat Alex berdiri dengan seragam tentaranya, senyum di wajahnya. Alex duduk di salah satu kursi. Ada orang lain juga di ruangan itu, orang yang tak dikenal; seorang wanita, dua pria dan seorang gadis muda duduk disebelahnya. Mereka mungkin adalah keluarganya. Wanita itu agak mirip dengan Alex, jika di pikir yang satunya pasti ibunya Alex. Salah satu di antara mereka adalah seorang tentara juga sehingga yang lainnya pastilah ayahnya, pikir Anastasya.


"Alex," kata pria paruh baya itu, "mengejutkan, semangat anggota yang lain berubah saat kau pergi. Sekarang semua orang akan sangat senang saat kau kembali."


"Tidak mungkin," gadis muda itu tiba-tiba memotongnya dengan keras, "Alex, kau baru saja pulih, kau tidak bisa kembali. Kita perlu bersenang-senang sekarang."


"Semua orang tertawa, mungkin mereka berpikir itu adalah hal yang kekanak-kanakan untuk dikatakan.


"Aku tidak akan kembali," kata Alex saat dia mencubit pipinya dengan penuh perhatian, "...segera, jangan khawatir."


"Aku tidak mau kehilangan dirimu lagi, kakak." katanya dengan mata berkaca-kaca.


"itu tidak akan," kata Alex berkedip padanya.

__ADS_1


Sekarang Anastasya mengerti bahwa gadis itu adalah saudara perempuannya. Melihat begitu banyak cinta di antara mereka membuat hatinya bahagia. Anastasya tidak tahu kenapa, Itu hanya menyentuh hatinya.


"Aku merasa tersentuh, mengetahui bahwa kau sudah membaik lagi, nak. Kau tahu perasaan kita tidak begitu baik di rumah." Kata pria itu.


Kemiripannya terlalu mencolok! Itu pasti ayahnya.


"Aku juga tidak," kata suara seseorang.


Anastasya membuka sedikit pintu untuk melihat siapa yang bicara dan kemudian dia melihatnya.


Itu seorang wanita, dia tinggi dengan rambut pirang panjang dan mengenakan kemeja biru cerah dengan celana panjang hitam ramping. Sepasang sepatu 'high heels berwarna biru melengkapi wanita itu. Dia sangat cantik, tapi siapa dia?


Perempuan itu pacarnya? Apa-apaan, Dia punya pacar?


Anastasya segera mundur sesaat air mata membasahi pipinya. Dia meletakkan tangannya di atas mejah sebelahnya. Tiba-tiba dia merasa hatinya hancur. Dia tidak bisa menghentikan air matanya. Jantungnya berdenyut kencang dan dia merasa kepalanya kosong.


Segala sesuatu tampak seperti kebohongan besar, Tidak! Mungkin aku yang terlalu berharap. Pikirnya.

__ADS_1


"Ini adalah kesalahanku, aku memiliki terlalu banyak harapan, aku pikir dia akan mencintaiku," Anastasya berbisik ketika dia menangis. "Bodoh!" Anastasya mengutuk dirinya sendiri ketika dia duduk di koridor dan menangis. Untungnya tidak ada orang yang melihatnya saat itu.


Anastasya meletakkan tangannya di mulutnya dan dia berteriak. Merasa sangat kesepian dan sangat marah pada dirinya sendiri, kenapa? Dia tahu kalau dia memiliki terlalu banyak harapan. Bagaimana dia bisa berpikir kalau Alex akan jatuh cinta padanya.


Tiba-tiba dia mendengar langkah kaki, dia langsung menyeka air matanya dan lari darisana, wajahnya tampak merah. Anastasya berlari keluar dalam kegelapan dengan semua energi yang tersisa, tidak tahu apa yang harusnya dilakukan dan dipikirkannya.


Tiba-tiba Anastasya mendapati dirinya di depan kolam. Semuanya tampak begitu menakutkan dalam kegelapan ini.


"Oh, Alex.." Anastasya terisak lagi saat dia menjatuhkan dirinya dirumput.


Dia berada di sana selama beberapa menit dan air matanya terus mengalir di pipinya.


"Anastasya!"


Anastasya dengan cepat melihat ke belakang dan melihat, Alex. Dia benar-benar terlihat berbeda bahkan suaranya juga berbeda.


Mudah-mudahan agak gelap terlihat, sehingga Alex tidak akan bisa melihat kalau aku baru saja sudah menangis. Pikir Anastasya.

__ADS_1


"bisakah aku duduk bersama temanku selama beberapa menit?" Alex bertanya dengan sopan dan suara beratnya.


__ADS_2