Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 63


__ADS_3

Alice POV


 


Aku merasa sangat malu dengan perilaku Kenny, aku tidak percaya dia hanya berdiri di sana seperti patung dan hanya menatap mereka. Aku membawanya ke halaman belakang darp pandangan Adrian dan Alan.


“Apa kau sudah gila! Kau hanya berdiri di sana dan hanya menatap mereka, tidak membersihkan pecahan pot yang kamu tidak sengaja buang.” Teriakku berbisik.


“Maaf, aku tidak sengaja, aku kaget karena melihat dua  cowok tampan berdiri di hadapanku, terutama pada kakakmu, itu membuatku lengah.” Dia mengangkat bahunya seolah itu bukanlah masalah besar, sejujurnya aku tidak merasa yakin, dia merasa sangat tersanjung pada mereka berdua. Yang bisa ku lakukan hanyalah mendesah dan berjalan menuju pintu.


“Mereka tidak setampan itu.” Kataku dan berbalik.


“Ya, tentu saja kau tidak melihatnya setampan itu karena dia saudaramu. Tapi bagi cewek lain di luar sana, pasti mereka melihatnya sangat tampan, termasuk aku. Dia juga sangat imut.” Dia tersenyum nakal padaku, pipiku memerah sedikit dan telingaku terasa terbakar.


“Ayo, kita pergi saja.” Aku bergumam pelan, kami berdua berjalan keluar untuk melihat Alan dan Adrian sedang duduk saling berbicara, aku bisa melihat Alan sedang membicarakan sesuatu untuk mengakhiri percakapan mereka dan menatap kami dengan senyum lebar, aku memandang curiga padanya dan ingin tahu apa yang dia rahasiakan, tapi aku mengabaikannya. Kenny dengan rasa percaya diri berjalan ke arah mereka dan mengulurkan tangannya.


“Halo, kalian.” Ucapnya dengan aksennya.”Maaf, soal tadi. Aku hanya sedikit terpana melihat kalian. Namaku Kenny.” Dia tersenyum, Alan menggenggam tangannya dan menariknya lebih dekat padanya.


“Wah, halo, Kenny, aku Alan dan apa itu ksen sunda yang aku dengar barusan?” Dia mengedipkan mata padanya, Kenny terkikik dan menganggukkan kepalanya. Mereka kemudian berbincang-bincang yang tidak ingin aku dengarkan, aku berjalan kembali menuju bunga-bungaku dan melihat perkembangan bunga-bunga yang lain. Ada yang yang segar, ada yang mulai mau bermekaran da nada yang sedikit mulai layu . aku kemudian menyiram satu demi satu setiap pot. Saat aku mulai menyiram yang lainnya, aku merasakan ada tangan hangat berada di punggungku dan meluncur kebawah di atas pantatku.


“Semuanya indah sekali yah, bisakah aku memetiknya satu dan memberikannya padamu?” kata Adrian, aku hanya menganggukkan kepalak, aku tidak bisa berkata apapun karena tangannya serasa membkar kulitku, sulit bernafas. Jari-jarinya mulai bergerak dan menelusuri punggungku dan membuatku merasa geli, rasanya sangat intim jika dia seperti itu. Aku merasakan tangannya meluncur ke bahuku, emngikuti lekuk tulang belakangku.


“Apa kau baik-baik saja Alice?”  Dia bertanya, dia sangat beitu dekat, aku bahkan bisa mencium aroma tubuhnya, baunya seperti bunga-bunga yang ada di sekeliling ini, tapi dia beda. Aku bisa merasakan napasnya melayang di leherku membuatku menggigil ketakutan dan kesennagan.


“Aku baik.” Aku tersedak, dia menepuk pundakku, dari sudut mataku, aku bisa melihatnya tersenyum tapi perlahan-lahan berubah menjadi seringai angkuh, seakan dia membuatku masuk dalam jebakannya. Y ampun, salah..


 


Hari berikutnya..

__ADS_1


 


Hari ini adalah hari kamis, biasanya hari ini aku pergi ke toko tapi, aku tidak ada alas an ke sana. Kenny sudah ada di sana, dia pasti bisa menangani semuanya di toko. Pada hari libur, aku tidak banyak kegiatan, biasanya hanya menonton TV, atau memutar DVD. Tapi sayangnya DVD ku rusak jadi, aku ke toko elektronik.


Saat cuaca di luar rumah, hangat. Aku biasanya ke taman untuk berjemur di bawah sinar matahari. Saat aku berjalan keluar kamar, aku melihat seluruh dapur, wajan dan panic tersusun rapi, tidak ada telur yang gosong, sangat bersih. Aku mendengar gerutuan, kemudian menguap di belakangku, aku menoleh dan melihat Adrian merentangkan tangannya ke atas kepalanya, bajunya naik sedkit memperlihatkan otit-otot perutnya. aku memalingkan wajahku dan tidak ingin ketahuan kalau aku melihatnya.


“Di mana Alan?” Aku bertanya dan tidak menatapnya.


“Dia tadi pagi keluar, aku tidak tahu, mungkin bertemu seseorang yang sudah menjual apartemennya.” Katanya berjalan melewatiku.


Aku melihat jam dengan bingung, pukul 6.45 pagi, masih terlalu dini untuk melakukan aktivitas dengan seseorang di luar sana, pikirku.


“Jadi, apa yang kana kita lakukan pagi ini?” Adrian bertanya, mengambil mangkuk. Aku memandangnya bingung.


“Kita? Aku pikir kamu sendiri yng ingin melakukan sesuatu. Ini hari liburku jadi aku berencana melakukan sesuatu yang biasa aku lakukan.” Aku mengambil buku ku dari meja samping dan beristirahat di sofa.


“Hanya itu yang ingin kau lakukan hari ini? Hanya membca saja?” Katanya, sepertinya dia mengejekku.


“Itu membosankan, uh. Aku ingin melakukan sesuatu.” Katanya, meletakkan mangkuknya di westafel.


“Aku suka dengan kedamaian dan ketenangan di hari liburku.” Aku berharap itu akhirdari percakapan kami, tapi sayangnya tidak.


“Yah, kalau menurutku sih, itu tidak akan bagus.” Dia bangkit dan pergi ke kamar mandi. Aku menghela nafas lega dan menyerap diriku dalam romansa para Ksatria dengan baju besi yang bersinar dan pangeran dan putri mengenakan pakaian yang indah dan bagus.


Saat aku membaca, aku melepaskan diri dari seluruh dunia sejenak. Hanya ada buku dan diriku saat ini, aku merasa sudah setengah jam berlalu, aku merasakan bantal di sebelahku dan bukuku robek dari tanganku. Tepat pada bagian Ksatria hendak mencium sang putri.


“Apa yang sedang kau lakukan?” kataku, masih agak kesal karena dia mengejekku.


“Kita akan keluar, aku sudah menyiapkan beberapa makanan dan kita akan meninggalkan rumah.” Aku bingung.

__ADS_1


“Apa maksudmu kita akan keluar?” aku berkata mencoba meraih buku ku. Tapi dia memegangnya di atas kepalanya sehingga mustahil aku menjangkaunya.


“Maksudku, aku sudah menyiapkan keranjang piknik, kita akan keluar dan pergi kesuatu tempat dan duduk bersama memakannya.” Dia kemudian bangkit, meraih kunci mobilku, keranjang dan terpal. Kemudian keluar.


“Tapi di luar masih dingin!” aku berteriak mengejarnya.


“Pakailah jaket.” Katanya dan mengangkat bahunya. Aku duduk di sana mengpal rahangku, frustasi  karena dia menghancurkan buku ku dan merusak mood ku saat ini. Dengan enggan, aku bangkit dan mengambil jaketku. Adrian sedang menungguku dengan sabar di mobil dan bahkan tersenyum atau bisa di bilang dia sedang menyeringai saat aku duduk.


“AKu senang sekali, akhirnya kau mau pergi bersamaku, aku takut kalau aku akan makan sendiri.” Aku pikri dia berusaha membuatku  tertawa atau meredakan ketegangan tapi kurasa tidak berhasil. Dia menyalakan mesin mobil dan kemudian pergi, aku bersandar di jendela dan melihat  rumah-rumah melewati kota dan aku kemudian tertidur.


Aku terbangun saat merasakan mobil berhenti, aku membuka mataku perlahan dan melihat padang rumput yang membentang sejauh beberapa mil. Aku duduk dan melihat jam sudah melewati pukul sebelas.


“Kau membawaku kemana? Kau mengemudi selama hampir dua jam.” Aku tidak percaya, dia membawaku sejauh ini.


“Ketempat yang tenang dan damai, seperti kesukaanmu.” Katanya.


“aku sungguh tidak tahu.” Aku marah, aku barus saja mau berteriak padanya tapi dia menghentikanku.


“Nenekku biasa membawa ku dan adikku ke sini saat kami masih kecil dulu. Kami biasanya tinggal di sini sepanjang hari dengan berjemur, mengobrol dan makan. Dia selalu membawa irisan semangka segar langsung dari kebunnya, dengan roti selai kacang.” Dia tersenyum seolah-olah dia mencicipinya. “jadi aku pikir, akan menyengkan kalau aku mengunjungi tempat ini lagi.” Aku tidak pernah menganggap Adrian sebagai orang yang bertipe sentimental, saat ini aku memandangnya dengan cara yang berbeda saat ini. Dia bukan tentara ataupun oorang bodoh, tapi aku memandangnya sebagai seorang laki-laki yang perhatian dan makan.” Dia tersenyum.


Untuk pertama kalinya dia memberikan senyum an yang tulus dan itu adalah senyum yng sangat manis dan menawan. Kami berjalan sekitar lima menit, dan kami sampai di sebuah pohon yang berdiri di atas bukit, sebagian besar dedaunan berwarna hijau segar, aku suka musim semi, karenanya, semua pohon berubah berwarna hijau segar dan indah. Adrian meletakkan terpal di bwah pohon yang memberikan keteduhan yang luar biasa dan meletakkan keranjang lalu menepuk tempat di sebelahnya yang  tandanya menyuruhku untuk duduk. Perlahan aku mengikuti ajakannya, aku emmastikan ada banyak ruang di sebelah kami sehingga kami tidak bersentuhan.


“Jadi, karena kau tidak punya irisan roti, aku membuat telur sosil roll dengan beberapa buah dan minuman, di kulkas kau hanya memiliki jus manga jadi aku mengambilnya.” Mau tak mau, aku emrasa tersanjung dengan pekerjaan dan usaha yang dia lakuakan untuk menyiapkan semua ini untuk kami.


“Wow, aku tidak kalau kau bisa membuat semua ini, hebat.” Kataku sambil mengambil telur sosis roll.


“Yah biasa saja,  aku sering membuatnya akalu aku lagi mau membuatnya.” Katanya sambil mengambil salah satu buah yang ada di keranjang dan memakan anggur.


“Ok, terima kasih atas semuanya, aku sangat menghargainya.” Setelah itu yang kami lakukan hanyalah makan, ada sedikit obrolan tapi tidak sebanyak itu, kami mendengar kicauan burung-burung dan hembusan angina menghempaskan dedaunan di pohon dan rumput-rumput yang ada di sekitar kami. Sangat indah dan damai.

__ADS_1


Adrian berbaring di bawah pohon dengan lengannya menutupi kepalanya, matanya tertutup dan pergelangan kakinya bersilang. Aku hanya menatapnya untuk pertama kalinya sejak dia datang ke sini, aku benar-benar menatapnya. Rambutnya yang hitam lebat, ditiup angin dan terjatuh di atas wajahnya, aris rahangnya tajam, hiungnya tampak bengkok seperti habis di tinju sebelumnya, bibirnya tipis berwarna merah muda merekah. Dia memiliki otot, hanya itu yang ada di tubuhnya, bagian dadanya terlihat lebar dank eras juga perutnya terlihat kencang. Dan tangannya, aku yakin tangannya besar. Aku bertanya-tanya bagaimana caranya dia bisa memiliki tubuh seperti itu, wajahku merahpadam saat pikiranku itu terlintas di benakku, aku memalingkan wajahku, aku tidak ingin tertarik padanya atau sedag memikirkan hal-hal tentang dirinya, itu salah dan aku tidak ingin jatuh cinta padanya.


__ADS_2