
Beberapa bulan berlalu dan mereka semua masih berduka atas kepergian Ibunya. Vania mencoba yang terbaik untuk menjaga energinya tetap positif untuk anaknya. Dia ingin agar anaknya terlahir dengan bahagia, bukan depresi. Hari pemeriksaannya tiba, Vania dan Frans pergi ke dokter.
Sesampainya di klinik kandungan, mereka berdua menunggu antrian. Dan tiba saatnya giliran Vania untuk di periksa. Dokter memberi intruksi agar Vania duduk di atas Brankar dengan mesin USG di atas perutnya, mereka melihat kea rah monitor.
"Sekarang kamu melihat kepala itu?" Dokter bertanya. Mereka berdua mengangguk. "Itu anakmu. Tunggu sebentar, aku melihat ada dua kepala."
"Apa yang kamu katakan, dokter?" Vania bertanya.
"Kalian akan memiliki anak kembar!" Vania dan Frans saling memandang dan tersenyum. Frans meraih tangannya.
"Kita akan memiliki anak kembar." Dia berkata, tersenyum.
"Apa kamu senang dan bahagia?" Vania bertanya.
"Tentu saja sayang. Aku merasa seperti pria yang paling beruntung di dunia." Frans menciumnya.
"Sekarang, apakah kalian ingin tahu jenis kelamin anak kembar kalian?" Dokter bertanya. Mereka saling berpandangan satu sama lain.
"Apakah kamu ingin tahu?" Vania bertanya.
"Yah, tentu." Frans tersenyum padanya. "Ya, kami ingin tahu jenis kelaminnya." Dokter tersenyum dan bangkit. Dia kembali dengan selembar kertas.
"Sepertinya kalian akan memiliki satu anak perempuan, dan satu anak laki-laki."
"Ya Tuhan, aku berterima kasih padamu. Anak kembar emas adalah selalu yang kami inginkan." Kata Frans. Mereka saling mencium lagi.
Setelah selesai memeriksa kandungannya dengan dokter, mereka memutuskan untuk mulai pergi belanja perlengkapan untuk anak kembar mereka. Frans terus memilih pakaian yang lucu untuk gadis kecilnya dan Vania memilih pakaian yang manis untuk pria kecilnya. Mereka membeli kereta bayi dan dua boks bayi. Setelah kembali ke rumah, mereka membawa semua barang bayi ke kamar bayi yang sudah mereka persiapkan beberapa minggu yang lalu. Mereka mulai mengatur tempat tidur dan tiba-tiba Bram masuk.
"Kenapa kalian punya dua boks bayi?" Bram bertanya.
"Kami akan segera memiliki anak kembar!" Kata Frans bersemangat. Wajah Bram di penuhi dengan sukacita.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Kami memiliki keduanya." Vania berkata.
"Itu bagus. Ada yang bisa aku bantu?" Mereka berdua mengangguk dan Bram membantu mereka untuk mengatur dan menyiapkan kamar bayi. Kemudian, Vania membuat makan malam dan mereka semua duduk di meja. Mereka mulai makan dan berbicara.
Kringgggg! Telepon berdering.
"Biar aku yang mengangkatnya." Kata Frans sambil bangkit. Dia berjalan ke dapur dan mengangkat telepon.
"Halo?"
"Bolehkah aku berbicara dengan Frans A. Samuel?"
"Anda siapa? Dan dengan siapa aku sedang berbicara?"
"Ini Letnan William. Saya sudah berusaha menghubungi Anda selama beberapa hari terakhir."
"Ada apa, Pak?" Dia terkejut mendengar panggilan darinya.
"Anda di rekrut kembali. Kami membutuhkan Anda dalam waktu sekitar tujuh minggu. Anda tahu konsekuensinya jika Anda tidak datang. Semoga kita bisa bertemu dengan segera, prajurit.
"Tapi…" belum sempat Frans menjawa, Letnan sudah menutup telepon. Frans meletakkan gagang telepon. Dia berjalan kembali ke meja makan dan kemudian duduk.
"Siapa itu, sayang?" Vania bertanya, memperhatikan kesedihan di mata Frans.
"Orang salah sambung." Frans dengan cepat berkata. Dia tidak yakin apakah dia ingin memberitahunya. Dia sudah berjanji padanya bahwa dia tidak akan pergi lagi ke kemiliteran.
"kalau itu salah sambung, kenapa kamu begitu lama bicara?"
"Hmm, dia bertanya kepada ku, apakah dia berbicara dengan orang yang dia ingin hubungi atau tidak, dan aku menjawabnya tidak dan anda salah sambung.”
"Oh, oke. Ayo lanjutkan lagi makanmu."
Satu setengah bulan berlalu. Frans masih memikirkan apa yang dikatakan Letnan tempo hari. Dia tahu dia seharusnya tetap tinggal, tetapi dia harus pergi. Dia tahu dia tidak bisa meninggalkan anak kembarnya, ataupun Vania. Semuanya sangat rumit, pikirannya kacau.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, yang mereka tunggu-tunggu pun tiba.
"Frans! Air ketuban ku sudah pecah! Awhh." Vania menjerit. Frans berlari ke arahnya dan mengangkatnya masuk ke dalam mobil. Dia mencoba yang terbaik untuk tetap tenang. Bram mengikuti. Frans bergegas menuju ke rumah sakit. Petugas mengeluarkan Vania dari mobil dan menempatkannya di atas Brankar dan membawanya menuju ruang bersalin. Bram tinggal di ruang tunggu. Beberapa jam kemudian, anak kembar mereka lahir. Frans menggendong putrinya, sementara Vania merangkul putranya di atas tempat tidur. Mereka saling mengecup.
"Jadi, nama apa yang paling bagus kita berikan pada dua anak mungil kita ini?" Tanya Frans.
"Untuk anak laki-laki kita akan ku beri nama, Alvin."
"Dan yang perempuan, Alice. Alvin dan Alice." Mereka berdua tersenyum dan memanggil Bram. "Bram, tolong sapa keponakanmu, Alvin dan Alice"
"Itu nama yang indah." Bram tersenyum. "Bisakah aku menggendongnya?"
"Tentu saja." Frans memberikan Alice pertama, dan kemudian beralih ke Alvin. Sementara Vania memegang Alice dan Bram memegang Alvin, mereka kagum. Alice mengambil mata cokelat ayahnya, sedangkan Alvin mengambil mata hitam indah ibunya.
"Mereka sempurna." Kata Frans, dengan berlinangan air mata.
Setelah beberapa hari Vania di rumah sakit. Ia di izinkan dokter pulang. Mereka kemudian memawa bayi-bayi kecil mereka pulang ke rumah dan menempatkan mereka di tempat tidur mereka.
"Mereka sangat imut." Vania berkata.
"Itu karena mereka mengikuti kita." Frans melingkarkan tangannya di pinggang Vania.
"14 April adalah ulang tahun anak-anak kita."
"Senang rasanya mengatakan ‘anak-anak kita’." Dia tersenyum.
"Ya. Andaikan ibu kita ada disini bersama kita. Ibu pasti akan mencintai mereka sepenuh hati."
"Iyah andai saja ibu kita ada bersama kita."
"Ya, andai saja. Aku sangat merindukannya." Dia menutup matanya, mengingat kedua wajah mereka. "Frans?" Dia membuka matanya dan menatapnya.
"Ya?"
"Karena aku ingat saat mengatakan kalau kita akan menamainya Alice? Ibu sangat menyukai nama itu, bukankah ibumu dulu nama tengahnya Alice. Aku yakinanak kita memiliki jiwa seperti ibumu."
"Ya. Dia cantik, sama seperti Ibuku." Vania memandangi putrinya yang cantik.
"Sekarang, beri tahu aku kenapa kamu menamai putra kita Alvin." Dia menyeringai.
"Aku tidak tahu. Hanya saja aku suka nama itu."
"Lebih baik kita memberinya nama bukan karena orang lain." Mereka berdua tertawa. "Hati anak-anak kita akan hancur hati, jika mereka tahu nanti?"
"Kenapa bilang begitu?" Alisnya berkerut.
"Karena anak-anak kita cantik dan tampan. Anak laki-laki kita akan menghancurkan semua hati para wania nanti dan anak perempuan kita akan menghancurkan hati para pria dengan menolak mereka. Dia tidak boleh berkencan atauberpacaran dengan siapapun sampai dia berusia dua puluh."
"Umurku 20 dan aku sudah punya dua anak." Vania tertawa.
"Kalau untuk kita berdua, yah tidak apa-apa. Tapi untuk Alice kecil kita ini, dia tidak boleh berkencan atau berpacaran sampai aku bilang dia boleh." Dia meletakkan tangannya di perut Alice dan dia tersenyum. "Dia akan fokus pada sekolah dan menjadi anak yang berprestasi. Dia-"
"Sayang, dia masih berumur beberapa hari dan kamu sudah merencanakan masa depannya?"
"Aku ayahnya. Itu yang aku lakukan."
"Jadi, bagaimana dengan Alan?"
"Alan bisa berkencan dan berpacaran dengan usia berapa pun yang dia inginkan. Tapi dia juga akan menjadi siswa terbaik di sekolahnya nanti.”
"Dan bagaimana jika dia tidak seperti itu?"
"Kalau begitu, kakak perempuannya yang akan menguasainya." Mereka berdua tersenyum dan menyaksikan bayi-bayi mereka tertidur.
__ADS_1
Telepon berdering.
"Aku mau mengangkat telepon dulu." Frans berjalan ke bawah untuk mengambil telepon.
"Halo?"
"Bisakah aku bicara dengan Frans?"
"Iya, saya sendiri."
"Nick, ini Letnan William, masih ingat saya?"
"Bagaimana mungkin aku lupa?" Dia memutar matanya.
"Sekarang, Nak. Kamu tahu kamu harus ada di sini hari ini."
"Anak-anak ku baru saja lahir hari ini, Pak. Bagaimana mungkin."
"Aku mengerti, tapi aku tidak bisa mengubah peraturan, di tambah lagi kami membutuhkanmu di sini."
"Apakah situasinya masih buruk, Pak?"
"Ya, benar. Dan aku memeriksa berkas Anda; Anda tidak pernah mengecewakan kami."
"Aku tahu, Pak. Tapi aku tidak ingin mengecewakan keluarga ku."
"Kami tidak pernah ingin melakukan itu kepadamu, tapi terkadang ada hal-hal yang harus kami lakukan."
"Tapi, Pak ..." Dia menghela nafas.
"Nak, kamu tahu, kalau kamu tidak muncul kamu akan ditangkap."
"Ya aku tahu, Pak."
"Kami akan menunggumu hari senin depan." Dia kemudian menutup telepon.
"Siapa yang menelpon?" Frans berbalik dan melihat Vania.
"Tidak. Bukan siapa-siapa, sayang.”
"Jangan bohongi aku, Frans Samuel." Mereka berdua tahu kalau salah satu di antara mereka ada yang marah atau tidak penuh dengan kesabaran, pasti mereka saling menyebut nama panjang masing-masing.
"Itu telepon dari Letnan William." Dia menghela nafas.
"Dan apa yang dia inginkan?"
"Dia ingin, agar aku kembali menjaga perbatasan."
"Apa? Sekarang kamu menjadi seorang ayah!" Alisnya terbentuk bersama, menunjukkan ekspresi bingung.
"Aku tahu sayang, aku tahu itu."
"Tolong katakan padaku kamu tidak akan pergi ke sana."
"AKu tidak punya pilihan, sayng." Frans memegang tangannya.
"Kamu tidak boleh pergi!" Vania menarik diri darinya.
"Sayang! Aku tidak punya pilihan! Jika aku tidak pergi, aku akan ditangkap!"
"Bagaimana jika kamu tidak kembali? Apa aku harus membesarkan anak-anak kita sendirian?" Air mata mengalir di mata Vania.
"Tidak, kamu tidak akan membesarkan anak-anak kita sendirian. Kita berdua tahu kan, kalau kita selama ini hidup tanpa ayah, dan aku tidak ingin anak-anakku merasakan hal yang sama yang pernah kita rasakan; anak-anak ini akan memiliki ayah terhebat di dunia." Frans membungkuk untuk menciumnya. Vania meju satu langkah ke hadapan Frans.
"Kamu janji?"
__ADS_1
"Aku janji." Dia tersenyum dan membiarkan Frans menciumnya.