Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 22


__ADS_3

Anastasya POV


Anastasya memandangi pintu yang di cat biru itu selama beberapa detik dan mengetuknya.


Diam.


"Mungkin dia tidak dirumah." Anastasya berpikir sendiri. Saat dia hendak pergi, tiba-tiba seorang gadis mengenakan celemek membuka pintu


"Aku memanggilmu teman beberapa jam yang lalu dan sekarang aku mendapatkan...." gadis itu terhenti, "....Astaga.. Anastasya?"


"Hei," Anastasya tersenyum ragu-ragu.


"Astaga!" Pekiknya, tampak heran.


Setelah banyak adegan pelukan. "Oh. Sudah begitu lama yah.." mereka berdua masuk kedalam rumah dan duduk di ruang tamu.


"Wow!" gadis itu berbisik, "Jadi, sekarang kau sudah benar-benar sembuh? Itu luar biasa! Sekarang kau bisa kembali bekerja."


"Aku rasa, aku tidak bisa kembali ke toko bunga, Maya." Jawab Anastasya sambil memperbaiki vas bunga di depannya, "ini mengingatkanku pada saat aku mengalami gangguan mental."


"Jangan khawatir," Maya menjawab dengan senyum menghibur, "Aku mengerti sekarang, apa yang bisa aku bantu?"


"Kau baik sekali." Anastasya berkata, "aku ingin kau memberitahuku dimana aku bisa menemukan rumah sewa yang muraj."


"Rumah?" Maya menggema dengan alis bingung, "apa yang terjadi dengan apartemen lamamu?"


"Aku harus meninggalkannya, percayalah padaku." Anastasya menjawab, memikirkan Alex. Dia tahu bahwa dokter tidak akan bisa tutup mulut dan akan memberitahu Alex dimana dia tinggal. Tapi sebenarnya Anastasya memang ingin bertemu dengannya.


"Yah, ada sih apartemen kecil didekat sini, tapi itu agak sedikit mahal. Tapi, tidak terlalu mahal sih dibandingkan dengan apartemen lamamu." Maya menjelaskan.


"Yah tidak masalah, aku bisa membayar untuk bulan pertama dengan tabunganku." Kata Anastasya.


"Ok baiklah, setidaknya kau harus mencari pekerjaan baru terlebih dahulu." Maya menambahkan, "dan jika kau tidak menemukan pekerjaan lain, aku takut kau harus kembali ke toko bunga lagi."


"Yah aku harap begitu, setidaknya aku bisa menemukan tempat untuk istirahat." Anastasya menjawab.

__ADS_1


-------


Alex POV


"Yah ibu, jangan khawatir. Aku sudah sarapan disini, dikantor," Alex berkata, "Yah.. aku akan segera kembali, jangan khawatir."


Alex meletakkan ponselnya dan menghela nafas. Dia datang ke markas Intelijen Militer setelah dia mengetahui bahwa Anastasya telah pergi. Itulah satu-satunya tempat yang ada di pikirannya untuk di datangi. Kantor pusat berada beberapa kilometer dari tempat dia berada. Dia tidak ingin melihat Clara, apalagi dia tahu kalau dia akan selalu diterima di tempat kerjanya jika dia datang.


Terlepas dari permintaannya pada atasannya, mereka masih tidak ingin Alex untuk bekerja dan hanya mengundangnya untuk sarapan bersama mereka.


Alex berjalan di koridor, menyapa prajurit disana, sebuah ide muncul dibenaknya dan dia langsung berbalik arah.


"... tidak Alex, aku tidak bisa melakukan itu," Kata temannya sambil mengetuk jari lebih cepat pada keyboard.


"Oh.. ayolah Daniel!" Alex menepuk pundaknya, "..setidaknya kau melakukan hal ini untukku."


"itu masalah pribadimu," Daniel berkata, "jika seseorang menghilang, pergilah ke kantor polisi terdekat. Alat-alat disini murni rahasia untuk penggunaan profesional." Alex melototinya dan temannya hanya acuh tak acuh.


"Baiklah." Alex menjawab, "Aku akan mencari cara lain."


Dia mengendarai mobilnya dengan seringai di wajahnya. Dia pergi ke dokter Jason untuk bertanya dimana Anastasya bekerja sebelumnya. Itu adalah ide yang ada di benaknya. Jika dia menemukan tempat kerjanya, dia pasti akan menemukan teman-teman Anastasya dan pasti mereka akan tahu dimana dia berada.


"Aku akan segera menemukanmu, Anastasya." dia berseru penuh kemenangan dan berhenti tepat di depan sebuah toko dengan nama 'Florist Beauty' tertulis di bagian atas pintu toko.


Dengan penuh tekad, Alex keluar dari mobilnya dan mendekati toko tersebut tapi toko itu tertutup.


"Sial!" Dia meraung sambil mengepalkan tangannya. Dia mengambil nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan dirinya. Setelah itu, Alex memutuskan untuk berjalan-jalan dikota.


"Dia pasti masih berada dikota ini sendiri." Alex berkata pada dirinya sendiri, "tempat kerjanya kan berada di dekat sini.."


Alex berjalan disepanjang jalan dan menemukan kedai kopi untuk meminun secangkir kopi sejenak dan kemudian melanjutkan perjalanannya. Merasa lelah setelah satu jam tidak menemukan hasil, dia memutuskan untuk pulang dan akan kembali keesokan harinya.


Sambil menghela nafas, dia berbalik dan melihat sebuah gedung apartemen besar disana. Dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang terbuka dan melihat ada seorang gadis menyerupai Anastasya, lalu dia tersadar bahwa memang benar itu Anastasya.


Tanpa kehilangan satu detik pun, dia berlari menuju gedung itu dan masuk kedalamnya kemudian menaikki tangga secepat mungkin. Jantungnya berdetak kencang dan merasa sangat bahagia sehingga dia tidak memilih pulang lebih awal.

__ADS_1


"Anastasya, dimana dia? Di pintu mana kamarnya?" Alex bergumam melihat sekelilingnya. "Oh astaga itu dia."


"Apa yang kau lakukan disini?" Anastasya berkata, tiba-tiba dia berhadapan dengannya sekarang. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun merah mudanya dengan rambut cokelatnya yang jatuh di pundaknya. Dia tampaknya sedanh kelelahan dan dia juga sangat membutuhkan tidur. Namun, ekspresinya yang paling jelas saat ini adalah kemarahan.


"Ahaa.." Alex menyeringai, "aku menemukanmu." Anastasya hanya melototinya. "Kau pikir kau bisa lari dariku?" Kata Alex saat dia maju di hadapannya.


"Pergi! Pergi sana.." Anastasya berkata.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana, akan kupastikan hal itu!" Alex menyeringai.


"Kalau begitu, biar aku yang pergi!" dia berkata dengan marah, tapi dia cukup cepat menangkap bahunya dan menempelkannya pada dinding.


"Apa masalahmu?" Anastasya berteriak, pipinya memerah.


"Aku mencarimu seperti orang gila dan kau bereaksi seperti ini, saat kau melihatku?" kata Alex.


"Pergilah!" Anastasya memerintahkan sambil memalingkan wajahnya.


"Kenapa hanya kebencian yang ada?" Alex bertanya padanya, mendekati wajahnya.


"Aku tidak mau bicara denganmu!" balasnya.


"Tapi kau keluar." Alex menyeringai.


"Aku keluar untuk menyirami tanaman yang baru saja aku taruh di sini." Dia membalas.


"Kau baru saja pindah kesini?" Alex bertanya. "Kenapa memang?" Alex tersenyum, "apa aku menyebabkan efek kupu-kupu di hatimu?"


"Diam!!" Anastasya meraung dan mendorong Alex untuk menjauh., "dan yah, aku memang baru saja pindah kesini. Aku tidak ingin bertemu denganmu."


"Oke baiklah," Alex tersenyum, "tapi aku mau, karena aku teman baikmu. Aku akan membantumu membongkar semua barangmu." Menerobos masuk dan mulai berkeliaran di dalam apartemen Anastasya.


"Hei, kau tidak bisa menerobos begitu saja kedalam rumahku seperti ini!" kata Anastasya.


"Ya benar," Alex berguman dengan acuh tak acuh. Anastasya mendesah marah dan masuk kedalam.

__ADS_1


"Kenapa dia tidak mau mengerti kalau aku melakukan ini karena aku tidak ingin menjadi penghalang antara kau dengan pacarmu, dasar bodoh!" kata Anastasya dalam hati. Menggelengkan kepalanya.


__ADS_2