
Sudah lima bulan berlalu sejak Stefan kembali, sejak Alan menceritakan tentang cederanya padaku, aku dan Adrian saling mengungkapkan perasaan kami bahwa kami saling menyukai.
Aku baru saja melepaskan gips ku dari pergelangan tanganku, seminggu yang lalu, tidak ada tanda-tanda Stefan akan muncul, kami tahu dia sedang bersembunyi, dia hanya menunggu waktu yang tepat dan aku semakin takut, aku tahu dia sedang merencanakan sesuatu. Tapi Alan dan Adrian selalu mengalihkan perhatianku dari pikiran negatifku, mereka membuatku sibuk dengan hal-hal yang harus di lakukan. Seperti barang-barang di toko yang harus di rapikan, halaman dan tempat penanaman bunga yang harus di bersihkan.
Setelah hari-hari berlalu, mereka menyuruhku untuk menanam tanaman baru lagi di halaman depan rumah dan memelihara anjing, awalnya aku merasa bagaimana yah, tapi begitu aku melihat anjing itu, aku sangat menyukainya, anjing itu sangat imut dan lucu.
Setelah makan siang, aku mulai kembali menyirami bunga-bungaku, dan pada malam harinya aku duduk di kursi taman dan mengagumi keindahan bungaku. Tapi saat cuaca mulai berubah menjadi buruk, bunga-bungaku mulai rusak karena angin, tapi tidak semuanya, hanya beberapa, yang ada di pot lainnyaS. Dengan lembut aku, membelai bunga-bungaku yang rapuh, kelopak merah muda yang dulunya cerah, sekarang berubah menjadi kecokelatan dan ada beberapa yang layu. Aku bisa mendengar langkah kaki seseorang menghampiriku.
“Di sini sangat dingin, Alice. Masuklah.” Suara Adrian terdengar hangat, membawa perasaan tertentu muncul dalam diriku.
“Kenapa hal yang sangat indah harus mati begitu cepat?” aku bertanya. Itu adalah pertanyaan retoris yang tidak di maksudkan untuk di jawab. Adrian berlutut di sampingku dan melingkarkan tangannya di bahuku.
__ADS_1
“Alasan embun dingin membekukan bunga-bunga itu, untuk menyembunyikan keindahannya dan pada saat musim panas nanti, bunga-bunga akan bermekaran lagi dan menjadi lebih indah, tinggi dan lebih kuat.” Dia menyipkan rambutku di belakang telingaku dan dengan ringan mencium pelipisku.
“Ayo masuk ke dalam.” Dia meraih tanganku dan menarikku ke atas, dia memegangku sambil menyandarkanku di dadanya saat hembusan angin bertiup melewati kami.
Saat kami berjalan melewati pintu dan masuk ke dalam rumah, aku di sambut oleh kehangatan dan kenyamanan. Kami kemudian duduk di sofa dan aku meringkukkan kakiku mendekat ke dadaku dan meletakkan kepalaku di bahu Adrian, mungkin terdengar gila tapi kami tidak melakukan hal lebih dari sekedar berciuman dan pelukan, dan aku menghargai itu.
Ada ketegangan di antara kami, tentu saja tidak akan ada dari kami yang akan mengakuinya, setiap kali kami mencoba untuk berbagi ciuman dan menunjukkan kasih sayang pasti akan selalu ada gangguan, entah itu Kenny dan Alan datang atau kucing yang melompatiku, mengagetkan kami. Itu sangat memalukan dan membuat kami merasa frustasi, seolah-olah kami sedang memikirkan hal yang sama, kami berdua saling memandang, mataku bertemu dengan matanya, aku sangat menyukai matanya, sebagaimana dia berkilau di bawah sinar matahari atau bersinar saat dia tertawa. Matanya mleirik bibirku dan mataku melakukan hal yang sama, kami mencondongkan tubuh kami maisng-maisng, aku tahu ini akan terjadi kali ini, kali ini kaan terjadi.
“Wah, wah wah, apakah aku mengganggu kalian? Alan menggoda dari balik pintu. Adrian menatap Alan dengan tatapan tajam dan yang di lakukan Alan hanyalah tertawa. Selanjutnya, mereka berdua, Adrian dan Alan saling bergulng-guling di lantai, aku mengabaikan mereka.
“Kau benar-benar melakukan itu dengan sengaja, yah.” Adrian menghela nafas, mencoba menjepit Alan di lantai.
__ADS_1
“Melakukan apa?” Alan berkata dengan polos. Mereka seperti anak-anak.
Pada malam harinya, Alan biasanya oergi dan mengajak Kenny keluar untuk berkencan, orang tuanya tidak merestui Alan karena perbedaan usia di antara mereka yang terlalu jauh dan saat ini Kenny masih berumur 20 tahun. aku pikir, Kenny sudah cukup dewasa untuk memutuskan keputusan untuk dirinya sendiri, jadi Kenny menyelinap keluar rumah dan itu hanya membuatnya dalam masalah.
Beralih dari mereka berdua. Aku dan Adrian berjalan-jalan, kami menemukan hal yang kami sukai, berada di alam bebas, yang membuat kami tetap tenang dan rileks. Kami biasanya berjalan melalui taman dan membeli es krim, itu rutinitas kami. Tapi hari ini Adrian membawaku ke tempat rahasia, yang tidak akan pernah aku lupakan. Dia membawaku ke sebuah jalan kecil yang hanya cukup dua orang saja untuk berjalan secara berdampingan, pohon-pohon yang melapisi tepi jalan setapak tampak terlihat tua dan rumputnya sudah mulai meninggi. Di sana terasa damai, tidak ada suara yang bisa di dengar, hanya ada kami berdua. Tiba-tiba Adrian berhenti dan dia mencengkram tanganku dan menarikku ke dalam sebuah pondok kecil yang terlihat tak terawatt, dia menurunkan pandngannya ke arahku, membuatku terasai meirnding dan geli, tangannya menangkupkan wajahku dn dia mneggosokkan hidungnya ke tanganku.
“Tidak ada yang bisa menghentikan kita sekarang.” Dia berbisik. Aku bisa merasakan bibirnya menyentuh bibirku, lalu kemudian kami berciuman.
Hujan mulai turun, kami mendongak, Adrian menghela nafas, terasa romantic. Aku terkikik dan merentangkan tanganku, berputar-putar di tengah hujan. Adrian hanya berdiri di sana dengan seringai di wajanya, aku berlari menghampirinya dan meraih tangannya kemudia berputar bersamaku. Kami tertawa dan menari, rambut kami menempel di wajah kami dan pakaian kami basah kuyup.
Saat kami berputar-putar, Adrian tersandung dan kami jatuh ke tanah, tapi tidak masalah, kami tertawa sepanjang jalan. Aku menarik rambutku keluar dari mataku dan melakukan hal yang sama padanya. Saat aku menyeimbangkan pijakanku, sepasang bibir yang hangat menekan penuh tanganku. Lengannya melingkari tubuhku yang dingin menjadi pelukan hangat dan nyaman. Aku mengulurkan tanganku ke rambutnya yang basah dan menariknya lebih dekat padaku. Ciuman itu terasa begitu sempurna, bibir kami bergerak selaras dalamharmoni yang sempurna. Erangan serak keluar darinya dan itu bergema di seluruh tubuhku. Kami saling menarik diri untuk memberi ruang nafas pada diri kami, tapi tidak terlalu lama. Bibirnya dengan cepat kembali menciumku, aku mencengkram bagian depan kaosnya yang basah saat ciuman itu mulai memanas. Satu-satunya hal yang memecah ciuman kami adalh suara Guntur yang bergemuruh. Kami saling memandang, dia dengan seringai lebar di wajahnya dan aku tersenyum dengan wajahku yang memerah. Tngannya mengusap lenganku dan tangan kami saling berepgangan kemudian setelah itu, kami berjalan kembali ke rumh, dengan hujan yang masih deras turun.
__ADS_1