
Aku dengan samar-samar namaku di panggil, tapi terdengar sangat jauh. Aku meremas mataku lebih erat dan melenturkan otot-ototku yang sakit, aku merasakan sesuatu menggeliat di dahiku, rasanya basah dan dingin. Aku mengulurkan tanganku ke mataku, menggosoknya dan menghapus sesuatu yang membuat dahiku basa dan dingin, aku mengerang dengan sedikit ketidaknyamanan saat denyutan di kepalaku terasa sakit.
“kurasa dia sudah mulai sadar.” Sebuah suara yang familier berkata, aku merasakan tangan hangat menyentuh pipiku, suara itu mendorongku untuk duduk, tubuhku kaku saat aku mulai duduk di tempat tidur, mataku mulai menyesuaikan diri dengan kamarku yang temaram. Aku memegang kepalaku yang berdenyut, aku meminta air dengan suara yang serak. Begitu gelasku benar-benar kosong, aku melihat sekeliling kamarku dan melihat Alan yang tampk khawatir, wajah Kenny yang berlinang air mata dan Adrian yang tampak panic.
“Apa yang terjadi?” aku mengerang, tubuhku masih menolak setiap pergerakan yang aku coba lakukan.
“Kau pingsan di restoran tadi.” Alan berkata dan duduk di sampingku di tempat tidur.
“Kami semua takut dan khawatir saat Adrian menghubungi kami dan mengatakan kalau kau tidak sadarkan diri dalam pelukannya, kemudian kami datang dan meminta dokter memeriksa dirimu, kadar gula dlam darahmu rendah dan tidak punya cukup oksigen yang masuk ke dalam tubuhmu.” Alan menjelaskan, kejadian malam itu mengalir kembali ke dalam ingatanku, malam yang indah, aku dan Adrian keluar juga Alan dan Kenny keluar berkencan. Alasan aku berada di tempat tidur ini, aku mulai mencengkram lengan Alan dengan begitu kuat, aku mulai merasa mual dan rasa takut menyelimutiku.
“Alice, ada apa?” Dia bertanya, aku merasa Adrian memegang tangan kiriku, memberikanku tatapan rasa ingin tahu dan gelisah. Aku melihat kea rah Adrian dan menatapnya dengan tatapan kosong, lalu berbalik kea rah Alan.
__ADS_1
“Dia kembali,” bibirku bergetar saat ketakutan terburukku keluar dari mulutku.
“Dia kembali, Alan. Aku melihatnya.” Kataku. Isak tangisku meledak dan tak terkendali aku membenamkan kepalaku ke dada Alan untuk mencari kenyaman, tetapi dia tampak tercengang, tidak dapat memahami apa yang aku katakana, aku melihat Kenny berjalan ke arahku, dia tahu masa laluku dan tahu persis apa dan siapa yang aku bicarakan, dia memelukku dalam pelukan kecilnya dan memelukku dengan erat. Adrian bingung, tidak tahu apapun tentang masa lalu kelamku dan alasan kurangnya kepercayaan dan kesedihan.
“Kau harus memberitahunya Alice, demi dia dan hubunganmu.” Kenny dengan tenang berkata itu padaku. Aku enatapnya, dia ingin aku emmeberitahunya dan tahu aku harus melakukannya. Aku menghampirinya dan meraih salah satu tangannya. Aku mulai mengambil napas dalam-dalam untuk mempersiapkan diri.
“Saat aku masih remaja, waktu itu aku masih SMA, aku bertemu dengan seorang pria. Dia selalu memintaku untuk berkencan dengannya dan mencoba menyuapku untuk pergi bersamanya dengan memberikanku cokelat, kue, tapi aku selalu menolaknya dan mengatakan tidak mau. Dan suatu hari, dia bertemu aku di luar, tempat parker sekolah dan membuat keributan besar di depan orang-orang agar aku mengatakan ‘Ya’ dan aku melakukannya. Setelah itu, dia memperlakukanku seorang putri, selalu mengantarku ke sekolah selalu memberikanku kejutan dengan begitu banyak hadiah dan mengirimkan bunga ke sekolah setiap hari. Setelah aku lulus, aku merasa bahwa aku yakin, kalau aku sudah mulai jatuh cinta padanya.” Aku tertawa pahit pada sikap naifku sendiri. “Aku kemudian ikut bersamanya,aku merasa hidupku sangat bahagia, tapi tidak lama, setelah aku menginap di rumahnya, keadaaan berubah. Dia mulai minum, setiap dia pulang kuliah, dia pergi ke bar dan membuang semua uangku yang akan ku pergunakan untuk membayar tagian, kemudian dia mulai bermain fisikpadaku, dia memukulku saat kami mulai bertengkar, saat malm itu.”
Saat itu, aku menunggu Stefan pulang, aku ingin makan enak dan berbicara seperti dulu, semenjak ia mulai minum-minum, kami tidak pernah makan enak bersama, aku mulai merasa kesepian dan sedih, setiap kali aku membicarakannya kalau aku ingin pergi keluar bersama, dia marah dan berteriak, meraih lenganku dan melemparku ke lantai, dia marah karena kami krisis keuangan. Tapi hari ini, mulai berberda, seolah sudah di rencanakan, aku mendengar suara gemeretak kunci yang di masukkan ke dalam kunci pintu dan Stefan dengan canggung berjalan membanting pintu. Aku menghampirinya, aku mencium bau bir dan alcohol.
__ADS_1
“Halo, sayang. Bagaimana harimu?” ku bertanya melepas mantelnya, dia mabuk sambil menggerutu, lalu berjalan ke dapur dan membuka botol bir nya lagi, dia bahkan tidak melihat mknan di atas meja. Aku melihatnya membuka botol dan mulai meneguknya ke tenggorokannya.
“Aku membuat makanan kesukaanmu.” Kataku kepadanya, tapi yang dia lakukan hanya melirik ke arahku dan bergumam, “Wanita redahan akan tetp menjadi rendahan.” Ucapnya, dengan bir tetap di tangannya, dia mulai berjalan menuju kamar tidur. Aku penuh amarah dan penghinaan. Dia benar-benar menepisku lagi dan menghinaku, aku berjalan ke arahnya dan membuang botol dari tangannya dan melemparnya ke lantai dan semua air dalam botol itu berserakan dimana-mana.
“Aku tidak percaya kau-.beraninya kau memperlakukanku dengan tidak hormat. Yang kau lakukan hanyalah menggertakku dn minum, minum dan minum, aku sudah cukup bosan dan muak melihatmu begini.” Aku menjerit di depannya. Dan kemarahan yang tampak jelas di matanya berubah menjadi sangat marah. Dia meraih pergelangan tanganku dengan kasar kemudian mendorong punggungku ke dinding, bau napas birnya mengepul menutupi wajahku dan cengkramannya mengencang dengan setiap embusan amarah.
“Jangan bicara seperti itu padaku! Dasar wanita tidak tau di untung!” dia kemudian kembali menyentakkan diriku dan aku terjatuh ke lantai memegang pipiku. Setelah itu, keadaan semakin memburuk, dia memukuliku lebih parah lagi, biasanya dia menamparku dan memukul perutku dengan beberapa pukulan, tapi kali ini dia menendangku, hidungku mulai mengeluarkan darah dan menyebar ke bagian pipiku dan setiap dia menendangku, mulutku mengeluarkan darah begitu banyak. Aku merasa kesakitan di sekujur tubuhku, aku tidak tahu apakah aku mampu berdiri, tapi yang kutau dia tidak berhenti melakukan kekerasan itu padaku. Aku melihatnya mengambil pecahan gelas yang pecah dan menebar ke arahku, aku tidak bisa melakukan apa pun, seluruh energiku terkuras, aku tidak berdaya. Dia kemudian merobek bajuku dan mengiris dadaku dengan pecahan kaca itu, dan bekasnya itu sampai sekarang masih ada.
Kemudian dia mulai menjauh dariku, melihat kekacauanku, dan merenggut masa depanku, sesuatu yang selama ini kujaga kini telah hancur. Dia mengambil semuanya, merusakku, menodaiku.”
Akhir dari kilas balik…
__ADS_1
Semua orang meneteskan air mata. Air mataku juga mulai merembes ke pipiku saat aku mengenang kemabli ingatan mengerikan yang aku selama ini aku mencoba menguburnya sedalam mungkin. Adrian memelukku, menyandarkanku ke dadanya, kami berdua menangis, air mata matanya mengalir untuk masa laluku, untuk setiap kesakitan yang aku rasakan di masa depan.