
Adrian POV
"Kau tahu, kau bisa mengajak Alan ke sini dan membawa makanan dan kembali ke sini." Aku tidak ingin meninggalkannya, dia membutuhkan seseorang untuk menjaga dan melindunginya. Tapi aku tidak bisa melukainya dengan menolak suruhannya.
"Baiklah. Aku akan melakukannya." Wajahnya yang semula diam berubah menjadi senyum yang indah, yang tak bisa membuatku tak tersenyum juga.
Aku berjalan menghampirinya mencium pipinya, meyakinkannya kalau aku akan segera kembali. Aku memperhatikannya melalui jendela sebelum aku menyalakan mobil dan melaju.
Aku pergi secepat mungkin, pertama-tama aku membeli makanan lalu menjemput, Alan.
"Kau meninggalkannya? Sendiri!" Alan berteriak padaku. Dia sangat marah, wajahnya merah dan tangannya mengepal, aku segera menancap gas mobilku, melebihi batas kecepatan mencoba kembali ke toko.
"Dia hanya memintaku untuk menjemputmu dan mengambil makanan, aku tidak bisa menolaknya." Aku menggeram kembali.
Kami berdua marah dan meraaa cemas, kami sudah melihat lampu toko semakin dekat dan semakin dekat, aku semakin menancapkan gas mobilku, aku memekik ke tempat parkir dan melihat melalui jendela, tapi dia sudah menutup tirai dan kami tidak bisa melihat ke dalam, kami dengan cepat keluar dari mobil, tidak peduli pintu mobil masih terbuka atau pun tertutup. Kami berlari ke pintu dan membukanya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi, aku hanya melihat Alice, aku melihatnya, dan aku melihat pistol.
Jiwa tempur kami langsung bergejolak. Dengan latihan kami selama di kemiliteran, kami tahu kami tidak bisa mengambil keputusan tergesa-gesa, karena dialah yang membawa senjata.
__ADS_1
"Kurasa itu bukan ide yang bagus, Stefan." Kami tidak bisa melakukan gerakan besar karena itu akan merangsang reaksinya dan bisa membahayakan salah satu dari kami tertutama hal buruk akan terjadi pada Alice.
"Ah, sekarang, jangan membuat ini lebih sulit dari yang seharusnya. Aku katakan padanya Alice milikku, dan tidak ada orang lain yang bisa memilikinya kecuali diriku. Dia merusak hubungan kami dengan berciuman bersama pria tidak tahu malu ini . Sekarang dia harus membayar konsekuensinya." Dia mencibir kami.
"Kau benar-benar gila." Aku menggeram. Aku tidak bisa lagi mengendalikan diriku dan aku segera mendekatinya yang sedang siap mencobamembunuhnya.
"Hei, jangan mendekat!" Dia mengancamku. "Kalau kau bergerak lebih dekat lagi, aku tidak akan ragu untuk menembak." Dia mendesis menekan pistol lebih ke pelipisnya membuatnya sedikit merintih.
Kita tidak bisa melakukan apa-apa, jika kita tetap mendekatinya, itu akan berisiko dan bisa membuat Alice terbunuh, jika dia membunuh kita itu berarti Alice juga mati.
"Jadi kau akhirnya sudah bisa menyadarinya yah, tapi aku tidak peduli apa yang kau lakukan, dia harus mati. Seharusnya aku sudah membunuhnya delapan tahun yang lalu sebelum dia lari dariku. Aku mendapatkan apa yang kuinginkan dan dia tahu itu. Aku ingin berhubungan intim dengannya tapi dia tidak mau melakukannya denganku, yang dia perlukan hanyalah penyiksaan dan pemaksaan." Dia tersenyum sadis. Dengan segala amarah dan kebencian yang kurasakan saat itu aku bisa membunuhnya dengan tangan kosong. Alan benar-benar kehilangan itu.
"Brengsek kau!" Dia berteriak, aku mencoba untuk menghentikannya, aku pergi untuk meraihnya tapi dia dengan cepat, bertindak dengan amarah dan rasa bersalah.
"Wanita rendahan yang malang, seharusnya kau bisa tahu batasanmu." Dia menyeringai padaku.
"Dan tentu saja kakaknya. Aku ingin menembaknya sejak dia mulai mencurigai sesuatu." Alan terbatuk.
"Kau tidak akan lolos dari ini. Aku akan menemukanmu dan membunuhmu sendiri." Yang di lakukan Stefan hanyalah tertawa lalu melemparkan Alice ke atas bahunya dan berjalan keluar dari toko. Begitu dia pergi aku berlari ke Alan, dia kehilangan banyak darah.
__ADS_1
"Kami harus membawamu ke rumah sakit." Aku berkata mengangkatnya dari bahuku dan berjalan ke mobil.
"Tidak, kita harus menyelamatkannya." Dia mengerang.
"Apa gunanya semua ini jika kau mati ?!" Aku meludah. Setelah itu dia diam, di dalam mobil aku melepas bajuku dan melilitkannya di pahanya untuk menghentikan aliran darah sampai kami tiba di rumah sakit. Sesampainya kami di sana, Alan di masukkan ke dalam ruang operasi untuk mengeluarkan peluru dan menjahit jaringan otot yang robek.
Karena itu adalah luka tembak, polisi datang dan menginterogasi ku, aku tidak tahu apakah aku bisa mengatakan yang sebenarnya atau berbohong, pada akhirnya aku memberitahunua semuanya. Aku memberi tahu semua yang aku tahu, tentang hubungan masa lalu Alice dan Stefan dan bagaimana dia kembali untuk menyakitinya dan menembak Alan.
Setelah Alan keluar dari ruang operasi, para poliai akan menanyakan pertanyaan yang sama kepadanya.
"Permisi?" Aku mendengar seorang perawat bertanya, aku mengangkat kepala ku.
"Apa kau datang ke sini bersama pak Alan?" Dia bertanya aku menganggukkan kepala dan dia memberi isyarat untuk mengikutinya, saat kami berjalan ke kamarnya, dia mulai menjelaskan apa yang salah dengan kakinya.
"Dari riwayat kesehatan dia sebelumnya, dia pernah terluka di bagian paha yang sama selama perang berlangsung, karena jaringan otot dari cedera pertama belum sepenuhnya sembuh dan dari luka yang sekarang, aku takut mengatakan kalau pak Alan sekarang tidak akan bisa berjalan dan berlari seperti dulu. " Dia menjelaskan.
"Apa maksudmu? Peluru menghantam tempat yang berbeda yang seharusnya tidak menyebabkan lebih banyak kerusakan." Aku bertanya dengan marah.
"Ya itu memang mengenai tempat yang berbeda tetapi peluru pertama mengenai tulangnya menyebabkan kerusakan tulang dan jaringan otot robek dan terpisah. Peluru kedua memiliki pengaruh yang sama, mengenai tulang dan menyebabkan tulang menjadi retak berkeping-keping. Dia tidak akan bisa berjalan normal lagi." Dia berkata dengan tenang lalu berjalan pergi, meninggalkanku untuk berdiri di depan pintu Alan. Aku mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diriku lalu berjalan masuk. Dia berbaring di tempat tidur hanya menatap langit-langit, lengannya di samping dan tanganmya mencengkeram seprai.
__ADS_1
Aku duduk di sebelahnya dan kami tidak berbicara, aku tidak harus memberitahunya kabar buruk tentang kakinya, pasti dia sudah tahu.
"Dia pernah menghancurkan hidup kita sekali." Alan berbicara. "Aku tidak akan membiarkan dia menghancurkannya lagi. Aku akan membunuh penjahat itu."