Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 78


__ADS_3

Aku merasakan perasaan yang begitu akrab tentang dara, yang mengalir ke tenggorokan dan keluar dari mulutku. Sejak pemukulan teratur terjadi, ini bukan lagi hal yang mengejutkan untukku, aku melihat cairan merah keluar dari tubuh ku. Dia akan melakukan apa saja untuk membuatku berdarah, dia akan memotong tangan dan kakiku, mengiris pipiku dengan luka terbuka, menendang perutku atau memukul kepalaku ke dinding. Apa pun yang bisa dia lakukan asal dia bisa membuat diriku berdarah, begitu dia menyelesaikan tugasnya dia akan duduk dan menyaksikan diriku terbaring tak berdaya di lantai, saat darahku membasahi karpet yang dulunya bersih. Dia merasa puas dengan tugasnya membuat diriku memuntahkan darah, dia menyaksikan penderitaanku dan kemudian pergi meninggalkan diriku sendiri dalam kekacauan, aku berhenti menangis, tangisan ku hanya akan menggigitnya dan di atasnya hany memberinya kesenangan dan rasa kepuasan karena sudah menyakiti diriku, sekarang aku hanya terbaring meringkuk di atas penderitaan diriku sendiri.


Aku terus-menerus berharap dan berdoa pada Tuhan agar Alan dan Adriam dengan segera menemukanku, membuka pintu dan menyelamatkan diriku. Tapi Stefan malah menggedor kepalaku dan mengatakan kalau mereka tidak akan pernah menemukanku, kalau aku harus menyerah saja, menyerah pada harapan kalau mereka akan menemukan aku di sini. Tapi aku membantahnya, dan dia melihat responku yang begitu berani, dia merasa frustasi karena jawabanku, jadi untuk menghilangkan rasa frustrasinya dia melampiaskan semuanya pada diriku lagi.


Dengan lemah aku merangkak di atas tempat tidur dan menarik diriku sambil meringkuk, memeluk selimut bantal yang berwarna putih dengan percikan darah yang masih menetes di atas tempat tidur, ada empat bintik darah yang besar dan kecil di mana-mana, lantai di tutupi dengan darahku, bahkan dinding putih semuanya penuh dengan darahku yang berhamburan. Tubuh ku roboh di atas kasur karena kelelahan dan kekurangan gizi, selama aku ada di sini, aku kehilangan berat badanku sebanyak 4 Kg, karena kehabisan darah dan tidak cukup makan. Tubuh ku akan kekurangan gizi, tubuh ku tidak akan sembuh dengan baik, luka dan memar yang biasanya mulai sembuh dalam beberapa hari, membutuhkan lebih dari seminggu untuk menunjukkan tanda-tanda penyembuhan. Dan aku pingsan selama dia memukulku karena kekurangan tidur. Kadang untuk membangunkanku Stefan mulai memukulku lagi.


Pintu terbuka, Stefan masuk dengan makanan yang biasa dia belikan untukku, dalam bungkusan itu ada roti putih tawar, sepotong keju dan juga membawakanku segelas air.


"Halo, Alice sayang. Aku membawakan makanan untukmu." Kata Stefan, duduk di tepi tempat tidur dan meletakkan nampan di pangkuanku, tapi aku hanya menatapnya.

__ADS_1


"Oh, ayolah sayang. Kita sudah melalui ini seratus kali. Kau harus makan." Dia berkata dengan kasar pada kalimat terakhir.


"Kenapa kau tidak membunuhku saja?" Aku bertanya. Tenggorokan ku sakit dan kering karena kekurangan air, tapi aku tidak mau menyerah dan meminum air darinya. Dia meraih daguku dengan kasar dan memaksaku untuk menatapnya. Mata yang dulu cantik kini menjadi gelap, nyaris tampak hitam. "Ya ampun, kau akan tahu kapan aku akan membunuhmu. Dan percayalah padaku hari itu akan datang dengan cepat." Dia dengan sadis tersenyum sambil menggosokkana tangannya di sepanjang rahangku. Mata ku sedikit melebar karena ketakutan.


"Oh, sst, sst." Dia membujuk ku "Kau akan memohon padaku untuk membunuhmu begitu aku selesai." Tidak ada suara penyesalan, dia tidak merasa bersalah sama sekali. Dia bahkan tidak berkedip. Aku tidak menangis, aku berkeinginan untuk tidak menangis dan tetap kuat.


"Kenapa kau tidak menyelesaikannya saja?" Aku meludahi wajahnya. Mata ku menahan amarah dan kemarahan, aku ingin dia mengakhiri hidupku.


"Kau ingin mati keparat? Baiklah." Suaranya terdengar seperti iblis, terdengar jahat dan dingin. Dia mencengkeram rambutku menariknya ke arahnya menyebabkan makanan di pangkuanku jatuh ke lantai, tangannya naik dan mencengkeram leherku yang sebentar lagi memutus saluran oksigenku.

__ADS_1


"Aku akan membunuhmu, tapi aku akan melakukannya dengan perlahan-lahan dan menyakitkan." Katanya dengan gigi terkatup.


"Hal pertama yang akan aku lakukan, adalah melakukan hal yang pernah aku lakukan saat kita terakhir kali bertemu." Sebuah pandangan jahat muncul di matanya, api tampak membakar lebih terang saat kesadaran mulai menyadariku, dia ingin menyiksaku, dia ingin aku merasa sedih dan tidak berguna, dia ingin aku merasa seperti yang kulakukan delapan tahun yang lalu saat aku meninggalkannya, setelah dia melecehkanku. Kengerian dan kesusahan yang kurasakan dapat dilihat melalui mataku, aku berusaha menyembunyikannya, tapi dia sudah melihat sekilas apa yang kurasakan dan mengambil kesempatan itu. Dia meraba-raba buah dadaku, merobek baju tipisku, lalu menariknya dengan menyakitkan. Dia ingin melihat reaksiku, dia ingin aku memohon padanya untuk berhenti, untuk mengasihani aku, tapi yang dia dapatkan hanyalah ekspresi sedih. Dia menarikku lebih dekat kepadanya sehingga wajah kami berada tepat di sebelah satu sama lain.


"Pada saat aku selesai melakukannya dengan mu, kau paati berharap aku akan membunuhmu malam itu." Setelah itu dia baik pada kata-katanya, dia menyiksa tubuh ku, dia mengikat ku sehingga aku tidak bisa melawannya atau mencoba untuk melarikan diri, dia memainkan permainan dengan dirinya sendiri dia akan mengiris dan membentuk garis pada tubuh ku lalu menciumnya. Pada saat dia selesai dengan permainannya, aku telanjang dan terhina.


"Ya ampun, jangan sedih." Dia berkata saat dia mulai membuka pakaiannya sendiri. "Kau selalu saja sedih setiap kali terjadi seperti ini." Dia menggeram. Tepat sebelum dia melepas pakaiannya yang terakhir ada teriakan dari luar, kau bisa melihat kilatan biru dan merah, yang menerangi ruangan, kelegaan dan kebahagiaan tiba-tiba muncul di dalam diriku.


Aku menatap Stefan, berharap melihat raut wajah kekalahan dan wajah kemenangannya yang hilang, tapi sebaliknya aku melihat senyum jahat di bibirnya.

__ADS_1


"Oh, lihat sayang. Ada teman kita yang datang."


__ADS_2