
Minggu berikutnya
Pada pagi itu, aku tidak terbangun katena cahaya yang masuk melalui celah tirai jendelaku atau suara-suara burung di luar jendela ku yang sedang berkicau tapi, aku terbangun karena suara dengkuran yang mengganggu di sebelah telingaku.
Pada awalnya aku merasa biasa saja, tapi saat aku mulai sadar, aku merasa kesal dan mencoba mendorong kepala Adrian yang bersandar di bahu ku. Tapi aku tidak melakukannya, aku tidak bisa melepaskan kepalanya dari bahuku karena lengannya melingkar di pinggangku dan menarikku ke atas, aku menghembuskan nafas dengan terengah-engah saat dadaku di tahan dengan tangannya.
"Berhenti bergerak. Aku merasa nyaman." Dia merengek dengan matanya yang masih tertutup, tapi bibirnya segera berubah menjadi seringai. "Aku juga merasa nyaman dalam posisiku sepeeti ini juga." Suaranya terdengar serak dan menggoda, kemudian aku menyadari posisi ku saat ini, kaki bagian bawahku mengangkang dan dada ku berada di dadanya dan bibir ku hampir menyentuh bibirnya.
Wajahku memerah dan aku menjadi terasa gugup, aku mencoba menggoyangkan tubuhku untuk keluar dari cengkeramannya, tapi itu hanya membuatnya mengeluarkan suara dengkurannya dan semakin mengencangkan cengkeramannya di pinggangku. Aku bersyukur karena pakaian kami yang menjadi pemisah antara kulit kami.
"A-aku mau sarapan dulu." Aku tergagap seperti orang gila, wajahku memerah, dia membuka setengah mata nya, lalu tersenyum.
"Bagaimana dengan ciuman selamat pagi ku?" Dia bertanya dengan mata penuh harap, bibirku membentuk senyum cerah dan nakal.
"Kau harus menunggu untuk itu." Aku menggoda sambil mengetuk hidungnya, alisnya naik dengan menantang dan pandangan nakal melintasi wajahnya.
Sebelum aku bisa menanyainya atau bahkan bergerak, dia membalikkan tubuhku sehingga dia sekarang yang berada di atas, dia masih berada di antara kakiku dan di setiap lengan yang di letakkan di samping kepalaku. Aku harus menarik napas lagi, tapi sebelum aku bisa mengambil napas dalam-dalam, bibir Adrian mulai menciumku. Dia benar-benar mencium bibirku dengan ciuman penuh gairah dan panas, tanganku melingkari lehernya dan menarik bagian belakang rambutnya, dia mengerang di mulutku, saat aku menarik rambutnya dan menyelipkan tanganku ke dadanya yang telanjang. Aku kehabisan nafas. Aku mencoba membuat suara, tapi aku tidak bisa. Aku menyentakkan kepalaku ke kanan untuk bernafas, Adrian tetap mengambil keuntungan dari leherku yang terbuka dan mulai menempatkan ciuman ringan di sepanjang rahang dan leherku.
__ADS_1
"Adrian!" Aku terkikik, ciuman yang dia tinggalkan menggelitik di kulitku, aku merasa geli dan sedikit mengerang saat dia mulai mencium tepat di bawah telingaku, dia berhenti kemudian melakukannya lagi dengan reaksi yang sama seperti yang pertama, dia tersenyum penuh kemenangan dan membungkuk mulai untuk mengisap, aku terengah-engah pada perasaan baru yang aku rasakan dan mencengkeram bahunya, aku merasa giginya menggigit kulitku menyebabkan sentuhan sensasional untuk menghempaskanku.
"Adrian." Aku berbisik, tidak bisa berbicara. Kemudian lidahnya membuat garis basah besar dari pangkal leherku ke tempat yang sekarang terasa sakit. Aku merintih dan bergoyang di bawahnya. Dia menghembuskan udara dingin di atasnya menyebabkan rasa geli yang hebat di kulit ku, dia membungkuk ke telinga ku dan berbisik.
"Lebih baik kiya pergi sarapan." Kataku sambil menatapnya sedikit malu melihat ekspresi main-main dan menggoda di wajahnya. Dia membungkuk dan mencium hidungku, lalu menggulingkanku meninggalkan aku dengan kedinginan. Aku melihatnya berjalan keluar dari kamar ku dan menyusuri jalan menuju ke kamar mandi.
Siang harinyamm
Aku dan Adrian mulai mencuri ciuman di antara pelanggan dan saat Alan tidak melihat kami. Sangat menyenangkan dan memalukan, bagaimana bisa kami sembunyi-sembunyi berbagi ciuman kecil, tapi itu menjengkelkan karena dia terus-menerus mencoba menarik rambut ku kembali untuk mengekspos gigitan cinta dari tadi pagi sebelumnya, pada awalnya ia hanya menggoda tapi saat suasananya mulai sangat menarik tiba-tiba seseorang datang ke toko dan tanpa malu-malu menggoda ku, Adrian menyatakan kalau dia tidak bisa melakukannya, dia datang dan melingkarkan kedua tangan di pinggang ku dan meletakkan kepalanya di bahuku, dia meniup rambutku untuk memperlihatkan warna merah dan sedikit tanda ungu di leher ku, setelah itu kami melanjutkan percakapan bisnis kami.
"Kau tahu, kau bisa menjemput Alan dan mengambil makanan dan kembali ke sini." Aku menyarankan, dia sepertinya telah merenungkan saran itu kemudian melihat jam, sudah lewat jam 8 dan melewati waktu kita biasanya makan bersama.
"Baiklah. Aku akan melakukannya." Dia berkata berjalan ke arahku dan mencium pipiku.
"Jaga dirimu dengan baik, aku akan segera kembali." Alan ada di rumah bersama beberapa teman tentara di rumahnya, Adrian baru saja mau pergi pergi tapi dia ingin tinggal bersamaku. Setelah dia pergi, aku mengisi kembali rak-rak dan membersihkan beberapa pot yang kosong, aku baru saja mau memanggil Adrian untuk tahu apa yang terjadi, kenapa dia begitu lama datang, seseorang menarik ponselku dari tanganku, dan sebuah tangan menjepit mulutku.
"Kau akan diam jika kau tahu apa yang baik untukmu." Suara Stefan mendesis, aku merasakan benda logam dingin menekan pelipisku dan menyadari itu adalah pistol.
__ADS_1
"Sekarang. Kau tidak akan membuat ini sulit kan? Tidak ingin kakak dan pacarmu harus membersihkan kekacauan, kan?" Dia meludah dan aku menggelengkan kepalaku 'tidak'.
"Kupikir tidak, sekarang jadilah gadis yang baik dan mulai berjalan." Dia mendorong ku menuju ke pintu belakang, pistol masih mendorong pelipis ku.
"Kurasa itu bukan ide yang bagus, Stefan." Dia dengan kasar berbalik membawa ku bersamanya, di sana Alan dan Adrian sedang berdiri, keduanya menjaga diri untuk tetap tenang.
"Ah, sekarang, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku katakan pada kalian, dia milikku, dan tidak ada orang lain yang bisa mengambilnya dariku. Dia berusaha bersembunyi dariku, jadi sekarang dia harus membayar konsekuensinya. " Dia menjelaskan.
"Kau benar-benar gila." Adrian menggeram menghampiri kami.
"Aha, tidak tidak tidak. Jangan mendekat!" Dia menarik pelatuknya. "Kalau kau mencoba mendekat, aku tidak akan ragu untuk menembaknya." Dia mendesis menekan pistol lebih dalam ke pelipisku.
Keduanya membeku, mereka memiliki emosi yang bertentangan mencoba menyelamatkan diriku tapi akan memungkinkan dia membunuh ku atau membiarkan dia membawa ku dan aku mungkin saja terbunuh.
"Jadi, kau akhirnya menyadarinya, tidak peduli apa yang kau lakukan, dia akan mati. Seharusnya aku membunuhnya 8 tahun yang lalu sebelum dia lari dariku. Aku mendapatkan apa yang kuinginkan dan dia tahu itu. Aku ingin berhubungan intim dengannya tapi dia tidak mau melakukannya bersama denganku, yang dia inginkan hanyalah penyiksaan dan pemaksaan." Dia tersenyum sadis. Aku menggigil jijik dan ngeri.
"Hei, kau pecundang!" Alan berteriak, menyerangnya seperti gajah yang sedanh marah, aku tidak bisa menyuruhnya untuk berhenti atau berteriak setelah aku mendengar suara senjata terdengar di telingaku, Alan jatuh ke lantai sambil memegangi kakinya yang sudah terluka. Darah menutupi lantai adalah hal terakhir yang kulihat sebelum aku merasakan sakit menyengat di kepalaku dan semuanya menjadi gelap. Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk menangisi saudaraku yang mungkin sudah mati.
__ADS_1