
"yeyy akhirnya sampai juga di rumah," Sarah bahagia saat dia keluar bersama yang lain dari mobil. Mereka semua berjalan masuk dan duduk di ruang makan.
"Aku lapar skali," kata Alex sambil mengulurkan tangannya, "... dan kelelahan."
Suaranya bergema di ruangan besar itu.
"Sama, aku juga lapar. Ughh.." Adiknya tersenyum.
Para pembantu di rumah besar membawa berbagai macam hidangan secara instan, satu diikuti oleh yang lainnya dan menyajikannya semua di atas meja.
"Luar biasa," Nyonya Samuel tersenyum, "terima kasih. "
Para pembantu itu tersenyum dan meninggalkan mereka sebelum mengucapkan selamat makan.
"Sudah begitu lama yah aku tidak memakan makanan rumah," Alex menyeringai ketika mulai makan.
"Sudah begitu lama sejak kita makan malam bersama." Dia mendongak dan melihat kalau itu pacarnya yang sedang berbicara.
"Hmmm," gumam Alex, "Clara, aku perlu bicara denganmu setelah makan malam kita selesai."
"Tentu, Alex." Dia tersenyum.
Setelah makan malam, keduanya berjalan menuju ke perpustakaan keluarga dan Alex menutup pintu.
"Kau ingin menghabiskan waktu bersamaku?" merasa terkikik ketika dia merangkul lehernya.
__ADS_1
"Hentikan itu!" Kata Alex sambil melepas lengannya dan menjauh darinya dan pergi kearah jendela.
"Apa-apaan ini, Alex?" Ucap Clara, tidak mengerti apa maksudnya.
"Mulai sekarang kita putus,dan itu sudah kepitusanku." Kata Alex.
"Apa?" Clara menjerit, "Alex sayang, kau tidak bercanda kan, apakah.... apakah ada wanita lain? Ya! Pasti ada wanita lain, benarkan?"
"SATU-SATUNYA WANITA YANG ADA DI HIDUPKU HANYALAH DIRIMU, TAPI KAU MEMBUAT HATIKU SAKIT!" Alex tiba-tiba berteriak. Dia mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya. Dia tidak bisa menyimpan pikirannya untuk dirinya sendiri lagi dan menyampaikan apa yang telah Clara perbuat kepadanya saat dia masih di rawat di Rumah Sakit.
"Alex, berhentilah menjadi kekanak-kanakan," kata Clara dengan dahi berkerut, "apa masalahmu? Aku tahu, aku salah, aku pergi saat itu, tapi lihatlah sekarang aku kembali."
"Ayah datang menemuiku dirumah sakit," Alex memulai dengan nada marah, "kau tahu, aku berharap aku bisa melihatmu disana. Aku berhasil tinggal di rumah sakit itu karena aku tahu, bahwa semua orang masih peduli padaku. Aku berharap kau juga peduli padaku dan kupikir kau akan datang dan menemuiku, karena aku berpikir kau mencintaiku. Tapi kurasa aku salah, kau mengabaikan diriku di saat aku membutuhkanmu, disaat aku butuh dukunganmu. WANITA YANG SANGAT KUCINTAI DIHIDUPKU MEMBUATKU TERLUKA."
"Aku... aku... takut.." Clara tergagap, "itu bukan salahku, siapapun pasti akan panik."
"Alex! Jika kau bicara tentang Lucas, maka izinkan aku memberitahumu bahwa aku hanya berteman dengannya dan hanya bertemu dengannya di Singapore." ucap Clara.
"Siapa itu Lucas?" tanya Alex dengan kebingungan.
"Kau tidak membaca artikel itu?" Clara bergumam, menyadari bahwa dia hanya mengatakan sesuatu yang akan memperburuk keadaan.
"Aku baru saja keluar dari rumah sakit jiwa. Kapan aku punya waktu untuk membaca majalah?" Bentak Alex, "Ngomong-ngomong, aku tidak tahu kenapa kau bisa setega itu padaku, sangat jelas kalau kau tidak peduli padaku."
"Jangan katakan itu!" Clara menjerit, " Aku mencintaimu Alex!"
__ADS_1
"Kau pulang hanya karena kau ingin memastikan bahwa aku tidak terluka. Tapi tetap saja kau tidak datang untuk menemuiku saat di rumah sakit, karena kau tahu bahwa aku secara mental tidak sehat. Kau hanya datang pada saat mendengar kabar kalau aku sembuh." Alex menjelaskan dan tatapannya ke arah Clara sangat tajam.
"Oke," Clara menarik nafas dalam-dalam, "kau tau, pada hari kau mengalami kecelakaan itu, atasanmu menghubungiku... kurasa aku adalah kontak pertama dalam daftar kontakmu, jadi itu sebabnya dia menghubungiku. Mereka bilang kau terluka dalam ledakan bom itu."
"Ya," Alex mengangguk, "... aku. Tapi ledakan itu tidak terjadi sangat dekat denganku. Namun, itu lebih mempengaruhi kejiwaanku daripada fisikku."
"Aku tahu. Mereka bilang kau terluka," lanjut Clara, "jadi.. aku..."
"Jadi kau panik kemudian terbang ke Singapura." Alex berkata dengan tawa sarkastik, "Kau bahkan juga tahu kalau aku tidak sehat secara mental, dan ayahku datang mengunjungiku dirumah sakit dan mengatakan kepadaku bahwa dia memanggilmu dan memberitahumu segalanya tapi, kau bahkan tidak ingin mendengar tentangku dari mereka. Kau pikir aku akan melakukan hal yang sama jika sesuatu seperti itu terjadi padamu?"
"Tidak, aku minta maaf," Clara berkata dan kemudian mendekati Alex, "Aku sudah membuat kesalahan."
"Kau tidak benar-benar mencintaiku Clara," kata Alex dengan tenang.
"Lupakan hal ini dan berhentilah marah padaku," bisik Clara, mendekatinya. Perlahan dia merangkulnya dan tersenyum.
"Aku tidak marah padamu, hanya kecewa." Kata Alex memalingkan wajahnya, menjauhkan lengannya darinya. Alex kemudian mengambil nafas dalam-dalam dan menatap matanya.
"Kita berakhir sampai disini saja, Clara, kita putus!" Alex berlata kemudian meninggalkan ruangan.
Alex berpikir kalau dia akan melamar Clara di saat yang tepat. Karena dia pikir kalau Clara mencintainya sama sepertinya. Dia berpikir kalau Clara peduli padanya. dan berpikir bahwa dia sangat berarti baginya. Nyatanya tidak.
Saat ayahnya mengatakan kepadanya bahwa Clara pergi keluar negeri selama kunjungannya ke rumah sakit, dia hampir tidak percaya itu. Itu sebabnya dia merasa sangat sendirian, putus asa. Tapi, mudah-mudahan keluarganya tidak memberitahu dokter apa yang sangat mengganggunya. Meskipun dokter Jason tetap gigih.
Btw, apa yang bisa dia lakukan ? Apakah dokter Jason bisa membantunya? Alex tidak tahu, mungkin saja dia bisa tapi selama ini yang melakukannya adalah Anastasya. Wanita itu sudah banyak membantunya, mengatasi segala kesedihannya.
__ADS_1
"Jatuh cinta seperti ini adalah hal terburuk yang kualami sepanjang hidupku." gumam Alex pada dirinya sendiri saat dia membanting pintu, merasa marah.