
Saat mereka pulang, mereka saling berpegangan tangan dan Vania memegangi perutnya.
"Aku tidak percaya aku akan menjadi ayah."
"Dan kamu akan menjadi orang yang paling bahagia.”
"Terima kasih." Frans memandangnya dengan penuh cinta.
"Untuk?"
“Selalu berada di sisi ku. Tidak meninggalkanku meskipun aku benar-benar rapuh dan berantakan."
"Kamu tidak berantakan,dan rapuh, kamu hanya mengalami banyak rasa sakit ."
"Ya, aku harap semua itu akan berhenti dan berlalu." Dia menghela nafas.
"Ya, berikan saja waktu pada dirimu.”
"Besok, pemakaman ibu.” Vania berbisik seolah itu adalah rahasia, rahasia yang Frans tidak harapkan.
"Ya, kita akan baik-baik saja.” Mereka parkir di depan rumah.
"Di mana Bram?"
__ADS_1
"Aku tidak tahu ..." mengangkat bahu.
"Apa kamu tidak meninggalkannya sendiri di rumahmu?"
"Ya."
"Ayo, mari kita lihat." Mereka berjalan keluar mobil dan masuk ke rumah. "Bram!"
"Halo? Ada orang di rumah?"
"Periksa lantai atas." Vania berjalan ke atas ke kamar Bram. Dia membuka pintu dan melihatnya duduk di dinding dengan sebotol minuman di tangannya.
"Ya ampun, Frans! Frans! Kemarilah!" Frans muncul tepat di sampingnya dalam hitungan detik. Dia melihat Bram dan berjalan menghampirinya. Dia mengambil botol itu dari tangannya dan Bram mendongak.
"Bram, kenapa kamu minum minuman keras?" Bram hanya menatapnya. "Jawab aku!"
"Kami peduli. Kami peduli dengan dirimu, Bram. Kamu adalah segalanya bagi kami. Kami sangat mencintaimu." Vania terus menangis dengan tenang. "Kita akan hidup bahagia sekarang. Kita akan menjadi keluarga. Yang bahagia." Teriak Bram lebih keras. "Aku berjanji. Aku berjanji, padamu. Kami tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku berjanji." Mereka saling berpelukan lebih erat. Frans menenangkannya beberapa menit kemudian dan menempatkannya di tempat tidur. "Istirahatlah, Bram." Frans dan Vania berjalan keluar dan menutup pintu. Mereka berjalan ke kamar lama Vania. Dia duduk di tempat tidurnya.
"Dia baru berumur 15 tahun. Dan dia harus mengalami semua ini; kehilangan semua orang yang ia cintai.” Dia menangis dan memeluk lututnya. "Ini salahku; aku selalu tidak ada untuknya."
"Itu bukan salahmu. Semua itu sudah menjadi takdir, jangan salahkan dirimu sendiri. Kita semua mengalami kesulitan, bukan hanya dirimu saja yang merasakannya." Frans meraih tubuh Vania dan memeluknya.
__ADS_1
"Tapi dia lebih merasakan kesulitan bukan aku! Dia masih berumur 15 tahun! 15! Dan dia harus kehilangan begitu banyak orang yang berarti dalam hidupnya, begitu banyak ... dia hanya anak-anak. Dia seharusnya bahagia." Suaranya meninggi.
"Hei, apa kamu ingat seperti apa kamu saat umur 15 tahun?" Dia mencoba menatap matanya, tetapi Vania terus bergerak.
"Ya ..." Dia menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Apakah kamu bahagia?"
"Terkadang." Dia terisak.
"Tepat, kadang-kadang, tidak setiap waktu. Kamu tahu kenapa, karena itulah yang menjadi masalah saat-saat masih usia remaja. Kamu memiliki begitu banyak hal untuk di khawatirkan. Kamu memiliki keluarga, teman, sekolah, masa lalu, masa depan, dan di atas itu semua kamu hanya seorang diri. Menjadi seorang remaja itu sangat sulit, makanya kita harus selalu ada untuknya. Bram layak untuk bahagia. Kamu benar, dia masih harus menjalani hidupnya ke depan dan kita akan membuatnya kuat. Itulah gunanya kita. Kita akan membuatnya menjadi orang yang hebat dan untuk anak kita juga. Kita akan menjadi keluarga yang bahagia. Semuanya akan berubah. " Dia berjanji.
"Apa kamu bersungguh-sungguh saat kamu memberi tahu Bram kalau kamu tidak akan pergi?" Dia akhirnya bertemu dengan tatapannya.
"Aku membuat janji, bukan? Dan aku selalu menepati janjiku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Dia menciumnya.
"Bisakah kita berbaring sebentar?" Dia mengangguk dan mereka berpelukan erat, berjanji pada diri sendiri bahwa mereka tidak akan pernah meninggalkan satu sama lain.
Saat mereka semua bangun, mereka menyadari itu adalah hari pemakaman Ibunya. Mereka semua mencoba yang terbaik untuk tetap tersenyum di hadapan orang lain, tetapi mereka tidak bisa, hari ini adalah hari perpisahan terakhir mereka. Mereka semua berpakaian serba hitam dan Vania menutupi matanya dengan kerudung sehingga air matanya tidak akan terlihat di hadapan semua orang. Mereka berjalan ke dalam mobil dan pergi ke kuburan, mereka semua terdiam. Tidak ada yang berbicara sepatah kata pun. Peti mati di kelilingi semua orang, kemudian Frans naik ke atas podium dan mengucapkan beberapa patah kata perpisahan.
"Hari ini adalah hari kita mengucapkan selamat tinggal kepada seorang wanita yang luar biasa, yaitu ibuku. Sepanjang hidupku, dia sudah menjadi wanita terkuat yang kukenal. Dia adalah ibu terhebat sepanjang masa. Setelah ayah meninggalkan kami, ibuku tidak punya pilihan lain selain melakukan dua peran dalam hidupnya, menjadi seorang ibu sekaligus ayah bagiku. Dia adalah pahlawan ku. Dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan hidup, tetapi takdir berkehendak lain dan sudah waktunya bagi dirinya untuk pergi. Saya menyadari bahwa semua orang tidak bisa tetap tinggal selamanya dan tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk mencegah hal itu. Kamu harus belajar untuk melepaskan. Tapi saya tidak akan pernah melepaskan ibu ku, saya tidak akan pernah melupakannya. Dia adalah hal terindah yang pernah ada dalam hidupku, selain dari cinta dalam hidup ku. Dia membuat diriku menyadari bahwa saya mencintainya. Dia adalah satu-satunya orang yang tidak pernah membiarkan diriku pergi Dia selalu ada untuk ku. Bahkan saat saya membencinya dia masih bersikap baik padaku. Karena itulah ketulusan seorang ibu yang mencintaimu tanpa syarat. Tidak peduli bagaimana diriku, dia paham. Dia membiarkanku menjadi apa pun yang aku inginkan. Dia hanya ingin aku bahagia. Aku tahu dia ada disini di sekitar kita sedang menatapku hari ini, dan aku hanya ingin memberitahunya bahwa aku mencintaimu. Aku akan selalu mencintaimu, Bu." Frans menyeka air matanya dan berjalan di sebelah Vania. Dia meraih tangannya dan dia meraih tangan Bram. Pendeta mengatakan kata-katanya dan kemudian mereka meletakkan peti mati di dalam lubang.
__ADS_1
"Sampai jumpa ibu." Mereka menutupinya dengan tanah dan semua orang pergi, kecuali mereka bertiga. Mereka semua hanya menatap batu nisannya. Frans berjalan ke sana, mencium sambil meletakkan tanganya di batu nisan, mereka melakukan hal yang sama.
"Kami akan selalu mencintaimu." Mereka menatapnya sekali lagi dan berjalan pergi.