
Anastasya berjalan cepat menuju ruang tamu untuk melihat Alex tapi dia tidak ada disana.
"Alex?" Anastasya memanggil saat dia ke ruang makan, sekali lagi ruangan itu kosong.
"Hei, Alex kau bersembunyi dimana?" dia merasa cemas dan berhenti mencarinya, menunggu dia akan muncul.
"Aku disini." Jawabnya.
"Apa yang kau lakukan di dapurku, Heyy.. kau jangan mengambil itu!" teriak Anastaya ketika berlari ke arahnya untuk merebut semangkuk salad buahnya.
Melihat ekspresi Anastasya di wajahnya Alex tidak bisa menahan diri kemudian dia berbisik, "kau mau makan?"
"Hahaha.. ternyata kau paham!" Anastasya menyeringai. "Itu luar biasa," Anastasya berkata memutar matanya dan meletakkan mangkuk di atas meja. "Btw, aku tidak punya waktu untuk berdiskusi denganmu. Aku harus melakukan pekerjaan yang harus aku lakukan."
Dia mondar-mandir dengan cepat dikamar, membongkar kardus besar dan menyimpan barang-barangnya di tempatnya dengan tergesa-gesa. Anastasya memang selalu begitu jika ia sedang marah.
"Hummm," Anastasya berkata dengan tajam, "kau bisa makan buahnya jika kau mau dan pergilah setelah itu. Aku benar-benar banyak pekerjaan dan.... Aaaaaaaaahhhhh!"
Miiaaawwwwwww!!
Dalam sepersekian detik, dia melihat warna hitam dan setelh itu dia jatuh ke lantai dengan suara keras, belum lagi wajahbya terlebih dahulu....
"Yaah aku baru saja ingin mengatakannya padamu, apa kau memiliki kucing dan dengan bersamaan kucing itu melompat kearahmu, jadi..." Alex menjelaskan saat dia berlutut dan membantunya duduk. Keduanya saling memandang selama beberaoa saat sebelum Alex tertawa.
"Ahahahaha.." tawa Alex
"Apanya yang lucu?" Anastasya bergumam.
"Kau dilompati kucing hahaha" Alex tertawa kecil, "dan kau tahu siapa yang lebih ketakutan, kau atau kucingnya? Hahaha!"
"Yah sangat lucu," Anastasya menjawab dengan kesal. "Dengar Alex! Aku benar-benar lelah dengan semua ini. Aku punya banyak hal untuk aku lakukan, maka dari itu kau pulang lah sekarang!"
__ADS_1
"Sssst!" Alex membungkamnya kemudian menatap matanya dan neletakkan tangannya di bibirnya, "Kau bertingkah seperti boss disini! Biarkan aku yang menangani semuanya."
"Heee.. ini rumahku," Anastasya menjawab dengan nada yang jelas, mendorong tangannya.
"Yah dan sekarang ini juga jadi rumahku." Alex tersenyum, "Coba tebak, temanmu ini telah memutuskan untuk tinggal bersamamu."
Anastasya menganga mendengar apa yang Alex katakan. "Yahh!" Katanya sambil membuat wajah lucu. "Alex berhentilah bersikap bodoh!" menegur, "kau tidak bisa tinggal di sini bersamaku, kupikir kau orangnya realistis dan serius."
Alex mengambil nafas dalam-dalam dan berbicara dengan suara dingin, dia bahkan tampak marah tetapi dia mungkin berpura-pura menurutinya. Karena dia mengenalnya dengan sangat baik.
"Oohh jadi kau ingin melihat tentara yang serius dan realistis yah, menarik." Jawab Alex, mendekati wajahnya.
"Apa.. apa yang mau kau lakukan?" Anastasya berbisik dan detak jantungnya menjadi tidak normal.
"membuat efek kupu-kupu lagi di dadamu," jawabnya sambil menyeringai dan mengangkat alisnya serta menatapnya dengan menggoda
"Cukup! Pergi sana! Kau sudah gila." Dia segera berdiri.
"Hahaha" Alex tertawa, "Oke. Aku akan berhenti. Tenanglah, aku hanya bercanda."
"Pacarku?" Alex mengangkat alisnya, "Kau mengenalnya?"
"Tidak, aku pernah melihatnya dirumah sakit saat itu." Anastasya menjelaskan, ketika dia mengusir kucing itu, "jadi kau harus pergi."
"Clara? Maksudmu mantan pacarku? Kita sudah putus." Kata Alex.
"Kalian putus?" Kata Anastasya dengan mata melebar. Itu benar-benar tidak terduga.
"Ceritanya panjang," Kata Alex, mengingat Clara yang meninggalkannya. Dengan ekspresi sedih diwajahnya.
"Alex, maaf, bukan maksudku untuk..."
__ADS_1
Alex memandangnya sejenak kemudian dia tersenyum, "Apa? Tentu saja tidak. Kenapa kau berpikir begitu?"
"Apa? aaa... hmm.. tidak tahu," kata Anastasya memalingkan wajahnya, "dia mungkin berpikir aku mencoba untuk menjauhkanmu darinya, karena kita menjadi teman baik, dia mungkin salah faham."
"Clara bahkan tidak mengenalmu, Anastasya." Katanya sambil tertawa, "dan tidak ada yang salah dengan persahabatan kita."
"Yahh," Anastasya tersenyum, "tidak ada yang salah dengan persahabatan kita."
"Berhentilah khawatir," Alex tiba-tiba berkata, "dan biarkan aku membantumu."
"Hmm baiklah," Anastasya setuju.
'Itu hanyalah persahabatan' kata Anastasya pada dirinya sendiri, 'ini hanya persahabatan dan itu yang terbaik."
Mereka menghabiskan waktunya untuk mengatur barang-barang dengan rapi di apartemen itu. Anastasya harus menerima kalau Alex sangat membantunya.
Dia tidak tahu kenapa, tapi kadang-kadang dia merasa tatapannya mengarah kepadanya, sepertinya dia mengaguminya. Dan cara mencarinya membuatnya merasa kalau dia mungkin istimewa baginya, tapi sejauh mana ?
Mungkin sebaiknya, hal ini disimpan dalam bentuk persahabatan saja.
Sekitar jam 4 sore, Anastasya duduk di depan tv dan memanggil Alex yang sedang sibuk membuat kopi di dapur.
"Hei, kemarilah. Ada siaran bagus hari ini." Kata Anastasya
"Oke. Aku datang," Alex menjawab, ketika dia datang dan menyimpan dua cangkir kopi di atas meja, "siaran apa itu?"
"Yah asmara," kata Anastasya riang saat dia mukai mencari saluran dengan remote.
"Romansa.." Alex berbisik, "aku benci romansa."
Jika saat itu Anastasya sedang meminum kopinya, dia pasti akan tersendak saat mendengar yang di ucapkan Alex barusan. Dia bahkan membenci romansa. Anastasya menatapnya dengan mata terbelalak dan menelan ludah. Kapten yang dingin, mungkin itu sikap dari hasil perpisahannya. haha!
__ADS_1
"Aku benci segala sesuatu yang berhubungan dengan cinta, sebenarnya." Alex melanjutkan dengan nada tenang dan dingin yang sama.
Anastasya terdiam. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin sekali jatuh cinta lagi dengannya. Mungkin saja itu akan lebih baik. Kalau saja dia tahu bahwa cinta itu perasaan yang indah...