Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 64


__ADS_3

Sudah tiga minggu berlalu sejak Alan pulang, dan setiap hari Adrian selalu bilang kalau dia mau pergi jaln-jalan bersama teman lamanya. Aku tidak tahu apa aku harus percaya padanya atau tidak, di sisi lain aku ingin percaya tapi di sisi lainnyaaku merasa mereka sedang berbohong. Dan tiba-tiba saja Alan menghilang begitu saja.


Setiap hari Kamis dan Sabtu pagi, Adrian pasti mengajakku ke padang rumput dan tinggal di sana selama berjam-jam, makan dan menikmati keheningan, dan menikmati keindahan alam. Tapi, saat kami mendengar kicauan burung ataupun suara angina yang berhembus kencang, pasti kami berbicara.


Awalnya aku merasa canggung, terpaksa dan tidak tulus sama sekali mengobrol bersamanya, tapi selama perjalananterakhir kali, kami mengobrol dengan serius, itu di mulai saat dia bertanya padaku, tentang apa yang suka aku makan, aku pikir kalau aku menjawabnya yah normal-normal saja dan aku menjawabnya aku suka makan kue dengan selai kacang, dia tertawa. Aku sedikit malu dan telapak tanganku basah karena gugup, tapi perut dan dadaku serasa menggelitik karena tawanya. Setelah kami benar-benar lupa mengenai hal makanan, kami sadar kalau kami memiliki kesamaan, kami berdua sangat menyukai kucing daripada anjing, katanya anjing hanya imut di wajahnya dan hanya menginginkan perhatian penuh sedangkan kucing tidak, kucing lembut dan mereka akan sangat nyaman jika mereka ada di pangkuan kita, dan aku pun setuju mengenai pendapatnya. Aku bertanya padanya apa film favoritnya dia menjawab Transformer, aku pikir dia memiliki selera humor ternyata tidak, dia sama sepertiku menykai film action. Aku ingin tahu mengapa dia sangat menyukai film itu.


“Kenapa kau sangat menyukai action?”

__ADS_1


“Yah suka saja, aku suka bagaimana mobil mampu menjadi sebuah robot besar dan bagaimana caranya berperang, seperti pekerjaanku yang suka akna tantangan dan perang.” Rasanya hatiku hampir meledak, jujur, aku merasa terharu apa yang barusan dia katakana. Dia menunggu reaksiku, dia menatap mataku sat kau juga mulai menatapnya dengan mulut sedikit terbuka karena takjub.


“Aku tidka tahu apa yang harus aku katakana lagi.” Dia tampak malu tapi juga senang dengan jawaban ku, setelah itu kami melanjutkan pembicaraan kami dan terus berbicara tentang hal-hal lain.


Saat itu hari senin, Alan sudah pergi lebih awal dan aku berangkat bekerja.


“Ya, tentu, aku tidak bisa meninggalkn pekerjaanku, aku ada sedikit pekerjaan yang harus aku lakukan.” Dia menatapku dengan cemberut yang tandanya dia menginginkanku untuk tidak pergi bekerja.

__ADS_1


“Selama aku pergi, jangan cemberut lagi, ok.” Kataku.


Dalam perjalanan menuju toko bungaku, aku membiarkan pikiranku bertanya-tanya tentang Adrian, dia baik, manis, dan masih banyak hal lagi daripada yang aku pikirkan selama ini, tapi sisi logisnya, pikiranku mendorongku ke arah hal yang mengerikan. Aku marah, dan menabrak sesuatu, kemudian aku merasa frustasi karena tidak bisa membiarkannya pergi dari pikiranku, marah aku terlalu tkut mempercayai lelaki siapapun. Aku sangat marah dan tidak tahu harus bagaimana. Aku ingin menangis, menjerit dan membuang semua barang –barang pada saat yang bersamaan. Tapi aku kemudian menyimpannya lagi, aku berhenti tepat di dpean toko bungakudan siap untuk bekerja dan melupakan Adrian dan juga ingatan buruk itu sejenak. Sekitar satu jam lebih, aku melayani pembeli.


Aku meninggalkan toko bungaku hampir jam 9 malam. Aku merasa lelah dan bersiap untuk pulang, saat aku berjalan ke mobil, aku harus melewati jalan yang membuatku merinding, saat aku melintas pun aku mendengar suara dentang nyaring, seperti tempat sampah yang terjatuh dengan keras. Pikiranku mulai beralih kea rah kejadian buuk, seseorang ditodong, ataupun di lecehkan atau bahkan di bunuh. Aku ingin melarikan diri. Aku dengan cepat masuk ke dalam mobil dan pergi seperti tidak ada yang terjadi, aku hanya terus melaju, perlahan-lahan aku beringsut mendekat hingga aku tedesak ke dinding dan memandangnya.


“Halo?” aku berteriak, aku memiliki semprotan merica di tanganku untuk berjaga-jaga. “Apakah ada seseorang di sana?” masih belum ada jawaban. Aku menghela nafaslega. Itu pasti karena alam bawa sadarku, tapi kemudian aku mendengar suara seperti tangisan tercekik, napasku terhenti. Aku harus melarikan diri, aku merasa ketakutan saat aku tiba-tiba merasakan sesuatu di kakiku, aku berteriak. Dan mundur memukul tiang cahaya yang hampir tidak mengeluarkan cahaya, aku memegang tiang siap untuk berlari, saat aku melihatnya aku hampir tertawa pada diriku sendiri. Dari kegelapan datanglah seekor kucing putih kotor dengan satu mata hijau dan satu mata biru, kucing itu masih kecil dan kurus yang terus mengeong padaku dengn tangisan tercekik yang sama yang ku dengar di lorong, hatiku meleleh di tempat itu.

__ADS_1


Aku dengan hati-hati berluut di trotoar dan menglurkan tanganku kea rah anak kucing itu, ragu-ragu, dia mendengus tanganku dari jauh tidak ingin terlalu mendekatik. Tapi lama-lama dia kemudian berjalaan ke arahku mengambil langkah-langkah kecil, setelah itu aku mengusap wajahnya dengan ujung jari-jariku, dan semakin dekat aku bisa melihat dengan jelas tulang rusuknya yang menggelombang di permukaan kulitnya, bercak bulu-bulunya hilang da nada bercak bekas drah di atas bulu putihnya itu. Hatiku merasa iba saat melihat hal seperti itu. Aku memiliki beberapa peralatan peliharan hewan tapi aku bahkan tidak memiliki hewan peliharaanku sendiri, anak kucing itu semakin berani dan praktis berbaring di pangkunku, aku tahu aku tidak bisa membiarkannya tetap di sini, jadi aku mengambilnya dan membawanya pulang, aku khawatir nanti dia merasakan kesakitan, aku harus membawanya ke dokter hewanbesok pagi. Untungnya aku ada kandang kecil di bagasi mobil jadi aku meletakkannya di sana dan kemudian pulang.


__ADS_2