Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 60


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Alan pulang. Aku sibuk sepanjang hari membersihkan rumahku dan membuatnya terlihat bersih dan rapi, serta menyiapkan makanan untuk mereka. Aku memanaskan ayam mentega ke dalam microwave untuk di masak, kemudian aku mengupas kentang dan mengirisnya menjadi beberapa bagian dan memasukkannya ke dalam wajan, berikutnya kacang hijau. Aku berhenti dan mengagumi haisl kerja kerasku yang baru saja aku kerjakan. Rumah sudah tampak bersih tanpa setitik debu di salah satu rak, jendela juga sudah bersih dan begitupun dengan karpet. Aroma ayam mentega dengan kentang juga kacang hijau tercium di hidungku,harum.


Aku melihat jam, seharusnya dia sudah dalam perjalanan di pesawat menuju kesini.


Aku menuju ke bandara. Setibanya pun di sana, aku merasa gugup, aku tidak bisa duduk dan terus saja bermondar-mandir menunggu. Aku melihat jam, pukul 3 pagi, aku masih terus mondar mandir kesana-kemari aku melihat kea rah jam dan masih menunjukkan pukul 3.30. aku menghela napas frustasi dan kemudian menjatuhkan diriku ke salah satu kursi yang ada di ruang tunggu, aku menghela napas lagi dan menggosok mataku.


“Apa kamu baik-baik saja, Nak?” Aku menjatuhkan tanganku dan mendongak ke atas, melihat ada seorang wanita  tua dengan suaminya di sampingnya sedang tertidur, dia tampak sudah berumur.


“Ya, aku baik-bak saja, terima kasih, aku hanya gugup.” Aku tersenyum meyakinkan padanya.


“Bicaralah padaku, siapa tahu aku bisa membantumu.” AKu tersenyum dan hendak memberitahunya tentang kakakku, Alan, tapi  suaminya mendengkur dengan keras.


“Hei, astaga!” Wanita itu menepuk dadanya. “Bangun, dengkuranmu itu sangat besar.” Suaminya mendengus bangun dan menggosok matanya.


“Ya aku bangun. Aku bangun. Kamu tidak harus menepuk dadaku.” Pria itu menggerutu sambil menyilangkan tangannya di dada.


“Maaf sayang, kamu mau bilang apa?” Dia tersenyum, aku terkikik sedikit sebelum aku mulai menjelaskan.


“Saudaraku aku pulang dari Ketentaraan hari ini dan aku sudah lama tidak bertemu dengannya, jadi aku sangat bersemangat.”


“Oh suamiku, betapa mengasyikkannya. Apa kamu mendengarnya suamiku? Atau kamu tidur kembali?” Dia berteriak, orang-orang mulai memandang kami dengan keributan yang dia lakukan.


“Ya istriku, aku mendengarnya. Tapi kamu tahu, aku tidak bisa mendengar apapun setelah kamu meneriakiku barusan. Aku pikir, telinga di sebelah kiriku sudah tuli, sekarang." ”atanya sambil menggosokknya.


“Oh sayang, jangan bilang seperti itu. Kamu baik-baik saja.” Aku hendak ingin mengucapkan terima kaish padanya, tapi tiba-tiba aku mendengar suara melalui intercom mengumumkan kalau pesawat jam 4 akan segera mendarat.


Aku pun segera bangkit dan berjalan kea rah pagar pembatas di depan pintu kedatangan dan menjulurkan leherku sejauh mungkin, aku bisa melihat orang-orang meewati pintu-pintu yang akan mereka lewati. Aku menunggu, menahan napas, mataku tetap mengarah ke pintu keluar. Aku melihat dua pria berseragam tentara datang ke arahku. Senyumku muncul di wajahku dn aku tidak bisa menghentikan kakiku yang terus berlari ke arahnya, begitu dia melihat diriku berlari ke arahnya, kopernya jatuh ke lantai dan dia membuka tangannya lebar-lebar.


Aku langsung saja melompat ke arahnya, melingkari tanganku di lehernya dengan cengkraman yang kuta, mataku mengeluarkan air mata sukacita saat aku terisak di bahunya.


“Aku sangat merindukanmu, kak.” Aku menangis. Aku merasakan otot-otonya melingkari tubuhku dan emmelukku seolah dia tidak pernah ingin menbiarkanku pergi.


“Wah, Alice, sudah lama sekali. Aku merindukanmu.” Aku melepaskannya sedikit sehingga ku bisa melihat wajahnya dengan jelas, dia terlihat gagah selama bertahun-tahun ini, tinggi dan berotot.


“Wow, Alan, kamu sudah berubah, bukan lagi anak kecil yang imut, waktu dulu.” Kataku sambil mencubit pipinya.


“Kamu benar, sekarang aku sudah menjadi laki-laki dewasa.” Dia berkata sambil meregangkan tangannya.

__ADS_1


“Dan kamu, adik perempuanku, sekarang sudah tumbuh dari cupu menjadi cantik.” Dia berkata sambil mengacak-acak rambutku.


“Diam!, kamu bicara seakan akamu yang yang terlihat sempurna.” Kataku, dengan merenung, aku bisa melihat Alan membuka mulut untuk membantah, tapi kami berdua suara orang yang sedang batuk dari belakang kami, kami berbali dan melihat ada pria paling tampan dan sangat seksi yang pernah kulihat.


“Oh maaf, Alice, ini teman ku, Andrian. Adrian ini, adik kembarku, Alice.” Kami berdua tersenyum satu sama lain dan mengulurkan tangan kami.


“senang, akhirnya bisa bertemu denganmu, Alice.” Katanya, aku merasa speerti baru saja melebur menjadi genangan air.


 


Dalam perjalanan pulang.


 


Sepanjang perjalanan pulang, di dalam mobil di penuhi dengan tawa dan cerita. Alan memberitahuku tentang banyak lelucon yang dia lakukan pada temannya yang lain. Temannya yang bodoh, yang suka meletakkan kantong plastic di dalam toilet, menelpon di toilet, mengganti sepatu temannya dengan ukuran yang berbeda., keisengan yng konyol. Adrian tetap terdiam, tak bicara apapun tapi, dia ikut tertawa saat kami juga tertawa.


“Jadi Alice, bagaimana kabarmu?” Alan bertanya.


“Yah, aku baik seklai.” Kataku. “Aku menerima beberapa bunga anggrek minggu ini, dan hampir semua laris terjual.” Kataku saat melaju ke dalam halaman rumah. Aku kemudian berhenti tepat di depan garasi dan memandang Alan.


“Ini rumahmu?” Dia bertanya menatapku, aku bisa merasakan pipiku menjadi hangat saat dia menatapku.


“Ya, ini rumahku.” Kataku menghindari tatapan tajamnya.


“Bagaiaman cramu memebelinya? Bukankah harganya sangat mahal?” Dia tampak kebingungan.


“Ya, aku tinggal di sebuah kontrakan kecil setelah Alan pergi di ke militeran, aku pergi kuliah dan menyelesaikan gelar sarjanaku. Kemudian aku mendaptkan pekerjaan untuk mengehmat uang dan menghabiskan sesedikit mungkin,dan dari tabungan ibu juga sedikit tunjangan pension ayah, aku menabung semuanya. Aku bisa membeli toko bunga dan lumayan bisnisnya meledak dan di sinilah aku sekarang.” Aku balas tersenyum padanya, keluar dari mobil dan melihat Alan dengan beberapa barang bawaannya. Saat kami berjalan ke dalam rumah, mereka berdua mencium aroma ayam mentega dengan kentang.


“Kamu tidak membuat ayam mentega kentang murahan, kan. Juga dengan kacang hijau.” Katanya dengan nada sarkastik. Dan kemudian mengejek.


“Iyalah, aku membuatnya dengan begitu enak.” Dia tertawa dan menghampiriku dn mengacak rambutku kemudian memelukku dengan erat.


“Hei! Jangan rusak rambutku.” Tapi dia mengabaikanku dan menertawakanku.


“Apa yang sudah aku lakukan, aku hanya mencoba melepas kerinduanku pada adikku.” Katanya saat aku berusaha melepas diri dari pelukannya, aku merasa sepasang tangan menarik pinggangku keluar.


“Ok, sudah cukup yah. Aku sangat lapar dan jika kau terus mengganggu kakakmu, aku tidak akan pernah makan.” Adrian menggoda sambil masih memegang pinggangku. Aku benar-benar tidak bisa bergerak, tidak ada orang yang pernah menyentuhku seperti ini sebelumnya kecuali kakakku, karena dia Alan melihat ekspresi wajahku., dia tahu kalau aku sama sekali tidak merasa nyaman.

__ADS_1


“Ya, kamu benar sekali Alice, ayo makan.” Alan mengmbil lenganku dn perlahan menarikku keluar dari genggamannya.


Kakiku terasa kaku bahkan ototkupun begitu. Alan harus mendorongku agar bisa ke dapur. Di dapur, aku menghela napas dalam-dalam, aku mengambil piring dan meletakkannya di atas meja begitupun gelas dan garpu jug sendok. Berikutnya aku mengambil daging ayan\=m mentega beserta kentang juga kacang hijau. Yang sudah kusiapkan di atas piring. Sekarang saatnya makan,  tidak ada suara bising di sekita meja kecuali erangan kecil kesenangan yang di pancarkan Alan dan Adrian saat mereka makan.


“Alice, kamu chef yang luar biasa, masakanmu sangat enak.” Kata Alan


“Ya, tentu. Siapa dulu, Alice begitu.”


“Ya, ini enak sekali.” Kata Adrian memasukkan kentang ke dalam mulutnya. Aku tersenyum karena mereka menyukainya.


Setelah makan, kami mulai berbincang tentang hal-hal kecil apapun itu, kemudian aku menyajikan cemilan dan beberapa eskrim untuk mereka dan mulai bersiap-siap untuk kembali ke Apartemen lama Alan, kami berjalan keluar pintu dan tiba-tiba ponsel Alan berdering.


“Halo?”


“Ya, ada apa?”


“Ya aku pulang hari ini.”


Aku bisa mendengar suara seseorang melalui speaker.


“satu tahun.” aku bisa melihat ekspersi wajah Alan, dari bingung menjadi senang kemudian marah.


“Apa maksudmu, kamu menjual apartemenku?” Alan berteriak. Mataku melebar.


“Yah, itu bodoh! Aku idak habis pikir, kamu melakukan itu!” Alan mendengus marah dan memutuskan panggilan.


 


“Apa yang terjadi?” Aku bertanya, Alan mengusap rambutnya dan menariknay.


“Aku sudah berhenti membayar apartemenku tahun lalu, dulu ada temanku yang bilang kalau dia yang kana mengurus biayanya, tapi yah begini, aku kehilangan apartemenku, aku tidak punya tempattinggal sekarang.” Katanya.


“Tinggal lah di sini bersamaku, aku punya dua kamar kosong yang belum pernah terpakai, kasurnya masih bagus, tetaplah di sini.” Aku menawarkan kepadanya, Alan tersenyum dan memeluk ku, mencium dahi ku.


“Kamu baik sekali, terima kasih.” Alan kemudian membawa semua barangnya ke kamar, saat Adrian melewatiku dia agak sedikit membungkuk kemudianberbisik di telingaku.


“Terima kasih sudah mengizinkanku tinggal di sini.” Napasnya mengepul di telingaku, membuatku merasa bergetar, kemudian dia berjalan pergi.

__ADS_1


__ADS_2