
Frans bersungguh-sungguh. Ibunya memberinya segalanya. Frans pasti tidak akan pernah meninggalkannya. Mendaftar sebagai anggota tentara adalah keinginan Frans dari dulu. Dia akan melakukan semua yang dia bisa sampai dia mendapat dukungan dari ibunya. Tapi, pertama-tama dia harus menyelesaikan masalah dengan Vania.
Frans melihat arlojinya; sudah jam 8 sejak mereka pergi. Mungkin Vania masih belum tidur. Frans berjalan ke kamarnya dan melihat kea rah luar balkonnya. Satu hal yang dia sukai dari kamarnya adalah kamar Vania tepat di seberang kamar itu. Lampu nya masih menyala. Bagus, Frans tersenyum sendiri. Dia sangat senang karena Vania selalu membuka jendela itu. Frans memanja keluar dari kamarnya dan masuk ke kamar Vania. Vania menjerit.
“Tenang, ini kau, Frans.” Kata Frans.
“Frans? Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Kita harus bicara.” Dia menatapnya bingung.”
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan,” Vania berkata.
“Oh, aku bisa memikirkan sejuta hal yang bisa kita bahas.”
“Jadi, bagaimana kalau kamu yang terlebih dahulu memulai.”
“Kenapa kamu mendorongku setahun yang lalu?” Vania bergeser dengan perasaan tidak nyaman. “Vania, tolong beri tahu aku!”
“Kenapa kamu sangat ingin tahu?”
“Karena kamu sahabatku.”
“Tidak, bukan.”
“Kenapa kamu bilang seperti itu?”
“Umm, aku tidak tahu. Mungkin karena kita tidak pernah dekat dan berbicara satu sama lain.”
“Ya, kamu benar.”
“Aku datang ke rumahmu untuk makan malam setiap hari. Tapi hari ini adalah hari pertama kamu bicara denganku.”
“Akhir-akhir ini, aku sangat sibuk.”
“Itu urusanmu.”
“Vania, ayolah. Tolong beri tahu aku alasannya.”
“Ini karena aku mulai memiliki perasaan padamu dan aku tahu bahwa kita tidak akan pernah bisa bersama-sama.” Vania berkata dengan cepat.
“Apa? Coba ulang sekali lagi, jangan cepat-cepat bicaranya.”
“Itu, itu karena aku mulai memiliki perasaan padamu dan aku tahu bahwa kita tidak akan pernah bisa bersama-sama.” Vania menghela nafas.
“Jadi, maksudmu. Kamu memberitahuku kalau kamu mengakhiri persahabatan kita karena kamu menyukaiku?”
“Tidak seperti itu.”
“Apa?”
“Aku tidak bisa memberitahumu.”
“Van, Tolong!” matanya melebar. “Apa?”
“T-terakhir kali kamu memanggilku saat kit berumur 8 tahun,”
“Kurasa kita harus membahas kembali ke masa lalu, kan?”
“Hah?”
“Yang ingin aku katakana adalah kalau semuanya harus kembali ke keadaan seperti semula.”
“Maksudnya?”
“Anu, lebih tepatnya. Kita harus menjadi teman baik lagi.”
Seperti yang di katakan Frans, seperti itulah jadinya. Vania masih tidak memberitahunya apa yang dia coba hindari malam itu di rumahnya. Itu membuatnya gila, tapi dia tidak memberitahu Vania. Saat berbulan-bulan berlalu, Frans merasakan sesuatu dan itu membuat Frans dan Putri putus.
Beberapa bulan berlalu saat mereka berdua lulus dari SMA..
__ADS_1
“Tolong, Vania!”
“Apa yang mau kulakukan di sana?!”
“Mendukung sahabatmu, kan?”
“Baiklah, tapi Frans. Tolong beritahu ibumu kalau kita mau pergi.”
“Dia belum setuju dengan keputusanku ini.” Frans menghela nafas.
“Oke. Baiklah. Tapi jujur, aku tidak bisa melakukan ini pada ibumu.”
“Tidak apa-apa, asal kamu ikut denganku? Bagaimana?”
“Untuk bicara dengan ibumu?”
“Iya.”
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?!”
“Karena itu urusan antara kamu dengan ibumu.”
“Tolonglah, hanya untuk sebuah dukungan saja?”
Setelah setengah jam mengemis, Vania akhirnya menyerah. Itu lebih mudah karena mereka sudah berada di rumah Frans. Saat mereka berjalan ke lantai bawah, Anastasya sedang melihat-lihat album keluarga lama.
“Bu?” kata Frans. Anastasya menoleh ke atas, ada air mata di matanya. “Bu.” Frans berlari mendekatinya. “Kenapa ibu menangis?”
“Frans, sayang. Apa yang ingin kamu lakukan dengan hidupmu, nak?”
“Umm..”
“Ibu tahu.”
“Itukah yang benar-benar kamu inginkan?”
“Frans tidak pernah menginginkan sesuatu yang lebih selain itu.”
“Iya.” Suaranya pecah saat Ibunya itu bermain dengan tangannya.
“Ya, apa bu?”
“Kamu bisa ikut mendaftar hari ini.”
“Bagaimana ibu bisa tahu kalau Frans mau mendafta hari ini?”
“Tentu saja ibu tahu. Seorang ibu sangat mengenal anaknya. Dan ibu tahu kalau kamu tidak akan meninggalkan ibu. Jadi, kamu membuat ibu yakin. Ibu akan mendukungmu setiap langkahmu.” Frans memeluknya dengan erat.
“Aku mencintaimu ibu.”
“Ibu juga mencintaimu, nak.”
“Maukah ibu ikut denganku?”
“Tidak, tidak. Kamu pergi saja dengan Vania.”
“Bu, tolong. Aku ingin kamu ada di sana.”
“Bagaimana dengan Vania?”
“Dia juga akan ikut. Dua wanita terbaikku.” Mereka semua tersenyum.
“Baiklah.”
“Terima kasih ibu.” Mereka berdua bangkit dan meninggalkan rumah dan mereka semua saling berpegangan tangan. Frans di tengah. Vania dan ibunya masing-masing di sisinya.
Saat mereka tiba di tempat pendaftaran, tempat itu sangat di penuhi oleh pendaftar.
__ADS_1
“wow. Aku tidak menyangka kalau seramai ini.” Kata Frans.
“Ini Mabes, tempat pusat pendaftaran, Frans. Dan akan meningkat jumlah orang setiap hari.” Kata Anastasya.
“Apa ibu pikir, aku akan diterima?”
“Tentu saja sayang, kenapa tidak.”
Vania muncul. Dia berusaha setenang mungkin. Dia berharap tidak aka nada ruang, meskipun dia tahu itu salah. Frans tersenyum dan berjalan sambil menepon. Anastasya dan Vania mengawasinya.
Ini adalah hari itu, pikir Vania. Tak lama lagi, setelah Frans di terima. Dia akan sangat sibuk.
“Berikutnya,” sebuah microphone terdengar, Frans berjalan sedikit menuju meja pendaftaran.”
“Frans Ardiansyah Samuel.” Frans berkata dan Perwira itu mengangguk.
“Masuk di sini.” Frans mengambil pena. Tangannya gemetaran; dia meletakkan pena di atas kertas dan menandatangani namanya.
“Sekarang ambil formulir ini, dan kemudian isi. Setelah selesai, bawa kembali ke meja berikutnya.” Dia menunjuk kea rah meja lainnya. “Mereka akan mengambilnya dan menjelaskan sisanya kepadamu.”
“Terima kasih,” petugas itu mengangguk. Dan Frans berjalan kembali ke Ibunya dan Vania.
“Bagaimana?” Vania bertanya.
“Aku harus mengisi formulir ini.” Frans berkata sambil mengangkat kertas iu.
“Apa kamu butuh bantuan sayang?” Anastasya bertanya.
“Tidak, tidak apa-apa, Bu. Aku akan mengisinya sendiri. Ayo duduk di kursi itu.” Ibunya dan Vania mengangguk dan mereka semua berjalan ke kursi. Saat mereka duduk, Frans mengeluarkan pena dan mulai menulis di kertas itu.
10 menit kemudian Frans selesai menulis.
“Jadi.” Frans berbisik, sambil mengambil kepala Anastasya dan Vania. “Aku akan ke meja berikutnya.”
“Apa kamu ingin aku ikut denganmu?” Vania bertanya.
“Tidak. Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri.” Kata Frans sambil bangkit. Vania mengangguk dan menoleh ke arah Anastasya.
“Aku harap semuanya akan baik-baik saja,” Kata Anastasya.
Frans berjalan menuju meja berikutnya dan menyebutkan namanya.
“Benar, Frans Ardiansyah Samuel, mana formulirmu?” petugas lain bertanya.
“Ya, ini.” Frans merespon dan menyerahkan formulir itu pada petugas, “Umm, petugas sebelumnya bilang kalau anda akan menjelaskan semuanya padaku.”
“Yah, itu benar. Sekarang formulirmu sudah di isi, tinggal menunggu.”
“Untuk apa, lebih tepatnya?”
“Kamu pikir ini pekerjaan yang mudah? Tidak.”
“Siap, aku tahu.”
“Kami sudah memiliki formulirmu, jadi sekarang anda harus memenuhi persyaratan militer. Kami akan menghubungi anda kembali dan anda akan memenuhi semua persyaratan di bagian pemrosesan pintu masuk militer. Setelah itu, anda akan mendapatkan surat yang menyatakan anda di terima. Jika anda di terima, anda akan menjalani proses tes lainnya sampai anda akan di nyatakan resmi masuk di kemiliteran. Anda kemudian akan kembali ke sini dengan barang-barang anda dan akan di berikan seragam setelah itu, anda memberikan barang-barang anda pada kami. Anda akan di karantina selama beberapa bulan tanpa melihat keluarga atau apapun itu. Dan semuanya akan di jelaskan nanti.”
“Kapan kami bisa bertemu dengan keluarga dan teman-teman kami?
“Itu, tunggu informasi dari petinggi.”
“Baiklah, terima kasih.”
“Semoga beruntung, Frans.”
"Terima kasih." Frans berjalan pergi. Saat dia mencapai Anastasya dan Vania, mereka berdiri.
"Bagaimana?" Anastasya bertanya.
"Sekarang kita harus menunggu." Kata Frans. Vaania mengangguk, tapi Frans memperhatikan kesedihan di matanya. Cukup cepat, mudah-mudahan, mereka akan berdiri di sini lagi, tapi kali ini mengucapkan selamat tinggal. Vania takut. Dia ingin mendukung Frans, tapi dia tidak ingin hari itu datang, saat dia harus mengucapkan selamat tinggal.
"Ayo, ayo pulang."
__ADS_1