Jadilah Prajuritku Selamanya

Jadilah Prajuritku Selamanya
Ep. 49


__ADS_3

Frans tahu di mana kunci cadangan rumah di sembunyikan Vania, jadia dia mengambil kunci itu dan membuka pintu. Dia berjalan ke kamar Bram. Seperti yang di harapkan, Bram tertidur sangat nyenyak di tempat tidurnya. Frans berjalan menghampirinya.


“Bram, bangun!.”


“Hoammmmm..”


“Ayo bangun.” Bram melambaikan tangannya, memberi tanda agar Frans pergi. Frans berjalan ke kamar mandi Bramdan mengambil ember berisi air dingin. Frans menyeringai dan menumpahkannya pada Bram dan otomatis Bram melompat bangun dari tempat tidurnya.


“Apa apaan?” mata Bram di penuhi amarah.


“Apa kamu sudah bangun sekarang?” Frans tertawa.


“Frans?” Bram tidak percaya kalau dia kembali.


“Ganti bajumu.” Frans berjalan keluar dari kamar Bram. Tanpa berpikir panjang, Frans berjalan ke kamar Vania. Dia mulai melihat sekeliling kamar, dan memiliki firasat kalau dia akan menemukan sesuatu. Frans berjalan di samping tempat tidurnya, dan kakinya menabrak sesuatu. Frans membungkuk dan melihat ke bawah tempat tidurnya. Sebuah kotak. Karena penasaran, Frans mengeluarkan kotak itu dan setumpuk surat, terbuka. Dia mengambil, secarik kertas pertama, yang sudah tergenang percikan air mata yang sudah mongering di atasnya. Frans mulai membacanya.


Dear Frans, tersayang.


Aku sangat merindukanmu. Sebenarnya ada begitu banyak hal yang terjadi pada diriku. Aku  merasa seolah-olah sebagian dari diriku hilang. Aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku cinta kamu. Cepatlah kembali. Aku sangat membutuhkanmu di sini. Semua orang terluka di sini. Ibumu masuk rumah sakit, kondisinya sangat lemah. Dia mengidap tumor otak stadium akhir. Maafkan aku. Aku sangat minta maaf. Aku sudah melakukan semua hal yang aku bisa. Menampakkan wajah keberanianku pada semua orang. Aku setiap malam menangis sampai tertidur pun begitu. Aku hanya membutuhkanmu. Aku ingin kamu ada di sebelahku. Di sisiku. Di sampingku. Aku ingin kamu menciumku. Aku ingin kamu memberitahu ku kalau kamu baik-baik saja di sana. Aku membutuhkanmu. Bram juga merasa sangat kehilangan karena ayahku. Dia mulai menyerang hampir setiap anak laki-laki di sekolahnya. Itu membuatku takut. Ibumu juga sudah berusaha keras berjuang melalui semua ini, tapi dia tidak mampu. Bram bisa melaluinya sendiri. Aku tidak bisa melaluinya sendiri. Aku tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Aku membutuhkanmu.


With love, Vania


Frans berkedip dengan cepat untuk menghentikan air matanya agar tidak keluar. Dia membaca sekilas semua surat-surat itu. Pada akhirnya, semua orang sangat membutuhkannya. Vania tahu, dia tidak ingin membiarkan Frans tahu kalau dia sangat membutuhkannya. Dan Vania juga tidak bisa mengatakan kepadanya kalau Ibunya mengidap tumor otak.


Mereka membutuhkan ku di sini, pikir Frans.


Frans tahu kalau diaseharusnya tahu semua ini, tapi Vania tidak bisa mengatakannya. Frans kemudian menutup kotak itu dan mengembalikannya ke bawah tempat tidur Vania. Dia duduk di dinding dan meletakkan tangannya di wajahnya.


Bagaimana mungkin aku tidak tahu apa-apa? Pikirnya. Aku seharusnya tahuapa yang sebenarnya terjadi. Hati Frans sangat sakit.


“Frans, kamu baik-baik saja?”


“ Hei, anak kecil.” Frans menatap Bram.


“kamu kenapa?”


“Tidak apa-apa. Ayo, apa kamu sudah siap?”


“Kita mau pergi ke mana?”


“Lihat saja nanti.” Mereka berjalan keluar dari rumah Bram dan masuk ke mobil Vania. Frans menyalakan mesin mobil.


“Jadi bagaimana perasaanmu saat bertugas?”


“Baik. Aku sangat menikmatinya. Bagaimana tahun pertamamu tanpa diriku?” dia akhirnya ingin mendengar kebenaran, selain mendengar kalau mereka merindukannya.


“Sebenarnya, kami semua sengsara. Haruskah aku memberitahumu semuanya?”


“Ya, aku ingin tahu yang sebenarnya. Tentang segalanya. Bagaimana kabarmu?”


“Aku selama ini baik. Ughh sialan.”


“bahasamu.”

__ADS_1


“Maaf.”


“Apa itu sudah jadi kebiasaanmu, berkata ksar pada orang?”


“Yah, mungkin semacam itu.”


“Singkirkan kebiasaanmu itu.” Bram mengangguk. “Lanjutkan.”


“Yah, aku sudah sering berkelahi. Aku ada masalah di dalam tim ku.”


“kenapa kamu berkelahi?”


“Karena aku marah. Aku harus mengeluarkan semua amarahku, jadi aku memukul orang-orang yang mencoba mengusikku.” Frans bisa mendengar kepercayaan diri Bram dalam suaranya.


“Kamu memukul anak laki-laki?”


“Yah, begitu.”


“Kamu tahu, kalau kamu di pukul sama seseorang, kamu boleh melawannya, tidak peduli siapa pun mereka. Tapi jika itu bukan kesalahanmu, jangan lakukan.


“Tapi aku tidk sekasar bagaimana.”


“Iya aku tahu, setidaknya kamu menghentikan kebiasaan burukmu itu, kalau kamu sering melakukannya akan sulit menghentikan kebiasaanmu itu.”


“Aku tidak tahu bagaimana caranya aku mengehntikan kebiasaanku ini.”


“Itu sebabnya, aku akan mengajarinya padamu.” Frans memarkir mobil di tempat parker sekolah.


“Apa yang mau kita lakukan di sekolah?” Mereka keluar dari mobil dan Frans mulai berjalan.


“Yah.”


“Ini satu-satunya tempat yang bisa membuat dirimu melampiaskan semua amarahmu. Sepak bola adalah tempat pelampiasan amarah. Saat kamu bermain, keluarkan semua amarahmu, karena dengan cara itulah satu-satunya. Tapi, jangan mencoba memukul siapapun. Mainkan sesuai aturan. Lampiaskan semuanya pada mereka dengan mengalahkannya di lapangan. Mengerti?


“Ya.”


“Dan jangan sampai kamu terluka di luar sana.”


“Aku tahu.” Mereka melihat sekeliling. “kamu tahu, kamu seperti seorang ayah yang tak pernah aku miliki.”  Frans memandang Bram, kaget. “Itu benar. Kamu selalu ada untukku. Terima kasih., Frans.”


“Iya, Bram, selalu. Kau akan selalu ada di sini untukmu.” Frans tersenyum. Hatinya meleleh mendengar, betapa berartinya dia bagi Bram.


“Aku berjanji, tidak akan ada yang terluka di sini. Berjanjilh untuk menjaga dirimu.”


“Aku berjanji.” Frans tahu dia hrus tetap aman. Dia harus ada di sini untuk keluarganya.


“Kami membutuhkanmu, Frans. Kamu tidak boleh meninggalkan kami, kamu tidak boleh mati.”


“Aku tidak akan pergi ke mana-mana.” Dia memastikan itu.


“Aku sangat berharap ibumu tidak pergi. Ku juga masih membutuhkannya di sini. Dia sudah seperti ibuku.”


“Ya, dia adalah ibu yang terbaik.” Dia tersenyum saat dia memikirkan saat-saat ibunya selalu bersamanya.

__ADS_1


“Aku merindukan ibuku.” Bram melihat ke bawah, berusaha menyembunyikan mata nya yang berkaca-kaca.


“Apa kamu selalu memikirkannya?”


“Setiap hari.”


“Apa ibumu  juga masih sakit?”


“Tidak terlalu, saat pertama kali dia masuk ke rumah rumah sakit.” Dia menatap Frans, menunjukkan air matanya.


“Ya.” Mereka terdiam selama beberapa menit. “apa kamu tidak keberatan kalau aku mengajakmu ke suatu tempat? Ada yang harus aku lakukan.”


“Ya. Tentu saja.” Mereka berjalan kembali ke mobil. Saat mereka duduk di dalam, Frans merogoh sakunya dan mengeluarkan alamat yang di berikan Jonathan kepadanya, sebelum dia meninggal. Dia harus pergi menemui istrinya. Saat merekasampai di alamat yang di tuju. Frans menatap Bram.


“Kamu di sini dulu, oke?”


“Ya tentu saja, tapi apa yang akan kita lakukan di sini?”


“Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Aku akan kembali secepatnya.” Bram mengangguk dan Frans berjalan keluar dari mobil. Frans berjalan ke pintu, dengan cemas. Setelah menyembunyikan bel, dia mendengar gonggongam anjing. Ada seorang wanita kemudian membuka pintu; dia menggendong anak bayi di lenganya dan kantug matanya menghitam. Rambut pirangnya berminyak dn wajahnya memerah. Frans tahu kalau wanita ini tidak punya tenaga lagi.


“Apa ada yang bisa aku bantu?” Wanita itu bertanya. Suaranya lemah.


“Hai, apa kamu istrinya Jonathan?”


“Iya benar, kamu siapa?” Wanita itu berdiri tegak. Dia belum pernah mendengar seseorang menyebutkan nama itu dengan lengkap. Terakhir kali dia mendengarnya, dia ambruk di lantai dan menangis berhari-hari.


“Aku Frans A. Samuel, aku teman suamimu. Dia sebenarnya sahabatku saat bertugas.”


“Bertugas? Kalian bersama-sama di kemiliteran?”


“Ya tentu. Aku datang ke sini untuk mengatakan kalau aku benar-benar minta maaf atas kehilangan yang kamu alami. Jonathan adalah pria yang hebat. Dia selalu bicara kepadaku tentang dirimu. Dan dia sangat mencintaimu.” Senyum muncul di wajahnya. “Dia meninggal dalam pelukanku dengan satu permintaan terakhir.”


“Dan, apa itu?”


“Dia memintaku datang untuk menemuimu. Dia memberitahuku kalau kamu hamil dn dia tidk tahu apakah anaknya itu laki-laki atau perempuan. Dia menyuruhku datang ke sini dan melihatmu, untuk memastikan bahwa kamu memang hamil.” Wanita itu tersenyum dan air mata keluar membasahi pipinya.


“Aku memang hamil saat itu, dan sekarang aku sudah melahirkan anak laki-laki. Aku menamainya Michael. Jonathan sangat suka dengan nama itu. Terima kasih sudah datang mengunjungiku. Sungguh tragis memang, tapi aku senang mendengar dia meninggal di pelukanmu. Kamu tampaknya orang baik. Terima kasih.” Frans meraihnya kemudian memeluk wanita itu. “Jonathan  adalah pria yang hebat dan dia akan selalu ada di hatiku selamanya. Aku akan mencintainya sampai aku mati.”


“Jadi, kalau kamu membutuhkan sesuatu, Maria…” Frans ingat kalau Jonathan selalu menyebut nama itu berulang kali. Dia selalu bilang kalau nama itu tervavorit baginya dan tidak akan pernah bosan menyebutnya. “Jika kamu membutuhkan sesuatu, ini nomorku. Hubungi aku.” Frans menyerahkan selembar kertas dengan nomor di atasnya. “silahkan hubungi aku, kapan saja.” Dia tersenyum dan mengambilnya.


“Kamu punya pacar, kan?” dia ingat Jonathan berbicara tentang Frans yang takut membuat seorang wanita yang dia cintai terluka, tapi Jonathan meyakinkannya kalau cinta itu sangat penting.


“Hehe.. hmmmm..” Frans mengusap rambutnya.


“Yah, lebih baik kamu membuatnya yakin. Tapi dia gadis yang sangat beruntung karena memiliki pria sepertimu. Kamu mengingatkan ku pada Jonathan, kamu punya hati yang sangat besar.”


“Terima Kasih. Sekarang aku harus pergi, apa kamu akan baik-baik saja?” Maria mengangguk “Oke, hubungi saja kau kalau kamu membutuhkan sesuatu.” Mereka berpelukan untuk yang terakhir kalinya dan kemudian mengucapkan selamat tinggal. Frans masuk kembali ke dalam mobil.


“Siapa itu?” Bram bertanya.


“Itu istri temanku.”


“Wow.”

__ADS_1


“Yah. Ayo pulang.” Bram mengangguk sat Frans menyalakan mesin mobil dan kemudian melaju.


__ADS_2